AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

Last Friend


“The reason why I look away from you is because I want to look at you forever. The reason why I cant be gentle to you is because I dont want to lose you.”

Sohee, Hyejeong, dan Moon, adalah 3 sahabat karib. Ketiganya berniat memotong rambut di salon. Ketika pegawai salon akan memotong rambut Moon, tiba-tiba dia meminta pegawai salon menundanya dulu. Moon beralasan ingin pergi ke toilet dan menyuruh Hyejeong untuk memotong rambutnya lebih dulu. Sang pegawai-pun beralih ke Hyejeong.

“Tunggu sebentar!” Cegah Hyejeong ketika sisir dan gunting sudah di atas kepalanya. Dia tampak tegang. Hyejeong lantas menunjuk Sohee yang duduk di belakangnya. “Buat potongan rambutku lebih bagus dari dia!” Titah Hyejeong yang di sambut tawa oleh Sohee.

“Sohee di diagnosis menderita penyakit mematikan. Setiap minggu dia keluar masuk rumah sakit. Tapi gadis bodoh itu tidak mau memberitahuku sedikitpun tentang penyakitnya. Kemarin, lagi-lagi dia harus menjalani kemoterapi yang membuat rambutnya nyaris gundul. Dan dengan mudahnya dia mengatakan padaku, bahwa umurnya hanya tinggal 6 bulan lagi. Aku dan Moon memotong rambut demi persahabatan kami.” Ujar Hyejeong dalam hati.

Hyejeong dan Moon benar-benar memotong pendek rambut mereka hingga hampir menyerupai rambut Sohee. Keduanya selalu mengabulkan segala keinginan Sohee selama sahabat mereka itu masih bernafas. Seperti hari ini. Seusai dari salon, Sohee mendadak ingin pergi ke laut. Gadis itu tampak senang berlarian kesana kemari. Sohee  bahkan nekat berenang di laut, membuat kedua sahabatnya khawatir setengah mati. Hyejeong dan Moon akhirnya menarik Sohee menjauh dari laut. Mengabaikan keinginan sahabatnya yang masih ingin melihat matahari terbenam.

“Dia ingin melihat laut, karena itu kami bolos sekolah dan pergi ke laut.” Gumam Hyejeong. Ia menyesal sudah menuruti permintaan gila Sohee. Karena setelah pulang dari pantai, keadaan gadis itu memburuk dan harus dibawa ke rumah sakit dengan ambulan.

“Hei kau gadis nakal! Jangan mati dulu. Kau masih punya lima bulan lagi.” Tangis Moon sesenggukan. Tempo hari, Moon bahkan mencoba bunuh diri dengan melompat dari jembatan. Tapi Sohee dan Hyejeong menariknya. “Kami kehilangan akal sehat. Kami bahkan ingin mati bersama.” Moon masih terisak mengingat kenangan mereka.

Beberapa hari kemudian, Hyejeong  dan Moon menjenguk Sohee yang masih di rawat di ruangan khusus yang di kelilingi oleh kaca.

Hyejeong berteriak kesal pada Sohee, “Kenapa kau memberi tahu orang-orang tentang penyakit kulitku?”

Sohee menolak tuduhan Hyejeong, “Bukan aku. Tapi dia,  Moon yang mengatakannya.”

Moon mengelak tuduhan Sohee. “Beraninya kau menuduhku seperti itu? Keluar kau!” Perintah Moon yang saat ini menarik lengan jaketnya, siap berkelahi.

“Kau pikir aku takut?” Sohee berusaha melepas selang infusnya.

“Kau bisa mati kalau kau keluar!” Ancam Moon tak mau kalah.

“Mati? Cepat atau lambat aku akan mati.” Teriak Sohee sebelum akhirnya beberapa perawat datang memisahkan mereka.

“Kalian bisa mengganggu ketenangan pasien lain.” Umpat salah satu perawat yang kesal dengan ulah ketiga sahabat itu. Pasalnya ini bukan kali pertama Sohee, Hyejeong, dan Moon bertengkar di rumah sakit.

“Kami melakukan segala hal yang kami bisa demi sahabat kami. Seperti itulah kami. Lima bulan-pun berlalu. Hari-hari-pun berlalu. Hari berikutnya berlalu. Kemudian sebulan-pun berlalu. Musim semi kembali tiba. Sekarang kami menjadi siswa kelas 11. Dan sahabatku masih hidup.” Hyejeong melambaikan tangannya pada Sohee. Gadis itu mampir ke rumah sakit sebelum berangkat ke sekolah.

Sohee sedang berbicara serius dengan seorang dokter muda. Entah mengapa raut mukanya memelas. Sesaat kemudian, dokter magang itu tampak tertegun mendengar cerita Sohee.

“Berapa lama lagi temanmu bisa bertahan?” Tanya dokter muda tersebut.

Sohee menunduk sedih, “Satu bulan lagi. Dia memiliki satu permintaan terakhir. Maukah kau membantuku?”

Hyejeong berbaring di tempat tidur rawat Sohee. Dia berpura-pura menjadi pasien, menggantikan Sohee. Sementara itu si pemilik kamar datang dengan menggandeng seorang pria yang tak lain adalah sang dokter muda.

“Jeongi, apa kau baik-baik saja? Bangunlah!” Pinta Sohee dengan nada khawatir. Hyejeong mengangguk, mengikuti skenario yang sudah di atur oleh Sohee.

“Apa permintaanmu? Ku harap aku bisa membantu!” Ujar dokter tampan itu.

“Aku tahu ini keterlaluan, tapi maukah kau mencium temanku sekali saja? Dia belum pernah mendapatkan ciuman pertama.” Hyejeong memohon. Dokter itu jelas saja terkejut. Sohee berdehem, dan Hyejeong langsung pura-pura batuk untuk meyakinkan sang dokter bahwa penyakitnya sudah sangat parah.

Sohee seolah menolak. Dia mengatakan pada sang dokter untuk tidak memperdulikan ucapan Hyejeong. Sohee menoleh ke arah Hyejeong dan berteriak histeris, “Tidak apa-apa. Selama ini aku tidak pernah punya pacar karena aku terlalu sibuk mengurusmu.” Sohee menggenggam erat tangan Hyejeong dengan maksud agar sahabatnya itu bisa berakting lebih baik lagi.

Hyejeong terus melanjutkan aktingnya. “Tetap saja kau harus mendapat ciuman pertama. Aku ingin melihatmu berciuman sebelum aku mati.” Tangis Hyejeong tersedu-sedu.

“Kalau itu yang kau inginkan…” Sohee menatap doker muda yang berdiri di sampingnya. “Cium pipi saja juga tidak masalah!” Sohee menyodorkan pipinya siap dicium.

“Ya Tuhan!” Tiba-tiba Hyejeong berteriak. Dia bangkit dari tempat tidur dan segera mengambil tisu. Sohee mimisan, dan Hyejeong langsung menutup hidung Sohee yang mengeluarkan darah.

Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar rawat dan terkejut melihat ada seorang dokter disana. Wanita yang tak lain adalah ibu Sohee langsung marah-marah dan menyuruh sang dokter keluar. Sohee yang hidungnya masih ditutupi dengan tisu menggerutu kalau rencananya hampir saja berhasil.

Ibu Sohee memeriksa ke kolong tempat tidur dan menemukan seragam Hyejeong. Ibu Sohee kesal, kenapa Hyejeong mau saja disuruh oleh Sohee. “Sudah ku bilang jangan bolos sekolah. Atau aku akan mematahkan kakimu supaya kau juga masuk rumah sakit.” Ocehnya sambil keluar kamar.

“Ugh! Sulit sekali mendapatkan ciuman.” Keluh Sohee.

“Tunggu sampai kau sembuh.” Celetuk Moon yang baru datang ke rumah sakit seusai pulang sekolah.

“Kapan aku akan sembuh?” Ujar Sohee putus asa.

“Apa ada pria yang kau sukai?” Moon malah balik bertanya.

“Bisakah kalian menemukannya untukku?” Hyejeong tak mengerti maksud ucapan Sohee.

Sohee tersenyum, “Cinta pertamaku.”

Hyejeong dan Moon saling lirik. Mereka bahkan tak tahu siapa cinta pertama Sohee.

“Siapa yang paling tampan diantara member Super Junior?” Tanya Sohee.

“Yesung”
“Leeteuk”
Jawab Hyejeong dan Moon bersamaan.

“Lihat dia tahu!” Seru Sohee menunjuk Moon. Sohee-pun memejamkan matanya, membayangkan pria tampan yang mirip dengan Leeteuk. “Wajah tampannya, senyum manisnya, sikap dewasanya. Tapi kalian tidak boleh memberi tahu dia kalau aku sakit.” Lanjut Sohee yang membuat kedua sahabatnya terdiam.

Hyejeong masuk ke dalam kamar kakaknya dan membanting tubuhnya ke atas kasur. Dia menatap kakak laki-lakinya yang sedang sibuk menatap layar laptop.

“Apa temanmu ada yang mirip dengan Leeteuk?”

Mendengar pertanyaan konyol adiknya, sang kakak langsung berbalik. “Apa kau begitu kesepian?”

“Bukan untukku. Tapi untuk Sohee.”

“Kau gila? Menjauhlah dari teman-temanku.” Tolak sang kakak.

“Kenapa?” Sahut Hyejeong tak terima.

“Kau tidak tahu kapan dia akan mati. Bagaimana kalau aku mengenalkan.temanku pada Sohee lalu dia mati? Aku akan merasa bersalah pada temanku.”

“Dia tidak akan mati, dia hampir sembuh!” Teriak Hyejeong lantas pergi meninggalkan kamar sang kakak.

Di rumah sakit, Sohee memohon pada dokter agar membolehkannya pergi ke sekolah sehari saja karena dia tidak bisa melewatkan ulang tahun Hyejeong. Dokter yang menangani Sohee mengatakan bahwa sekolah itu penuh dengan kuman, karna itu dokter ingin Sohee berjanji kalau dia hanya akan diam di UKS.

“Tidak bisakah kau menyuruh mereka saja yang datang kesini?” Pinta ibu Sohee.

“Pesta ulang tahun macam apa yang di rayakan di tempat seperti ini? Ayolah bu, aku janji akan segera kembali.” Sohee memelas.

Sohee-pun di perbolehkan ke sekolah. Dengan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya, Sohee di antar sang ibu pergi ke sekolah.

Hyejeong meniup lilin ulang tahunnya di ruang UKS. Setelah meniup lilin dia kembali mengenakan masker wajah. Hyejeong menuntut hadiah ulang tahun dari kedua sahabatnya. Dengan polosnya Moon bilang kalau dia tidak memiliki hadiah untuk Hyejeong, sementara Sohee menyerahkan sebuah kotak yang ternyata berisi sebuah lolipop.

Tiba-tiba seorang siswa laki-laki menerobos masuk ke dalam UKS. Yongguk, nama siswa itu. Dia mencari kotak P3K dan mengambil sebuah plester. Yongguk duduk di kursi dan memasang plester tersebut di atas alisnya yang terlihat berdarah. Sementara itu, tatapan mata Sohee terarah ke bibir tebal Yongguk.

“Apa kalian semua sakit?” Tanya Yongguk karena melihat ketiganya memakai masker di wajah.

“Tidak!” Sohee segera melepas maskernya.

“Kalian kelas berapa?” Tanya Yongguk lagi.

“11.” Sahut Moon.

Yongguk tiba-tiba berdiri dan mendekati ketiganya, “Apa kalian kenal Moohyun dari kelas 11-5?”

“Ya kami sangat mengenalnya!” Seru Sohee. Dia lantas menepuk tangan Hyejeong, “Bukankah Moohyun sekelas denganmu saat kelas 10? Cepat telepon dia.” Sohee mengambil ponsel Hyejeong yang berada di saku lalu menelepon Moohyun.

“Hei Choi Moohyun, ini aku…” Baru saja Hyejeong menyapa Moohyun, tapi Yongguk langsung merebut ponsel Hyejeong.

“Hei kenapa kau tak menjawab teleponku? Kau mau menghindariku! Jangan pergi, aku kesana sekarang!” Setelah puas berteriak, Yongguk pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Membuat ketiga sahabat itu terbengong-bengong melihat kelakuan Yongguk.

“Aku ingin melakukannya. Ciuman pertamaku. Dengan dia!” Ujar Sohee yang masih tak mau melepaskan pandangannya dari punggung Yongguk yang semakin pergi menjauh.

“Apa? Hei dia sama sekali tak mirip dengan Leeteuk. Lagipula dia itu pacar Moohyun.” Hyejeong mengingatkan.

“Tolonglah. Ini permintaan terakhirku. Aku janji tak akan minta apa-apa lagi pada kalian!” Rengek Sohee pada kedua sahabatnya itu.

Karena kemarin Sohee ngeyel ingin pergi ke sekolah, sekarang dia terbaring di kamar rumah sakit. Di luar ruangan, sang ibu memanggil putrinya yang terbaring sedih dan wajah pucat.

“Sohee-ya, dokter bilang penyakitmu tidak kambuh. Hanya sel sumsum tulang belakangmu melemah sementara. Sohee-ya, kau ingin ibu melakukan apa?” Ujar ibu Sohee khawatir melihat keadaan anaknya.

“Ibu… aku tidak ingin apa-apa lagi. Ibu… aku lelah.” Ibu Sohee tak sanggup lagi mendengarnya, dia-pun menangis. Hyejeong yang ada disana mencoba menghibur.

“Bibi, biar aku yang bicara pada Sohee!” Hyejeong menepuk punggung tangan ibu Sohee. Dia lantas mengetuk cendela agar Sohee fokus padanya. “Sohee-ya! Lihat aku.” Panggil Hyejeong. “Hei Oppa itu tidak punya pacar sekarang. Dia sudah putus dengan Moohyun.”

Sohee yang masih menangis mengangkat wajahnya, “Benarkah?”

“Tentu saja. Sekarang kau harus berlatih ciuman, oke?” Bohong Hyejeong. Sementara Moon diam tak bersuara. Dia menggeleng pelan, tanda tak setuju.

Hyejeong dan Moon rela menjadi budak Moohyun selama seminggu asal gadis itu mau memutuskan Yongguk. Keduanya harus mau menuruti semua kemauan Moohyun. Kapanpun Moohyun memanggil, keduanya-pun harus siap. Membawakan tas, membelikan minuman, membersihkan sepatu, sampai menarik bangku tempat Moohyun duduk.

Moon lelah. Dia marah pada Hyejeong yang mau melakukan apapun untuk Sohee. Bagi Moon, sudah cukup selama enam bulan ini mereka menuruti semua keinginan Sohee. Karna ternyata sampai sekarang sudah lebih dari enam bulan, dan Sohee masih hidup.

“Karna dia sahabat kita.” Ujar Hyejeong. Tepat saat itu ponsel Hyejeong berbunyi. Leeteuk. Nama yang tertera pada ponsel Hyejeong. Tapi Moon yang terlanjur marah merebut ponsel Hyejeong. Moon tahu kalau Hyejeong menyimpan nomer ponsel Sohee dengan nama ‘Leeteuk’.

“Berikan padaku!” Pinta Hyejeong baik-baik, tapi Moon malah mematikannnya.

“Apa yang kau lakukan?” Marah Hyejeong.

“Apa kau mau menghancurkan hidupmu? Tidak cukupkah selama ini kita sering bolos sekolah karena seringnya kita menuruti keinginan Sohee? Sampai sekarang-pun kita rela menjadi budak Moohyun agar dia mau memutuskan Yongguk. Memangnya kalau Sohee sembuh akan membantumu masuk perguruan tinggi?!”

“Hei Moon Mi Sun!” Hyejeong sangat marah mendengar ucapan Moon.

“Yang kau lakukan itu sudah cukup. Ini sudah lebih dari setahun. Kau selalu pergi setiap kali dia menelepon dan melakukan apapun yang dia minta. Sampai kapan kita harus melakukan ini? Sampai kapan?”

Hyejeong menunduk diam.

“Aku tak tahan lagi!” Moon pergi meninggalkan Hyejeong.

Hyejeong melihat ponselnya dan mendapat pesan gambar kalau Sohee sedang berlatih ciuman.

Sepulang sekolah Hyejeong menunggu Yongguk di depan gerbang sekolah. Hyejeong ingin memastikan apakah Yongguk sudah benar-benar putus dengan Moohyun.

“Hei apa benar kau sudah putus dengan Moohyun?” Tanya Hyejeong saat melihat Yongguk lewat di depannya.

“Memangnya kenapa? Apa kau menyukaiku?” Yongguk mendekati Hyejeong dan menatap lekat-lekat wajah gadis itu hingga dia kesulitan bernapas.

“B.. b.. bbukan aku. Tapi temanku yang menyukaimu.” Jawab Hyejeong tergagap.

“Lalu kau apa?” Yongguk melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku? Aku dewi cinta. Cupid. Kau tau itu kan?” Hyejeong tahu pasti sekarang dia terlihat seperti orang bodoh. Lihat saja pemuda yang ada di hadapannya itu sedang menertawakannya.

“Namanya Jung Sohee. Tingginya 160cm. Ayahnya seorang direktur rumah sakit dan ibunya sangat baik hati. Sohee merupakan putri satu-satunya keluarga Jung, karena itu dia mendapatkan uang saku yang banyak. Dia murid pintar….”

“Lalu kenapa malah kau yang mengatakannya? Dimana dia?” Yongguk menyela ucapan Hyejeong.

“Dia sangat pemalu, karena itu dia memintaku……” Hyejeong diam sejenak. “Dia… dia benar-benar sangat menyukaimu..” Lanjut Hyejeong. “Sebenarnya… saat SMP kakiku patah. Sohee membawakan tas sekolahku setiap hari sampai gips ku dilepas-”

“Apa kau ingin aku pacaran dengannya karena dia membawakan tasmu?!” Potong Yongguk lagi. Dia mulai kesal. Yongguk lalu memerintahkan Hyejeong untuk naik ke atas sepeda motornya. Entah kenapa ada perasaan aneh di hati Hyejeong saat itu. Yongguk lalu meminta Hyejeong untuk menunjukkan tempat dimana Sohee berada.

Setengah jam kemudian, Yongguk dan Hyejeong sudah berada di Rumah Sakit. Yongguk heran mengapa Hyejeong mengajaknya ke Rumah Sakit?

“Ini tempat ayah Sohee bekerja. Tunggu saja disini, aku akan memanggilnya.” Pinta Hyejeong. Gadis itu lantas berlari menuju ruang rawat Sohee. Hyejeong ingin memberitahu sahabatnya itu bahwa dia berhasil membujuk Yongguk untuk menemuinya.

“Apa kau Jung Sohee?” Tanya Yongguk saat seorang gadis menghampirinya. Dengan nafas terengah-engah Sohee membenarkan. Yongguk heran, kenapa Sohee ingin bertemu di Rumah Sakit? Sohee yang bingung menjawab kemudian menunjuk ke salah satu sudut.

“Karena mesin penjual otomatis itu menyediakan kopi yang paling enak.” Ucapnya sebagai alasan. “Yongguk-ssi, aku menyukaimu!” Tiba-tiba Sohee megungkapkan rasa sukanya.

“Aku tahu.” Ujar Yongguk yang memang sudah diberitahu oleh Hyejeong.

“Kalau begitu apa kau mau menjadi pacarku?” Yongguk terkejut mendengar ucapan Sohee.

“Aku baru saja dicampakan oleh pacarku, jadi jangan menyukaiku dulu.” Jawab Yongguk jujur.

“Lalu kapan aku boleh menyukaimu? Tak bisakah aku menyukaimu sekarang juga?” Tuntut Sohee.

Yongguk berfikir sebentar, “Baiklah!”

Sohee terkejut campur senang, “Benarkah?”

Sekembalinya Sohee ke kamar rawatnya, ternyata dia sudah tidak menemukan Hyejeong disana. Karena itu Sohee memutuskan untuk menelepon Hyejeong. Entah kenapa Hyejeong yang mendapat telepon dari Leeteuk, yang tak lain adalah Sohee tiba-tiba merasa malas untuk mengangkat telepon.

Di kelas, Hyejeong menatap ponselnya. Moon datang menghampiri Hyejeong dan bertanya bagaimana kabar ‘Leeteuk’? Dengan malas Hyejeong menjawab tidak tahu. Moon heran, tidak biasanya Hyejeong tidak tahu kabar Sohee. Karena biasanya setiap saat mereka saling bertukar kabar. Moon beranggapan ini kabar bagus untuk dia dan Hyejeong. Karena jika Sohee sudah memiliki pacar, dia tidak akan menghubunginya ataupun Hyejeong setiap saat.

Sepulang sekolah, Hyejeong menyempatkan diri mampir ke Rumah Sakit. Dia melihat Sohee tengah bersama Yongguk. Sohee mengenakan baju biasa, bukan baju pasien seperti biasanya. Keduanya duduk untuk minum kopi, dan entah kenapa itu membuat Hyejeong sangat kesal. Diapun akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Tapi belum sempat Hyejeong pergi, tiba-tiba terdengar suara Yongguk yang terdengar panik. Langkah Hyejeong terhenti dan segera berlari ke arah Sohee.

“Apa kau bermain gadget lagi semalam?” Omel Hyejeong sambil menutup hidung Sohee menggunakan sapu tangan. Hyejeong lantas menyuruh Yongguk pulang, namun pemuda itu tidak mau karena khawatir dengan keadaan Sohee.

“Aku bilang tidak apa-apa. Dia itu hanya mimisan.” Bentak Hyejeong.

“Bagaimana kalau dia sakit parah? Aku tidak suka orang sakit. Ibuku meninggal karena sakit parah!” Ungkap Yongguk menjelaskan kekhawatirannya.

“Tidak. Karen tahun lalu Sohee mendapat peringkat pertama dalam tes kesehatan jasmani.” Bohong Hyejeong.

Mendengar hal itu Yongguk tersenyum
lega. “Sukurlah..”

“Memangnya kenapa?” Hyejeong penasaran.

“Karena sepertinya aku mulai menyukai Sohee.” Hyejeong terdiam mendengar pengakuan Yongguk. Meski kecewa, dia masih bisa menahan diri dan meminta Yongguk untuk segera pulang.

Hyejeong menunggu di luar kamar, begitu dokter keluar dia bertanya. “Kalau dia kambuh lagi, apa dia akan mati?”

“Sohee sebentar lagi bisa pulang, jadi kau tidak perlu khawatir.” Ujar sang dokter.

“Saya bosan mendengarnya! Anda sudah mengatakan itu lebih dari sepuluh kali. Tapi dia tetap saja kembali ke sini!” Teriak Hyejeong mengungkapkan kekecewaannya.

Hyejeong menemani Sohee di rumah sakit. Sohee terlihat sangat senang saat membuka matanya dan menemukan Hyejeong ada di sebelahnya.

“Aku rasa sekarang Yongguk benar-benar menyukaimu!” Hyejeong membuka pembicaraan. “Tapi… mungkin nanti Yongguk akan terluka.”

“Aku tidak akan mati secepat itu.”

“Kau terus saja mengatakan kalau kau sudah lebih baik, tapi kau bohong. Akhir-akhir ini kau semakin sering mimisan.” Cecar Hyejeong. “Jadi.. lebih baik kau putus dengan Yongguk.”

“Kenapa? Apa supaya kau bisa pacaran dengannya saat aku mati? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau juga menyukainya?” Kata-kata Sohee terdengar sinis.

“Bukan begitu.” Hyejeong membela diri.

“Tega sekali? Kau menginginkan pacar temanmu yang sekarat ini!” Tuduh Sohee.

“Bukan begitu!” Hyejeong meninggikan suaranya. “Setidaknya beritahu dia yang sebenarnya bahwa kau sakit parah.”

“Apa yang kau pikirkan? Menurutmu siapa yang menyukai orang yang akan mati?” Teriak Sohee tak mau kalah. Tapi tiba-tiba tubuh Sohee lemas dan ambruk ke lantai. Dia mimisan lagi. Hyejeong yang panik langsung menekan tombol panggilan gawat darurat. Hyejeong berusaha membantu Sohee berdiri, tapi Sohee yang masih sadar marah dan menepisnya. “Pergi! Kubilang pergi!” Bentak Sohee.

Hyejeong mondar-madir cemas, sementara Yongguk masih menunggu apa yang ingin Hyejeong katakan. Karena sudah 30 menit berlalu dan gadis itu masih diam. Hyejeong bingung bagaimana cara mengatakannya?

“Kenapa? Ada apa? Apa Sohee tidak menyukaiku lagi?” Tanya Yongguk melihat gelagat aneh dari Hyejeong.

“Bukan begitu. Yang ingin ku katakan padamu, sebenarnya…..” Ucapan Hyejeong terputus saat ponsel Yongguk berbunyi.

“Yongguk-ssi, aku merindukanmu. Aku menahan diri untuk tidak mengirim sms, tapi akhirnya aku mengirimnya..” Isi pesan yang di tulis Sohee.

“Apa kau begitu menyukainya?” Tanya Hyejeong saat melihat Yongguk tersenyum bahagia setelah menerima sms dari Sohee.

“Ya.”

“Bagaimana mungkin kau bisa begitu menyukainya secepat ini?” Teriak Hyejeong. Yongguk menatap heran kenapa tiba-tiba Hyejeong marah. “Bukan begitu. Maksudku, kau baru saja putus dengan Moohyun dan sekarang kau sangat menyukai Sohee. Aku takut kau tidak tulus pada temanku dan hanya menjadikan dia sebagai pelarian.” Bohong Hyejeong. Dia tidak tega mengatakan yang sebenarnya tentang penyakit Sohee. Apalagi Yongguk baru saja membuka hatinya untuk Sohee.

Di sekolah, Hyejeong berjalan pelan. Dia sedang memperhatikan kelas Yongguk. Berharap dia bisa bertemu dengan pemuda yang diam-diam disukainya itu. “Sejak hari itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Yongguk. Leeteuk juga tidak pernah menelepon lagi.” Batin Hyejeong.

Seseorang datang menghampiri Hyejeong dan bertanya dimana kantor kepala sekolah. Hyejeong menunjuk sebuah ruangan disamping ruang guru sambil menoleh ke arah orang yang bertanya tersebut. Sohee! Ternyata orang yang bertanya ruang kepala sekolah adalah Sohee. Dia sengaja berangkat ke sekolah dan tersenyum, bersikap seolah dia tidak pernah sakit.

“Aku hidup kembali.”

Hyejeong diam tak percaya melihatnya. Moon datang merangkul Sohee. “Hei kenapa kau tak memberitahu kami kalau kau sudah keluar dari rumah sakit?”

Sohee seperti akan memukul Moon, “Kau yang tak pernah datang menjengukku lagi!”

“Apa kau benar-benar sudah sembuh?” Tanya Hyejeong.

“Aku sangat yakin akan hidup lebih lama darimu.” Jawab Sohee percaya diri.

Moon lantas memeluk Sohee. Dia senang Sohee bisa kembali berkumpul bersama mereka. “Bagaimana dengan Yongguk? Apa kalian sudah berciuman?”

“Ciuman pertama itu sudah tidak penting lagi.” Jawab Sohee asal.

Moon masih penasaran, “Kau melakukannya atau tidak?”

Sohee tidak menjawab. Dia malah beralih pada Hyejeong. “Apa kau merasa berbeda sekarang setelah aku sembuh?”

Hyejeong yang sedari tadi diam malah marah dan membuang minumannya. Dia berlalu meninggalkan kedua sahabatnya. Membuat Moon terheran-heran dengan sikap Hyejeong.

Saat jam istirahat, ketiganya makan bersama di kantin. Sohee makan dengan lahap. Sohee bertanya pada Hyejeong apa dia boleh meminta telur Hyejeong. Hyejeong yang biasanya memberikan segala yang Sohee minta malah menepis sumpit Sohee yang akan mengambil telur dadarnya. Hyejeong malah melahap dan menghabiskan semuanya tanpa sisa.

Ketika ketiganya berada di depan box untuk mengambil boneka. Hyejeong yang mengendalikan mesin pencapit malah mengambil boneka yang diinginkannya, bukan yang diinginkan Sohee.

“Kenapa kau pilih yang itu? Aku bilang yang satunya!” Rengek Sohee. Tanpa memperdulikan permintaan Sohee, Hyejeong lantas mengambil boneka yang ia dapat.

“Apa aku tak boleh memilih apa yang aku suka dengan uangku sendiri?” Omel Hyejeong. “Sampai kapan aku harus melakukan semua yang kau minta?” Hyejeong membanting bonekanya lalu pergi meninggalkan Sohee dan Moon yang terheran-heran melihat tingkah Hyejeong.

“Kenapa dia? Apa dia sedang menstruasi?” Tanya Sohee kebingungan.

Hyejeong sedang belajar seorang diri. Telinganya sengaja dia tutup dengan earphone. Ponselnya berdering, dari Leeteuk. Tapi Hyejeong tidak menjawabnya. Hyejeong membiarkan ponselnya terus berdering hingga Yongguk datang menemuinya.

Yongguk melepas earphone yang terpasang di telinga Hyejeong. “Aku tahu kau sedang tidak belajar. Mau minum kopi?” Tawar Yongguk. “Aku dengar kau tak menjawab telepon dari Sohee” Lanjutnya.

“Apa karena ini kau mengajakku minum kopi? Apa dia yang memberitahumu? Apa benar karena dia?!” Hyejeong yang marah meremas gelas kopinya. Hyejeong akan pergi, tapi Yongguk menahan tangannya.

“Bersenang-senanglah kau dengannya dan beritahu dia agar tidak meneleponku lagi. Aku tidak akan menahan diriku untuknya lagi. Aku akan belajar. Aku tidak akan bolos sekolah untuknya. Aku akan mematikan ponselku. Aku akan makan telurku dan aku tidak akan bohong kalau aku menyukai seseorang…. aku juga akan menyatakan perasaanku.” Hyejeong menepis tangan Yongguk dan berlalu meninggalkannya. Tapi saat Hyejeong akan pergi, dia melihat sebuah ambulan memasuki area sekolah. Seorang perawat keluar dari sana dan lari dengan tergesa-gesa di depannya.

Sohee. Hyejeong melihat Sohee yang sudah tak sadarkan diri di papah oleh beberapa guru dan Moon yang menangis sesenggukan. Tanpa pikir panjang lagi Hyejeong berlari ke arah ambulan. Dia ikut panik, “Kenapa dia? Tunggu dulu, seseorang tolong jelaskan padaku kenapa dia?”

Di Rumah Sakit, ibu Sohee menangis. Dia bercerita pada Moon dan Hyejeong ingin pergi ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya untuk yang terakhir kali. Sohee terus memohon untuk bisa sekolah selama beberapa hari.

“Kau bohong kan?” Teriak Hyejeong yang memaksa ingin masuk ke dalam ruangan khusus tempat biasa Sohee di rawat. “Kau bilang kau sudah sembuh. Hei Jung Sohee, bangun! Dasar gadis bodoh pembohong!” Teriak Hyejeong. Dia lalu berlari menemui Yongguk yang  masih ada di parkiran. Dengan nafas terengah-engah Hyejeong akhirnya mengaku pada Yongguk kalau dia menyukai Yongguk.

“Aku menyukaimu. Aku sudah menyukaimu sebelum Sohee menyukaimu. Tapi sekarang aku tidak akan menyukaimu lagi karena temanku lebih menyukaimu. Dia berbohong padamu tentang sesuatu. Jangan marah. Tapi saat ini dia sedang sekarat.” Tangis Hyejeong pecah. “Dia berbohong kalau dia sudah sembuh. Bisakah kau tetap menyukai temanku? Dia ingin melakukan ciuman pertama dengan cinta pertamanya. Kumohon, ciumlah temanku. Temanku akan mati tanpa pernah mencium siapapun!”

“Kami sudah putus. Aku diputuskan lagi!” Ucap Yongguk sedih, dan Hyejeong terbelalak tak percaya.

Yongguk menjenguk Sohee yang terlihat lebih baik. Sohee minta maaf pada Yongguk karena sudah berbohong. Dia hanya benar-benar ingin merasakan ciuman.

Yongguk tersenyum, “Benarkah? kalau begitu aku akan menciummu!” Yongguk mendekatkan wajahnya ke wajah Sohee. Tubuh Sohee menegang, tangannya mencengkeram selimut, matanya terpejam.

“Aku tak bisa melakukannya!” Ucap Sohee ketika bibir Yongguk hampir menempel di bibirnya. “Aku belum menggosok gigi, jadi cium di pipi saja.”

Yongguk tertawa sambil menjitak pelan kepala Sohee. “Aku menyukaimu. Ah tidak. Tapi aku menyayangimu. Dan kau harus bertanggung jawab atas itu.” Yongguk mencium pipi kanan dan kiri Sohee. Dia juga mengecup kening Sohee, membuat gadis itu melayang entah ke langit berapa.

“Dewi cinta, cupid. Dia anak yang manis bukan?” Sohee berusaha menjodohkan Yongguk dengan Hyejeong.

“Hei kau sudah mencampakkanku, jadi jangan campuri kehidupan cintaku.” Yongguk pura-pura marah. Keduanya lantas tersenyum.

“Setelah dipikir-pikir kau bukanlah cinta pertamaku. Ada seseorang yang ku sukai jauh sebelum kau.” Sohee menerawang.

“Tidak masalah jika aku bukan cinta pertamamu. Tapi akan aku pastikan kalau aku menjadi ciuman pertamamu.” Yongguk meletakkan kedua tangan Sohee ke pundaknya dan mencium lembut bibir Sohee dengan sangat, sangat, sangat, sangaaaaaaaaaat lama.

Hari terus berlalu, dan kesehatan Sohee semakin memburuk. Hyejeong dan Yongguk ada di rumah sakit menemaninya.

Hyejeong tampak menyembunyikan kesedihannya, “Apa-apaan ini? Kau bilang kau hidup kembali, kenapa jadi seperti ini?”

Sohee yang terbaring lemah menatap Hyejeong, “Ini memalukan. Jadi aku hanya akan mengatakannya sekali.”

“Diam kau!” Hyejeong melarang Sohee bicara. Dia terlihat menahan kesedihannya.

“Hal-hal yang ingin kulakukan dengan cinta pertamaku…. setelah dipikir-pikir, aku sudah melakukan semuanya bersamamu. Naik sepeda bersama. Saling menyuapi. Melihat bintang bersama. Menghabiskan malam bersama. Bersenang-senang. Pergi ke pantai. Aku telah melakukan semua untuk yang pertama kalinya bersamamu.” Sohee mengenang kebersamaannya dengan Hyejeong. Diam-diam Hyejeong mengusap air matanya yang menetes entah sejak kapan. “Aku bukannya suka pada wanita. Tapi setelah dipikir-pikir, cinta pertamaku adalah kau.”

“Siapa bilang aku mengijinkanmu menjadi cinta pertamaku? Tidak mungkin.” Hyejeong sesenggukan.

“Bantu aku bangun!” Pinta Sohee.

“Kau berbaring saja!” Titah Hyejeong.

Sohee memaksakan diri untuk bangun. Dalam keadaan tubuh yang lemas, Sohee merentangkan tangannya. Tanpa kata keduanya-pun berpelukan erat.

“Apa?!” Air mata Hyejeong terus mengalir.

“Kau lihat? Semua keinginanku sudah terwujud.” Sohee tersenyum bahagia. Hyejeong memeluk Sohee sangat erat. Sambil memeluk Hyejeong, Sohee mengulurkan tangannya ke arah Yongguk yang juga menangis dalam diam. Yongguk menggenggam tangan Sohee “Cinta pertamaku.. dan ciuman pertamaku..”

“Hei lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa bernapas.” Keluh Hyejeong sambil menggoyangkan tubuh Sohee.

“Dia pergi. Dengan tersenyum.” Lirih Yongguk.

“Tidak. Tidak mungkin. Hee-ya, kau mendengarku kan? Hei Jung Sohee! Bicaralah.” Hyejeong menggoyang tubuh Sohee, tapi tidak ada respon. Hyejeong berteriak dan menangis sejadinya.

Upacara penghormatan pada almarhum dilakukan di rumah sakit. Hyejeong berdiri di luar, terdiam sedih tanpa bisa menitikan air mata lagi. Moon menangis sesenggukan. Satu persatu teman sekolah mereka datang melayat.

Hyejeong meringkuk di bawah tempat tidur rumah sakit dimana Sohee dirawat. Di atas kasur ada dua buah kado dari Sohee untuk Hyejeong dan Moon yang Sohee titipkan pada sang ibu.

“Pakailah saat kencan buta pertamamu.” Pesan yang ada di dalam kado tersebut. Yongguk bercerita pada Hyejeong bahwa Sohee pernah meminta Yongguk untuk menemaninya membeli pakaian. Sohee sengaja membelikan pakaian yang agak besar untuk Hyejeong dan Moon karena Sohee sadar bahwa dia tidak akan bisa melihat kedua sahabatnya tumbuh menjadi wanita yang cantik.

Hyejeong menangis tersedu-sedu sambil memeluk hadiah dari Sohee.

Bulan pun berlalu…. Hyejeong mengenakan pakaian pemberian Sohee. Hyejeong tergesa-gesa masuk ke suatu tempat. Tapi sial sepatunya copot karena kebesaran. Di tempat itu Yongguk sudah menunggunya dengan malas.

“Kau sudah membuatku menunggu!” Omel Yongguk. Dia lantas mengajak Moon dan Hyejeong ke sebuah cafe dimana sudah ada dua orang pria yang menunggunya. Ternyata Yongguk sedang mengatur kencan buta untuk Hyejeong dan Moon. Moon terlihat sangat gugup. Sementara dua pria yang ada di depan tersenyum menatapnya.

“Aku dengar ini kencan buta pertamamu.” Ujar Jongup, pria yang ada di depan Hyejeong. Hyejeong menunduk mengiyakan. Pria itu menatap Hyejeong lebih dekat, “Apa kau pernah punya pacar?”

“Tidak.” Jawab Hyejeong. Dia ingat dengan pesan yang ditulis Sohee.

“Jangan menunduk di depan pria. Kau harus percaya diri.”

“Bagaimana mungkin gadis secantik dirimu tidak pernah punya pacar?” Goda Jongup.

“Karena aku… masih tidak bisa melupakan cinta pertamaku!” Jawab Hyejeong dengan senyum lebar.

-END-

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: