AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

Reason ー Why Did You Like Me?


Ketika seseorang dari masa lalu yang hilang tiba-tiba datang, itu adalah hal yang luar biasa. Karena artinya hidup mereka telah kembali.

Yongguk berkeliling di sebuah toko buku. Dia memperhatikan para pengunjung toko buku lalu berjalan mendekati Sohee. “Ini adalah misteri.”

Sohee yang sedang membaca buku mengalihkan perhatiannya pada Yongguk, “Apanya yang misteri?”

Yongguk lalu menunjuk satu persatu pengunjung toko buku yang kebanyakan adalah perempuan. “Mengapa lebih banyak perempuan dibanding laki-laki?” Tanyanya heran.

Sohee tersenyum mendengarnya. “Tentu saja akan lebih banyak perempuan di banding laki-laki. Memangnya kenapa? Apa harus ada alasan? Haruskah lebih banyak laki-laki di banding perempuan di toko buku?” Sohee balik bertanya.

Yongguk kembali berpikir. Mengapa perempuan pergi ke toko buku? Tentu saja untuk membeli buku, bukan? Memangnya apalagi? Untuk mendapatkankan tempat dan suasana yang nyaman? Bukan. Untuk menghabiskan waktu luang? Sepertinya bukan juga. Lalu apa?

“Karena mereka menjadi lebih cantik.” Sahut Sohee.

Yongguk bingung, bagaimana bisa perempuan menjadi lebih cantik hanya dengan datang ke toko buku?

“Seorang perempuan yang membaca buku akan terlihat cantik. Apa kau tidak pernah melihat lukisan-lukisan tua perempuan yang membaca buku?” Lanjut Sohee.

Yongguk coba mengingat, rasanya ia memang pernah melihat lukisan-lukisan dengan perempuan yang membaca buku. Dan mereka semua memang terlihat cantik. Yongguk lantas mengangguk-angguk seolah membenarkan ucapan Sohee.

“Lalu apa kau pernah melihat lukisan tua seorang laki-laki yang membaca buku?” Pertanyaan Sohee membuat Yongguk kembali berpikir.

“Han Suk Bong?” Ujar Yongguk ragu. “Ah tidak. Dia seorang penulis.” Ralatnya kemudian.

Sohee benar, sepertinya Yongguk memang tidak pernah melihat lukisan tua laki-laki yang sedang membaca. Tapi tetap saja Yongguk masih tidak bisa menerima penjelasan Sohee tentang alasan kenapa lebih banyak perempuan di toko buku daripada laki-laki.

“Benarkan?” Sohee tertawa geli. Sementara Yongguk merasa bahwa Sohee hanya membicarakan hal yang tak masuk akal.

“Lalu, apa kau pikir seorang lelaki lebih indah saat membaca buku? Tidak. Tidak sama sekali, teruma kau Yongguk-ssi, kau sama sekali tidak terlihat tampan saat membaca buku.” Ejek Sohee. Keduanya terlibat dalam perdebatan yang sebenarnya sama sekali tidak penting.

“Kalau begitu, baca lebih banyak buku agar kau terlihat semakin cantik!” Itu perintah, bukan permintaan. Terdengar seperti sebuah sindiran memang, tapi jika membaca buku benar-benar bisa membuat wanita jadi semakin cantik, Yongguk ingin melihat Sohee menjadi lebih cantik lagi. Meski tanpa membaca buku-pun wanita yang berdiri di hadapannya itu sudah terlihat lebih dari sempurna di mata Yongguk. Pria itu lantas berjalan meninggalkan Sohee untuk mencari pegawai toko buku dan bertanya tentang bahan yang akan ia gunakan untuk mendukung presentasinya.

Sohee melihat kepergian Yongguk sambil tersenyum. Dengan terus memandang punggung Yongguk, ia bergumam dalam hati, “Seorang lelaki yang menjadi lebih tampan saat membaca, sebenarnya ada….”

Flashback
Musim dingin 2010
Leeteuk sedang membaca buku cerita. Sohee datang dan bertanya, apakah Leeteuk sedang membaca buku? Leeteuk menjawab tidak. Dia hanya sedang memperhatikan gambar yang ada di dalam buku tersebut. Sohee lantas melihat buku yang ada di tangan Leeteuk. “Ah, Snow Queen rupanya.” Lirih Sohee.

“Sohee-ya, ketika kau naik kereta luncur, menurutmu mana yang akan dingin lebih dulu, tangan atau hidungmu?” Tanya Leeteuk tiba-tiba.

Dengan sedikit kebingungan Sohee berkata, “Aku akan memberikan sarung tangan agar tanganmu tidak kedinginan. Aku juga akan memberikan masker agar hidungmu tidak kedinginan, Oke?”

“Tapi aku suka kedinginan.” Sahut Leeteuk.

Dengan kesal Sohee akhirnya pergi meninggalkan Leeteuk, “Orang mana yang suka menjadi dingin?” Gerutunya.

Sementara itu Leeteuk masih duduk dan berpikir, bagian tubuh manakah yang akan menjadi dingin pertama kali? Apakah hidung? Ataukah kaki? Yang pasti, beberapa saat kemudian Leeteuk berusaha mengejar Sohee, “Sohee-ya! Hey Jung Sohee!” Teriaknya sambil terengah-engah.

Sohee tersenyum. Ia sudah menduga bahwa Leeteuk akan mengejarnya dan meminta maaf.

“Aku ingat. Bukan tangan ataupun hidung, tapi kaki-lah yang akan merasakan dingin untuk pertama kali. Yah, kakiku.” Ujar Leeteuk tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Sohee menatap Leeteuk yang seperti anak kecil. Yang bisa terlihat senang hanya dengan mengingat hal semacam itu. Sohee bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.

“Sohee-ya, bahkan jika aku membeku di dalam es. Bahkan jika aku menjadi Kai dari Snow Queen. Jangan pernah datang untuk mencariku..” Kata-kata itu mengambang begitu saja, tak mampu Leeteuk ucapkan.
Flashback End

“Apa yang dia pikirkan, apa yang dia bicarakan, aku tidak pernah bisa mengerti dia. Dia terlalu sibuk hidup di dalam dunianya sendiri, sehingga tidak pernah menyadari bahwa aku terluka..” Gumam Sohee dalam hati. Ia lantas berjalan untuk mencari buku lain, masih sambil memikirkan Leeteuk, “Aku bertanya-tanya tentang keadaannya. Aku berharap dia baik-baik saja saat ini. Dia mungkin bermain dengan seseorang sambil memakai sarung tangan dan syal, lalu…” Ucapan Sohee terhenti seketika saat tiba-tiba ia melihat sosok Leeteuk ada di toko buku yang sama dengannya, “Itu dia. Lelaki yang ada diingatanku.”

Leeteuk sedang sibuk melihat beberapa buku. Ia kemudian berjalan ke arah lain. Sohee mengikutinya begitu saja, dia bahkan lupa dengan Yongguk yang juga ada disana dan sedang sibuk mencari sesuatu.

Saat Leeteuk keluar dari toko buku itu, Sohee-pun mengikutinya dari belakang tanpa memikirkan Yongguk yang mungkin saja akan panik mencarinya di toko buku. Sohee mengikuti Leeteuk hingga pria itu tiba di sebuah taman. Sohee melihat Leeteuk dari kejauhan. Pria itu terlihat sedang melukis sepasang kekasih yang duduk di hadapannya.

Sohee tersenyum kecil dan bergunam, “Dia tampak seperti seorang pangeran dari negeri dongeng. Dia adalah cinta pertamaku. Enam tahun telah berlalu, tapi dia masih sama seperti yang aku ingat.” Sohee masih tetap menatap Leeteuk hingga pria itu selesai melukis. Saat Leeteuk mulai membaca buku, Sohee hendak pergi. Namun ponselnya bedering, Yongguk yang menelponnya dan bertanya dimana Sohee? Dia mencari Sohee di toko buku tapi Sohee tidak ada dimanapun. Sohee lalu mengatakan pada Yongguk bahwa dia akan segera kembali ke toko buku.

Sekembalinya Sohee ke toko buku, Leeteuk sudah berdiri disana. Pria itu sedang memegang buku dan tersenyum kepada Sohee. “Sebuah luka yang mendalam, terkadang bisa membuatmu berimajinasi. Kau akan melihat apa yang ingin kau lihat. Ini membuatmu melihat orang yang sangat ingin kau temui dari masa lalu. Mungkin seseorang yang kau rindukan. Orang yang bisa membuatmu tersenyum sekaligus menangis. Yang akan membuatmu melihat kembali waktu yang telah kau habiskan denganya.” Gumam Sohee dalam hati. Tapi sedetik kemudian, Sohee tak melihat apapun. Tidak ada Leeteuk yang tersenyum kepadanya. Bahkan tidak ada siapapun di tempat Leeteuk berdiri tadi.

“Semua itu hanyalah imajinasiku saat ini. Begitu kembali ke dunia nyata, aku tidak bisa melihatnya. Aku hidup dalam kenyataan tapi kesan akan dirinya masih tertanam di dalam ingatanku.” Sohee tertunduk dengan senyum samar. Sampai saat Yongguk datang mengejutkannya.

“Apa kau sudah memilih buku yang akan kau beli?” Tanya Yongguk yang kembali dengan membawa beberapa barang.

“Belum, bagaimana denganmu?” Jawab Sohee dengan sedikit perasaan bersalahnya pada Yongguk.

Yongguk menunjukan sebuah ornamen yang terbuat dari kaca. Sohee tersenyum karenanya dan kemudian bertanya, “Kenapa kau membeli benda kekanakan seperti itu? Ini bukan gayamu?”

“Karena aku ingin melihatmu tersenyum.” Entah kenapa jawaban sederhana Yongguk itu malah membuat Sohee terkejut.

Yongguk melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu jam 1 lebih 10 menit. Yongguk lantas mengajak Sohee keluar dari toko buku jika sudah tidak ada lagi yang akan mereka butuhkan disana.

Yongguk-pun menggandeng Sohee keluar dari toko buku. Dengan masih sedikit `tidak rela`, Sohee kembali melihat ke belakang, mencari sang imajinasinya, “Sudah lama sejak aku meninggalkannya di sini, kemudian pergi. Aku tidak tahu mengapa itu mengangguku begitu lama. Alasan mengapa dulu aku meninggalkannya?”

Dalam imajinasi Sohee, Leeteuk kembali hadir disana, sambil menatap kepergian Sohee dengan tersenyum.
___

Yongguk dan Sohee duduk berhadapan sambil menatap ornamen kaca yang di beli Yongguk dari toko buku tadi. Di dalam ornamen kaca itu, terdapat sepasang pria dan wanita yang sedang berciuman.

“Perempuan itu pasti kau kan? Tapi… Lelaki disana, apakah itu aku?” Lagi-lagi ucapan Yongguk membuat Sohee sangat terkejut.

“Tentu saja itu aku, mengapa kau begitu terkejut? Lelaki itu terlihat seperti aku dan perempuan itu terlihat sepertimu.” Ujar Yongguk cepat sebelum Sohee sempat menjawab pertanyaan Yongguk sebelumnya. Sohee hanya bisa tersenyum canggung mendengar jawaban Yongguk.

“Lelaki itu bukan aku. Aku tahu itu. Jika itu bukan aku, lalu siapa dia? Selama 4 tahun ini, aku adalah pria yang selalu bersamanya..” Gumam Yongguk sambil menatap ornamen kaca itu.

Flashback
Leeteuk sedang menatap sebuah lukisan di dinding dengan penuh konsentrasi. Sohee datang dan melihat Leeteuk yang sama sekali tidak menyambut kedatangannya. Sohee mengecek sesuatu di atas meja, dan dia mulai menyadari sesuatu, “Kau tidak mendaftar untuk kompetisi?”

Leeteuk sama sekali tidak menjawab, dia masih fokus pada apa yang dilihatnya.

“Jika kau tidak mengikuti kompetisi, mengapa kau menjadi pelukis?” Sohee merasa frustasi melihat Leeteuk yang tampak tak peduli sama sekali.

“Pulau itu, pulau yang ada di lukisan itu,  apakah itu terlihat seperti pesawat Apollo?” Ujar Leeteuk yang semakin membuat Sohee kesal.

“Tidak bisakah Kau melihatku? Apakah kau hanya peduli pada impianmu saja? Mengapa kau tidak melakukan apapun?” Sohee melempar beberapa berkas yang berserakan di meja. Parahnya, Leeteuk hanya diam saja. Dan diamnya Leeteuk semakin membuat Sohee merasa frustasi.

“Katakan sesuatu! Apakah kau tidak menyukaiku? Itukah alasan mengapa kau tidak mau bicara?” Bentak Sohee.

“Bukan” Leeteuk akhirnya menjawab.

“Lalu mengapa?” Tuntut Sohee, ingin mendapat jawaban yang setidaknya membuat hatinya puas.

“Hanya saja… Tidak ada alasan.”

“Aku sangat frustasi setiap kali memikirkanmu. Dunia terus berputar, tapi kau seperti dari planet lain. Aku tidak bisa membayangkan masa depan bersamamu.” Ujar Sohee yang sudah sangat merasa lelah. Gadis itu terduduk lesu di atas kursi.

“Aku tidak akan berubah. Kau juga tidak harus berubah. Maka kita pun tidak akan pernah berubah.” Balas Leeteuk dengan tenangnya.

Sohee tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka tidak berubah sementara dunia terus berputar dan waktu terus berjalan?

“Apakah kau tak bisa memiliki pekerjaan tetap? Haruskah aku mencarikan pekerjaan untukmu di tempatku bekerja?” Sambar Sohee tak sabaran melihat tingkah Leeteuk.

“Mengapa kau menyukaiku?” Balas Leeteuk. Tentu saja itu bukan jawaban yang di inginkan Sohee atas pertanyaan yang ia lontarkan tadi.

Melihat Sohee yang kebingungan, Leeteuk mengulangi pertanyaannya. “Mengapa kau menyukaiku?”

Sohee termenung. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Namun sejujurnya hatinya terus bergejolak. “Aku tidak bisa menjawabnya. Kata-kata itu mengambang di dalam hatiku, tapi tak pernah keluar. Aku lupa alasanku menyukainya. Aku benar-benar tidak ingat. Dan hatiku merasa sangat hancur setiap kali memikirkan tentangnya.”

-TBC-

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: