AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

FF Oneshot — Love Freak


Embun pagi mendesahkan nafasnya kasar menyusuri tiap mil kehidupan yang tercipta di sekelilingnya. Menyusup malu-malu melalui celah-celah ventilasi lalu membelai insan yang tengah terlelap. Bang Yongguk menggeliat kecil, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali begitu indra penglihatannya mulai bekerja normal. Ia lalu melemparkan pandangannya ke sosok yang juga baru membuka mata di sisinya.

Iris caramel yang begitu indah dan teduh itu memancarkan binar yang begitu hangat juga menyenangkan. Oh, Tidak. Sialnya bukan hanya organ itu saja yang begitu indah dan sedap untuk dipandang, tapi juga keningnya, hidungnya, pipinya serta bibirnya-pun menawan.

Sempurna.

Semuanya.

Yongguk menyukai semua yang ada di dalam diri gadis itu. Tanpa terkecuali. Ditambah lagi, ketika kurva manis itu tercetak di bibir merah mudanya.

Oh! Gawat! Bang Yongguk bahkan sampai kesulitan meredam gelora asmaranya yang membuncah begitu sudut bibir gadis itu tertarik. Wajah Yongguk langsung memerah, panas! Ingin sekali ia mengecup ranumnya bibir itu, membuai gadis itu dalam hasratnya yang kian bergejolak.

“Morning, Darling…” suara itu tercetus dari bibir ranum gadisnya. Begitu lembut dan memanjakan telinga.

“Bagaimana tidurmu semalam, Sohee-ya?” sahut Yongguk tanpa menggubris sapaan gadis itu sebelumnya. Sohee hanya menanggapi dengan senyuman tipis yang justru semakin membuat Yongguk kesulitan meredam hasratnya.

Yongguk mulai mendekatkan wajahnya ke arah Sohee. Menyebabkan semburat merah di pipi gadis itu kian merona. Apalagi saat sebuah kecupan hinggap di bibirnya yang seperti candu, selalu membuat Yongguk ketagihan untuk mencicipinya. Lagi dan lagi.

“Nyenyak, bagaimana denganmu?” balas Sohee sembari mendorong pelan tubuh Yongguk lalu menegakkan tubuhnya hingga duduk di atas ranjang.

“Aku bermimpi tentangmu, tentang kita…” Yongguk mengambil jeda sejenak untuk beringsut bangkit dari posisinya, kemudian kembali menatap lekat wajah Sohee, “…Aneh. Awalnya kita berjalan berdua. Lalu kau mendahuluiku. Kau memintaku untuk menangkapmu. Tapi tiba-tiba aku kehilangan jejakmu, kau hilang, dan aku tak bisa menemukanmu lagi,”

Sohee tertegun menatap wajah Yongguk yang mendadak berubah menjadi murung. Sohee kemudian menjulurkan satu tangannya untuk menggapai bahu prianya itu untuk sekedar memberi sentuhan penenang. Yongguk menoleh, dan mendapati iris caramel itu menatapnya dengan begitu intens.

“Kenapa kau sedih? Bukankah aku masih ada di sini bersamamu?” Ujar Sohee diiringi senyumannya.

“Aku hanya takut kehilanganmu seperti yang terjadi di dalam mimpiku. Kau tidak akan pernah meninggalkanku, kan?” Tanya Yongguk lengkap dengan gurat penuh kecemasan.

“Aku janji..” Mendengar ikrar itu, Yongguk langsung merengkuh tubuh Sohee ke dalam pelukannya. Memberikan kehangatan tiada tara untuk tubuh dingin gadisnya.

Semenjak itu, Yongguk tahu.. tidak ada pria lain yang bisa menjaga Sohee seperti dirinya. Tidak ada pria lain yang bisa memberikan kenyamanan pada gadisnya. Tidak ada pula yang bisa memiliki gadisnya selain dirinya sendiri. Sohee adalah miliknya, miliknya seutuhnya, seluruh yang melekat di tubuh gadis itu adalah miliknya. Nafasnya, debar jantungnya, desir aliran darahnya, denyut nadinya, hatinya, otaknya dan segala yang bersarang di dalam tubuh itu adalah miliknya, milik Bang Yongguk.

Sohee tersenyum simpul dalam dekapan Yongguk, dan tak lama kemudian ia melonggarkan pelukannya lalu berganti menatap lekat wajah Yongguk yang tampak tak rela aktifitas mereka itu berakhir.

“Aku mau cuci muka dulu, lalu membuat sarapan untuk kita,” ucap Sohee sembari menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi tirus Yongguk.

“Jangan lama-lama, kembalilah lagi kemari dan beritahu aku kalau sarapannya sudah selesai.”

Sohee kembali tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan lalu bergegas ke kamar mandi.

Yongguk kembali menyandarkan dirinya pada sandaran ranjang sambil menatapi punggung Sohee yang kian lama kian menjauh. Mengawasi tiap gerak-gerik gadisnya agar ia tak kehilangan jejaknya. Hiperbola memang, tapi Yongguk benar-benar tak ingin hal itu terjadi.

.

Detik berganti menit, dan menit sebentar lagi berganti jam, Yongguk mulai gusar dan gelisah. Ia bangkit dari posisinya lalu menuju meja rias yang letaknya berhadapan dengan ranjangnya. Ia duduk di depan cermin sambil mengusap dan menatap wajah kusutnya. Sohee sukses memporak-porandakan mood-nya pagi ini.

Bayangkan saja untuk mencuci muka saja ia memerlukan waktu lebih dari setengah jam! Bagaimana Yongguk tidak kesal karenanya? Apalagi, gadis itu sudah berjanji padanya untuk segera kembali ke kamar dan memberitahunya bahwa sarapan mereka sudah siap.

Tapi sekarang? Sohee bahkan belum keluar dari kamar mandi, bagaimana bisa ia menyiapkan sarapan untuk mereka?

Yongguk meremas rambutnya geram dan kembali memandangi pantulan dirinya di dalam cermin. Sesaat kemudian cermin itu menangkap sosok lain. Dan sosok itu kini berdiri tepat di belakang Yongguk. Itu gadisnya, Jung Sohee.

Sontak Yongguk langsung menoleh. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Sohee tidak ada di sana. Hanya desir angin yang berhembus pelan mengisi kehampaan di tempatnya berdiri sekarang.

“Sohee-ya… kau bersembunyi?” Tanya Yongguk. “Kau masih di kamar mandi? Kenapa lama sekali?” Tidak, tidak mungkin apa yang Yongguk lihat tadi hanya sebuah ilusi. Ia yakin benar bahwa sosok yang ia lihat tadi adalah Sohee. Tapi.. sekarang dimana gadis itu berada? Kenapa cepat sekali berlalu dari hadapannya? Yongguk menepuk pipinya beberapa kali, memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

Lalu.. sosok yang tadi? Hantu? Mana mungkin pagi-pagi sudah ada makhluk seperti itu. Ah, sepertinya Yongguk sedang melamun tadi. Terlalu banyak memikirkan Sohee membuat bayangan gadis itu seolah beredar di mana pun. Yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah menepis semua pikiran negatif dan pertanyaan-pertayaan absurdnya tentang Sohee.

Yongguk bangkit dari posisinya, kemudian menuju kamar mandi — menyusul Sohee sekaligus memastikan bahwa wanita itu masih berada di dalam sana. Pria itu mengangkat satu tangannya yang terkepal ketika pintu bewarna krem itu tepat berada di depannya.

Tok.. Tok.. Tok..

“Sohee-ya? Kau masih di dalam? Boleh aku masuk?” ucap Yongguk setengah memekik, “Sohee-ya?” Yongguk kembali mengetuk pintu. Kali ini sedikit lebih keras dan dengan ritme yang tak beraturan.

Tak dipungkiri kali ini ia sudah cukup emosi. Gadis itu… selalu begini setiap pagi, selalu! Tapi entah mengapa ia selalu punya cara untuk menjebak Yongguk lagi ke dalam lubang yang sama yaitu.. cinta dan pesona. Parahnya, setiap pagi Yongguk tak bisa menampik semua itu, karena ia terlalu lemah dan mudah begitu saja mempercayai Sohee dengan sejumlah alasannya untuk pergi dari sisi Yongguk. Seperti pagi ini.

Tenang.. tenang..

Batin Yongguk bergemuruh hebat. Sebisa mungkin ia mencoba menenangkan jiwanya yang diliputi amarah walau sebenarnya usaha untuk menenangkan diri itu tak terlalu berhasil.

“Sohee-ya!?” emosi Yongguk kini sudah sampai di ubun-ubun.

“Jung Sohee!!!” Lantangnya suara Yongguk memecah keheningan pagi.

Arrggghh!!!

Yongguk sudah tidak punya kesabaran lagi sekarang. Buat apa berteriak dan mengetuk pintu kamar mandi jika yang di cari malah bungkam dan tak bersuara? Lebih baik ia mengambil tindakan bukan?

Baiklah, sekarang Yongguk mundur beberapa langkah. Menarik nafasnya dalam-dalam kemudian mengerahkan segenap energi dan semangatnya yang tertelan dalam bongkahan emosi. Ia maju dengan kekuatan penuh untuk mendobrak pintu kamar mandi hingga jatuh ke lantai.

Dada Yongguk naik turun. Sebisa mungkin ia mengatur nafasnya yang tak beraturan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mandi. Memastikan bahwa Sohee berada di depan washtafel, namun ternyata nihil. Sohee tak ada di sana. Ruangan itu kosong. Yang ada hanyalah suara desir angin dan tetesan air dari washtafel.

Sial!

Yongguk mengumpat dalam hati. Kemana perginya gadis itu? Kemana!? Yongguk-pun berjalan perlahan ke dalam kamar mandi dan entah mengapa perhatiannya tertuju pada bathtube yang tertutup gorden abu-abu di sudut kiri kamar mandi.

“Sohee-ya?” panggilnya seraya menyibak gorden.

Dan.. sosok itu ada di sana.. Jung Sohee. Tubuh pucatnya tenggelam di dalam limpahan air yang bewarna merah. Darah. Yongguk terbelalak

“Sohee?” gumamnya dalam hati. Yongguk mundur tak percaya. Lalu sebuah tepukan di pundak membuatnya tersentak. Yongguk menoleh dan mendapati wajah manis Sohee tersenyum hangat padanya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Sarapannya sudah siap, aku menunggumu dari tadi,” suara Sohee yang terdengar manja itu menyadarkan Yongguk dari keterkejutannya. Ia menoleh kearah bathtube dan mendapati tempat itu kosong melompong. Tidak ada air bercampur darah. Tidak ada jasad Sohee. Tidak ada sama sekali. Yongguk kembali menatap Sohee dengan tatapan bingung.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat…” kata Sohee sambil mengusap peluh dingin yang bercucuran di pelipis Yongguk.

Aneh. Bahkan sentuhan gadis itu begitu hangat! Mengapa halusinasi itu memperdayainya hingga menjadi bodoh seperti ini? Yongguk bergeming. Terpaku bisu di tempatnya, sama sekali tak berkutik.

“Yongguk-ssi?” Sohee melambaikan tangannya di depan wajah Yongguk yang langsung terkesiap.

“Ya? Ah.. Mungkin aku terlalu banyak melamun.” Yongguk menarik tangan Sohee menjauh pergi dari kamar mandi.

.

Yongguk menelan sup jagung sesekali mencuri pandang ke arah Sohee yang duduk di hadapannya. Entah mengapa semenjak kejadian di kamar mandi tadi membuat Yongguk sedikit cemas dan takut.

Cemas. Karena Yongguk berasumsi bahwa tadi adalah sebuah firasat buruk yang akan menimpa Sohee. Yongguk takut. Sungguh. Yongguk tidak mau kehilangan Sohee. Bagaimanapun caranya, Sohee harus tetap ada di sisinya.

Yongguk meletakan sendoknya, kemudian menyeruput air mineral. Ia menarik napasnya dalam-dalam setelah air itu turun menyusuri tenggorokannya.

“Sohee-ya..”

Sohee mendongak, menatap wajah prianya, menunggu kalimat yang hendak pria itu katakan.

“Jangan tinggalkan aku dan pergi tanpa ijinku.”

Sohee menautkan kedua alisnya saat kalimat itu meluncur mulus dari bibir penuh Yongguk. Aneh.

xXx

Malam itu, entah mengapa Yongguk ingin pergi sendiri ke bar. Menikmati alunan musik sambil menikmati champagne yang ia pesan beberapa menit yang lalu.

Yongguk menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit bar yang bewarna biru dengan taburan bintang-bintang layaknya planetarium, kemudian kembali menyesap champagne yang mulai menyusut. Ia lantas menoleh pada panggung kecil yang berada di pojokan bar. Di sana ia mendapati sahabat lamanya, Daehyun yang tengah menenteng saxophone-nya dengan begitu gagah. Sejurus kemudian lantunan melodi indah itu menyapa setiap telinga yang haus akan alunan nada-nada penuh romansa yang lembut.

Malam ini Daehyun membawakan empat instrumen, tiga diantaranya adalah instrumen yang pernah dibawakan oleh Kenny G. Yongguk tersenyum puas, kemudian mengikuti pengunjung lainnya untuk memberikan standing applause kepada Daehyun. Daehyun beranjak dari panggung, dan tak lama kemudian ia menghampiri Yongguk.

“Champagne, satu!” Pinta Daehyun yang kini ada di samping Yongguk yang tersenyum ke arahnya.

“Aku tak menyangka perkembanganmu sepesat ini, Daehyun-ah” Yongguk buka suara.

“Sepesat apa? Aku hanya menjadi pemain saxophone dari bar ke bar, belum menjadi seorang Maestro,” balas Daehyun sambil menuangkan champagne-nya ke dalam gelas. “Boleh kita bersulang?” Yongguk terkekeh pelan kemudian turut mengisi kembali gelasnya yang kosong dan mereka pun bersulang.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Daehyun hati-hati. Mengamati inchi demi inchi sosok Yongguk yang tegap dan gagah.

“Aku bisa mendapatkan semuanya yang aku mau dengan mudah. Jadi tidak ada yang tidak berjalan dengan baik, bukan? Lalu, bagaimana dengan hidupmu, Maestro bar?”

Daehyun berdesis, “Maestro Bar? Ck! Berhentilah menggodaku Tuan Bang! Seperti yang kau lihat sekarang, aku masih sehat dan bisa tertawa. Oh, ya.. Katamu kau mendapatkan semuanya dengan mudah, itu berarti… Jung Sohee?”

“Bingo!” seru Yongguk, “sekarang dia ada di genggamanku.” imbuhnya seraya menggerakkan tangannya seakan meremas udara yang ada di tangannya.

Daehyun terbelalak.

“Sudahlah, hal seperti itu tidak usah di bahas! Yang jelas dia sudah menjadi milikku!” Yongguk mengibaskan tangan, seolah semua itu menjadi tidak penting lagi sekarang. Karena yang terpenting adalah. Ia sudah memiliki Sohee. Seutuhnya.

“Tapi…”

“Daehyun-ah! Jangan berlebihan. Kau seperti baru mengenalku saja. Oh ayolah, aku ini Bang Yongguk. Aku bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan, ya.. apapun!”

“Yongguk-ssi, bukan itu. Yaa meski aku sedikit meragukanmu tapi apa kau yakin kalian berpacaran? Apa Sohee juga mencintaimu? Kau tidak berhalusinasi atau semacamnya kan?”

“Berpacaran? Ck! Bukan hanya sekadar itu, Daehyun-ah! Sekarang, kami bahkan tinggal bersama!”

Daehyun tertegun untuk beberapa saat. Lalu ia memberanikan diri. “Coba kau lihat di belakangmu. Gadis itu mirip sekali dengan Sohee. Apa mataku salah?”

“Ck! Bodoh! Sohee sedang tidur di rumah, tidak mungkin dia ke sini, lagipula… buat apa?” tanggapan Yongguk masa bodoh.

Daehyun-pun kembali menajamkan pengelihatannya dan mengamati betul-betul sosok yang tengah duduk di meja bar di pojokan sana.

“Tapi dia mirip Sohee!” Daehyun menekankan.

Yongguk yang jengah dengan sikap sahabatnya itupun langsung menoleh dan mendapati sosok yang Daehyun katakan mirip dengan Sohee.

Dan betapa hati Yongguk remuk redam? Betapa seluruh persendiannya terasa luruh hingga tak berfungsi? Betapa emosinya kacau balau? Betapa ia ingin membanting seluruh meja yang ada di Bar ini?

Geram! Lelaki mana yang sudi merelakan wanitanya dijamah oleh tangan pria lain selain dirinya? Lelaki mana yang sudi melihat wanitanya pasrah dicumbui dari bibir hingga leher? Lelaki mana yang sudi melihat wanitanya bercinta di bawah cahaya remang-remang bersama lelaki lain? Pria itu, bahkan dengan lancangnya menjamah tiap lekuk tubuh Sohee dengan sangat bergairah. Parahnya Sohee seakan menikmati pergumulannya dengan pria itu meski di tengah-tengah keramaian.

Yongguk menggebrak meja, kali ini dengan kekuatan lebih dahsyat dari sebelumnya. Daehyun terperanjat. Diam-diam ia merutuki dirinya sendiri karena sudah memancing amarah Yongguk.

Persetan berapa pasang mata yang memandanginya, yang Yongguk pedulikan hanya dua manusia yang tengah bercinta di pojok bar sana, sosok yang terhanyut dalam gejolak asmara dan remangnya lampu bar.

Yongguk melangkah, mendekati pusat penyebab buncahan emosinya, memangkas jarak demi jarak hingga tersisa satu langkah. Yongguk mencengkram lengan Sohee yang terkalung di leher pria asing itu kemudian menariknya paksa hingga wajah gadis itu berhadapan langsung dengannya.

PLAK!!!

Tamparan itu mendarat mulus di wajah Sohee yang pucat pasi hingga meninggalkan bercak merah di sana. Gadis itu memekik, menahan perihnya tamparan Yongguk. Matanya berair, meredam tangis ketakutan dan sejumlah emosi lain yang mengendap di jiwanya. Sohee limbung dan terduduk di kursinya, ia tersedu.

“Kau pria brengsek!” Umpat pria asing itu sambil mengayunkan tinjunya ke wajah Yongguk. Setelah itu ia menarik tangan Sohee dan menariknya pergi sejauh mungkin dari Yongguk.

“Tidak!!!” Tahan Yongguk. Meski ia tahu Sohee bersalah karena telah berselingkuh darinya, tapi tetap saja ia tidak bisa membiarkan gadis itu pergi dari sisinya. “Tolong jangan pergi. Jangan tinggalkan aku Sohee-ya!!”

Yongguk menjerit dengan napasnya yang tersengal. Peluh bercucuran dari dahi, pelipis hingga lehernya. Ia menjambak sendiri rambutnya dengan frustrasi, lalu melirik ke samping kanannya dan menemukan Sohee masih bergelung dengan selimut tebal— masih tidur di sampingnya.

Senyuman gamang tercetak di bibir Yongguk malam itu. Apa yang ia alami tadi hanya mimpi. Bukan kenyataan yang menyesakan jiwanya. Yongguk mengusap rambut Sohee dengan lembut sambil memandangi wajah damai gadisnya.

“Tidak ada yang bisa memiliki Sohee-ku selain aku sendiri. Tidak. tidak ada.”

xXx

Yongguk menatap sendok makannya dengan tatapan hampa. Mimpi semalam benar-benar membuat otaknya kacau. Semua yang terjadi dalam mimpi itu seakan nyata. Meski berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu tidak benar, tapi tetap saja mimpi itu menghantuinya.

“Hey..” suara Sohee membuyarkan lamunan Yongguk.

“Ya?” sahutnya kemudian.

“Beberapa hari ini kau terlihat tidak sehat?” Ujar Sohee kemudian duduk di samping Yongguk.

“Tidak. Aku hanya kurang tidur,” elaknya.

Sohee mendengus. “Aku mendengarmu berteriak semalam, apa hanya perasaanku saja? Kau mimpi buruk lagi, kan?”

“Ya, bahkan sangat buruk.” lirih Yongguk, “tapi kau tidak perlu memikirkannya, tidak penting.”

Sohee tersenyum. Lalu membawa semua piring kotor ke washtafel dan mencucinya hingga bersih. Setelah itu Sohee melepas celemeknya dan meletakkan piring itu ke rak. Ia membalik badan dan mendapati Yongguk masih duduk dengan pandangan kosong.

Sohee mendekat, melambaikan tangannya di depan wajah Yongguk, menyadarkan pria itu. “Yongguk-ssi?” sapanya lembut, “Yongguk-ssi?” Ulangnya.

Yongguk-pun mengerjap dan balas menatap Sohee dengan gugup. “Ya?”

“Sampai kapan kau mau di situ?” Tanya Sohee kemudian.

“Sampai.. Ng..”

Sohee tersenyum kecil menanggapi gumaman tidak jelas dari Yongguk.

“Aku mandi dulu, jangan terlalu banyak melamun. Gunakan cuti kerjamu dengan istirahat sebaik mungkin,” ucap wanita itu.

“Mandi?” batin Yongguk. Entah mengapa perasaannya semakin kacau saat mendengar kata itu di telinganya. “Kau tidak akan meninggalkanku kan?” Tanya Yongguk yang disambut tawa kecil dari bibir Sohee.

“Tentu saja tidak!” kata gadis itu mantap.

“Ah! Apa yang kau pikirkan sebenarnya, Bang Yongguk!? Dia hanya mandi, dia tidak akan meninggalkanmu! Bodoh!” Yongguk-pun merelakan Sohee untuk pergi walau separuh hatinya terasa begitu berat.

.

Jarum panjang jam menuding angka tiga yang berarti bahwa Sohee sudah berada di dalam kamar mandi selama 15 menit. Yongguk mendengus berkali-kali, napasnya yang terhembuspun seakan menyiratkan rasa jenuh dan gelisah yang teramat sangat. Ia bangkit dari sofa yang ia duduki kemudian berjalan mondar-mandir.

Selanjutnya Yongguk kembali duduk dengan menggoyangkan satu kakinya gelisah dan terus begitu selanjutnya. Yongguk kian gusar tatkala jarum panjang jam itu sudah menuding pada angka 7. Setengah jam lebih telah berlalu dan Sohee-nya tak kunjung keluar dari kamar mandi. Apa sebenarnya yang dilakukan gadis itu di dalam sana? Apa Sohee-nya kabur? Apa Sohee-nya pergi tanpa seijinnya? Apa Sohee terendam di bathtube dengan air bersimbah darah? Apa Sohee pergi bersama pria lain tanpa sepengetahuannya? Apa Sohee tengah bercumbu dan bercinta dengan pria brengsek yang ada di dalam mimpinya?

Yongguk panik, kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan penuh emosi lantas memutar knop pintunya yang sempat rusak karena ulahnya tempo hari dengan kasar. Begitu pintu itu terbuka, Yongguk tertegun. Rahangnya seketika mengeras dan gemelutuk giginya kian dahsyat. Ia geram, ia marah, Sohee-nya tidak ada di sana. Sohee-nya pergi. Pergi meninggalkannya. Barangkali ia sedang bergelayut mesra di lengan pria lain, saling memagut bibir dan bergulung selimut di atas ranjang dengan pria lain.

Brengsek!

Yongguk keluar dari kamar mandi sambil membanting pintu kamar mandinya kuat-kuat lantas menyambar jaket kulitnya yang ada di dalam lemari. Ia mengenakan jaketnya dengan cekatan. Begitu ia membalik tubuh untuk bergegas pergi, tubuh Sohee yang berbalut handuk menghadangnya. Tetesan air dari rambutnya yang basah jatuh perlahan ke lantai dan sisanya membasahi handuknya serta sebagian wajahnya.

“Sohee-ya!” Seru Yongguk setengah berteriak.

Ia tidak memberi sedikitpun kesempatan bagi gadis itu untuk menjelaskan apa saja yang sudah dia lakukan hingga membuatnya menunggu begitu lama. Yongguk mendorong tubuh Sohee ke atas kasur. Menarik handuk yang menjadi satu-satunya kain yang melindungi tubuh Sohee.

Yongguk mencium Sohee dengan rakus hingga gadis itu kesulitan bernafas. Ia teringat mimpinya yang semalam dan amarahnya kembali memuncak hingga mencumbu tiap lekuk tubuh Sohee dengan penuh nafsu. Yongguk mulai menanggalkan seluruh pakaiannya dan menyetubuhi Sohee. Mengabaikan permintaan Sohee yang memintanya untuk melakukannya secara perlahan karena gadis itu merasa kesakitan.

Setelah beberapa saat dikuasai emosi dan nafsu, Yongguk seakan tersadar dan menatap intens wajah Sohee yang memucat.

“Yongguk-ssi, sebenarnya kau ini kenapa?” suara Sohee kali ini terdengar begitu lemah dan datar, tanpa intonasi.

Yongguk mengernyit dan matanya mengawasi Sohee-nya dengan seksama. Ada yang ganjil memang. Tapi Yongguk belum menemukan di mana titik keganjilan tersebut.

“Yongguk-ssi..” Yongguk diam, sambil terus mengawasi wajah hingga tubuh Sohee yang terkesan begitu lemah dan rapuh. Yongguk terkesiap saat mendapati luka lebam merah bercampur biru di sekujur tubuh Sohee.

Yongguk mundur perlahan. Ia seperti ketakutan melihat kondisi Sohee saat ini hingga tak sengaja menabrak lemari yang berdiri angkuh di belakangnya. Yongguk membuka lemari tersebut dan mengambil kemeja putihnya dan melempar kemeja itu begitu saja ke arah Sohee, meminta gadis itu untuk memakainya.

Sohee bangkit untuk mengambil kemeja itu dan memakainya. Dengan tubuh lemah dan senyum tipisnya gadis itu melangkah ke arah Yongguk yang ketakutan.

Tesss!

Beberapa tetes cairan pekat berwarna merah itu mengalir menyusuri pelipis Sohee.

“Darah!!” Pekik Yongguk semakin ketakutan.

Lebam di pipi Sohee tampak lebih jelas bersamaan dengan bercak darah yang mengering di sudut bibirnya saat Sohee melangkah semakin mendekati Yongguk.

“Yongguk-ssi? Apa yang terjadi padaku?” Yongguk mundur satu langkah dengan mata tetap terfokus pada sosok Sohee.

“Yongguk-ssi..” Sohee menjulurkan satu tangannya, mencoba menjamah bahu Yongguk. Namun Yongguk buru-buru menepisnya saat ia melihat pergelangan tangan Sohee dipenuhi dengan luka sayatan bewarna merah tua.

“Yongguk-ssi..”

“JUNG SOHEE, HENTIKAN!!!” Kalimat itu lolos dari bibir Yongguk bersamaan dengan setitik cahaya putih yang menerobos masuk ke dalam pupilnya yang baru saja terbuka. Hidung Yongguk kembang kempis, mencari-cari pasokan udara untuk paru-parunya yang serasa dicengkram.

Sesak. Mimpi itu selalu muncul. Mimpi yang berkisah. Mimpi tentangnya yang tengah bermimpi. Mimpi yang begitu nyata hingga ia merasa bagai hidup di dalamnya.

Yongguk mengacak rambutnya frustrasi lalu menatap sekelilingnya dengan hampa. Ia bahkan tak tahu sedang berada di mana sekarang.

Sohee-nya? Sohee-nya ada di mana? Gadis itu pergi kemana? Apa dia sedang bersenang-senang dengan pria lain? Dia baik-baik saja bukan?

“Yongguk-ssi, kau baik-baik saja?” seorang gadis manis yang memakai kemeja putih datang menghampiri Yongguk dengan tergesa. Gadis itu — Sohee saat ini memakai kemeja putih yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Sama persis seperti yang baru saja ada di dalam mimpi Yongguk.

“Kau mimpi buruk lagi? Aigoo..” Sohee menyadarkan Yongguk dari keterkejutannya.

“Aku? Hee-ya? Kau dari mana?” Tanya Yongguk tergagap.

“Kau lupa? Saat kau melamun di meja makan tadi aku kan sudah bilang kalau aku mau mandi. Tapi kau menarikku ke ranjang dan yah… Aku tidak perlu menjelaskan bagian yang itu kan?” Goda Sohee sambil mencubit pinggang Yongguk ringan.

Gadis itu lantas menarik tangan Yongguk dan mendorongnya ke kamar mandi. “Jika perlu bantuan panggil saja aku,” bisiknya menggoda.

xXx

Seminggu sebelumnya..

Yongguk meremas karton merah marun itu hingga tak berbentuk. Kemudian ia melemparkannya ke tong sampah yang ada di pojok ruang kerjanya.

Fuck!

Gadis yang ia cintai selama ini akan menikah dengan pria lain yang bahkan tidak lebih baik darinya.

Jung Sohee. apa yang sebenarnya gadis itu lihat dari sosok Kim Himchan? Pria itu bahkan baru mengenalnya sekitar 6 bulan yang lalu. Sangat tidak adil bagi Yongguk bila Sohee jauh lebih memilih Himchan daripada dirinya yang sudah mengenal Sohee selama tiga tahun ini? Bahkan Yongguk berani menjamin jika cintanya pada Sohee jauh lebih besar ketimbang pria brengsek itu!

Yongguk meninju tembok yang ada di sampingnya hingga tangannya berdarah. Ia benci ini, ia muak! Sohee tak boleh jatuh ke tangan orang lain. Sohee harus menjadi miliknya. Apapun caranya dan apapun resikonya nanti, Jung Sohee harus berada di dalam genggamannya.

Yongguk sudah lama menaruh hati pada Sohee. Sohee yang tegas dan cerdas, namun tetap memiliki sisi lembut yang selalu Yongguk sukai. Meskipun tidak ada satupun yang tahu tentang perasaan Yongguk terhadap Sohee kecuali sahabatnya Daehyun.

Naas-nya, bungkamnya Yongguk kini menjelma menjadi pembekap jiwanya. Hingga dada dan otaknya seakan terhimpit dan terasa begitu sesak hingga sulit rasanya untuk berpikir jernih. Sulit sekali.

Mana mungkin Yongguk rela kenangan indah yang ia simpan sendiri itu ternodai oleh pernikahan antara Sohee dengan pria lain?

Yongguk menembus dinginnya malam dengan sepeda motornya. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan gila hingga akhirnya tiba di sebuah rumah mungil di daerah Gangnam. Yongguk turun dari motornya lantas langsung mengetuk pintu rumah itu dengan gusar hingga memecah keheningan malam yang syahdu.

Semakin lama semakin keras dan sudah pasti siapa saja yang menjadi pemilik rumah itu akan terusik karenanya. Satu detik kemudian, orang yang ia cari muncul dari balik pintu dan menatapnya bingung.

“Yongguk-ssi?” Jung Sohee mengernyit menyaksikan kedatangan Yongguk yang tiba-tiba. Lantas ia menoleh pada jam dinding rumahnya. “Ada perlu apa? Ini sudah malam..” bisiknya.

Yongguk bergeming. Ditatapnya gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan senyum miring. Sohee yang terlihat begitu menggairahkan dengan baju tidurnya. Liukan tubuhnya begitu menggoda dan membuat siapapun akan terpesona akan kecantikan alaminya. Belum lagi potongan lingerie yang ia kenakan terbilang pendek, mungkin hanya 20 sentimeter diatas lutut. Memaksa kelenjar liur Yongguk memproduksi lebih banyak cairan hingga tanpa sadar entah sudah berapa kali menelan liurnya ketika lingerie Sohee bergoyang tertiup angin malam.

“Yongguk-ssi?” suara yang sangat di sukainya itu berbisik memanggil namanya.

Yongguk maju satu langkah untuk memangkas jarak antara dirinya dan Sohee, yang kontan membuat gadis itu mundur beberapa langkah untuk menghindari Yongguk. Namun pria itu tak kunjung menghentikan langkahnya atau sekedar mengubah arah. Yongguk kembali mengamati sosok Sohee yang kini tampak bingung, menggerayangi tiap inchi tubuhnya dengan sorot takut-takut.

“Bang Yongguk! Apa yang kau inginkan dariku!!?” Tukas Sohee dengan suara bergetar.

“Kau milikku,” ucap Yongguk datar sembari menatap lekat bagian tubuh Sohee yang menurutnya paling menarik dan ia yakini sebagai tempat yang paling menyenangkan untuk dijamah.

Meski faham dengan maksud Yongguk, Sohee langsung menyambar bantal sofa yang tak jauh dari jangkauannya, kemudian menutupi bagian tubuhnya dengan benda tersebut

“Berhenti di situ Bang Yongguk! Berhenti! Setan apa yang ada di dalam dirimu, hah!?”

“Singkirkan bantal itu, atau aku yang akan menyingkirkannya dari tubuhmu!!!” Ancam Yongguk

“Pergi! Cepat pergi!!!” titah Sohee sambil memekik. Namun ironis, tubuhnya kini sudah bersandar di sebuah dinding yang menghalangi pergerakannya.

Yongguk mendekati tubuh Sohee lalu mengusap lembut pipi dingin gadis itu dengan punggung tangannya. Setelah itu tangan Yongguk beralih pada rambut Sohee yang terurai, hampir menutupi sebagian wajahnya.

“Bang Yongguk! Kumohon, besok aku akan menikah!” Pinta Sohee memelas.

Menikah?

Sontak Yongguk langsung merubah pergerakan lembutnya dirambut Sohee dengan gerakan kasar. Pria itu menjambak kuat-kuat rambut Sohee hingga gadis itu berteriak kencang.

“Tidak akan ada pernikahan besok! Tidak akan pernah ada! Kau dengar!?” Tukas Yongguk garang. “Jika kau mau menikah, aku adalah satu-satunya pria yang akan menikahimu. Kau dengar itu!!”

“Yongguk-ssi.. kumohon!” Sohee terisak sekarang. “Jangan lakukan ini.”

Yongguk menghempaskan kepala Sohee pada dinding beberapa kali hingga darah itu menetes pelan dari pelipis dan hidung Sohee.

“Aku yang akan menikahimu besok, bukan Kim Himchau sialan itu! Jadi turuti saja kata-kataku, atau kau akan mati!”

Selepas itu Sohee hanya bisa menangis dan pasrah. Melawan-pun terasa begitu percuma.

xXx

Daehyun hanya bisa memandangi sosok Yongguk yang tengah digeret paksa oleh petugas rumah sakit jiwa dengan pasrah. Ia tak tahu harus berbuat apalagi untuk menjaga sahabatnya itu dari tekanan halusinasi yang ia ciptakan sendiri di otaknya.

Jika tidak segera mengambil keputusan, mungkin Daehyun akan menjadi korban Yongguk selanjutnya setelah Sohee yang kini terbaring lemah di rumah sakit.

Kim Hyejeong adalah salah satu teman Daehyun yang menyarankannya untuk membawa Yongguk ke rumah sakit jiwa agar pria itu bisa mendapatkan perawatan yang layak dan sesuai dengan kondisi kejiwaannya. Kebetulan, Hyejeong juga bekerja di sana dan paham akan hal-hal seperti yang dialami Yongguk.

“Ini tempat yang pantas untuknya, Oppa…” kalimat Hyejeong itu membuat Daehyun tersentak dari lamunannya. “…Karena, bisa saja Yongguk akan membunuhmu..”

Membunuhmu.

Satu kata itu melintas di kepala Daehyun dan membuat berjuta neuron-neuronnya bekerja dengan cepat hingga semua kronologi peristiwa sebelum hari ini tersirat jelas di benaknya.

Hari di mana Yongguk menelponnya dan mengatakan bahwa ia akan menculik Sohee pada malam sebelum pernikahan gadis itu dilaksanakan kemudian menyekap gadis itu rumahnya yang berada di Daegu.

Dan ketika ia menjenguk Yongguk untuk memastikan apakah sahabatnya itu serius dengan ucapannya, Daehyun mendapati Yongguk tengah memperkosa Sohee sekaligus melakukan berbagai kekerasan fisik pada gadis itu hingga wajahnya lebam tak karuan.

Kemudian.. hari dimana Daehyun menangkap basah Yongguk sedang merendam gadis itu hidup-hidup ke dalam bathtube-nya hanya karena Sohee terlalu lama berada di kamar mandi. Untung saja gadis itu masih bisa selamat walau sempat sakit beberapa hari dan mengalami tekanan batin yang amat dahsyat hingga ia pernah mencoba bunuh diri dengan menyayat nadinya sendiri.

Yongguk seperti orang yang kerasukan. Terkadang ia bersikap bak seorang malaikat yang diutus dari surga untuk menjaga dan melindungi Sohee dengan segenap jiwa dan raganya. Namun hal itu berlangsung hanya sesaat karena jiwa iblis Yongguk-lah yang kembali berkuasa dan memegang kendali atas dirinya jika Sohee sedikit saja melakukan kesalahan.

Dengan alasan tidak ingin kehilangan SoHee, ia menjadi paranoid jika gadis itu jauh darinya bahkan jika itu hanya satu detik.

Jung Sohee. Gadis itu harus merelakan dirinya di sekap di rumah Yongguk dan tidak menghadiri acara pernikahannya sendiri agar bisa memastikan dia tetap bisa bernafas. Yongguk benar-benar mengawasinya selama 24 jam. Sama sekali tidak ada celah untuk pergi dari pria itu.

Sohee bukannya tidak menyukai Yongguk. Bahkan gadis itu pernah jatuh cinta pada sosok pria tegas itu. Sayangnya, sikap tertutup Yongguk membuat Sohee mundur perlahan. Selama beberapa hari di sekap dan tinggal bersama Yongguk, Sohee-pun berusaha untuk ‘menyembuhkan’ Yongguk dengan caranya sendiri. Tapi ternyata tidak semudah itu menghadapi Yongguk.

Terakhir, Daehyun kembali menjadi saksi kebrutalan Yongguk. Saat itu Daehyun mendapati Sohee yang keluar dari kamar Yongguk dengan wajah pucat. Daehyun yakin, Sohee pasti menjadi budak seks Yongguk. Dengan hanya mengenakan kemeja putih kebesaran milik Yongguk, Sohee berjalan ke dapur untuk membuatkan sarapan. Entah karena kelelahan atau apa hingga Sohee sedikit oleng. Daehyun reflek membantu Sohee berdiri.

“Lepaskan tangan kotormu dari wanitaku, brengsek!” Yongguk yang cemburu setengah mati mendorong tubuh Daehyun dengan mencengkram leher sahabatnya itu hingga membentur tembok.

“Lepaskan dia. Aku yang salah, Yongguk-ssi..” Sohee berteriak meminta Yongguk untuk melepaskan Daehyun.

Berhasil. Sohee berhasil memaksa Yongguk untuk melepaskan cengkramannya dari leher Daehyun. Sebagai gantinya, Yongguk menyeret paksa Sohee dengan menjambak rambutnya. Daehyun bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana gadis malang itu berteriak histeris, menahan rasa sakit. Sementara Daehyun merasa seperti seorang pecundang yang hanya bisa melihat Yongguk menyiksa Sohee.

Beruntung saat itu Hyejeong segera datang dengan beberapa polisi dan petugas medis untuk membawa Yongguk ke rumah sakit jiwa dan memberikan pertolongan untuk Sohee. Gadis itu kini sedang di rawat intensif di sebuah rumah sakit dengan pengawasan ketat.

Bagaimana tidak? Yongguk seakan memiliki radar. Ia selalu tahu di mana keberadaan Sohee. Dan anehnya lagi, ia selalu memiliki cara untuk kabur.

.

Hyejeong menghentikan pembicaraannya dengan Daehyun saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Matanya terbelalak saat mendapat kabar mengerikan dari RS tempatnya bekerja.

Dengan pandangan tak percaya ia menatap Daehyun yang sepertinya sudah bisa menduga apa yang akan Hyejeong katakan. “Yongguk kabur,”

Secepat kilat Hyejeong dan Daehyun berlari meninggalkan RS tempat Sohee di rawat. Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi mereka dari kejauhan.

“Cinta tak harus memiliki? Omong kosong…!! Dan apa itu? Istilah aku bahagia jika melihatnya bahagia? Munafik! Tidak ada hal seperti itu di dunia ini. Yang ada hanyalah, aku bahagia jika dia bersamaku.” Ujar Yongguk menggebu. Ia tersenyum miring lantas memakai masker untuk menutupi separuh wajahnya.

Yongguk masuk ke sebuah ruangan dengan jubah putih lengkap dengan stetoskop. Dengan sekali pukul, ia mampu melumpuhkan satu penjaga dan satu perawat. Yongguk lantas mengecup kening gadis yang kini tertidur dengan selang infus yang masih menempel di tangannya. Ia lalu menggendong gadis itu dan membawanya pergi entah kemana.

“Setelah hari ini, hanya akan ada Bang Yongguk dan Jung Sohee yang tersenyum bahagia.”

END

6 Komentar

  1. Reblogged this on Yadong Fanfic Indo.

  2. wah eon, aku baru baca.
    ini keren, babeh di sini beneran beda banget.
    babeh psiko gitu, keren babehnya.
    jd bayangin babeh di mv oneshot. yoohoo.
    gimana ama nasib Soohee? kasian ama dia huhuhu

  3. widyy

    yongguk nyeremin.itu sohee mau dbw kmn coba????trus nasib sohee gmn?

  4. ddd

    aaa paling sukq noh pasangan haha

  5. Yongguk serem! :3

  6. Yongguk serem! :3
    Tapi kaya’nya gantung dh thor!

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: