AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

When Loyalty Tested


Seperti siang dan malam. Bulan dan bintang. Kanan dan kiri. Hitam dan putih. Tuhan menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini dengan berpasang-pasangan.

Aku percaya Tuhan menciptakan aku dari tulang rusukmu untuk menjadi pelengkap dari apa yang sudah ada di dalam dirimu. Dan Tuhan menciptakanmu untukku sebagai tempat perlindungan yang memberiku ketenangan, kehangatan, dan kenyamanan yang tiada tara. Satu-satunya tempat dimana aku bisa mempercayakan hidup.

Tapi, bagaimana jika benang takdir yang seharusnya menjadi pengikat malah menjadi pembatas antara sepasang yang sudah Tuhan ciptakan? Seperti sore yang menjadi penghubung antara siang dan malam atau pagi yang memisahkan malam dan siang? Abu-abu yang berada di tengah-tengah hitam dan putih atau langit yang menjadi tempat bersandar bulan dan bintang?

Akankah benang takdir akan semakin menguatkan yang sepasang itu atau malah menjadi pemutus keduanya?

***

So Hee menyadari bahwa Yong Guk tak lagi berada di sampingnya ketika tangan kanannya tak lagi memiliki pinggang Yong Guk untuk digapai. Sedangkan suaminya itu telah hilang entah ke mana. Perempuan berambut panjang itu duduk seraya memegangi kepalanya yang sedikit pening. Akhir-akhir ini jam tidurnya banyak tersita lantaran mengurus si kecil So Yong.

“Hee-ya,” panggilan lembut Yong Guk sejenak mengalihkan rasa sakit So Hee, “Wajahmu pucat lagi.”

So Hee tidak menjawab, namun kedua kaki jenjangnya berjalan anggun menuju cermin. Iya, kepalanya masih pening dan jalannya sedikit sempoyongan, namun ia berusaha tetap terlihat baik-baik saja. Seperti hari-hari sebelumnya. So Hee hanya akan mengeluhkan sedikit pening pada kepalanya, meminum obat lalu sembuh —untuk sementara.

“Aku akan ke dokter nanti,” ucap So Hee sambil menggelung rambut panjangnya.

“Jam berapa? Akan kutemani,” Yong Guk menyahuti dengan tangan masih membenarkan letak jam tangannya.

“Tidak perlu, aku bisa sendiri.”

“Keras kepala lagi. Aku bisa me—“

“Tidak perlu meninggalkan pekerjaanmu. Aku bisa pergi sendiri.”

Yong Guk menghela napas. Diraihnya bahu wanita kesayangannya itu, kedua bola matanya menelisik di antara kelamnya manik mata So Hee.

“Jadi, kapan aku bisa mengantarmu nyonya Bang?”

So Hee menepis tangan kiri Yong Guk dan kembali beralih pada cerminnya. “Tidak perlu, aku bisa sendiri. Aku bisa menghubungi temanku. Lagipula, sepertinya hari ini kau akan sibuk sekali.” So Hee mengamati Yong Guk yang terlihat sudah rapi.

Yong Guk menegakkan kembali punggungnya. “Keras kepala.”

So Hee memandang Yong Guk dari pantulan cermin di hadapannya. Ia tidak berniat menjawab kalimat terakhir suaminya itu. Mood-nya sedikit buruk hari ini, dan ia harap, bertemu dengan teman lamanya yang baru pulang dari luar negeri mungkin bisa membantunya merasa lebih baik.

So Hee hanya merasa lelah mengurusi So Yong yang sedang aktif-aktifnya. Lebih lagi karena Yong Guk yang bekerja sebagai staff writer sering di tugaskan ke luar negeri. Yong Guk pernah menawarkan So Hee agar mereka meminta bantuan pengasuh bayi atau asisten rumah tangga, tapi So Hee begitu menikmati perannya sebagai istri dan seorang ibu hingga ia tidak mengijinkan siapapun untuk menggantikan posisinya. Karena…. So Hee sangat menikmati posisi itu.

“Pergi dengan siapa?” tanya Yong Guk yang kini meletakkan jari-jemarinya di bahu So Hee yang membuat wanita itu merasa… hangat.

“Ae Ni.” jawab So Hee singkat. Tangan kanannya kini meraih salah satu tangan Yongguk, ia merasa lebih tenang sekarang. Sentuhan pria itu masih sama. Selalu memberinya ketenangan dan candu yang tiada habisnya untuk terus berada di dekatnya.

“Siapa?”

“Ae Ni. Teman lamaku.”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Yong Guk-ssi, menurutmu laki-laki mana yang memakai nama Ae Ni!” jawab So Hee sedikit ketus.

Yong Guk tertawa kecil. “Hei, kau memanggilku dengan akhiran ‘-ssi’ lagi. Egomu itu tinggi sekali, ya? Apa sesulit itu tetap memanggil ‘Appa’ atau ‘Yeobo’ setiap saat?” goda Yong Guk.

“Ya, ya, cepat berangkat kerja sana!” So Hee mendorong Yong Guk agar segera keluar dan berangkat kerja.

“Tidak bisakah aku libur dan bermain dengan bebas seperti So Yong? Aku ingin memiliki waktu bermain denganmu seperti So Yong Hee-ya. Jadi, bolehkah sehari ini saja aku tidak masuk kerja?” canda Yong Guk.

“Kalau kau tidak kerja, mau kau beri makan apa istri dan anakmu ini, hm?” So Hee merapikan dasi Yong Guk yang sedikit miring.

Bola mata Yong Guk berputar, mencari jawaban yang tepat. “Dengan cinta?”

“Kau ini! Sudah berangkat sana!”

“Baiklah. Tapi, mana ‘sarapan’ku?”

So Hee mengalihkan pandangannya ke arah lain. Yong Guk mulai berdecak pura-pura kesal, menunggu So Hee untuk kembali menatapnya. Namun beberapa detik terlewati, So Hee masih bergeming dari objek yang ditatapnya —yang bahkan entah-itu-apa.

“Baik. Aku berangkat,” ucap Yong Guk dengan nada dingin.

“Appa!” So Hee berputar cepat dan menarik lengan Yong Guk. Sebuah seringai muncul di wajah tampannya seiring dengan kecupan singkat di bibir dan kening So Hee.

“Goodbye,” ucap Yong Guk.

“Ya! Harus berapa kali aku mengingatkan untuk tidak mengucapkan ‘goodbye’ tapi ‘see you again’ atau apa. Kau tahu ‘goodbye’—“

“’Goodbye’ berarti selamat tinggal, ‘see you again’ berarti sampai jumpa lagi. Setelah ini aku akan minta maaf dan meralatnya. Jadi, see you again, honey.“ Yong Guk mengakhiri kalimatnya dengan menutup pintu, meninggalkan So Hee yang mendengus kesal. Sedetik kemudian So Hee kembali tersenyum. Ia sangat menyukai saat-saat mereka ‘bertengkar ringan’ seperti tadi. Membuatnya merasa lebih mengenal Yong Guk.

Orang-orang mengatakan, lima tahun pertama adalah saat-saat terberat dalam pernikahan seseorang. Saat itu adalah saat di mana segala ujian akan di hadapi setiap pasangan yang memutuskan untuk membina rumah tangga. Begitupun dengan Yong Guk dan So Hee. Tapi setidaknya mereka bisa bernapas lega karena mereka mampu melewati lima tahun pertama dengan baik, meski sering terjadi cek cok kecil seperti tadi.

Hingga tahun ini menjadi tahun ke enam pernikahan mereka. So Hee telah melihat berbagai macam sifat dan perubahan yang ada dalam diri Yong Guk. Yong Guk yang selalu berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja ketika empat tahun pernikahan mereka So Hee belum juga diberi kesempatan untuk mengandung. Yong Guk yang terlihat semakin bertanggungjawab ketika ia mendapat kenaikan jabatan dari seorang wartawan menjadi staff writer untuk salah satu majalah fashion Korea. Dan Yong Guk yang bekerja semakin giat ketika So Yong lahir dan semakin melengkapi kebahagiaan mereka.

Memang, mungkin ada saatnya di mana mereka merasa bosan dengan aktifitas yang sama dan berulang setiap hari, namun keduanya kembali intim setelah melakukan liburan. Yah, setidaknya sebulan sekali. Dan mereka kembali pada perasaan hangat dan ‘nyaman’ lagi.

Bagi So Hee, Yong Guk adalah rumah. Tempat dimana ia memang seharusnya kembali tanpa ragu. Sedangkan bagi Yong Guk, So Hee adalah pelengkap. Pelengkap dari segala rasa dan kebahagiaan yang ia punya.

So Hee melangkahkan menuju kamar mandi, memutar keran air bathtub, dan menatap wajahnya di cermin yang terpasung oleh sebuah meja kayu yang memiliki dua wastafel dengan tinggi yang sama dengan dindingnya. “Hubungan kami berjalan normal seperti biasanya. Semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin itu.” Ujarnya pada cermin, seakan berkata dan memastikan pada dirinya sendiri bahwa semuanya memang akan baik-baik saja seperti yang lalu.

So Hee mengecek volume air di bathtub, lantas menuangkan sebuah aroma bath dengan aroma rosemary. Janjinya bertemu dengan Ae Ni adalah pukul 11. Setidaknya, So Hee masih memiliki waktu satu jam untuk bersiap-siap dan menitipkan So Yong ke sang ibu mertua.

***

So Hee dan Ae Ni datang tepat waktu. Keduanya datang hampir bersamaan, hanya saja Ae Ni kurang begitu mahir untuk mengendalikan mobil, jadi ia terjebak beberapa saat di tempat parkir.

“So Hee-ya!” sapa Ae Ni pada wanita yang lima tahun lebih muda darinya itu.

So Hee berdiri dan tersenyum lebar, senyum yang sama ketika mereka melakukan foto bersama sebelum keberangkatan Ae Ni ke Italia sepuluh tahun yang lalu. Keduanya berpelukan melepas rindu sebelum akhirnya kembali duduk.

“Café Americano dan Chocolate Amer,” kata Ae Ni pada waitress yang berdiri di samping meja mereka. “Kau pesan apa, So Hee-ya?”

“Café Americano dan Tiramisu cake.” Waitress itu mencatat pesanan kedua tamunya. Mengulanginya sekali lagi, kemudian berlalu.

“Kau terlihat langsing, Hee-ya. Kau membuatku iri,” celetuk Ae Ni yang direspon dengan tawa kecil.

“Langsing? Ini kurus! Eonnie saja yang terlalu lama tinggal di Italia. Pasti makanmu enak-enak. Pasta, lasagna, keju, pizza, dan—“

“Ya! Aku tidak serakus itu. Aku di Italia kerja menjadi fashion designer yang hanya punya waktu tidur empat jam sehari. Makananku ya coffee,” jelas Ae Ni dengan nada bercanda.

“Coffee itu diminum, bukan dimakan.” So Hee tertawa lagi.

“Kau menikah tapi tidak mengabariku. Adik macam apa kau ini? Bagaimana bisa kau memperlakukanku seperti ini? Cepat katakan, siapa laki-laki beruntung itu?”

“Aku sudah mengabarimu lewat email, Eonnie. Jadi kenapa kau tidak datang?” Ganti So Hee yang meminta penjelasan.

“Benarkah? Aku tidak sempat mengecek email, aku terlalu sibuk—“

“Of course you’re busy. I’m sorry, Ms. Lee Airen. Bagaimana? Apa aku harus memanggilmu seperti itu? Seperti produk LeeA yang sudah mendunia itu?” ujar So Hee lantas terkekeh geli.

“Ternyata rasa humormu cukup tinggi. Eh, ngomong-ngomong, aku juga baru bertemu dengan seorang pria yang—“

“Berambut pirang dan tingginya setara dengan Menara Pisa?” potong So Hee.

“Dia bukan orang Italia, Hee-ya. Aku mencintai produk lokal,” tukas Ae Ni.

“Produk lokal? Dengan usia twenty something yang berwajah boyband zaman sekarang yang memiliki eye smile, dan—“

“Koreksi! Dia bukannya pria berwajah boyband abad 21 ini atau memiliki ketampanan layaknya ulzzang bernama Kim Him Chan itu.” Sahut Ae Ni.

“Lalu?”

“Namanya Bang Yong Guk, okay? Dan dia bekerja sebagai staff writer di KFashion, jadi jangan samakan dia dengan boyband yang isinya—“

“Siapa?”

“Siapa apanya?” Tanya Ae Ni tak mengerti.

“Nama pria itu? Bagaimana kalian bisa bertemu? Kapan? Kalian mempunyai hubungan khusus?” So Hee melontarkan pertanyaan bertubi-tubi yang membuat Ae Ni diam sejenak.

Ae Ni mengamati perubahan ekspresi So Hee yang sekarang nampak sangat serius. Ah tidak. Tatapan So Hee berubah tajam, seolah menelisik di antara kedua bola mata Ae Ni yang menatapnya langsung. Pandangannya berbeda seratus delapan puluh derajat dari tatapan bercanda atau hanya sekedar ingin tahu. Tapi lebih kepada… tatapan curiga?

Lee Ae Ni menarik napas dan menghembuskannya dengan perasaan tak tenang. “Namanya Bang Yong Guk. Kami bertemu sekitar akhir tahun lalu saat dia mendapat tugas ke Italia bersama fotograper Han. Meski hanya menghabiskan waktu satu minggu tapi rasanya kami sudah mengenal lama. Kami berjalan-jalan jika memiliki waktu luang. Sampai sekarangpun kami juga masih berhubungan melalui telepon. Dan kedatanganku ke Korea untuk bertemu lagi dengannya. Siapa tahu kami bisa menikah. Lagipula, usiaku sudah kepala tiga Hee-ya, kau tahu itu kan? Aku tidak seberuntung dirimu yang bisa menikah muda, aku tidak mau main-main lagi,” jelas Ae Ni panjang lebar. So Hee mendengar penjelasan Ae Ni tanpa menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti. Seketika suasana berubah menjadi tak nyaman.

“Oh ya! Kebiasaanmu yang tidak pernah menghabiskan makanan, apa itu masih? Atau kau sudah berubah? Mungkin anakmu yang berumur dua tahun itu bisa membantumu menghabiskannya?” celetuk Ae Ni dengan nada bercanda, berusaha mencairkan suasana.

“Bukan putriku So Yong yang menghabiskannya. Tapi pria yang kau harap bisa menikah denganmu jika kalian bertemu.” Ujar So Hee dingin. Sedingin tatapan matanya yang bisa menghancurkan gunung es di kutub selatan.

Ae Ni tercekat, menatap So Hee tak percaya. “Bang Yong Guk? Dia… suamimu?”

“Kalian masih berhubungan?”

“So Hee-ya, aku tidak bermaksud—“

“Aku tanya kalian masih berhubungan?!” Nada suara So Hee terdengar marah meski wajahnya tidak menunjukkan perubahan ekspresi apapun. Tatapan mata So Hee yang tak pernah bisa berbohong jelas menyiratkan jika ia benar-benar terluka.

Bibir yang sejak tadi melengkungkan senyum itu kini nampak beku dalam kegeramannya. Ae Ni menunduk dalam. Tidak menyangka bahwa akan secepat ini cerita tentang teman pria yang ia harap dapat menikahinya berakhir secepat ini. Terlalu cepat.

“Iya, kami masih berhubungan. Dia—“

“Dan kau tidak tahu bahwa dia sudah memiliki istri?” Bentak So Hee.

“Aku tidak bertanya, lagipula itu salahnya juga, kenapa dia tidak bilang bahwa dia—“

“Salahnya? Salah Bang Yong Guk maksudmu? Bukannya kau yang begitu menyukainya dan terobsesi dengannya sehingga kau bahkan tidak mau tahu hal semacam itu?”

Ae Ni menegakkan kepalanya mendengar kata-kata kasar dari mulut So Hee. Ae Ni tidak mungkin mengiyakan tuduhan itu, tapi menyangkal juga tidak akan membantu menyelesaikan semuanya.

“Menurutmu aku wanita murahan yang hanya terobsesi untuk memilikinya? So Hee, kita sama-sama wanita, kau tentunya tahu bagaimana perasaan yang tiba-tiba muncul pada seorang wanita ketika ada seorang pria yang menggenggam tangannya dengan lembut dan tersenyum dengan hangat. Kau pastinya—“

“Kalian melakukan skinship? Seintim apa?” Pertanyaannya kali ini lebih terdengar seperti mengintimidasi. Ae Ni belum pernah melihat So Hee semarah ini. Jika So Hee marah, ia pasti lebih memilih diam. So Hee jarang mengeluarkan kata-kata sinis dan terdengar mengintimidasi seperti ini. “Kalian berselingkuh? Jadi begitu caramu mendapatkan jodohmu? Dengan menjebak seorang pria yang sudah bersuami untuk berselingkuh denganmu? Kemarikan ponselmu!”

“Apa yang—“

“Cepat kemarikan!” So Hee geram dan matanya pun mulai berair.

Ae Ni terkejut. Tapi mau tak mau ia memberikan ponselnya yang segera So Hee rebut dengan cepat.

Sejujurnya, Ae Ni ingin menenangkan So Hee. Seperti yang dulu pernah So Hee lakukan padanya sebagai teman saat ia merasa begitu sakit. Tapi, bagaimana bisa Ae Ni melakukan itu sementara harga dirinya sedang terluka karena tuduhan So Hee?

So Hee menggeser-geser layar dengan cepat. Ia mungkin akan membuka kontak telepon, memastikan nama apa yang Ae Ni berikan untuk nomor telepon Yong Guk, membuka pesan kotak masuk, hingga galeri foto.

“Kalian berfoto bersama? Hanya kalian berdua? Bagaimana bisa?” Suara So Hee terdengar serak sekarang.

“Hee-ya, tenanglah, aku bisa jelaskan semuanya. Kami hanya—“

“Kalian hanya berfoto lalu jatuh cinta, berniat menikah, lalu kau meminta Yong Guk untuk memilih antara aku atau kau? Kalian pada akhirnya benar-benar menikah dan hidup bahagia selamanya seperti yang ada dalam drama-drama picisan itu?!” Tangis So Hee akhirnya benar-benar pecah. Ia terisak dengan suara yang teramat halus, namun butir-butir air matanya yang keluar benar-benar tak terbendung.

“So Hee-ya, aku. Aku minta maaf. Tapi, aku mohon, mengertilah. Kita dengarkan keputusan dari Yong Guk, bagaimana?” tawar Ae Ni, berujar pada So Hee dengan suara yang rendah.

So Hee menegakkan kepalanya. Di matanya penuh air mata. Perasaan sakit, marah, dan kecewa jelas terukir di sana. Dia menatap Ae Ni dingin.

“Keputusan Yong Guk, katamu? Maksudmu kau akan meminta SUAMIKU memilih antara kau atau aku? Begitu, hm?” So Hee menekan kata suami hingga giginya bergetar.

“Ti-Tidak, So Hee, maksudku…”

Ae Ni diam. Tidak tahu harus melanjutkan kalimat apa lagi untuk membuat So Hee setidaknya merasa lebih tenang untuk saat ini.

“Satu-satunya yang ingin kau dengar dari suamiku adalah cerai, kan? Kau ingin meminta suamiku memutuskan untuk menceraikanku, kan? Tidak perlu. Aku bisa menghubunginya dan memintanya sendiri.” Potong So Hee brutal.

“Hee-ya! Apa kau begitu keras kepala begini, hah? Aku tidak akan meminta Yong Guk untuk menceraikanmu. I will go from his live! It’ll be more better then. Daripada kau terus-terusan menyalahkanku dan menganggapku sebagai wanita yang hanya terobsesi untuk memiliki suamimu itu. Kau bisa berhenti menangis sekarang, dan pergi ke doktermu seperti yang kita rencanakan sebelumnya, okay?!”

Ae Ni mulai meledak juga. Tapi apa perduli So Hee? Wanita itu justru berkutat dengan ponselnya sendiri. Masih dengan keadaan terisak, So Hee menempelkan benda itu di telinga kanannya. Tentunya menelepon sang suami, Bang Yong Guk.

Ae Ni tidak mendengar dengan jelas apa yang Yong Guk katakan di seberang sana. Tapi So Hee mengucapkan beberapa patah kata seperti; cepat pulang, pengadilan, cerai, surat-surat, dan yang terakhir dia menyebut nama Ae Ni sebelum pada akhirnya memutuskan sambungan telepon. Dan dari sana, Ae Ni tahu apa yang bisa ia simpulkan.

“Kalian akan bercerai? Kau meminta cerai pada suamimu? Kau—“

“Ya. Kau bisa bernapas lega sekarang nona Lee Ae Ni yang terhormat.” So Hee menghapus air matanya dengan cepat. Ia berdiri, menatap Ae Ni sejenak lalu menghembuskan napas pelan dan berat. “Jangan khawatir, nona Ae Ni-ssi, aku akan segera mengurus perceraianku. Jadi, kau bisa segera memiliki suamiku,” ucapnya lirih diakhiri dengan senyum yang jelas sangat di paksakan.

“So Hee-ya! Apa yang kau bicarakan! Aku tidak memintamu untuk menceraikannya! Kau gila?! Aku tidak bermaksud begitu. Aku akan pergi kalau memang aku yang salah. Oh, okay, aku mengaku salah. Jadi, tarik ucapanmu tadi. Ya Tuhan, kau tidak akan menceraikan Bang Yong Guk, kan? Kau tidak boleh melakukannya! Maafkan aku Hee-ya, aku yang salah, tapi bagaimana dengan So Yong, bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Kau tidak memikirkannya? Kau tidak memikirkan bagaimana berada di posisiku? Atau bagaimana respon Yong Guk nantinya?”

“Ae Ni-ssi, dengar. Iya, aku telah gila sejak lama karena Yong Guk. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi aku bukan orang yang percaya ucapan aku akan bahagia jika melihat orang yang aku cintai bahagia. Mana mungkin aku bisa bahagia melihat suamiku berselingkuh dengan seorang teman yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri?”

“Kenapa kau mengucapkan kata-kata yang ada dalam drama? Wake up! Kau benar-benar sedang ‘sakit’? Ada apa denganmu? Atau memang rumah tangga kalian sedang tidak baik-baik saja?” Potong Ae Ni.

“Kau terlalu ingin tahu, Ae Ni-ssi. Ketika kau sudah sempurna merusak segalanya, kau justru semakin ingin masuk dan mengetahui semuanya,” tukasnya sinis.

“Kau yang terlalu tidak bisa santai, So Hee-ya. Kau yang selalu sama, So Hee yang selalu egois dan dengan tingkat keras kepala yang parah. Kau yang sekarang terlalu dikendalikan emosi dan perasaan marahmu. Bisa saja ini yang membuat Yong Guk bosan dan muak dengan tingkahmu. Kau yang—“

“Aku harus segera pulang. Agar semuanya bisa diurus secepatnya. Dan soal pergi ke dokter untuk hari ini, lupakan saja. Aku tidak butuh dokter. Aku baik dengan diriku sendiri.” So Hee melangkahkan kaki jenjangnya keluar café.

Ae Ni terduduk di bangkunya. Bayangan hari-hari bahagia dan menyenangkan karena berharap bisa bertemu dengan seseorang yang mungkin akan menikahinya pupus dalam hitungan menit. Dan bayangan beberapa hari ke depan yang akan di jalaninya di Seoul mungkin akan menjadi semakin berat hingga mendadak membuatnya ingin segera kembali saja ke Italia, saat ini juga.

***

Wajah So Hee nampak pucat dan matanya pun sembab. Tasnya tergeletak begitu saja di meja. Kedua tangannya bersidekap, sesekali ia menghela dan menghembuskan napas pelan dan berat. Yong Guk menghampirinya dan duduk bersebelahan dengannya.

“Kau menangis?” Yong Guk tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuh So Hee, tapi seperti yang sudah pria itu duga sebelumnya, So Hee menolaknya. Wanita itu bahkan menggeserkan tubuhnya sedikit lebih jauh dari suaminya.

“Jadi?” So Hee mulai bersuara, terdengar serak. “Kapan kau akan mengurus surat cerainya?”

“Hee-ya!” bentak Yong Guk. Sementara So Hee masih bertahan pada posisinya, tanpa ekspresi dan keras kepala.

“Menurutmu enam tahun itu waktu yang singkat? Menurutmu cerai semudah menulis cerita fiksi? Mengetik-ketik nama, pernyataan, dan segala macam hal yang tidak penting seperti itu, untuk apa?!”

“Apa yang sudah kau lakukan dengan wanita itu, hm? Aku tidak pernah mengeluh ketika kau di sibukkan dengan pekerjaanmu, bahkan ketika kau mendapat tugas keluar negeri. Itu karena aku percaya kau melakukan itu semua untukku dan So Yong. Meski berat aku tidak pernah memperlihatkannya padamu karena aku tidak ingin membebanimu. Dan benar, kau melakukannya dengan baik. Kau bersenang-senang dan melakukan skinship dengan wanita lain tanpa merasa takut dan bersalah padaku?” ujar So Hee sarkastik.

Yong Guk mengacak-acak rambutnya frustasi. “Begini, lupakan soal cerai. Aku akan memutuskan hubungan dengan Ae Ni saat ini juga kalau kau mau.”

So Hee berdiri, menatap Yong Guk tajam, hal yang telah lama sekali tidak pernah dilakukan So Hee pada Yong Guk sejak keduanya memutuskan menikah. Hal yang membuat Yong Guk membenci dirinya sendiri karena telah menyebabkan So Hee memberikan tatapan tak menyenangkan itu.

“Kau bilang ‘memutuskan hubungan saat ini juga kalau aku mau’? Kalian benar-benar memiliki hubungan? Kau selingkuh? Kau benar sudah bosan denganku?” Tanya So Hee bertubi-tubi.

Yong Guk memejamkan mata. Sedikit salah bicara bisa berakibat sangat fatal. Seperti saat ini, Yong Guk tidak bermaksud mengatakan hal mengerikan semacam itu pada So Hee. Sama sekali tidak. Maksud Yong Guk dengan memutuskan hubungan dengan Ae Ni adalah, dia tidak akan menghubungi wanita itu lagi. Tidak melalui telepon, sms atau segala tetek bengek yang berhubungan dengan wanita itu. Bukan hubungan terlarang yang mereka miliki. Karena sejatinya ia memang tidak memiliki hubungan spesial apapun dengan wanita itu selain bisnis yang memang sudah di tugaskan kantor tempatnya bekerja. Tapi belum sempat Yong Guk menjawab setiap pertanyaan yang kemunculannya nyaris seperti sebuah serangan, So Hee kembali berujar.

“Kau tidak perlu repot-repot mengakhiri hubungan kalian. Cukup akhiri saja hubunganmu denganku. Saat ini juga karena itu yang aku mau.” So Hee berlalu. Dia masuk ke kamar, menutup pintu dengan suara berdebum yang teramat keras.

***

So Hee membiarkan kepalanya berada di atas kedua lututnya yang tertekuk. Punggungnya bersandar dengan rasa tak nyaman. Tapi ia tetap mempertahankan posisinya, tak berniat mencari kenyamanan yang lain. Karena satu-satunya kenyamanan baginya adalah pelukan Yong Guk yang sebentar lagi akan ia lepaskan untuk kebahagiaan seorang teman.

So Hee berpikir bahwa ia terlalu cepat memutuskan. Dia tidak seharusnya marah, tapi perasaan kesal sekaligus kehilangan telah mengontrolnya begitu kuat. Bahkan ketika kini egonya telah bertahta sempurna, ia tak ingin mengubah apa yang telah terjadi dalam setengah hari ini.

So Hee menghela. Ia lelah, sedang tidak mau percaya, dan berharap setelahnya akan baik-baik saja. Wanita itu mendengar suara pintu yang terbuka perlahan. So Hee mengangkat kepalanya. Si kecil So Yong bersama sang ibu mertua berdiri di sana. So Hee tersenyum. Wajah polos So Yong sejenak membuatnya lupa akan penatnya. So Hee kemudian turun dari tempat tidurnya.

“Kemari, sayang,” panggilnya lembut. So Hee mendekati So Yong. Ia menatap kedua manik mata putrinya selama beberapa detik. So Yong benar-benar terlihat mirip seperti So Hee. Seperti Yong Guk juga. Ah tidak, So Yong adalah So Hee dan Yong Guk. Hal yang selamanya tidak akan pernah bisa berubah.

So Hee menyandarkan kepala mungil So Yong dibahunya, dan kedua tangan gadis kecil itu terkalung di leher sang ibu yang terasa lebih erat dari biasanya. Dan saat itu juga So Hee tahu bahwa So Yong bisa merasakan dan mengerti apa yang telah terjadi antara ayah dan ibunya. So Hee lantas menggendongnya seraya mengusap-usap punggung So Yong dengan lembut.

“Eommonim, terima kasih sudah menjaga So Yong seharian ini.” Ujar So Hee berterima kasih pada sang ibu mertua. Perasaan So Hee berkecamuk. Ia sangat menyayangi ibu mertuanya itu. Jika ia benar-benar berpisah dengan Yong Guk, So Hee pasti akan sedih karena harus kehilangan sosok ibu untuk yang kedua kalinya.

Tapi jujur saja hingga detik ini So Hee masih belum bisa menatap wajah Yong Guk. Terbukti saat So Hee melihat Yong Guk yang kini berdiri di belakang sang ibu. So Hee lebih memilih melempar tatapannya ke arah lain. Melihat Yong Guk hanya membuatnya mengingat hal-hal yang seharian ini telah menguras mood-nya dengan sempurna.

***

Yong Guk tersenyum kecil saat mendengar lagu yang di nyanyikan Dae Hyun di atas panggung kecil yang berada di sudut cafe. Bukan karena hal lucu yang sedang pria itu lakukan sehingga membuat Yong Guk tertawa, bukan. Tapi lebih kepada lagu yang pria itu nyanyikan. Lagu tentang penyesalan seorang pria yang sudah melukai seseorang yang sangat di cintainya. Cerita yang sangat mirip dengan apa yang di alaminya hari ini bukan? Well, tentu saja Dae Hyun tidak mengenal Yong Guk sehingga ia bisa dengan bebas menyindir pria itu.

Yong Guk menuang minuman keras dengan kadar alkohol yang hampir mencapai seratus persen. Sungguh, sejujurnya Yong Guk merasa tidak nyaman di sini. Yong Guk ingin segera pulang. Yong Guk ingin memeluk So Hee dan meyakinkan wanita itu bahwa ia masih akan ada di sampingnya, bukan memilih untuk pergi bersama Ae Ni.

Yong Guk hendak berbalik untuk meletakkan gelasnya ketika seseorang tiba-tiba menyapanya, “Yong Guk-ssi, apa kau baik-baik saja?”

Yong Guk terkesiap. Namun ia tidak berencana untuk membalas sapaan Ae Ni atau sekedar memberinya sebuah senyum simpul sebagai sambutan atas pertemuan pertama mereka di Korea. Awalnya, Yong Guk tidak yakin Ae Ni akan berani datang untuk menemuinya setelah apa yang terjadi di antara ia, So Hee, dan wanita itu hari ini. Tapi nyatanya?

“Bagaimana dengan So Hee? Apa kalian—“

“Kami tidak akan bercerai,” tukas Yong Guk cepat. Yong Guk memang tidak tahu pasti kata apa yang akan diucapkan Ae Ni selanjutnya. Tapi kalimat ‘kami tidak akan bercerai’ rasanya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.

“Oh.” Ae Ni merespon pendek. “Maaf aku membuat rumah tangga kalian jadi seperti ini. Seharusnya sejak awal kau tidak perlu bersikap seperti seorang fake hopes giver. Terlalu banyak harapan, sampai-sampai membuatku bersitegang dengan temanku sendiri.”

“Aku bukan seorang fake hopes giver seperti yang kau tuduhkan. Kau saja yang terlalu menganggap semuanya spesial. Aku tidak…” Yong Guk menghentikan kalimatnya sejenak, menimang dengan bimbang. Takut kalau-kalau kelanjutan dari kalimatnya itu akan menyakiti hati Ae Ni.

“Apa? Tidak apa?”

“Aku tidak mencintaimu seperti aku mencintai So Hee.” Setelahnya, Yong Guk berlalu. Meninggalkan Ae Ni yang mematung di tempatnya.

“Thank you for the broken heart.” Lirih Ae Ni tapi terdengar geram, ia menyerah akan perasaannya terhadap Bang Yong Guk yang cintanya kepada Jung So Hee tidak bisa di ganggu gugat.

***

So Hee menghela napas. Setelah semua yang ia alami hampir seminggu ini, ia merasa lelah. Tidak ada satu hal-pun yang bisa membuat So Hee merasa tenang. Tidak ada yang bisa selain pria itu, Bang Yong Guk dan wajah pulas So Yong yang tertidur lelap di sampingnya yang bisa membuatnya sedikit merasa lebih baik.

“Bisa kita bicara?” Yong Guk muncul dari balik pintu. So Hee mengangkat kepalanya, ia melirik sebuah map di tangan Yong Guk yang ia duga adalah surat cerai mereka.

“Bisa kita bicara sebentar?” ulang Yong Guk.

So Hee mengangguk. Ia lantas turun dari tempat tidur dan mengikuti langkah Yong Guk hingga ke ruang keluarga. Mereka duduk secara terpisah. Jajaran buku di rak menatap mereka dengan beku.

So Hee diam di tempatnya. Menatap map yang Yong Guk bawa dengan tatapan kosong. Map yang ia berikan pada Yong Guk beberapa hari yang lalu agar pria itu bersedia menandatangani surat-surat yang ada di dalamnya.

Yong Guk menghela napas, tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengguntingi map itu dan menjadikannya beberapa bagian-bagian kecil tak simetris. Sementara So Hee masih bergeming.

Sepi menelusupi mereka. Sedetik, dua detik, hingga detik yang terlewat telah berubah menjadi menit. Yong Guk mulai mendekati So Hee. Menarik lembut tangan istrinya itu.

Dingin.

Mungkin sama seperti hati So Hee saat ini. Hal-hal yang terjadi begitu cepat dan berat. Yong Guk lantas merengkuh So Hee ke dalam pelukannya. Lalu wanita itu menangis. Tangis So Hee pecah ketika Yong Guk mengecup keningnya. Dan seketika itu Yong Guk merasa bahwa So Hee-nya telah kembali.

Yong Guk tidak tahu bagaimana menghibur So Hee di saat seperti ini. Tapi ia selalu tahu bahwa dirinya adalah satu-satunya rumah bagi So Hee. Tempat paling nyaman yang selalu bisa So Hee nikmati tanpa merasa takut atau bersalah.

See? Mungkin beberapa orang berpikir So Hee terlalu mudah memaafkan kesalahan Yong Guk, tapi cinta itu hanya mereka berdua yang tahu dan merasakan. Bagaimana menyesalnya Yong Guk dan bagaimana usaha pria itu untuk meyakinkan So Hee agar wanita itu bisa kembali di rengkuh.

Meski benang merah yang mengikat takdir mereka membentuk pintalan yang rumit, tapi pintalan rumit itulah yang semakin memperkuat ikatan di antara Yong Guk dan So Hee sehingga sulit bagi keduanya untuk melepas salah satunya. Karena keduanya telah menjadi satu dan terikat kuat oleh benang merah yang biasa di sebut banyak orang dengan… Takdir.

5 Komentar

  1. Wawawawa~ BangHee kembali BangHee kembali >,< kanget banget sama mereka. Aku inginbaca eon, tapi ini masih di jalan -_- hehehe. Tunggu nyampe rumah dulu biar konsen bacanya. Haha^^

  2. resti

    BangHee comeback,,,,,,,,,,,

    asli kangen ma BangHee couple,,,, meski di awal cerita bikin sedih tp tetep happy ending,,,,, makin langgeng BangHee nambah adlk lagie wat so yong,,,, ♡♡♡

    mbak astred ngilang kemana?

  3. hyejeong kim

    kurang pendek >,<
    ini toh yg dari kmren gue tunggu2 tpi ga dipublis2 -_-
    gantung bgt elahh.. lanjutin kek masa gitu doang
    gue kangen #BangHee momen hiatusnya kelamaan next sequel ye mom :*❤

  4. huweee… kangen pasangan ini.

  5. BangHee >.< baru mampir di wp unnie kangen BangHee couple

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: