AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

Forever With You #Cheonsa


“Aku mencintaimu. Dan aku benci hal ini. Aku benci karena aku tidak bisa membencimu.”

Taksi sudah melaju dengan cukup cepat. Meskipun begitu, So Hyun masih meremas kedua tangannya yang saling gemetar. Ibunya yang duduk di sampingnya juga sudah lemas sambil tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

“Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya ada di pikiran anak itu? Apa yang di lakukannya di sana?” Umpat So Hyun yang merasa sudah di bohongi habis-habisan oleh So Hee.

Bagaimana bisa So Hee meminta So Hyun untuk mengikuti fanmeeting Yong Nam dan meminta ibunya untuk membelikan vitamin? Padahal itu hanya akal-akalannya saja agar bisa kabur dari rumah.

So Hyun menyadari hal itu ketika ia kembali dari acara fanmeeting, dan mendapati kamar So Hee kosong. Awalnya So Hyun pikir mungkin So Hee main ke kamarnya, tapi ternyata ia hanya mendapat memo yang So Hee tinggalkan di atas meja rias. Bersamaan dengan itu, datanglah sang ibu berteriak histeris memanggil namanya dan memberitahunya bahwa So Hee di temukan pingsan di daerah Sinsadong.

So Hyun tidak tahu siapa yang tidak waras disini. Apakah dirinya yang terlalu mengekang So Hee hingga gadis itu kabur dari rumah? Atau So Hee yang memang bertindak tanpa pikir panjang? Yang jelas hanya Tuhan yang tahu seberapa parah kondisi adik kecilnya itu sekarang.

Begitu sampai di rumah sakit, ibunya langsung di panggil oleh seseorang -yang rasanya sangat miris jika dikatakan dokter langganan, tapi tidak ada kata yang lebih tepat daripada itu- yang biasa menangani So Hee. So Hee sudah terlalu sering keluar masuk rumah sakit ini, bahkan anak itu memiliki kamar rawat khusus yang menyedihkannya, selalu terisi setidaknya dalam jangka waktu satu bulan.

So Hyun memutuskan untuk melihat keadaan adiknya yang kali ini jauh lebih menyedihkan dari apa yang pernah So Hyun lihat selama ini. Dia menutup mulutnya rapat, hatinya tercabik perih, dan matanya terasa di bakar. Selang super besar berada di mulut So Hee. Dan So Hyun tidak sanggup melihat ada benda-benda mengerikan apa lagi yang terpasang di tubuh adik kecilnya.

“Bodoh. Kau bodoh sekali.” So Hyun menangis tersedu-sedu. Masa bodoh kalau di rumah sakit ini dia menganggu. “Bodoh sekali.” Dia mengeluarkan suara yang tidak enak di dengar dari hidungnya. Lalu ketika sadar bahwa dirinya masih menggenggam secarik kertas yang ditinggalkan So Hee di rumah, So Hyun merobek kertas itu menjadi serpihan yang sangat kecil. Seperti hatinya.

Eonnie, aku tahu kalau aku pulang nanti kau pasti akan marah besar. Aku juga tahu kalau nanti pada akhirnya kau akan memaafkan aku. Tapi untuk kali ini, tolong percaya padaku. Aku akan baik-baik saja. Aku sudah mempunyai segala kebahagiaan yang kudapatkan selama ini. Dan jujur saja, semua ini begitu menyiksa. Aku pikir aku tidak sanggup lagi. Tapi sebelum itu, aku hanya ingin memastikan bahwa aku mendapatkan semua hal yang ingin aku dapatkan. Aku mencintaimu, Eonnie.

***o0o***

Dokter telah berkata hal yang mengerikan dan bahkan tidak sepantasnya di ucapkan oleh seorang dokter. Bahkan, kalau saat itu ibunya tidak pingsan, So Hyun tidak peduli jika dirinya harus dimasukkan ke dalam penjara karena telah menganiaya dokter itu hanya untuk membuat sang dokter menarik kembali kata-katanya.

Siapa yang berani mengatakan bahwa keluarga mereka lebih baik melepas So Hee? Mengatakan bahwa So Hee tidak memiliki harapan lagi. Penyakit So Hee yang memang sudah memarah, memiliki resiko kematian yang semakin tinggi dimana So Hee kini sudah dalam keadaan sekarat.

Meski begitu, tidak seharusnya satu orang pun –bahkan Tuhan pun tidak- yang mengatakan bahwa sebaiknya keluarga mereka mengikhlaskan So Hee untuk pergi. Dokter itu berkata bahwa So Hee sekarang tersiksa karena keluarganya belum ikhlas. Memang, dijejali alat-alat mengerikan itu, siapapun yang melihatnya juga tersiksa, apalagi So Hee yang menggunakannya. Tapi sekali lagi, siapa dokter itu yang berani kurang ajar untuk mengemukakan pendapat yang tidak layak di dengar?

So Hee akan hidup. Dia harus hidup. Bahkan untuk seribu tahun lagi. Anak itu tidak akan mati. Adik kecilnya tidak boleh mati. Siapapun tidak bisa mengambil adiknya pergi. Karena Jung So Hyun akan menghalangi siapapun yang berusaha untuk mengambil adiknya.

***o0o***

“Eonnie…”

So Hyun menoleh ke sana ke mari, ia sangat hapal dengan suara ini. Ini suara So Hee. Tapi di mana gadis itu?

“Di sini, Eonnie…”

So Hyun berbalik, namun masih tidak bisa menemukan siapa-siapa. “So Hee-ya, eodi-ga?”

“Sakit, Eonnie…”

Mendengar So Hee membutuhkan bantuannya, So Hyun menjerit. “Kau dimana?!!” So Hyun tidak sadar kalau air mata sudah menggenang di pelupuk mata.

“Aku ingin bebas, tapi aku tidak bisa. Belum. Bantu aku, Eonnie… bantu aku.”

Jung So Hyun tiba-tiba terduduk dengan napas tersengal. Ia bermimpi. So Hyun lantas melihat ke arah So Hee yang masih bergeming tak sadarkan diri. Di ruangan itu tidak ada suara lain selain suara napas samar So Hee, monitor detak jantung, hembusan pendingin ruangan.

So Hyun menunduk, melihat ke arah tangannya yang menggenggam tangan So Hee yang bebas infus. Terdapat beberapa lebam berwarna ungu menyedihkan. “Apa kau memanggilku, Hee-ya? Apa kau meminta bantuanku? Bangunlah, katakan padaku, apa yang bisa aku bantu untukmu?” Tanyanya dengan perasaan pedih yang tercabik.

So Hyun dan semua orang yang mengenal anak itu juga tahu kalau So Hee sakit. Tapi gadis itu sekarang tak sadarkan diri, lalu apa yang membuat So Hee merasa ‘sakit’? Hal ittu membuat So Hyun berpikir lebih jauh. Mengingat kembali apa yang dokter katakan pada keluarganya. Bahwa sebaiknya mereka mengikhlaskan So Hee untuk pergi daripada anak itu menderita.

“Sialan. Dokter keparat.” Mata So Hyun berkabut, dan mendadak wajahnya berurai air mata. So Hee menderita, itu benar. Selama hidupnya gadis itu harus menjalani kemoterapi akibat kanker di tubuhnya yang tak terselamatkan. Kemoterapi sudah sangat menyiksa gadis itu. Obat-obatan juga tak jarang membuatnya kejang-kejang. Rambut So Hee yang panjang, indah, dan sangat lebat, perlahan meninggalkan kepalanya. Dan sekarang, So Hee di jejali berbagai macam peralatan mengerikan yang tidak pernah mampu mereka bayangkan akan terpasang di tubuh So Hee.

So Hee menderita. Gadis itu pasti kesakitan. Dengan jepitan pendeteksi di hampir seluruh jari tangannya. Dengan tusukkan infus untuk mengalirkan dua kantong cairan sekaligus. Dengan selang besar yang disumbatkan ke dalam mulut So Hee. Dengan selang oksigen di hidung gadis itu. Dengan kepala yang terperban begitu erat. Adik kecilnya menderita. Dan So Hyun menyesal untuk semua hal itu.

***o0o***

Bang Yong Nam tidak menyangka kalau hari perilisan buku biografinya tiba. Buku itu ia buat dengan sepenuh hati dan didedikasikan untuk para penggemarnya. Semula, acara itu hanya berisikan launching, tanya jawab, dan penjualan buku limited edition. Tapi Yong Nam menambahkan satu lagi rangkaian acara, yakni memilih 10 penggemarnya yang beruntung untuk berada satu ruangan dengannya dan berkesempatan untu foto bersama dan tanda tangan di atas bukunya secara eksklusif.

Hal ini di karenakan Yong Nam serius akan niatnya yang ngin bertanya pada gadis aneh itu. Tentu saja, acara tambahan itu akan sukses kalau gadis itu juga datang. Dan ini adalah suatu pertaruhan.

Yong Nam mulai berkeliling aula, berharap kalau gadis aneh itu ada di area dalam, karena sungguh tidak mungkin ia mengambil seseorang yang berada di luar aula.

“Satu, dua, tiga..” Yong Nam menunjuk penggemarnya secara acak sambil matanya menjelajah. Penggemarnya yang merasa tertunjuk menjerit histeris bahkan sampai mengeluarkan air mata saking bahagianya. Mereka yang terpilih kemudian dikawal oleh petugas untuk pisah ruangan dari kerumunan.

“Empat, lima, enam.” Yong Nam mulai frustasi saat merasa tidak menemukan sosok gadis yang di carinya.

“Sialan! Dimana gadis itu?” Umpat Yong Nam dalam hati. Yong Nam yakin gadis itu ada disana, yakin bahwa gadis itu datang. Karena Yong Nam tidak menemukan alasan kenapa gadis itu tidak datang.

“Tujuh, delapan.” Yong Nam menunjuk lagi, kali ini terdengar putus asa. Dan di saat Yong Nam akan menyerah karena rencananya gagal, tiba-tiba seolah ada yang berbisik di telinganya untuk menoleh ke samping kiri, tepat di pojok ruangan, dekat dengan seorang petugas. Gadis itu nampak bersembunyi.

“Sialan. Jadi sejak tadi ia sengaja untuk bersembunyi. Benar-benar gadis aneh.” Batinnya. “Sembilan.” Akhirnya Yong Nam menunjuk gadis aneh itu.

“Sepuluh.”

Beberapa petugas membawa sepuluh gadis terpilih itu ke sebuah ruangan yang sudah di siapkan, sementara Yong Nam mengucapkan kata penutup.

Jung So Hyun tahu dirinya melakukan kesalahan yang amat fatal karena sudah datang ke acara launching buku Bang Yong Nam hari ini. So Hyun tahu persis kenapa ia selalu saja berada di tempat yang sama dengan Yong Nam. Kenapa dirinya ia selalu mengejar Yong Nam dan kemudian menghindari. So Hyun tahu persis untuk apa semua ini. Ini untuk So Hee. Semua untuk gadis itu.

So Hee mengatakan bahwa permintaan terbesarnya adalah bisa melihat Yong Nam, mendapat tanda tangan dan berfoto bersama. Ini adalah permintaan terbesar dalam hidupnya sekaligus permintaan terakhir yang diucapkan gadis itu pada So Hyun.

Satu sisi, Yong Nam sungguh ingin mengabulkan permintaan terbesar adiknya, karena tidak ada alasan kenapa dia melakukan sebaliknya. Dan disisi yang lain, So Hyun menjerit, meronta, memberontak, dan bertarung dalam gejolak hatinya untuk tidak mengabulkan permintaan terakhir So Hee.

Tahu kan, apa yang disebutkan dengan permintaan terakhir? Itu artinya tidak ada lagi permintaan yang berikutnya. Dan itu artinya, So Hee pergi. Demi angkasa yang runtuh, So Hyun sangat tidak ingin itu terjadi.

So Hyun seakan merasakan kehadiran adiknya yang menangis, meminta dilepaskan pergi. Hati So Hyun terasa tersayat. Dia hanya ingin So Hee bahagia, sekaligus ingin So Hee menderita. Jika peralatan mengerikan itu tetap membuat So Hee berada di dunia yang sama dengannya dan orangtua mereka, So Hyun akan menutup mata dari itu semua, meski So Hee menderita. Tapi, jika peralatan mengerikan itu di lepas dan membuat So Hee terpisah dunia dengannya dan orangtua mereka, So Hyun juga akan menerimanya, karena So Hee bahagia, karena terlepas dari penderitaannya.

Hanya saja, So Hyun masih tidak punya keberanian untuk menentukan. Bagaimana jika nanti So Hee benar benar pergi karena dirinya? Karena So Hyun sudah mengabulkan apa yang gadis itu pinta? Bagaimana orang tuanya nanti jika mengetahui bahwa karena So Hyun-lah So Hee pergi?

Bahkan pertanyaan apakah kau bahagia yang ia tanyakan pada Yong Nam di bandara itu, semua karena permintaan So Hee. Dan saat So Hyun menyadari bahwa tugasnya hampir selesai, itu berarti suatu kenyataan yang buruk akan datang.

Jika bukan karena So Hee, siapa yang akan menduga betapa sakitnya So Hyun saat ini? Tidak ada. Tidak satupun yang tau seberapa besar rasa sakit yang diderita So Hyun saat ini, meski jika secara normal seharusnya ia berteriak kegirangan karena mendapat kesempatan yang langka seperti ini.

“Siapa namamu?” Tanya Yong Nam dengan ramah, seulas senyum tipis yang mampu melelehkan gunung es terlukis manis di wajahnya yang tampan. Pria itu menggoreskan tinta di atas bukunya dengan nama sang penggemar, lalu berdiri agar penggemarnya tersebut bisa berfoto dengannya.

Satu, dua, tiga, para penggemar benar-benar menggunakan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Yong Nam hingga akhirnya pria itu menunjuk dirinya sembari menyebutkan nomor urut sembilan.

Tidak ada pergerakan dari So Hyun. Tiba-tiba ia merasa tidak yakin apakah ia harus benar-benar melakukan hal gila ini?

“Namamu?” Tanya Yong Nam ramah.

So Hyun menunduk. Hanya tersisa satu orang setelahnya yang sedang harap-harap dan tidak sabar untuk menerima tanda tangan dan berfoto dengan pria itu. Seharusnya So Hyun juga begitu, jika dalam keadaan normal. Tapi keadaan sedang tidak normal, setidaknya bagi dirinya. Dan yang dia rasakan saat ini adalah takut. Sangatlah takut.

“Aku hanya minta tanda tanganmu. Untuk berfoto bersama, aku menolaknya.” Beberapa staff dan manajer, juga fans terakhir yang ada disana merasa terkejut mendengar permintaan So Hyun.

“Kenapa?” Rahang Yong Nam mengeras. Ia merasa tersinggung karena baru kali ini ada seorang fans yang menolak berfoto bersamanya.

“Bukannya tidak mau. Hanya saja.. bukan sekarang,” gumamnya. “Aku belum siap,” tambahnya pelan.

“Tapi aku tidak yakin akan ada kesempatan lain selain hari ini,” Jawab Yong Nam ketus.

So Hyun ragu. Mana yang lebih buruk? Bagaimana jika Yong Nam benar-benar tidak memberinya kesempatan lagi? Sementara hutangnya pada So Hee belum lunas.

So Hyun berjongkok, dengan kepala menunduk dalam, menangis tersedu-sedu, yang membuat semua orang menghampirinya. Ada yang panik, dan ada yang menyuruh pertugas untuk mengeluarkannya. Namun dengan tegas Yong Nam menolak.

“Biarkan dia tetap di sini, aku akan menyelesaikan tugasku,” Ucap Yong Nam kepada petugas yang berusaha menggeret So Hyun ke luar ruangan. Ia lantas memanggil penggemar terakhirnya. Memberikan tanda tangan dan berfoto bersama.

Tak lama kemudian, ada seseorang yang berjongkok di hadapan So Hyun, dan gadis itu yakin jika orang itu adalah Bang Yong Nam. Meski begitu, ia tetap tidak mau mendongak.

“Biar ku tanyakan padamu, dan jika kau memberiku jawaban yang bagus, mungkin aku bisa memberimu kesempatan yang lain.” So Hyun mendongak, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar.

“Maaf jika membuatmu tersinggung. Tapi aku menolak bukan karenamu, dan tidak ada hubungannya denganmu.” Lirih So Hyun.

“Lalu?”

So Hyun ragu kalau Yong Nam mau mengerti keadaannya. Maka dengan berat hati, sambil mengigiti bibir bawahnya kuat-kuat, dengan tangannya yang bergetar luar biasa, So Hyun memberikan bukunya pada Yong Nam. “Jung So Hee,”

Yong Nam menghembuskan napasnya pendek, lantas mengambil buku tersebut. “Jadi, namamu Jung So Hee?” Yong Nam mulai menggoreskan nama itu di halaman pertama bukunya sementara dirinya tahu kalau gadis dihadapannya menggeleng. Yong Nam mengernyit, lalu mendongak, menunda aktivitasnya.

“Untuk adikku,” kata gadis itu, mengerti apa yang dipertanyakan oleh otak Yong Nam.

Mendengar nama Jung So Hee, ekspresi wajah Yong Nam berubah sepersekian detik, sebelum akhirnya ia bisa menguasai dirinya kembali dan meyakinkan bahwa banyak sekali nama Jung So Hee yang ada di Korea ini.

“Jadi, kau bukan penggemarku?” Tanya Yong Nam lagi, menyelesaikan tanda tangannya.

So Hyun menggeleng lagi. “Aku juga penggemarmu. Tapi itu untuk adikku.”

“Untukmu?”

“Aku bisa mendapatkannya lain waktu.” Jawab So Hyun yakin.

“Dan kenapa adikmu tidak?”

“Karena dia akan pergi.”

Meski tidak tahu maksud pergi yang di katakan gadis aneh itu, tapi Yong Nam tetap menandatangani bukunya.

“Terima kasih, Yong Nam-ssi. Semoga kau bahagia.”

Yong Nam termenung melihat kepergian gadis itu. Ada sesuatu yang aneh dari cara gadis itu berbicara mengenai adiknya, dari cara gadis itu menatap, dari cara gadis itu bersikap. Seolah bimbang, ragu. Seolah gadis itu harus menentukan sebuah pilihan yang sulit yang tidak mampu dipilihnya.

***o0o***

Sepanjang perjalanan balik ke rumah sakit, So Hyun tak henti-hentinya menangis pedih melihat tanda tangan Yong Nam. Ia terus berdoa agar So Hee baik-baik saja. Dan begitu tiba ia tiba di kamar gadis itu, ia merasa lega saat melihat monitor detak jantung So Hee masih berdetak normal. So Hyun terduduk lega.

“Kau dari mana?”

So Hyun mendongak dan melihat bahwa ibunya baru saja memasuki kamar rawat So Hee, dengan plastik berisi makanan kecil serta minuman.

“Aku lega So Hee baik-baik saja.” Ujar So Hyun yakin. Namun melihat sang ibu tiba-tiba berhenti melangkah, dan menatapnya dengan sorot ragu membuat So Hyun curiga. So Hyun langsung duduk di sofa, samping ibunya yang nampak pura-pura sibuk mengeluarkan semua barang yang ada dari dalam plastik.

“Eomma, ada apa?” Desak So Hyun, namun ibunya tetap bungkam.

“Eomma!” Jelas bukanlah hal yang sopan untuk membentak sang ibu, tapi ibunya tidak akan berucap jika So Hyun tidak mendesak. Sedetik kemudian ibunya menangis. Menangis perih. Saat itu juga So Hyun tahu apa yang terjadi selama dirinya tak berada di samping So Hee.

Tangisan sang ibu, sama persis dengan tangisannya beberapa kemarin saat So Hee mendatangi mimpinya, dan meminta untuk diijinkan pergi. Seketika So Hyun mendapati dirinya hancur, sambil menatap pedih buku yang tergeletak di atas meja.

***o0o***

Bang Yong Nam sedang menikmati makanannya sambil menonton “larva” saat manajernya datang dan menyampaikan sesuatu yang membuat dirinya berpikir.

“Kau masih tidak ingin menemuinya? Gadis yang waktu itu menangis karena menolak tanda tanganmu, sudah setengah jam dia berdiri di luar gedung.”

Meski Yong Nam mengatakan jika ia tidak peduli, tapi toh kenyataannya ia bergumam bahwa cuaca di luar sangat dingin dan mengkhawatirkan kondisi gadis itu. Lima menit kemudian berteriak kesal. “Apa yang sebenarnya gadis itu inginkan?”

Him Chan duduk sambil bersandar lelah. “Tidak tahu. Apakah kau mau aku mencari tahu?”

“Apa yang kau inginkan?” Tanyanya begitu sampai di hadapan gadis itu. Yong Nam takjub, padahal angin musim gugur ini sungguh menggigit, dan gadis ini sudah berada di luar selama lebih dari setengah jam.

“Aku belum meminta fotomu. Sekarang aku ingin memintanya.” Ucapnya tanpa perasaan bersalah.

Yong Nam mendengus, membuang mukanya sambil berdecak, lalu kembali menatap gadis itu dengan tatapan malas. “Itu sudah expire.”

“Aku tidak bisa memintanya waktu itu. Karena bukan aku yang ingin berfoto denganmu.” So Hyun melihat alis Yong Nam terangkat. “Bukan berarti aku tidak ingin berfoto denganmu. Hanya saja, bukan aku. Ku harap kau mengerti.”

Yong Nam menghembuskan napasnya, hanya untuk mengurangi rasa kesal. “Lalu siapa? Aku tidak melihat kau datang bersama orang lain.”

So Hyun mengigit bibir. Kenapa So Hee menyiksanya dengan begit kejam seperti ini? “Dia tidak bisa berjalan untuk menemuimu. Maukah kau datang bersamaku?”

Yong Nam tertawa. Tertawa mengejek. “Ijinkan aku untuk menganalisis situasinya. Kau meminta seseorang untuk berfoto denganku, lalu aku yang harus mendatangi orang itu, begitu? Artisnya siapa di sini?”

So Hyun melongo tidak percaya. Seharusnya Bang Yong Nam tidak perlu berkata angkuh seperti itu. Tidak perlu sinis terhadapnya. Memang, setelah diteliti lebih lanjut, selama ini dirinya yang bersikap kurang ajar dan cenderung melukai harga diri pria itu, tapi tetap saja, tidak seharusnya Yong Nam meremehkan situasi ini –jika pria itu tahu yang sesungguhnya, tentu saja.

“Aku juga tidak ingin melakukannya, percayalah. Karena apa yang ku lakukan sekarang, sama saja dengan membunuhnya.”

“Jadi maksudmu aku pembunuhnya?”

“Bukan. Tapi aku. Kau hanya senjata yang aku gunakan untuk membunuhnya.”

Yong Nam meneliti ucapan gadis itu. Tidak ada nada sinis, tidak ada unsur sindiran. Tidak ada unsur kesal, atau pun marah. Yong Nam bahkan tidak mendeteksi emosi apapun di dalam suara gadis itu kecuali kepasrahan.

“Jadi yang kau maksud dengan pergi itu mati? Adikmu yang bernama… Jung So Hee?” Yong Nam tidak yakin, dan ia sangat berharap bawha Jung So Hee kali ini bukan So Hee yang ia kenal. “Jika kau tahu kalau yang kau lakukan ini akan menyebabkan kematian pada adikmu, kenapa kau tetap melakukannya?”

“Karena itu yang diinginkan adikku,” ucap So Hyun jujur. Tidak memiliki pilihan lain selain jujur dalam kondisi ini. “Karena adikku ingin bahagia. Dan aku, meski aku tidak ingin mengabulkannya, aku harus tetap melakukannya untuk kebahagiaannya.” So Hyun sudah merasa sangat putus asa. “Jadi, Bang Yong Nam-ssi, bersediakah kau?” Tanya So Hyun lagi. Kali ini benar-benar datar, dingin, tanpa ekspresi. Seolah mati.

***o0o***

Yong Nam dan So Hyun berjalan di sepanjang lorong menuju sebuah kamar khusus. Kamar rawat itu seperti kamar rawat biasanya. Yang membedakan hanyalah kesan yang ditimbulkan oleh kamar itu, seolah kamar itu adalah kamar pribadi. Banyak perabotan yang tidak lazim berada di kamar itu. Dan Yong Nam berani bertaruh, bahwa sebagian besar perabotan itu sudah menjadi bagian dari kamar tersebut. Di tata sedemikian rupa.

“Kamar ini, adalah kamar khusus. So Hee selalu berada di kamar ini minimal sebulan sekali. Saat menjalani kemoterapi, maupun saat kondisinya melemah tiba-tiba. So Hee juga lebih sering menghabiskan waktunya di kamar ini ketimbang di kamar aslinya. Ayah meminta ijin kepada pihak rumah sakit untuk tetap menyewa kamar ini meskipun So Hee tidak menempatinya. Lalu menatanya sesuai dengan kenyamanan So Hee. Meskipun ayah, kami, dan mungkin So Hee tidak ingin So Hee merasakan nyaman di rumah sakit, tapi kami sedih saat melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa dan terus mengeluh bosan. Dia tidak bisa pergi, maka kamar ini di tata untuk membuatnya merasa lebih baik,” Jelas So Hyun yang mempersilahkan Yong Nam untuk duduk di sofa yang menghadap ke arah tempat tidur So Hee.

Pemandangan itu sungguh memprihatinkan. Berbagai macam peralatan mengerikan terpasang di sana, itu membuat Yong Nam berpaling. Tidak mau melihat lagi, dan memilih melihat ke arah So Hyun yang sama sekali tidak bergerak dari tatapan gadis itu kepada adiknya.

“So Hee koma.” So Hyun tersenyum kecut. “Saat aku menghadiri fanmeetingmu.” Lanjutnya.

Yong Nam merasa jantungnya terjun ke lantai. Dia tidak tahu. Dia tidak pernah tahu kalau ada kejadian seperti ini di tengah hiruk-pikuk teriakkan cinta dari para penggemarnya. Dia juga tidak tahu kalau dia akan menemukan hari seperti hari ini. Mengetahui sebuah kenyataan yang membuat Yong Nam merasa menjadi orang terbrengsek sedunia.

“Aku tidak menyalahkanmu, tentu saja,” ucap So Hyun cepat saat melihat perubahan di wajah Yong Nam yang merasa bersalah. “So Hee melarikan diri. Itu salahnya, kan?” So Hyun tertawa hambar.

“Sebelumnya dia mengajakku untuk menghadiri fanmeetingmu. Tapi aku menolak mentah-mentah karena So Hee baru saja keluar dari rumah sakit. Karena itu keesokan harinya aku yang datang, membawa handycam untuk merekammu dan memperlihatkan padanya. Tapi pada hari itu dia menuliskan catatan bahwa dia sudah hidup lebih lama dari yang seharusnya. Dia juga bilang kalau dia
bahagia. Tapi dia ingin membuat kebahagiaannya sempurna dengan mewujudkan apa yang menjadi keinginan terbesarnya. Dan kami menemukannya pingsan di daerah Garosu-gil.”

Yong Nam terbelalak. Tidak mungkin. Tidak mungkin ada kebetulan yang sama seperti ini kan? Gadis itu bernama Jung So Hee. Di temukan pingsan di daerah Garosu-gil, tepat di peringatan hari kematian Yong Guk. Dengan tubuh gemetar Yong Nam bangkit, mendekati ranjang So Hee.

Dan betapapun Yong Nam ingin mengelak dari kenyataan bahwa tubuh yang terbujur lemah di hadapannya itu bukanlah So Hee yang ia kenal, tapi kenyataannya memang seperti itu. “Hee-ya.” Panggilnya lirih. Suaranya bergetar.

So Hyun melotot tak percaya. “Apa kau mengenal adikku?”

Yong Nam mengangguk. Tenggorokannya terasa sakit, bahkan sekedar mengucapkan kata ‘YA’ saja ia tidak sanggup.

***o0o***

So Hyun, ibunya, dan sang ayah sudah bercucuran air mata mendengar cerita Yong Nam. So Hee mempunyai kekasih? Kenapa mereka sama sekali tidak tahu? Apalagi mengetahui jika kekasih So Hee meninggal. Gadis itu pasti mengalami masa-masa yang sulit.

Dan sekarang, semuanya semakin terasa jelas jika So Hee ingin bahagia. Dan kebahagiaan So Hee bukan ada di dunia ini. Alasan inikah yang membuat So Hee mendatangi mimpi So Hyun agar melepasnya?

“Dia sudah menderita selama ini, dengan segala kemoterapi, obat-obatan, suntikan, yang bahkan membuat tubuhnya memar dan rambutnya rontok. Tapi dia tidak pernah mengeluh dan tetap tersenyum. Aku merasa aku adalah orang terdekatnya, orang yang mengetahui semua, tapi apa ini? Aku sama sekali tak tahu apapun tentangnya. Dia bahkan sudah memohon padaku untuk merelakannya pergi. Tapi aku terus menahannya.” So Hyun mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa dirinya akan meledak oleh kegilaan ini. Lalu kepalan tangan kanannya itu di gigit keras-keras agar dirinya tidak berteriak frustasi.

Sementara sang ayah yang selama ini tak banyak berjalan ke arah Yong Nam, lalu membungkuk membentuk siku-siku dengan sangat dalam. “Aku mohon… dia ingin bahagia.” Dan Yong Nam tahu saat itu juga, betapa berat dan hancurnya perasaan keluarga Jung karena memohon hal seperti itu kepada dirinya.

“Gadis jahat! Sudah lebih dari dua tahun kita tidak bertemu, tapi kenapa kita harus bertemu dengan keadaan seperti ini? Apa kau bahagia? Apa kau sangat bahagia jika bersamanya, hm? Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan keluargamu? Kau sungguh egois Hee-ya.” Yong Nam meraih tangan So Hee yang memucat.

“Apa kau sama sekali tidak memiliki keinginan untuk bertahan hidup? Apa jika Yong Guk masih hidup, kau juga akan berjuang hidup untuknya? Apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku? Hee-ya, jika keinginan terbesarmu adalah bertemu dan berfoto denganku, maka bukalah matamu. Aku mohon. Aku akan mengabulkan permintaan terakhirmu, tapi tidak dengan tidur seperti ini. Kabulkan permohonan pertama dan terakhirku ini agar kita impas.”

Yong Guk yang juga berada disana dan melihat semua itu menjadi sedih. Pria itu juga meminta So Hee untuk bangun dan membuka matanya. “Hee-ya, jika kau mendengarku, bangunlah. Buka matamu. Katakan sesuatu pada mereka agar mereka tidak cemas. Kau tidak bisa terus tidur seperti itu.”

Dan seperti sebuah keajaiban, beberapa menit kemudian So Hee mulai mengerjapkan mata. Gadis itu, tersadar dari komanya.

***o0o***

Nyonya Jung sedang menyuapi So Hee bubur, sementara So Hyun membantu sang ayah yang sedang berkemas. Sejak bangun dari komanya beberapa hari yang lalu, keadaan So Hee sudah semakin membaik dan hari ini di persilahkan pulang.

Seseorang mengetuk pintu. Sedetik kemudian muncul Yong Nam, di susul sang manajer yang membuntutinya di belakang. Yong Nam tersenyum menyapa So Hee dan keluarganya. Pria itu datang membawa seboquet bunga Daffodil kesukaan So Hee.

“Hai cantik, bagaimana kabarmu hari ini?” Goda Yong Nam yang langsung mendapat cibiran dari So Hee.

“Jangan menggodaku. Hatiku tidak akan berubah hanya karena kau mirip dengan Yong Guk.”

“Wah, kau benar-benar gadis yang sulit. Aku tidak tahu dengan cara berpikirmu. Kau meminta So Hyun mengikutiku kemanapun aku pergi. Kau ingin tanda tanganku, kau ingin bertemu denganku, kau juga ingin berfoto denganku. Tapi setelah aku berada di hadapanmu, kau malah menolakku? Hei, aku ini bintang Hallyu.” Yong Nam mendesis kesal, sementara sang gadis hanya tekekeh kecil.

“Eonnie!” Panggil So Hee girang. “Karena sekarang semua ada disini, aku ingin kita membuat foto. Apa kau mempunyai bedak? Aku ingin kau merias sedikit wajahku.”

Bukannya So Hyun tidak tahu. So Hyun, tahu. Sangat tahu malah. Tapi tetap saja, ini terasa menyakitkan buat So Hyun. Jika keinginan terbesar So Hee adalah mendapat tanda tangan, bertemu, dan berfoto dengan Yong Nam dan dua dari tiga keinginan terbesar gadis itu sudah di penuhi, bagaimana dengan yang terakhir? Bisakah So Hyun melakukannya?

“Kita bisa membuat foto pernikahan nanti.” Ujar Yong Nam mencairkan suasana.

“Yak!! Jangan berkata seperti itu, Yong Guk bisa mendengarnya. Kau tahu kan dia pencemburu.”

“Apa dia ada disini? Apa kau melihatnya?” Oke, ini pertanyaan konyol. Tapi Yong Nam benar-benar ingin mendengarnya langsung dari mulut So Hee.

“Yah. Dia selalu ada disampingku.” So Hee tersenyum simpul. Lantas menatap satu persatu keluarganya. “Eomma.” Panggilnya. Sang ibu yang berusaha keras menahan air matanya mengangguk menanggapi panggilan So Hee.

“Eomma jangan menangis lagi. Tersenyumlah, Eomma. Eomma lebih cantik saat tersenyum.”

“Appa. Aku tahu selama ini Appa bekerja keras mencari uang agar bisa mengobati penyakitku. Tapi Appa juga harus tahu, bahwa aku tidak ingin Appa melakukan itu. Eomma merindukan Appa, aku dan Eonni juga.”

“Eonnie.” So Hee mengulurkan tangannya ke arah So Hyun, seakan meminta kakaknya itu mendekat. “Eonnie, aku bahagia. Aku sangat sangat sangaaaattt bahagia.”

So Hyun merasa kesulitan menelan ludah. Gadis itu melempar pandangannya ke arah taman yang terlihat dari jendela kamar rawat So Hee. Pohon Maple yang berdiri di luar sana tampak menguning dan siap untuk jatuh. Sementara setetes air terjun bebas dari kedua mata cantiknya.

“Aku tahu. Sudah, jangan banyak bicara. Kau bilang kau ingin terlihat cantik di foto nanti kan? Sini, Eonnie akan memoles wajah jelekmu.” So Hyun duduk di pinggir ranjang So Hee. Tangannya bergerak pelan, membubuhkan bedak di wajah adik kecilnya yang masih terlihat pucat.

“Yong Nam-ssi.” So Hee mengalihkan pandangannya pada Yong Nam yang sedari tadi memperhatikannya dalam diam.

“Ya.” Jawab pria itu singkat.

Semuanya diam. Suasana mendadak kaku. So Hee meminta foto? Apakah itu benar-benar keinginan terbesar yang juga menjadi keinginan terakhir gadis itu? Yong Nam kalut. Permohonan itu sama saja dengan membunuh So Hee. Tapi Yong Nam tidak mungkin lebih kejam lagi dengan membiarkan So Hee menderita lebih lama.

Maka, Yong Nam melangkah maju ke arah So Hee. Ia melirik sekilas ke arah So Hyun yang sudah pucat pasi karena putus asa. Yong Nam tidak tahu mana yang lebih buruk. Mengirimkan nyawa So Hee pergi ke surga, agar gadis itu bisa bahagia bersama saudara kembarnya. Ataukah pergi dari sana agar dia bisa menahan So Hee lebih lama dan berpura-pura tidak tahu? Membiarkan Jung So Hee menderita antara hidup dan mati yang tidak pernah bisa dipilih oleh gadis itu. Yong Nam tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan So Hee dengan cara seperti ini. Terlalu menyakitkan.

So Hyun mengeluarkan kamera dan memberikannya pada Him Chan. So Hyun berdiri di sisi kiri ranjang So Hee bersama Yong Nam, sementara di sisi sebelah kanan ada kedua orang tuanya.

So Hyun mencoba berhitung ditengah isakkannya yang semakin menjadi. Yong Nam menepuk pundak So Hyun pelan, coba menenangkan meski ia sendiri merasa kesulitan bernapas.

Jepret!

Selesai.

Baik So Hyun maupun Yong Nam melihat ke arah So Hee dengan sorot menyakitkan, khawatir dan tegang. So Hee masih tersenyum, menandakan bahwa gadis itu masih baik-baik saja.

Baru, sepuluh menit kemudian, setelah Yong Nam memastikan bahwa tidak ada hal yang buruk terjadi pada So Hee dan memutuskan keluar dari kamar rawat gadis itu, terdengar suara wanita yang Yong Nam duga suara nyonya Jung, berteriak histeris.

Yong Nam kembali masuk, di susul oleh beberapa dokter yang membawa alat pacu jantung. Satu kali, dua kali, tiga kali, dokter memberi kejutan pada jantung So Hee, berharap masih ada keajaiban yang membuat gadis itu kembali bernafas.

Saat dokter bersiap memberi kejutan ke-empat, tuan Jung menggeleng pelan. Tangan lemahnya menahan lengan sang dokter, sebagai tanda ia telah mengikhlaskan kepergian sang putri, agar dokter berhenti ‘menyiksa’ putri kecilnya, agar So Hee terbebas dari rasa sakit. Dan saat itu juga Yong Nam tahu kalau dunianya dan So Hee, tak lagi sama.

Yong Nam menatap pedih tubuh nyonya Jung yang ambruk di pelukan suaminya. Wanita paruh baya itu pingsan tak sadarkan diri. Sementara So Hyun memeluk dan mengguncangkan tubuh So Hee, mengucapkan kata-kata jangan pergi dengan suara tertatih.

So Hyun mendongak, menatap Yong Nam yang berjalan menghampirinya. Air mata mengalir begitu saja di wajah tampannya meski raut wajahnya datar tanpa ekspresi.

“Dia pergi,” gumam gadis itu lirih. “Dia benar-benar pergi.” So Hyun berteriak tiba-tiba.

Yong Nam tahu, sebagai kakak, So Hyun mungkin akan menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian So Hee. Gadis itu terlihat sangat hancur. Tapi Yong Nam tidak punya jawaban lain selain mengangguk.

“Dia benar-benar ingin bersama saudara kembarmu?” So Hyun tersenyum hampa. Campuran rasa sedih dan… lega?

“Dia meneteskan air mata. Aku tidak yakin kalau dia tersenyum, tapi sudut bibir So Hee sedikit terangkat. Jadi aku pikir dia pasti sangat bahagia.” Yong Nam menatap So Hyun yang mengangguk. Bersamaan dengan itu, hujan mulai turun. Terlihat jelas dari jendela kamar rawat So Hee. So Hyun menoleh, seolah menerawang selama beberapa saat, membuat Yong Nam ikut menoleh.

“Sudah lama sekali tidak turun hujan,” komentarnya.

“Sepertinya So Hee memang benar-benar bahagia.” Ucapan Yong Nam itu membuat So Hyun memperhatikannya.

“Karena So Hee mencintai hujan sama seperti dia mencintai Yong Guk.”

-end-

10 Komentar

  1. huaaa aku nangis baca ff nya eon T.T terhanyuuuuut bgt nih tapi kok…. aku pikir soo hyun bakal sama yong nam hihi

  2. “Karena So Hee mencintai hujan sama seperti dia mencintai Yong Guk.”
    Kok aku nangis sih eon bacanya?
    Sohee pergi bareng yongguk, terus sohyun gimana?
    Ga ada lanjutannya?

  3. Eonnie kurang ajaaaaaaaaaaaar! /plak
    di awal emang agak sakit. Tapi ga terlalu banyak ini air keluar.
    Tapi tiba2 di akhir.
    Shit! /plak plak plak
    Bunuh saja diri ini eonniiiiiiiee!!!
    Kenapa eonnie bisa banget buat aku nangis kek giniiiiiiiiii T.T
    Bingung, tapi akhirnya ngerti. Omg Cinta So Hee ke Appa emang ngga ada yang bisa menandingi kayanya. Mereka… Mereka… :’) hebat! Aku cinta BangHeeeeeeee OMG!!! Kaya Kalo kita tidak bersatu di dunia, aku akan mengejarmu. Bahagia bersamamu di surga. Atau di pertemukan di neraka. Omg cinta kalian eonnie. Cinta kaliaaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!
    Huaaaaaaaaaaaaaaaa
    Oke cukup.
    BETTY.

  4. hyejeong kim

    endingnya bikin mewek😥 ><

    bikin lagi yang genre komedi coba.. gue nyesek tau bacanya

  5. baby ginici

    kereennn bgt thor, xesek bcx,,,

  6. baby ginici

    huhuhu,,,,:(,
    ampun dah thor, xesek amat bc_x,

  7. baby chietoz

    huhuhu,,,,:(,
    ampun dah thor, xesek amat bc_x,

  8. resti

    Tegang banget bacanya,,,

    G papa telat yg penting mash kebagian baca,,,

    G’ bisa ngebayangin kalo itu ada di kehidupan nyata,

    Semoga BangHee bahagia selamanya

  9. .....

    keren banget ffnya

  10. Dhiyaa Nasywa

    Aku ngerti kok perasaan eonni, walaupun perasaanku g sebesar eonni, aku jg udah posesif banget kalo ada org yg ngomongin baekhyun di depanku dan bilang si Kkaepsong ini milik dia, aku antara kesel sm pengen nangis jg, intinya perasaan egois itu tetep ada di hatiku…. Gomawo ne eonn, berkat postingan eonni aku jd ngenal B.A.P lbh jauh, sebelumnya aku cuma nge download lagunya doang, walopun aku suka sama mereka, aku Kayaknya emang udah g bisa pindah ke fandom yg laen, soalnya hatiku dah jatoh n g bisa dipindah-pindahin lg dari EXO walaupun belakangan ini mereka punya banyak banget masalah yg mendera, aku bakalan tetep setia dan ngedukung mereka secara langsung maupun g langsung, seperti para exo-l lainnya, walaupun belakangan ini fanwar masih ada, aku bakal tetep netral, emang gitu kan segarusnya seorang fans di random apapun? So, bergila-gilalah di duniamu eonn, aku bakal setia ngedukung eonni kok…

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: