AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

I Want To Meet You #Cheonsa


1004 - Cheonsa

Apakah egois jika aku ingin bertemu denganmu? Apakah berlebihan jika aku ingin menyentuhmu?

So Hee melirik berita yang muncul di layar televisi dari pantulan cermin meja riasnya. Berita itu mengabarkan tentang kembalinya Bang Yong Nam ke Korea. Setelah penyanyi yang semakin hari namanya kian melejit di dunia hiburan itu sukses menggelar konser tur dunianya.

So Hee tersenyum singkat, lantas kembali fokus menatap wajahnya sendiri di depan cermin, menyisir rambutnya pelan. Sangat pelan malah, khawatir jika mahkotanya itu semakin banyak yang rontok.

“Dia kembali. Kau lihat itu kan? Dia telah menyelesaikan tur dunianya. Seperti yang sudah kau duga, dia menjadi penyanyi yang hebat.”

Dari luar, seorang gadis menatap So Hee lekat-lekat. Ia masih bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja So Hee katakan. Seketika perasaannya berkecamuk. Buruk. Ia ingin masuk dan mencecar So Hee dengan berbagai macam pertanyaan, namun logikanya masih berfungsi dengan benar sehingga hal itu urung ia lakukan. Gadis itu akhirnya memutuskan pergi menjauh dari kamar So Hee. Menyentuh dadanya yang entah kenapa terasa… Sakit?

***o0o***

Sebagai artis, Bang Yong Nam sudah terbiasa mendapatkan perhatian. Dari yang paling kecil sampai yang kelewatan. Yong Nam sudah biasa mendengarkan ucapan cinta yang di kumandangkan para fansnya. Dalam sehari, bukan hanya sekali, bahkan bisa seribu sampai sejuta kali. Jika tidak mendengar, maka ia akan melihatnya. Dan dari semua kata-kata cinta serta perhatian yang ia dapat, tidak ada yang membuatnya menjadi seaneh ini.

Awalnya, Yong Nam sama sekali tidak perduli. Bahkan terkesan mengabaikannya. Namun, setelah beberapa hari berlalu ketika dirinya sendirian di dalam kamar, Yong Nam teringat kembali akan ucapan gadis yang tak di kenalnya itu.

“Apa kau bahagia?”

Rangkaian kata itu membuat Yong Nam betah melamun. Sungguh tidak lazim, pikirnya, ini tidak benar. Di saat semua orang meneriakkan namanya yang baru keluar dari gate bandara, secara mengejutkan dirinya berhenti saat pertanyaan itu hinggap di telinganya.

Yong Nam menoleh, dan mendapati seorang gadis tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Yong Nam tidak menjawab, hanya menaikkan sudut kiri bibirnya sembari menggeleng tak percaya, lalu melangkah lagi. Aneh, pikirnya saat itu. Dan ia melupakan kejadian itu begitu saja. Hingga tiba-tiba beberapa detik yang lalu ingatan itu kembali mengusiknya.

Ada yang aneh dari nada suara gadis itu. Ada yang aneh dari tatapan gadis itu. Ada yang aneh dari cara gadis itu berada di kerumunan penggemarnya. Gadis itu terlalu diam, seolah bukan bagian dari orang-orang yang meneriakkan namanya. Gadis itu seolah tak terjangkau. Dan Yong Nam tidak tahu kenapa? Karena kenyataannya ia sendiri baru menyadari jika ia merasa… resah.

“Apa aku bahagia?” Gumam Yong Nam pelan.

Yah. Tentu saja Yong Nam bahagia. Tidak ada alasan untuk tidak bahagia dengan semua cinta yang diberikan kepadanya. Jadi benar, kan? Gadis itu aneh.

Entah sudah berapa kali Yong Nam menyebut gadis itu aneh. Meski begitu, anehnya Yong Nam kembali berpikir, “Benarkah aku bahagia?”

Yong Nam meraih pigura dari nakas tak jauh dari ranjangnya. Sebuah pigura yang memuat foto dirinya dengan seorang pria yang tak hanya seumuran dengannya, tapi juga mirip.

“Tentu saja aku bahagia. Apa yang perlu aku ragukan? Iya kan?” Putus Yong Nam yang merasa frustasi tanpa sebab. Kenapa dia harus repot-repot memikirkan hal kecil dan tidak penting semacam itu?

***o0o***

Seminggu kemudian, Bang Yong Nam bertemu kembali dengan gadis itu. Ah tidak! Yong Nam-lah yang melihat gadis itu lebih dulu. Saat ia menghabiskan liburannya yang hanya beberapa hari di lantai dua sebuah cafe bersama sang manajer.

Gadis itu nampak sibuk dengan sebuah pensil. Sementara tangannya begitu lincah meliuk-liuk di atas kertas, mencorat-coret sesuatu. Gadis itu sangat fokus hingga ia sama sekali tidak sadar kalau artis idolanya berada di tempat yang sama. Jangankan melihat ke arah Yong Nam, mendongak sedikitpun tidak. Tentu saja Yong Nam tahu hal ini, karena ia tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari gadis itu. Aneh kan?

Ketika Yong Nam hendak mengambil cangkir di atas meja, gadis itu melihatnya. “Akhirnya,” ucap Yong Nam dalam hati. Entah kenapa ia merasa lega karena akhirnya gadis itu menatap ke arahnya.

Tapi lucu. Yong Nam merasa lucu saat melihat mata gadis itu membesar karena terkejut. Yong Nam tersenyum, dan kali ini mendapati dirinya sendiri yang merasa terkejut karena melihat respon gadis itu. Gadis aneh itu membungkuk, menyapanya dengan sangat sopan, lantas buru-buru merapikan barang bawaannya, dan bergegas kabur meninggalkan tempat itu.

Yong Nam tersinggung.

Lihat tingkah gadis itu. Bagaimana bisa dia kabur setelah melihat Yong Nam? Sungguh sebuah penghinaan! Bukankah gadis itu adalah penggemar Yong Nam? Tapi kenapa dia malah melarikan diri setelah melihat Yong Nam seolah Yong Nam adalah penyakit menular?

Kalaupun bukan penggemar Yong Nam, kenapa gadis itu ada di bandara, memanggil namanya dan menanyakan pertanyaan aneh itu? Kenapa? Kenapa gadis itu melarikan diri?

Yong Nam merenung.

Ada banyak hal yang harus di pikirkan Yong Nam. Ada banyak hal yang harus Yong Nam perhatikan. Dan dari sekian banyak hal, seharusnya gadis itu tidak termasuk hitungan. Seharusnya.

Tapi faktanya berkata lain. Gadis itu membuat Yong Nam berpikir dan hal itu sama sekali tidak menyenangkan. Cukup menganggu.

Kenapa gadis itu melarikan diri? Yang ini, Yong Nam sendiri tidak bisa menjawabnya. Tidak peduli sekeras apapun dirinya berspekulasi.

Kim Him Chan, manajernya yang baru kembali dari toilet menegur Yong Nam. “Apa yang kau pikirkan?”

“Tidak ada.” Balas Yong Nam singkat.

“Secara fisik iya. Tapi terlihat jelas ada yang menganggu pikiranmu. Apa kau tidak mau bercerita?” Him Chan terlihat begitu penasaran dengan apa yang sedang di pikirkan artisnya itu.

“Belum saatnya.”

***o0o***

Jung So Hyun menghapus gambar hidung yang semula di gambarnya. Hidung itu terlalu jelek, lubang hidungnya terlalu besar dan terlihat pesek. Sedangkan dirinya bermaksud untuk membuat hidung mancung yang indah.

So Hyun memegang kembali pensil arangnya, menggoreskan garis tipis dengan hati-hati. So Hyun yakin akan membuat bentuk hidung yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi kemudian ia membanting pensilnya di atas kertas yang ia gambar. So Hyun mengeluh, menyerah sementara waktu.

Sejak ia memutuskan kuliah di jurusan seni, kendala yang ia punya saat membuat sketsa wajah hanyalah membuat hidung! Hidung! Betapa berharganya sebuah hidung bukan? Jika tidak bisa membuat tangan atau kaki, mungkin masih bisa di maklumi karena memang ada banyak orang yang tidak mempunyai tangan, kaki, atau keduanya?

Tapi, So Hyun tidak bisa tidak membuat hidung. Bagaimana cara orang itu bernafas jika tidak mempunyai hidung? Seumur hidup, So Hyun belum pernah mendengar atau melihat orang yang tidak punya hidung, dan dilahirkan dengan wajah rata di tengah. Sekalipun ada, So Hyun harus tetap membuat itu di sketsanya, setidaknya sebuah garis.

“Eonnie..”

So Hyun mendengar suara itu, tapi terlalu malas untuk mendongak. Jadi dia hanya menggumam.

“Sedang apa?” Tanya suara itu lagi.

So Hyun terpaksa mengangkat kepalanya sambil menghembuskan napas, menatap sosok gadis yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya itu.

“Membuat hidung. Kenapa?”

Gadis itu menoleh pelan. “Mau aku buatkan?” Tawarnya.

“Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin kau menghancurkan gambarku,” Desis So Hyun yang di balas kekehan kecil dari sang adik. Suasana mendadak hening beberapa saat. Memaksa So Hyun memokuskan pengelihatannya kepada sang adik.

“Gwaenchana?” Tanya So Hyun saat melihat adiknya tiba-tiba berhenti terkekeh. Sang adik yang memejamkan mata membuatnya sedikit panik. So Hyun bangkit dari kursinya dan menghampiri sang adik. Duduk di dekat gadis itu dengan sangat pelan, takut adiknya kesakitan. Yang sampai tiga menit kemudian masih belum menunjukkan tanda-tanda pergerakkan.

“Ya! So Hee-ya?!” Panggil So Hyun sambil menyentuh lengan sang adik yang di panggil So Hee itu.

“Hee-ya! Jawab aku!”

“Berisik sekali, Eonnie. Aku sedang mengambil napas.”

“Salahmu tidak menjawab.” So Hyun diam-diam menghembuskan napas lega. “Ada yang sakit? Mau ku ambilkan obat?”

“Tidak. Aku sudah minum obat. Kenapa kau selalu menawariku obat? Tidak bisakah sesekali kau menawariku pergi jalan-jalan?” So Hee membuka matanya, mengerling nakal kepada sang kakak. So Hyun tidak menanggapi ocehan So Hee. Ia memilih membaringkan tubuhnya di samping sang adik, dengan amat sangat pelan tentunya. Lantas menopang kepalanya dengan tangan, menghadap So Hee.

“Aku bahagia, Eonnie.” Ujar So Hee, mengalihkan pandangannya dari langit-langit rumah ke sisi sebelah kiri. Gadis itu tersenyum. Tangannya bergerak pelan, seolah menggenggam sesuatu. Dan hal itu tak luput dari pengamatan So Hyun.

“Bagus, kau memang harus bahagia. Terpuruk hanya akan memperparah keadaanmu.” So Hyun tak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari So Hee.

“Aku punya ibu yang luar biasa hebat, aku punya ayah yang selalu melindungiku, dan aku juga punya kakak yang selalu peduli, perhatian, dan menuruti keinginanku. Aku sangat beruntung bukan?”

So Hyun diam tak merespon. Gadis itu sibuk memperhatikan gerakan So Hee yang di rasanya… aneh?

“Eonnie, maukah kau melakukan satu hal untukku?” Tanya So Hee, kali ini tatapannya benar-benar memohon.

“Apa?” Sahut So Hyun ketus. Ia sudah bisa menduga gadis itu pasti menginginkan sesuatu.

“Aku ingin bertemu Bang Yong Nam.”

“Kau bisa melihat Music Videonya, atau kau bisa menyalakan televisi. Wajahnya ada di mana-mana.” So Hyun masih bersikap acuh.

“Besok dia akan mengadakan fanmeeting. Temani aku, Eonnie.”

“Tidak. Kau tidak akan bisa ke sana.” So Hyun berkeras menolak. So Hee memang sangat mengidolakan Bang Yong Nam. Gara-gara pria itu, So Hee bertekad untuk sembuh agar bisa sesekali menjadi stalkernya. Gara-gara pria itu, So Hee selalu ceria dan tertawa setiap membicarakan tentang apa yang dilakukan Bang Yong Nam.

Dan So Hyun juga tahu, harapan terbesar So Hee selama ini adalah bertemu dengan pria itu, meminta tanda tangannya, dan foto bersama. So Hyun tahu. Dan dia berjanji untuk membuat keinginan So Hee agar menjadi nyata. Tapi bukan sekarang.

So Hee baru saja ke luar dari rumah sakit setelah sebelumnya collapse. Dan gadis itu mau kelayapan besok? Berdesak-desakkan dengan entah berapa banyak penggemar, ikut berteriak menyoraki nama Bang Yong Nam? Tentu saja tidak boleh.

“Tidak boleh pokoknya,” Ucapnya sekali lagi, dengan sangat tegas.

“Meskipun… ini adalah keinginan terakhirku?”

So Hyun bangkit dari tidurnya, melotot marah ke sang adik yang ikut duduk. “Dengar, Jung So Hee-ssi! Kau! Akan hidup sampai seribu tahun lagi! Jangan pernah berpikir kau akan meninggalkan kami begitu saja! Jangan mengatakan macam-macam lagi, aku tidak mau mendengar hal itu! Kalau keinginan terbesarmu bertemu dengan Bang Yong Nam adalah keinginan terakhirmu, aku bersumpah akan melakukan apapun untuk membatalkan janjiku yang akan membuat hal itu menjadi kenyataan!”

“Eonnie..”

“Aku tidak mau dengar lagi.” So Hyun keluar dari kamar dengan mata yang memanas. Bayangan akan adiknya yang terbujur kaku di dalam peti mati sungguh bayangan yang mengerikan dan sangat menyakitkan. So Hee tidak boleh menyerah akan hidupnya. So Hee harus bertahan. Bagaimanapun caranya, So Hyun akan membuat sang adik hidup sampai seribu tahun. Merasakan indahnya hidup, merasakan kebahagiaan yang lebih lagi. So Hyun harus memastikan adiknya akan baik-baik saja. Harus!

“Kau lihat kan? Dia sangat keras kepala, sama sepertimu.” Gumam So Hee lirih.

***o0o***

Keesokan harinya, So Hyun tiba di rumah dengan panik. Ia mendobrak masuk ke kamar So Hee sekedar untuk menenangkan detak jantungnya dan memastikan bahwa adiknya berada di rumah dan dalam keadaan baik-baik saja. Jam kuliah yang mendadak di undur membuatnya pulang terlambat.

“Waeyo?” Tanya So Hee, tanpa menoleh ke arah sang kakak.

So Hyun menghembuskan napas lega lalu berjalan memasuki kamar dengan napasnya yang masih tak teratur. “Aku pikir kau tidak ada di rumah.”

“Dimana lagi aku bisa berada selain di rumah? Rumah sakit?”

So Hyun mengabaikan nada sinis dalam suara adiknya. Jujur ia menyesal sudah membentak So Hee kemarin karena permintaan konyolnya itu. Tapi tetap saja ia tidak bisa membiarkan So Hee pergi begitu saja.

“Istirahatlah. Aku akan keluar sebentar.” Merasa tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, So Hyun pamit pergi.

“Bawakan foto-fotonya, Eonnie.” So Hyun yang sudah separuh berjalan menghentikan langkahnya untuk berbalik.

“Aku tidak akan pergi ke sana.”

“Aku tahu.” So Hee menyempatkan diri untuk tersenyum. “Tapi kau selalu mendapatkan apa yang aku inginkan.”

So Hyun tersenyum. Itu memang kenyataan. Mungkin orang-orang bisa melihat kalau dirinya begitu menyayangi sang adik, tapi So Hyun yakin tidak akan ada yang bisa menduga seberapa besar sayangnya ia pada So Hee. Dan itu termasuk mengabulkan apapun yang diinginkan gadis itu yang untungnya selalu mampu untuk So Hyun penuhi.

Beberapa menit sebelum fanmeeting berakhir, So Hyun sudah berada di dalam kerumunan orang-orang yang meneriakkan nama Yong Nam. So Hyun memperhatikan pria itu yang terlihat begitu akrab dengan para fansnya. Caranya berinteraksi membuatnya semakin di gilai.

Sebelum acara fanmeeting berakhir, Yong Nam menyanyikan sebuah lagu. Namun ia nyaris kehilangan konsentrasi saat matanya tertuju pada satu titik. Ah tidak, tapi seseorang. Seorang gadis lebih tepatnya. Dan jauh lebih tepat lagi adalah, gadis aneh itu, So Hyun. Mata Yong Nam terbelalak tak percaya.

Tapi Yong Nam merasa aneh ketika So Hyun hanya berdiri diam dan mengacungkan handycam ke arahnya dengan sangat fokus. Yong Nam penasaran. Ia mendekat untuk memberikan kesempatan pada So Hyun untuk memenuhi layar handycamnya dengan wajahnya. So Hyun terkejut. Yang entah kenapa membuat Yong Nam merasa senang dengan ekspresi yang di tunjukkan gadis itu. Dan itu membuat Yong Nam semakin tergugah untuk menggoda.

Dengan sengaja, Yong Nam duduk di pinggir panggung, di mana para keamanan langsung sigap berdiri di sekitar kakinya hanya untuk menghalangi para penggemar agar tidak menyerbunya. Dengan sengaja Yong Nam bernyanyi dengan memokuskan matanya ke arah lensa handycam yang dipegang oleh So Hyun seolah dengan begitu Yong Nam sedang bertatapan dengan gadis itu.

Yong Nam mengedipkan sebelah matanya ketika So Hyun menurunkan sedikit handycamnya dan melihat ke arahnya dengan bibir terbuka lebar tak percaya. Respon So Hyun benar-benar membuat Yong Nam bahagia karena kejailannya. Yong Nam memang jail. Apalagi ketika ia tahu seseorang sedang kesal padanya, ia justru memanfaatkan keadaan itu untuk membuat orang tersebut semakin kesal.

Yong Nam tahu kalau So Hyun aneh. Gadis aneh yang menjadi penggemarnya. Tapi saat ini Yong Nam tidak mau memikirkan betapa anehnya So Hyun. Tapi ia tetap saja merasa kesal saat lagu yang di nyanyikannya habis dan So Hyun langsung menyimpan handycamnya, menundukkan kepala seperti mengucapkan terima kasih dan berbalik pergi begitu saja. Menyebalkan bukan?

***o0o***

“Seperti ini? Benarkah tidak apa-apa? Bagaimana kalau ada yang mengambil?” So Hee menempelkan sebuah memo di pintu apartemen Yong Nam. Seolah berbicara dengan seseorang yang berdiri di sampingnya.

Sebelumnya So Hee juga menempelkan memo yang sama dengan isi tulisan yang berbeda di atas meja rias yang ada di kamar So Hyun. So Hee memutuskan keluar rumah tanpa sepengetahuan ibu dan So Hyun tentunya. So Hee terlihat cantik dengan balutan gaun hitam panjang yang kontras dengan kulit putihnya.

Setelah dari apartemen Yong Nam, So Hee naik taksi menuju sebuah gedung yang hanya berjarak sepuluh menit dari apartemen Yong Nam. So Hee meminta supir taksi untuk menunggunya sebentar, karena dia tidak akan lama di dalam. So Hee berjalan menuju gedung dimana terdapat banyak almari yang memajang guci-guci kecil di sertai foto di sebelahnya. Setelah berbelok dua blok, So Hee akhirnya berhenti di depan sebuah foto.

“Hai, lama tak bertemu.” Sapanya pada sebuah foto yang tersenyum. Foto itu terlihat seperti seseorang yang sangat mirip dengan Yong Nam. Seseorang yang berdiri bersebelahan di foto yang ada di pigura Yong Nam, saudara kembarnya, Bang Yong Guk.

“Lama? Setiap hari, setiap menit, bahkan setiap detik, kita bertemu. Aku selalu di sampingmu.” Protes seseorang yang ada di samping So Hee. Gadis itu hanya menanggapinya dengan senyuman, tanpa berniat mengalihkan pandangannya sedetikpun dari foto yang ada di hadapannya itu.

“Aku merindukanmu.” So Hee menunduk sedih.

“Jangan menangis.” Ujar sosok pria yang berdiri di samping So Hee. Pria itu berusaha menggapai So Hee dan mendekap gadis itu ke dalam pelukannya, tapi tangannya dengan bebas menembus tubuh So Hee.

“Apa kau tahu, Bang Yong Guk-ssi? Tak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain hari itu. Hari kelulusan kita. Hari dimana kau memutuskan untuk menjadi dokter agar bisa menyembuhkan penyakitku? Saat itu kau memberiku sebuah cincin dan memintaku untuk menunggumu menyelesaikan pendidikan di Jerman. Tidak masalah. Bukankah aku sudah sering mengatakannya? Tidak masalah jika aku harus menunggu, selama apapun itu. Karena aku menunggu seseorang yang ingin aku tunggu.” Suara So Hee terdengar bergetar. Menahan segala rasa yang berkecamuk di hatinya.

“Tapi kenapa? Kenapa kau membiarkanku menunggu selama ini? Menunggu tanpa batas waktu. Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Aku tidak tahu harus melewati berapa musim lagi agar bisa bertemu denganmu?” So Hee memalingkan wajahnya ke sosok pria yang berdiri di sampingnya.

“Jika aku tidak sakit, kau tidak akan mengambil jurusan kedokteran, kan? Kau tidak perlu pergi ke Jerman dan naik pesawat yang bermasalah itu. Maaf. Maaf, ini semua salahku. Aku selalu menyusahkan orang-orang di sekitarku.” So Hee menunduk dalam lantas pergi meninggalkan gedung krematorium dengan perasaan… hancur.

***o0o***

Bang Yong Nam belum pernah merasakan kesenangan seperti ini. Ia tidak tahu pasti apa yang membuatnya bahagia, yang jelas, suasana hatinya setelah fanmeeting tadi sangatlah baik.

“Apa yang membuatmu sebahagia ini?” Tanya Him Chan sambil menunjukkan tab miliknya pada Yong Nam dan menunjukkan komentar para fansnya di fancafe setelah fanmeeting berakhir.

“Apalagi yang bisa membuatku bahagia selain senyum fansku?” Yong Nam mengarahkan kamera ponsel di depan wajahnya dan mengambil selfie. Ia lantas menguploadnya ke akun instagram sebagai hadiah dan ucapan terima kasih pada fans.

“Ada sesuatu di sana tadi, ketika aku bernyanyi. Apa kau melihatnya?” Yong Nam mendadak menoleh ke arah Him Chan, mengejutkan sang manajer.

“Eh? Apa? Apa seorang wanita?”

Yong Nam mengangguk, mengiyakan.

“Apa kau sedang berpacaran?” Desak Him Chan, ada nada panik di dalam suaranya, khawatir artisnya terlibat skandal.

Yong Nam menarik sebelah alisnya saat sang manajer menatapnya curiga. Namun Yong Nam menggeleng, membuat Himchan bernafas lega… beberapa saat. Yah beberapa saat, karena sedetik kemudian ia sadar.

“Ada seorang wanita di sana. Tapi kau tidak berpacaran. Jadi apa kau menyukainya?”

Yong Nam mendengus, mengejek tanpa mengatakan apapun lagi, ia sengaja membuat Himchan kesal.

“Apa kau menaruh perhatian pada seseorang?”

Kali ini Yong Nam diam sejenak. Memikirkan baik-baik, apa yang ia rasakan pada gadis aneh itu berupa perhatian?

Yong Nam menggeleng pelan. Kemudian mengangguk. Kemudian membuka pintu mobil, gerakkan kepalanya jadi terasa aneh. Dan dia menggeleng lagi sembari berucap. “Aku rasa tidak.”

“Kau rasa?” Him Chan mengikuti Yong Nam turun dari mobil, berjalan menuju apartemen.

“Ya, aku rasa.” Yong Nam mendesah. “Aku tidak mengenalnya. Dia ada di mana-mana dan gadis itu aneh sekali. Dia penggemarku, tapi seperti bukan penggemarku.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.” Him Chan berjalan mendahului Yong Nam, menghentikan langkah pria itu. Yong Nam diam beberapa saat. Membuat Him Chan semakin penasaran.

“Kim Him Chan-ssi, apa kau bahagia?” Tanya Yong Nam kemudian, menatap Him Chan yang balas menatapnya dengan bibir terbuka, terkejut lebih tepatnya.

“Pertanyaan apa itu? Hei, apa maksudmu?”

Yong Nam menghembuskan nafas pelan, lantas menyingkirkan Him Chan yang menghalangi langkahnya. “Kita yang saling kenal saja, ketika aku bertanya seperti itu, kau merasa bingung, kan?” Tanyanya yang di jawab dengan anggukan kaku Him Chan. “Lalu bagaimana jika kau di tanya hal seperti itu oleh orang asing yang sama sekali tidak kau kenal?”

Him Chan mengerjap. “Aku akan menganggapnya gila.”

Jawaban sang manajer membuat Yong Nam tersenyum angkuh. Merasa bahwa dia bukan satu-satunya orang yang merasa aneh melihat kelakuan gadis itu.

“Karena aku tidak mengenal orang asing itu, tentu saja aku tidak akan menjawab dan menganggapnya mungkin salah orang. Tapi bisa saja orang itu yang mengenalku, atau mungkin aku yang lupa pada orang itu. Tapi tetap saja, hal itu terasa aneh karena itu adalah orang asing bagiku,” Tambah Him Chan.

“Itu dia.” Yong Nam menjentikkan jarinya ke depan. “Aku tidak mengenal gadis itu, jika aku pernah melihat gadis aneh itu sebelumnya, aku pasti mengingatnya. Tapi dia benar-benar asing bagiku. Tentu saja, dia tahu siapa aku karena dia berdiri di antara kerumunan penggemarku yang menyambutku di bandara. Semua orang meneriakkan namaku, mengucapkan kata-kata cinta, dan sibuk memotretku. Tapi gadis itu hanya berdiri diam di sana seolah tanpa nyawa.” Yong Nam melangkah masuk setelah akhirnya pintu lift terbuka. “Kau ingat saat aku melamun di cafe beberapa hari yang lalu? Itu karena aku melihat gadis aneh itu di depan cafe. Setelah pertanyaan tak lazimnya di bandara waktu itu, aku melihatnya lagi di depan cafe yang kemudian ia membuatku gusar, marah dan tersinggung.”

“Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia melukaimu? Kita bisa menuntutnya jika itu merugikanmu.”

Yong Nam menggeleng. “Dia tidak melakukan apa-apa.”

“Maaf?”

“Awalnya dia tidak melihatku. Lalu ketika mata kami bertemu, gadis itu terkejut, mendadak sopan, dan melarikan diri dari kafe.” Yong Nam menghentikan ucapannya sesaat. “Sampai aku melihatnya lagi di fanmeeting hari ini,”

“Well, siapapun dia, yang jelas dia sudah berhasil mendapatkan perhatianmu di antara jutaan fansmu.” Nada suara Him Chan terdengar menyayangkan.

“Benar.” Yong Nam bergumam setuju. Keduanya melangkah keluar lift, menuju apartemennya. “Jika aku berhasil melihatnya lagi, aku akan bertanya padanya.”

Him Chan tidak menyahut, namun Yong Nam mendengar desahan berat yang menandakan bahwa Him Chan sudah lelah hanya dengan memikirkan akibat yang mungkin akan ditimbulkan oleh artisnya tersebut.

Sesampainya di depan pintu apartemen, Yong Nam melirik sebuah memo yang tertempel di sana. Ia lantas menarik memo tersebut dan membacanya,

“Sesibuk apapun dirimu, aku harap kau tidak melupakan hari ini. Aku menunggumu di Garosu-gil Road”

Yong Nam berpikir beberapa saat, matanya melebar sempurna saat menyadari kemungkinan siapa yang mengiriminya memo tersebut. Sedetik kemudian Yong Nam berlari kencang menuju lift, menekan tombol dengan tidak sabaran, sementara Him Chan masih berdiri di depan apartemen, terkejut. Him Chan masih tidak tahu apa yang terjadi hingga ia membaca memo yang Yong Nam jatuhkan. Sang manajer-pun akhirnya hanya bisa berteriak, mengumpat, dan mengucapkan sumpah serapah pada Yong Nam yang tak mau mendengar ucapanya.

***o0o***

“Kemana kau pergi, Bang Yong Guk-ssi, Hatiku benar-benar terluka sekarang. Memanggil namamu di tempat yang penuh kenangan ini, tapi kau tak datang. Kau tak ada. Kau benar-benar tak bisa lagi kugapai. Apa kau akan membiarkanku seperti ini? Membiarkan hatiku menangis karenamu? Kenapa kau begitu kejam padaku? Tidak peduli seberapa banyak aku menangis. Tak peduli walau air mataku habis karenamu. Asal kau kembali. Tapi aku tahu… Itu tidak mungkin kan? Kau begitu kejam padaku. Kau benar-benar menghancurkan aku dengan cinta ini. Seperti ruang kosong. Hidupku seperti ruang kosong. Tak ada apapun. Karena kau telah memindahkan semua yang ada di dalamnya, untuk pergi bersamamu. Aku tahu aku menangis lagi sekarang. Semakin menjadi dan menjadi saat mengingat kenangan kita di tempat ini. Kenangan indah sekaligus kenangan yang paling ampuh untuk membunuhku. Membuatku mati pelan-pelan.”

So Hee duduk dengan tenang di sebuah bangku taman yang ada di Garosu-gil. Ia berbicara pelan yang entah dengan siapa? Ingatannya kembali pada saat dirinya masih bersama dengan Bang Yong Guk dan menghabiskan waktu bersama disana.

Sejak Yong Guk meninggal, penyakit So Hee semakin parah. Sehingga ibu dan kakaknya sama sekali tidak mengizinkan So Hee meninggalkan rumah. Mereka tidak tahu. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang membuat kondisi So Hee kian memburuk. Gadis itu tidak pernah bercerita. Tidak pernah menceritakan apapun tentang seorang pria yang bernama Bang Yong Guk.

Meski Yong Nam pernah menawarkan diri untuk menggantikan posisi Yong Guk di hati So Hee, tapi tetap saja, Yong Nam bukanlah Yong Guk meski keduanya kembar identik. Puncaknya saat keluarga So Hee memutuskan untuk pindah dari tempat tinggal lamanya. Menyisahkan kenangan yang tak pernah hilang meski jarak, waktu, bahkan perbedaan dunia menghadang.

“Bahkan jika pesawat yang kau tumpangi tidak tergelincir dan meledak, harusnya aku tak membiarkanmu menjadi dokter. Harusnya kau menjadi artis saja seperti Yong Nam. Bukankah itu impianmu? Kenapa kau mengorbankan impianmu demi aku? Kenapa kau keras kepala ingin menjadi dokter dan menyembuhkanku? Bahkan dokter terbaik di Korea-pun tidak yakin bisa menyembuhkan penyakitku yang kemungkinan sembuhnya hanya tujuh persen! Kau bilang kau akan menyelesaikan pendidikanmu dengan cepat agar bisa kembali? Itu harapanmu atau kau yang memberikan harapan itu padaku? Kurasa, memperingati hari kematianmu dengan berada di tempat ini adalah pilihan yang tepat. Meski sejujurnya aku bahkan masih bingung dengan apa yang aku pikirkan. Aku sama sekali tidak tahu aku membicarakan apa. Apa yang sebenarnya aku sesali. Apa yang sebenarnya membuatku senang. Apa sebenarnya yang ingin kulakukan. Apa sebenarnya yang terjadi. Semuanya berputar di otakku tanpa ampun. Aku bingung, Bang Yong Guk. Aku tidak bisa menyusunnya dengan benar. Apa aku seperti orang gila sekarang? Berbicara tak jelas dengan pemikiran bolak-balik dan tak tentu arah? Bahkan jika kau disini, aku tidak perlu berbicara kan? Karena kau mengetahui pemikiranku dengan baik.”

So Hee menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Padahal dari beberapa hari yang lalu ia berjanji pada dirinya sendiri dan pada pria itu bahwa dia tidak akan menangis hari ini. Tapi nyatanya?

So Hee masih ingat dengan jelas bagaimana terpukulnya ia saat melihat peti mati dimana Yong Guk terbaring tenang di dalamnya memasuki ruang kremasi. So Hee meronta, menjerit histeris. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membuat Yong Guk kembali hidup.

“Aku mencintaimu So Hee-ya.” Sebuah suara mengalihkan perhatian So Hee. Bang Yong Guk, pria itu muncul lagi di hadapannya dan mengatakan kata cinta dengan sungguh-sungguh. So Hee tahu. Ia sangat tahu jika Yong Guk sangat mencintainya. Dan pria itupun juga pasti tahu kalau So Hee sangat mencintainya meski ia tidak mengatakannya.

Hari ini, Yong Guk terlihat lebih tampan dari biasanya. Wajahnya juga lebih bersinar. Sayangnya tidak ada yang bisa melihat ketampanan pria itu selain So Hee sendiri tentunya. So Hee tersenyum, namun pandangannya mulai memudar. Hingga semuanya berubah gelap.

Ibu-ibu yang sedang bermain dengan anaknya yang berada tak jauh dari So Hee berteriak minta tolong. Secara kebetulan, dokter yang merawat So Hee sedang lewat. Ia bersiap kembali ke rumah sakit setelah mengambil sample dari labolatorium. Dokter itu kemudian meminta bantuan orang-orang untuk mengangkat So Hee ke dalam mobilnya. Dengan kecepatan maksimal, sang dokter memacu mobilnya menuju rumah sakit. Tepat saat itu, Yong Nam datang dan hanya melihat kerumunan orang yang mulai membubarkan diri tanpa menemukan keberadaan orang yang di carinya.

8 Komentar

  1. hyejeong kim

    gue tambah nyesek baca ff ini … sakit sakit sakit sakitnya tu disini *unjukhati😥

  2. resti

    Banghee kembali,,,

    Tapi kenapa ceritanay sedih banget😥,,,

    Mendoakan so hee cepat menyusul yong gu
    k,itu kejam sekli, tapi jika dengan seperti itu bisa mengakhiri semua penderitaa so hee dan bisa bersama yong guk lagi apa tidak apa2?

    Intinya yg terbaik wat banghee
    ❤ BangHee❤

  3. ada chap lanjutan g kak?? aq sukaaa

  4. @jeong: elu nangis gegara sungmin kawin apa gegara ff gue?

    @resti: lagi galo, ini semacem ungkapan “apapun yg yongguk dan member bap lakukan, aku akan selalu disampingnya & dukung apapun keputusan mreka”

    @meyameylan: masih ada 1 chapter lagi say, ditunggu aja yah

    • hyejeong kim

      dua duanya😥

  5. Omg keren! Tapi aku masih belum ngerti gimana ini? Hahahaha
    Lanjut eonnie…
    BETTY.

  6. Hai thor🙂 maaf ya rasanya sudah lama aq tdak berkunjung ke webmu ini🙂

  7. @Betty: ntr kl next chap-nya keluar mungkin akan faham saeng😀 sengaja dibikin rempong dulu.

    @k7smille: hai dear ^^ long time no see, kmana? dmna? gpp lama ga mampir, yang penting masih inget😛

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: