AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

To You, Too Much


Tidak terasa sudah satu tahun sejak aku menulis Waiting For Rain dan sudah…. eung…. satu, dua, tunggu aku akan menghitungnya. Tiga, empat, lima, enam……

Enam?

Enam? Benarkah?

Benarkah sudah enam tahun kau pergi? Benarkah sudah enam tahun kau tidur nyaman di bawah gundukan tanah itu? Karena…. rasa-rasanya masih seperti kemarin saat kau datang ke rumahku tanpa sempat bertemu dan pergi begitu saja tanpa pamit. Benarkah?

Muhammad Ridwan Hernowo Saputro
Aku masih mengingat nama panjangmu dengan sangat baik bukan?

Kopyor
Begitu caraku memanggilmu.

22 September
Tanggal lahirmu.

Kopyor?

Hei, aku sedang memanggilmu. Apa kau mendengarnya?

Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, saking banyaknya aku sampai bingung harus memulainya dari mana.

Mungkin yang pertama aku harus meminta maaf, karena sampai detik ini aku belum pernah mengunjungi ‘rumah abadimu’. Kau tahu alasannya kan? Bukannya aku takut kalau kau akan bangun saat aku mengunjungimu nanti. Bukan. Tapi karena aku takut menerima kenyataan, meski aku tahu ini adalah kenyataan. Aku takut melihat ukiran namamu di nisan yang sudah lapuk itu. Aku tidak tega membiarkanmu tidur di bawah gundukan tanah itu. Bisa-bisa aku akan menggali lubang itu dan mengajakmu pergi.

Aku, hidupku, ah ini terlalu rumit untuk di ceritakan. Aku lelah. Sudah terlalu lama aku diam dan menyimpan semuanya sendiri. Aku butuh tempat sampah sepertimu untuk berkeluh kesah. Aku butuh punggungmu untuk bersandar. Aku butuh pundakmu untuk menangis. Dan aku membutuhkanmu untuk menghentikan kegilaanku.

Kau tahu aku bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Aku selalu membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain. Karena aku takut kehilangan, lagi. Meski sebenarnya aku sudah kehilangan semuanya sekarang.

Memang, tidak seharusnya aku menangisimu lagi, dan sudah seharusnya aku mengucapkan selamat jalan padamu. Tapi aku bahkan tidak mampu untuk mengungkapkan betapa aku, sangat merindukan sosokmu.

Teman? Apa itu teman? Bagaimana caranya berteman? Aku bahkan tidak tahu apa itu teman. Hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain hanya membuatku memiliki banyak kenalan, bukan teman. Aku tidak benar-benar memiliki teman. Iya kan? Kasihan sekali. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu.

Kau penasaran karena melihatku yang selalu sendiri.

Kau bersimpati karena orangtua-ku tidak tinggal bersama.

Kau iba karena tubuhku penuh luka pukulan, cambukan dan segala tetek bengek yang sering membekas di tubuhku.

Karena itu kau menerobos batasku?

Oke, kau sudah menyelamatkanku, dan aku berterima kasih. Meski awalnya aku menolak mentah-mentah perhatianmu itu karena aku tidak butuh belas kasihanmu. Tapi seperti yang sudah ku katakan. Kau, menembus batasku.

Maaf, karena aku belum bisa membalas semua kebaikanmu. Hanya saja aku bisa menjamin bahwa tidak akan ada orang yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Karena aku memang sengaja membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain dan mempunyai ikatan yang mungkin biasa disebut banyak orang dengan kata PERSAHABATAN. Tidak sedetik-pun, jadi kau tidak perlu khawatir.

Meski sejujurnya aku sempat goyah karena seseorang yang tiba-tiba hadir dalam hidupku dan mengobrak-abrik pertahananku akhir-akhir ini.

Awalnya…. aku pikir, kami adalah orang yang sama. Aku pikir dia adalah orang yang kesepian, sama sepertiku. Karena itu aku mulai membuka hati untuk seorang…. teman baru?

Tapi ternyata dugaanku salah.

Dia terlalu jauh dari jangkauanku. Dia adalah bintang yang punya banyak teman. Sementara aku? Aku masih sama. Aku adalah bulan yang kesepian. Meski sejatinya bulan dan bintang sama-sama berada di atas langit, tapi jelas keduanya berbeda. Bintang begitu banyak, sedangkan bulan hanya satu, sendiri. Iya kan?

Setelah berhasil mengobrak-abrik pertahananku, aku pikir bintang itu akan menembus batasku. Seperti yang pernah kau lakukan. Tapi ternyata tidak. Sejatinya dia hanya lewat. Dan bodohnya aku berharap bintang itu mau menetap, padahal jelas-jelas aku tahu jika dia adalah salah satu dari gugusan yang membentuk sebuah rasi, yang mana ia sangat dibutuhkan oleh bintang lain? Jadi, bagaimana bisa dengan egois aku berharap bintang itu mau bertahan sementara hidupnya sudah di takdirkan untuk melengkapi bintang yang lain? Bodoh kan? Yah, itu aku.

Mungkin karena bintang itu bersinar terlalu indah. Atau…. mungkin juga karena jarak lintasnya yang terlalu dekat hingga membuat mataku silau dan berair.

Astronot. Not!

Kau sering memanggilku seperti itu hanya karena namaku Astred. Konyol sekali. Padahal jika di pikir-pikir, yang lebih pantas mendapat julukan Astronot itu kau. Iya kan?

Kau seseorang yang begitu terobsesi pada bintang. Kau juga satu-satunya orang yang rela mempertaruhkan segalanya agar bisa lebih dekat denganku yang sendirian. Pergi dari tempat nyamanmu (bumi) menuju tempat yang memiliki banyak cacat, lubang, jurang, dan hampir sebagian sisi gelap, tempat yang bahkan tidak kau ketahui akan bisa kembali atau tidak (bulan).

Karena taruhannya adalah nyawa.

Kalau tidak hidup ya mati.

Meski akhirnya kini kau benar-benar pergi, mati.

AstreDiary
22 September 2014

Pyor,

Hahaha kenapa terdengar aneh ya? Apa karena sudah terlalu lama aku tidak memanggil namamu? Hei hei, mataku mendadak buram? Ini tidak lucu >_< kau harus bertanggung jawab! Bagaimana bisa aku melanjutkan tulisanku kalau begini? Di saat-saat seperti ini seharusnya kau meminta izin pada Allah untuk turun. Satu detik saja, untuk menghapus air mataku.

Baiklah. Sejujurnya aku tidak tahu apa yang ingin aku tulis. Hanya saja naluriku memaksaku untuk menulis. Setidaknya membuat tulisan yang bisa menjadi bukti bahwa hingga detik ini aku masih mengingatmu. Tidak sekalipun melupakanmu.

Oh ya. Tentang bintang yang aku ceritakan padamu tadi, kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Aku akan mundur teratur. Kembali ke tempat-ku semula. Tempat dimana seharusnya aku berotasi. Melihatmu, menjagamu, mendo’akanmu yang kini tidur dengan sangat nyaman.

Aku tidak akan membuatmu resah dan tidak tenang di alam sana. Meski wujud yang berbeda telah memisahkan dunia kita, tapi tidak dengan persahabatan kita. Iya kan? Meski kadang hingga detik ini aku masih saja selalu merasa kalau kau terlalu cepat mendapat gelar almarhum dan kembali kepada-NYA. Meninggalkan orang-orang yang kau cintai dan juga mencintaimu, termasuk aku?

Kehadiranmu seperti sebuah takdir. Kau memberikanku kasih sayang dan kehangatan seorang teman, seperti angin yang memberiku udara untuk bernapas tanpa meminta balasan apapun.

Jadi hari ini ijinkan aku untuk mengenangmu sejenak.

Sekedar mengenangmu.

Hanya mengenangmu.

Tapi kenapa tiba-tiba ada perasaan risau,  resah, takut jika aku tidak mampu bertahan?

Aku mulai terbiasa jika orang lain menganggapku bipolar. Aku tidak perduli. Bahkan jika itu orangtuaku. Mereka tidak tahu apapun tentangku. Bagaimana aku. Apa keiginanku. Karena hanya kau yang tahu. Tomboy, keras kepala, egois, dan tidak kenal rasa takut memang kepribadianku. Tapi percaya diri, kuat, optimis, dan selalu tertawa apapun yang terjadi adalah ajaranmu.

“Untuk terlihat kuat, kau harus selalu tersenyum, tertawa. Tertawa bukan karena kau bahagia. Tertawa karena kau tidak perlu menunjukkan betapa rapuhnya dirimu pada orang yang bahkan tidak perduli. Itu adalah cara yang paling ampuh untuk melindungi diri. Agar orang lain tahu iika kau dalam keadaan baik-baik saja. Kau tidak ingin dikasihani kan? Kau tidak ingin orang lain tahu perasaanmu kan? Jadi lakukan apa yang aku katakan.”

Begitu pesanmu. Bahkan sepertinya kau sudah menyiapkan diri untuk meninggalkanku. Sering terlintas dalam pikiranku kenapa Allah memanggilmu lebih cepat? Selain karena Allah mencintaimu, itu pasti karena Allah tidak mengizinkanmu untuk melihat kehancuranku akibat perceraian itu? Allah tidak mengizinkanmu melihat kegilaanku? Agar aku tidak terlalu tergantung padamu? Agar aku menjadi wanita yang semakin kuat? Benar kan? Hahahah sepertinya aku benar-benar sudah gila. Tapi tidak apa-apa, hanya untuk hari ini saja. Biarkan aku menangis seperti orang gila. Karena…. aku sangat merindukanmu.

PERSAHABATAN yang abadi tidak harus selalu bersatu di dunia kan?

Meski aku tidak tahu sampai kapan aku akan merayakan ulang tahunmu seorang diri.

Meski aku tidak tahu harus berapa musim lagi yang harus aku jalani untuk bertemu denganmu kelak.

Terima kasih sudah hadir dan membuat hidupku yang mati menjadi lebih berarti. Maaf, aku hanya ingat tanggal lahirmu, bukan tanggal kematianmu. Kau tahu daya ingatku sangat payah, hahahaha.

Hei, apa kau sekarang ada di sampingku? Kau meniup tengkuk-ku? Ini terasa geli, bodoh -_- iya.. iya maaf, aku mengaku salah.

Aku sengaja melupakannya. Kau tahu kalau aku manusia paling egois di dunia ini. Aku hanya akan mengingat apa yang ingin aku ingat.

Sudah cukup, aku mau memanjakan diri sekarang. Kamar, sendiri, gelap tanpa cahaya. Hanya di temani gadget. Menghabiskan malam bersama Simple Plan dan B.A.P, oke jangan cemburu! Karena lagu-lagu mereka-lah yang selalu menemaniku setelah kepergianmu. Jadi aku akan bercumbu dengan mereka. Kenapa? Karena mereka tidak pernah meninggalkanku, tidak sepertimu. wkwkwkkw kaburrrrr😄

Tidak bosan-bosan aku memintamu untuk merayu Allah agar segera mengirimkan seseorang sepertimu. Seseorang yang mau ku maki, seseorang yang mau menjadi tempat sampah dan tembok untukku bersandar. Egois? Tentu saja, itu kelebihanku hahahha.

Selamat ulang tahun, sahabatku. Tidur yang nyenyak hingga saat dimana kita bisa bertemu lagi nanti. I miss you so bad :’)

6 Komentar

  1. Eon, ini beneran? Kisah nyata?

    Aku pengen nangis bacanya~ Aku bisa ngerasain eonni pasti kangeeen banget sama orang itu. Aku juga tau eonni belum menemukan orang yang tepat untuk mengganti posisinya. Jaman sekarang emang susah nyari orang baik kyk temen eonni itu. Temen yang nyuruh kita buat selalu tersenyum, temen ledek”an yang selalu ada disaat orang lain menghindar. Jujur eon, sampai sekarang aku ga punya sahabat *ga tau deh kenapa. Makanya aku agak iri pas baca tulisan ini~

    Semangat terus ya eon, walau eonni belum menemukan orang yang tepat buat mengganti posisinya, percaya deh, eonni ga sendirian di dunia ini~

    Aduh, aku kok jadi mellow gini. Haha^^

  2. Hyejeong Kim

    rada nyelkit si bacanya😦 soalnya gue juga ngalamin hal yg serupa kayak elu mak😥 tpi dia yeoja dn gue kenal dia baru 1 tahun krna waktu itu kita 1 SMA daan ya itulah kita mulai akrab dan akhirnya saling percaya. sumpah saat tau dia ga ada yg ada di otak gue cuma ” GA MUNGKIN ” sampe sekarang pun gue berpikir dia masih ada .tapi kenyataan nya lain. Persahabatan yg SEJATI tidak harus bersatu didunia🙂 gue setuju sama lu🙂 . terima kasih sudah mengingatkan aku akan hal ini :^) melepas seseorang bukan hal mudah . tidak perlu melupakan hanya cukup mengenangnya saja :^)

  3. resti

    aku aja g bisa nahan air mataku bagaimana dngn mb astred???
    😥

    kalo kata temenku mb ” kalo g ada pundak untk bersandar setidaknya masih ada lantai untk qt bersujud curhat dngnNYA”

  4. sebuah pertemuan pasti ad perpisahan. sahabat (?) mungkin aku mmpunyai bnyk teman yg mmperhatikanku dan mnyayangiku. mereka sudah ku anggap sahabat. tpi… ketika aku mmiliki mslh kecil ato pling berat. tidak ad yg bnar” bsa mmbantu ku. hnya 1 orang yg mampu mengetahuiku jika mmendam mslh. seorang mantan. bhkan ia tak gencar mndekatiku lg. namun ap daya… kesalahannya dlu mungkin memang bsa d perbaiki dg sikapnya masa kini. tp lula d hatiku tidak… aku lbih nyaman bersandar padanya seperti sahabat, kakak, ayah. seperti itu lah sosoknya kini d sisiku. tp dia tidak mau. jdi ap pun yg kira miliki, ap pun yg kira alami. semua memiliki resiko.
    ketika kamu kembali mnjdi sosok yg dlu sblum mndpt sahabat sejatimu itu. maka resiko inilah yg kau hadapi. terbuka lah secara perlahan. jngn memasak jika kau mulai tak nyaman. cobalah untuk berbagi hal kecil brsma tman. mnghabiskan waktu brsama untuk brcerita… setidaknya kau mmilik tong sampah bukan. mungkin mereka tak benar” mndengar ato mengerti. tp setidaknya ketika kau kmbali trluka mereka ad untuk menenangkanmu dan mnjadi tissue untukmu…

    #Fighthing🙂

  5. Hug unni :’)
    saat ini sahabat unni hanya butuh do’a dari unni, jangan pernah berhenti untuk selalu mendo’a kannya unn🙂 aku yakin beliau orang yang baik dan aku yakin beliau juga telah mendapat tempat yang baik pula :’) ..

    Unni harus semangat untuk menjalani hidup kedepannya🙂 aku yakin unni wanita yang kuat🙂 untuk itu unni harus tetap semangat🙂 ..

  6. @intan: tentu saja ini kisah nyata😛 aku gak sendiri, karena ada kalian, aku gak sendirian, setidaknya kalian selalu mampir kesini, kalian memperhatikanku, sementara aku tidak pernah memperhatikan kalian, jadi aku merasa malu kalau aku menyebut diri sebagai teman kalian :’)

    @jeongi: elu mah sama kesepiannya kek gue😄 jadi seharusnya kita saling memperhatikan. tapi karna gue sombong, gue ga pernah merhatiin elu😄

    @resti: aku gak kepikiran sampe kesana res, aku cuma bisa ngeluh. makasih yah uda di ingetin *hug

    @kareryeo: byk yg bilang aku org yg beruntung karena punya byk teman di dunia maya. msalahnya tmenku hanya di dunia maya, sdangkan nyata? aku ga punya. aku ga bisa dgn egois menceritakan msalahku pada mreka. dan lagi, aku punya mslah dgn kenyamanan. sperti yg aku katakan di atas, kcuali jika mreka bisa menembus batasku🙂

    @Tata: yah, aku sgt kuat, sudah teruji scara fisik juga mental😄 mkasih yaa :*

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: