AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

Destiny Always Leads To The Right Path


Jika saja saat itu aku tidak mendengar suaramu, apakah takdir akan tetap membuatku jatuh cinta padamu dengan cara yang berbeda?

Atau aku akan tetap bahagia dengan kehidupanku yang dulu?

Dengan cinta dari orang itu?

Bukan dirimu, tapi orang yang memang ada di kehidupanku sebelumnya.

★☆★☆★☆

4 August 2014 – Soon Chun Yang University Hospital, 657, Hannam-dong, Yongsan-gu, South Korea.

Dokter telah melakukan pemeriksaan saraf motorik yang menunjukkan bahwa Sohee masih merespon. Jadi seharusnya, gadis itu sudah bangun paling lambat dini hari tadi. Tapi nyatanya…. hingga 22 jam berlalu, gadis itu masih belum juga tersadar.

Yongguk yang baru saja kembali dari Hongkong segera menuju rumah sakit. Dan setelah mendapatkan laporan dari kakaknya kalau Sohee sering mengalami kejang, Yongguk menemui Shin Eunfa –dokter yang menghabiskan kuliah doktornya dalam bidang psikologi- di ruangannya.

Shin Eunfa mengatakan ada kemungkinan Sohee mengalami gangguan histeria, dan tidak menutup kemungkinan kalau gadis itu menerima gangguan disosiatif. Penanganan satu-satunya jika sudah melibatkan jiwa seseorang hanyalah psikoterapi. Gadis itu begitu tertekan. Ketertekanannya mencapai batas bawah dan Yongguk sangat paham akan hal itu. Yongguk tahu. Tapi….?

“Kita bisa melakukan hipnoterapi.”
Eunfa menghampiri Yongguk yang menegakkan tubuhnya, menunggu dokter wanita itu melanjutkan ucapannya. “Kita tidak tahu seberapa parah depresinya. Menunggu pasien tersadar untuk melakukan psikoterapi kemungkinan besar akan buruk. Jika dalam ketidaksadarannya, pasien menikmati apa yang di tawarkan oleh alam bawah sadarnya, kemungkinan besar pasien tidak ingin lagi terbangun. Dan itu bisa dikatakan kalau pasien dalam kondisi ‘mati’.”

Yongguk bergidik. Pria itu tahu artinya. Jika titik itu memang telah di capai Sohee, mau tidak mau mereka harus menyuntikkan obat untuk ‘menyempurnakan’ kematian Sohee. Yang artinya sama dengan… membunuh Sohee dengan terpaksa.

“Hipnoterapi bisa menyadarkan dia?” Tanya Yongguk memastikan.

“Kemungkinan besar. Karena terapi seperti ini adalah membiarkan pasien berada di bawah pengaruh kita untuk melihat seberapa besar yang menjadi masalah dalam dirinya. Kita bisa menuntunnya untuk menumpahkan apa yang menjadi beban bagi pasien sehingga pasien bisa ‘melepas’ bebannya. Ketertekanan itu harus di kurangi atau lebih baik dihilangkan sama sekali. Jika seperti ini terus, seperti yang sudah saya katakan kalau pasien-”

“Lakukan.” Eunfa langsung terdiam saat Yongguk memotong penjelasannya. Pria itu segera berdiri dan menutup pintu, kembali ke kamar Sohee dimana ia melihat Leeteuk sudah berada disana, di kamar Sohee. Dan yang lebih membuat Yongguk terkejut adalah…. Sohee telah sadar. Dan saat ini, Sohee-tertawa-tanpa-beban dengan Leeteuk.

“Ugh, Yongguk-ssi?” Sapa Sohee riang.

Yongguk gemetar. Gadis itu memanggilnya Yongguk-ssi? Kenapa rasanya sakit sekali saat ia mendengar panggilan itu. Benar-benar menghantamnya luar-dalam.

“Kau dari mana?” Leeteuk berdiri dan mempersilahkan Yongguk menempati posisi yang seharusnya -di dekat Sohee.

“Menemui dokter untuk berkonsultasi.”

“Berkonsultasi? Siapa yang sakit?” Tanya Sohee dengan wajah polos yang tentu saja tidak dibuat-buat. Natasha yang baru datang-pun ikut mendekat. Dan dengan sedikit was-was ia bertanya pada Sohee apa gadis itu mengingatnya?

“Tentu saja. Kau Bang Natasha, kakak dari Bang Yongguk. Iya kan? Tapi bagaimana bisa aku mengenal kalian?”

Yongguk, Natasha, dan Leeteuk saling pandang. Ada yang salah dengan gadis yang ada di hadapan mereka itu.

“Sepertinya Sohee-ssi mengalami gangguan disosiatif. Biasanya kasus ini bisa membuat penderita mengalami perubahan individu tentang identitas, memori, ataupun kesadarannya. Dan diagnosis kami adalah pasien mengalami amnesia disosiatif. Amnesia disosiatif biasanya didapati gangguan ingatan yang spesifik saja dan tidak bersifat umum. Informasi yang dilupakan biasanya tentang peristiwa yang menegangkan atau traumatik dalam kehidupan seseorang. Dan untuk kasus nona Jung, dia kehilangan ingatan secara khusus tentang, anda… Yongguk-ssi” Jelas dokter Shin yang membuat Yongguk dan Natasha terbungkam seketika saat Bang bersaudara itu kembali menemui dokter Shin dan menjelaskan apa yang terjadi.

“Tapi dia bisa mengenali kami.” Ujar Natasha yang masih berharap jika diagnosa dokter Shin salah.

“Seperti yang sudah saya katakan. Amnesia disosiatif tidak melupakan informasi yang bersifat umum, tapi bersifat individu yang membuatnya trauma hingga memorinya terlupakan.”

“Apa tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan?” Tanya Natasha, berharap Sohee bisa ‘kembali’. Tapi bahkan saat itu Yongguk sudah tidak mendengarnya lagi. Pria itu memilih untuk pergi meninggalkan perbincangan yang mungkin akan membuatnya gila.

Yongguk tidak menyangka jika caranya menjauhi Sohee bisa benar-benar membuatnya kehilangan gadis itu. Menyakitkan sekali melihat Sohee di depan matanya tapi gadis itu sama sekali tidak ingat kalau hubungan mereka adalah.. mantan kekasih? Meski begitu Yongguk masih nekat mendekati Sohee. Sekedar berharap bahwa apa yang dilihat dan di dengarnya.. salah.

“Sohee-ya.. kau tahu? Aku tidak pernah meminta sesuatu pada…” Yongguk menelan ludah. “Orang lain. Tapi.. aku ingin meminta sesuatu darimu. Jadi maukah kau mengabulkan satu permintaanku.” Pinta Yongguk pasrah.

“Apa?”

“Biarkan aku memelukmu kali ini. Aku berjanji hanya sebentar dan tidak akan menyakitimu. Dan kau harus memanggilku dengan panggilan Yonggukie, bukan Yongguk-ssi. Mau?”

Sohee mengernyit bingung. Tapi kemudian ia mengangguk kaku. Yongguk lalu menarik kepala gadis itu pelan untuk didekap di dadanya yang terasa nyeri. Yongguk mengelus rambut hitam gelombang sebahu Sohee dengan kepedihan. Dengan kesakitan. Dengan penyesalan. Dengan berat hati. Sekaligus juga dengan rasa cinta yang besar. Dan juga rindu yang luar biasa hebat.

“Katakan…”

Sohee terdiam. Entah kenapa ia bisa merasakan kalau kulit kepalanya seperti tertetesi air. Apakah Yongguk menangis? Merasakan detak jantung pria itu dari dekat, membuatnya….

“Yonggukie…” Ucapnya pelan. Membuat Yongguk tak tahan lagi. Pria itu menyembunyikan wajahnya di rambut Sohee. Menghirup wangi yang selama ini menjadi candunya. Ia tahu kalau ia akan sangat merindukan panggilan itu. Dan akan sangat merindukan sentuhan gadis itu. Juga sangat merindukan untuk memeluk gadis itu, lagi. Karena… Sohee sama sekali melupakannya. Melupakan tentang… siapa Bang Yongguk untuk seorang… Jung Sohee.

★☆★☆★☆

6 August 2014 – TS Entertainment, 140-894 Yongsan-gu, Hanam-dong 788-6, 3rd floor, South Korea.

Ketertekanan.

Yongguk selalu tertekan ketika melihat gadis itu berbicara di depannya. Ketika memandang gadis itu yang menatapnya. Ketika merasakan gadis itu menyentuhnya.

Karena tak sama.

Nada bicara itu begitu normal, tidak ada lagi emosi senang yang menggebu-gebu. Tidak ada lagi antusias yang ditunjukkan saat gadis itu bercerita.

Pandangan itu begitu biasa. Tidak ada lagi pandangan penuh cinta yang biasa ditunjukkan gadis itu. Tidak ada lagi pandangan bahagia karena gadis itu bisa melihatnya.
Sentuhan itu juga sama hambarnya. Tidak ada lagi reaksi luar biasa berharga karena sentuhan gadis itu.

Biasanya, sentuhan Sohee memberikan efek luar biasa padanya, membuatnya merasakan kalau gadis itu membutuhkan perlindungan dan kehadirannya. Tapi sejauh ini tidak. Keadaan normal selama hampir dua tahun itu, berubah cacat.

Kehampaan yang di rasakan Yongguk harus ditutupi dengan cepat jika tidak ingin ada yang mengetahui apa yang ia rasakan dan terjadi padanya.

Sejujurnya, Yongguk mulai memikirkan kemungkinan bahwa ia akan pasrah saja pada omong kosong bernama takdir. Karena rasanya, ia sudah mulai merasa tidak mampu lagi berdiri sendiri seperti ini.

Memasang topeng terus-menerus yang semakin membuatnya lelah. Memutar otaknya lebih banyak hanya untuk memikirkan cara bagaimana agar dirinya tidak merasakan sakit terus-menerus. Terlebih lagi sejak Sohee keluar dari rumah sakit, Yongguk memutuskan untuk tidak melihat gadis itu.

Yongguk menimang-nimang sesaat sambil mengetukkan jemarinya pada layar ponsel. Sementara crew dan teman-temannya yang lain sedang sibuk membicarakan konsep yang akan mereka pakai untuk comeback single Jepang ke-4 mereka “Excuse Me”, yang mana setengah dari pengambilan gambar untuk MV sudah mereka lakukan sebulan yang lalu.

Tanpa pikir panjang lagi Yongguk langsung mengambil jaketnya dan keluar. Meninggalkan crew dan teman-temannya hanya dengan sepatah kata, “Aku akan segera kembali.”

★☆★☆★☆

Chan’s Espresso Bar Hongdae, 409-10 Mapo-gu, Seogyo-dong, South Korea.

Yongguk menatap tulisan di depan pintu bar. Tempat yang di datanginya saat ini adalah tempat yang biasa ia datangi bersama teman-temannya. Chan’s Espresso Bar, dari namanya saja pasti banyak yang tahu jika coffee shop itu milik Kim Himchan yang memang sangat menggilai minuman berwarna hitam yang biasa di sebut banyak orang.. kopi.

Para pegawai menunduk saat melihat kedatangan Yongguk. Salah satu di antara mereka mendatangi Yongguk dan mengatakan sudah menyiapkan tempat yang di pesan sebelumnya. Tidak lupa pegawai itu memberitahu jika orang yang akan ditemui Yongguk sudah datang beberapa menit yang lalu.

“Maaf terlambat.” Yongguk duduk tepat di depan seorang pria yang sudah menunggunya.

“Tidak masalah. Aku juga baru datang.” Balas pria itu lalu menyesap kopinya. “Sepertinya kau baru saja memotong rambut. Apa kau ingin menunjukkan pada fansmu jika kau baru putus?” Lanjutnya berbasa-basi.

“Aku tidak punya banyak waktu, sunbae. Cepat katakan maksudmu.”

Leeteuk menatap Yongguk cukup lama. “Maaf, aku lupa jika kau sangat sibuk.” Ucapnya sinis. “Oke. Kau pasti tahu ini tentang-”

“Sohee?” Sahut Yongguk cepat.

“Aku masih mencintainya.” Ucap Leeteuk tegas. Pandangannya lurus, hanya terfokus ke arah Yongguk.

“Tapi Sohee mencintaiku.” Tukas Yongguk. Sengaja menegaskan, bahwa gadis itu hanya bisa mencintainya meski Yongguk sendiri tidak yakin kalau gadis itu akan ingat jika ia pernah mencintai seorang Bang Yongguk.

“Dan kau sudah memutuskannya. Aku-”

“Aku menyesal. Aku menyesal sudah menyakitinya. Aku menyesal sudah melepaskannya. Dan aku menyesal karena sudah mencurinya darimu. Ah tidak, aku menyesal karena baru mengenalnya. Jika aku mengenalnya sejak awal, tentu saja dia tidak perlu jatuh cinta padamu dan aku tidak perlu mencurinya darimu.”

BUG!!

Sebuah pukulan mendarat tepat di perut Yongguk.

“Kau benar-benar brengsek.” Ujar Leeteuk. Wajahnya merah, jelas sekali pria itu berusaha menahan amarah. Jika Leeteuk tidak ingat resiko apa yang akan di dapatnya dan Yongguk sebagai publik figure, mungkin saat ini Leeteuk sudah meratakan wajah Yongguk hingga Sohee-pun mungkin tidak akan mengenali pria itu saat ingatannya kembali. Apa Yongguk lupa kalau Leeteuk baru keluar dari wajib militer?

“Ya aku memang brengsek. Tapi Sohee mencintaiku. Jadi sunbae, tolong maafkan aku. Aku tidak bisa melepaskannya. Aku tidak sanggup.”

Yongguk menunduk. Sial!! Kenapa akhir-akhir ini air matanya mudah sekali keluar? Menangis seperti itu di depan sesama lelaki yang mencintai gadis yang sama? Memalukan sekali.

“Sakit?” Leeteuk mengulurkan tangannya pada Yongguk, membantu pria itu berdiri. Melihat Yongguk tak kalah menderita dari Sohee membuat pria itu mengerti.. bahwa cinta Yongguk dan Sohee tidak dapat ia tembus. Leeteuk mengerti keadaan itu, bahkan mungkin sangat mengerti. Karena itu juga Leeteuk mengatakan pada Sohee jika ia melepas gadis itu seutuhnya…

“Sedikit.”

“Itu hukuman karena kau sudah menyakiti Sohee. Dan bisa kupastikan akan lebih sakit jika kau berani membuatnya menangis lagi.” Leeteuk mengingatkan Yongguk, yang mungkin terdengar seperti.. sebuah ancaman?

“Tidak akan lagi.” Yongguk menunduk, kali ini pria itu tersenyum mempesona.

★☆★☆★☆

Sohee’s Apartemen: Blackgold,
Room Number: 9090. Yongsan-gu, Hanam-dong 665-6, South Korea.

Sohee mengolesi dua lembar roti dengan selai kacang. Ia lantas bergerak ke dapur dan mengambil kotak makan. Gadis itu kembali lagi ke meja makan dan meletakkan roti tadi ke dalamnya. Tepat saat itu ponselnya berkedip-kedip, menampilkan nama Leeteuk.

“Ya oppa?”

“Bagaimana kabarmu? Sudah sehat?” Tanya Leeteuk perhatian.

“Eung. Tentu saja, oppa tidak perlu khawatir.”

“Apa yang sedang kau lakukan? Sepertinya sibuk. Apa aku mengganggu?

“Aku sedang membuat bekal untuk Yong” Suara Sohee berhenti, begitupun tangannya saat menyadari aktivitasnya yang salah. Kemudian gadis itu tersenyum, kentara sekali sangat di paksakan.

“Maksudku sedang membuat sarapan. Maaf oppa, telurku hangus. Kita lanjut nanti.” Ucapnya bohong, lantas buru-buru mematikan ponselnya.

Sohee duduk di kursi meja makan, menatap kotak makan berisi roti dengan selai kacang yang baru dibuatnya dengan prihatin. Sohee tidak suka selai kacang. Berbeda dengan pria itu. Dan itu cukup menamparnya yang menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.

Himchan mengeluh pada Sohee tentang Yongguk yang tidak mau sarapan. Karena itu kebiasaan yang selalu di lakukan gadis itu setiap pagi adalah membawakan pria bodoh itu setangkup roti. Dan ternyata, ia masih melakukannya.

Sohee berbaring miring di atas kasur. Diam. Tidak mau bergerak lagi. Keadaan kamarnya juga di biarkan gelap. Bahkan mungkin bukan hanya kamarnya saja, tapi seluruh ruangan di apartemen itu. Jika dalam keadaan normal, Sohee tidak akan dengan bodoh membiarkan keadaan sekitarnya gelap gulita seperti itu. Tapi masalahnya.. ia sedang tidak dalam keadaan normal.

Sejak kejadian roti dan selai pagi tadi, Sohee sama sekali tidak mengizinkan siapapun untuk menemaninya, bahkan sekedar menemuinya. Tidak Leeteuk, tidak juga Hyejeong, Jihyun, Betty, Eunbi, atau Moohyun. Dengan alasan ingin istirahat total, Sohee… menutup diri.

Bukan tanpa alasan Sohee melakukan hal itu. Hidupnya, bukanlah sebuah drama melankolis dimana ia mengalami amnesia seperti yang dokter Shin diagnosa. Tidak sama sekali. Sohee hanya pura-pura amnesia. Ia pikir,  mungkin dengan begitu ia akan benar-benar bisa melupakan pria itu. Mungkin?

Tapi…. bagaimana bisa Sohee lupa dengan Yongguk? Sementara apapun yang ia lakukan selalu berhubungan dengan pria itu. Belum lagi saat Sohee membuka twitter, wajah pria itu menghiasi timeline-nya. Televisi dirumahnya pun juga tak kalah heboh memutar MV terbaru B.A.P, dimana ia bisa melihat wajah pria itu dengan rambut barunya yang seolah menegaskan jika pria itu telah membuang semua cerita masa lalunya. Termasuk Sohee?

Mata Sohee memanas saat ia teringat akan kenangan masa lalunya bersama Yongguk muncul satu persatu di otaknya. Membuat airmatanya mengalir deras. Kenangan dari awal ia mengenal Yongguk. Bagaimana susahnya memulai hubungan dengan pria itu, hingga kenyataan bahwa Yongguk meninggalkannya. Mencampakkannya dengan tidak berperasaan. Mengucapkan bahwa tidak lagi mencintai dan menginginkannya. Jika sudah begitu, apalagi yang bisa dia lakukan?

Sohee berharap semua ini hanya mimpi buruk. Yang mana saat ia terbangun esok pagi, semua akan kembali seperti semula. Tapi setiap kali Sohee terbangun di pagi hari, ia tahu bahwa ingatannya tidak bisa terhapus.

Sohee tahu bahwa ia memang harus menghadapi kenyataan cintanya yang menyakitkan. Hidup terus berjalan bukan? Sohee mencoba untuk tidak peduli dan ingin mulai fokus pada hidupnya sendiri saat ternyata ia memang benar-benar jatuh sakit.

Tubuhnya lemas, badannya panas, dan keringat dingin mengucur tanpa henti dari keningnya. Membuat dia benar-benar tidak bisa kemana-mana atau bisa pingsan begitu saja. Dan Sohee masih bersikukuh tidak mau menghubungi siapapun. Karena ia memang butuh waktu untuk sendiri dan sama sekali tidak ingin di ganggu.

Jadi Sohee mencoba bertahan sendiri. Makan pun tidak minat, hanya memaksa ketika disaat-saat dirinya sudah nyaris hilang kesadaran. Kalau kondisinya baik-baik saja, tidak makan pun rasanya tidak masalah kan? Karena ia malas sekali.

Saat Sohee sibuk berdiam diri di kamarnya yang gelap, di depan pintu apartemennya, Yongguk sudah berdiri diam. Menimang-nimang apakah ia memang harus masuk atau menghubungi Sohee dulu. Hingga lebih dari tiga menit kemudian, ia memutuskan untuk menekan bel, menunggu.

Dua kali Yongguk melakukan itu dan mulai berpikir, mungkinkah gadis itu tidak ada di apartemennya? Tapi hatinya yakin sekali kalau gadis itu ada di dalam.

Lalu sekarang bagaimana?

Yongguk melihat angka-angka yang terpasang pada sisi tombol bel, dan dengan ragu ia menekan angka 1004.

Terbuka.

Membuat Yongguk merasakan lega sekaligus rasa khawatir. Gadis itu sama sekali tidak mengubah kode apartemennya?

Yongguk membuka pintu dengan perlahan, mengernyit saat mendapati apartemen itu gelap gulita. Dan oke. Mungkin benar gadis itu tidak ada di apartemennya?

Karena jika ada, pasti Sohee tidak akan membiarkan satupun lampu tidak hidup. Saat langkah kaki Yongguk terhenti untuk mengamati, ia melihat bahwa pintu kamar Sohee sedikit terbuka.

Yongguk memutuskan untuk mendekat, membuka pintunya perlahan dan melihat siluet sebuah tubuh yang sedang meringkuk di sisi tempat tidur. Memeluk lututnya sendiri.

“Sohee-ya?” Panggilnya takut.

Takut?

Yah Yongguk takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada gadis itu. Saking takutnya ia tidak mampu melangkahkan kaki ke dalam atau bahkan untuk menyalakan lampu.

Samar-samar, Yongguk melihat siluet itu bergerak, seperti mendongak. Dan sedetik kemudian, saat suara itu kembali mampu ia dengar. Suara milik seseorang yang mampu menghipnotisnya hingga merasakan ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan yang luar biasa. Suara yang mengucapkan panggilan yang ia rindukan, yang selalu membuatnya merasakan bahagia setengah mati… kembali ia dengar.

“Yonggukie?”

Dan yang Yongguk tahu berikutnya adalah, air mata turun begitu saja dari sudut mata kirinya. Betapa ia sangat merindukan panggilan itu. Suara itu. Tatapan itu. Semua hal sederhana yang mampu membuatnya terlihat lemah.

Semua hal sederhana pada gadis itu yang mampu membuatnya merasakan bahagia yang tak tergantikan. Panggilan itu… panggilan yang lebih ia sukai ketimbang panggilan oppa yang kerap kali dilontarkan setiap yeoja pada kekasihnya.

Yongguk sudah masuk ke dalam kamar gelap itu, ikut duduk di hadapan Sohee yang masih memeluk lututnya sendiri tapi sedang memandang lurus ke arahnya. Cahaya bulan dari luar yang tidak terhalang korden, membuat Yongguk akhirnya bisa melihat wajah gadis itu dengan cukup jelas.

Wajah yang basah penuh air mata. Dengan sorot sakit yang dipancarkan matanya. Tidak hanya sakit, tapi juga kepedihan, kefrustasian, ketakutan, kebutuhan, perlindungan, penyesalan juga terpancar, mendominasi tatapan yang selama ini selalu membuat Yongguk merasa bahwa ia beruntung telah terlahir ke dunia.

Jika di luar sana, sosok yang dikenal banyak orang adalah Yongguk yang kelewat pendiam, bahkan terkesan cuek, dingin, kuat, angker, bisa dijamin bahwa tidak akan ada yang percaya bahwa sosok rapuh yang sedang duduk di depan Sohee saat ini adalah Bang Yongguk.

Karena yang mampu membuat Yongguk menjadi lemah seperti ini adalah penderitaan Sohee. Karena yang mampu membuatnya merasakan kekhawatiran parah adalah kesedihan Sohee.

“Kau ingat? Apa kau sudah ingat semuanya?”

“Apa aku boleh jujur?” Jawabnya terisak. Yongguk yakin kalau sejak tadi -entah sudah berapa lama sebelum ia datang-gadis itu sudah menangis dalam diam. Karena saat gadis itu menjawab, suaranya kelewat serak bahkan hampir tak terdengar sama sekali dengan tubuh yang bergetar sempurna.

Hati Yongguk bergejolak. Melihat keadaan Sohee yang menyedihkan itu, seperti ada dua buah dinding besar yang menghimpit dadanya. Sangat menyesakkan.

“Sejujurnya aku tidak pernah amnesia. Aku tidak pernah kehilangan ingatanku. Aku masih bisa mengingat semuanya dengan sangat baik. Aku coba mengerti semuanya. Aku paham apa yang kau ucapkan dan pikirkan. Aku mengerti yang kau lakukan. Aku memaklumi candaanmu walau terkadang suka kelewatan. Tapi aku tidak bisa mengerti sedikitpun atas sikapmu yang terakhir. Kenapa? Aku terus menerus bertanya hal itu pada diriku sendiri. Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau tega membohongi aku dengan mengatakan kalau kau tidak mencintai dan menginginkan aku lagi dengan alasan orang-orang yang ada di masa laluku? Kau tahu bagaimana perasaanku pada mereka, dan kau tahu bagaimana perasaanku padamu, tapi kenapa kau bisa sekejam ini padaku? Kenapa kau berpikir kalau aku mampu untuk mencari orang lain yang katamu lebih baik darimu? HARUS BERAPA KALI AKU MENGATAKAN KALAU AKU TIDAK MENGINGINKAN RANJANG LAIN!!! AKU TIDAK MENGERTI APA YANG KAU PIKIRKAN!!!” Sohee menjerit sekuat tenaga. Mengeluarkan semua beban pikirannya selama ini. Tapi itu hanya sedikit dari sejuta pertanyaan yang sibuk menari di otaknya dan tidak mampu di keluarkan. Sohee sungguh-sungguh tidak mengerti jalan pikiran Yongguk kali ini, dan itu membuatnya frustasi.

Yongguk terduduk bersandar di tepi ranjang di hadapan Sohee, mendongakkan kepalanya sambil menggigiti kepalan tangan kanannya sendiri. Rasanya benar-benar!!! AHHKKK!!

Jangankan Sohee, bahkan ia sendiripun tidak bisa mengerti apa yang ia pikirkan hingga membuatnya mengambil keputusan gila seperti itu. Melepas Sohee demi kebaikan gadis itu sendiri yang ternyata dalam prosesnya, keduanya tidak bisa, tak mampu. Sohee begitu tertekan dan terpuruk, begitupun ia. Semuanya menjadi tidak benar sejak hari itu.

“Apa yang kau pikirkan, hah? Kenapa kau dengan bodohnya berpikir bahwa aku bisa mencintai pria lain? Sedangkan aku sudah menghabiskan semua cintaku untukmu? Bagaimana bisa kau berpikir kalau aku mampu mencari pria lain? Sedangkan aku yakin kau pun mengerti bahwa hati dan jiwaku sudah terisi penuh sesak olehmu?” Sohee menarik tangan Yongguk, menyuruh pria itu untuk menatap matanya.

“Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apa kau memang benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi? Sudah tidak menginginkan aku lagi? Kalau memang benar begitu, kenapa kau datang kesini sekarang?”

Yongguk tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan hancur Sohee. Gadisnya itu terlihat kuat, sekaligus rapuh. Terlihat begitu anggun dan keras, sekaligus mudah untuk terjatuh. Dan Yongguk sangat memahami hal itu.

“Hee-ya, maafkan aku.” Dan kata-kata ajaib yang sangat jarang sekali di ucapkannya itu kembali terucap hanya untuk Sohee. Hanya gadis itu yang mampu membuatnya mengucapkan maaf dengan benar karena memang ia merasa bahwa kata itu patut diucapkan.

“Aku tidak butuh kau beberkan di luar sana. Aku tidak butuh pengakuan dari orang-orang di ‘luar’ sana. Aku tidak peduli kalau kau mengatakan ‘tidak punya pacar’ di luar sana. Karena aku tahu, kau sedang melindungiku dengan kemampuanmu. Karena sesungguhnya yang aku butuhkan hanyalah dirimu, pengakuanmu, keberadaanmu. Di tempat ini, tempat dimana hanya ada kau, aku. Tidakkah kau memahami itu?” Ucap Sohee kalut. Terlihat sekali ia kebingungan dan sedih.

“Jika kau menginginkan aku pergi sekarang, tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana aku bisa menahan diri agar tidak berbalik untuk melihatmu lagi dan lagi. Jadi, jika kau memang menginginkan aku pergi, tetaplah ditempatmu dan jangan membuatku bingung.” Pasrah Sohee.

Jadi sekarang Sohee sudah memutuskan untuk menerima apa yang semula menjadi keputusan Yongguk. Bukankah Sohee sudah mengatakan hal itu sebelumnya? Tapi bagi Yongguk, kenapa ini terdengar begitu mengerikan?

“Maaf. Aku salah. Bisakah kita memperbaiki ini?” Ucap Yongguk kalap. Sepertinya ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama.

Meninggalkan gadis itu untuk yang kedua kalinya adalah hal bodoh yang benar-benar mengerikan. Iya kan? Bukankah tujuan utamanya saat datang kesini adalah menjenguk gadis itu dan mencoba untuk menarik Sohee lagi? Untuk ia rengkuh?

“Yonggukie?” Sahut Sohee tak percaya. Matanya mendadak buram dan semuanya menjadi gelap. Membuat Yongguk panik setengah mati. Lebih-lebih saat ia menyentuh tubuh Sohee yang seperti bara api.. panas.

Setelah hampir dua puluh menit tak sadarkan diri, Sohee membuka matanya dan melihat Yongguk menunggunya dengan cemas. Sohee masih merasakan sakit di kepalanya. Meski begitu sekarang gadis itu bisa tersenyum, karena akhirnya pria egois itu mengerti juga.

Pintu kamar terbuka, Natasha masuk dengan membawa baskom berisi air untuk mengompresnya. Natasha tersenyum begitu melihat Sohee sudah membuka mata.

“Masih pusing?” Natasha menghampiri Sohee dan memeriksa kening gadis itu.

“Kenapa Eonnie ada disini?” Tanyanya kemudian.

“Kenapa? Kau tidak suka melihatku?”

“Bukan seperti itu, tapi-”

“Kau pingsan. Yongguk panik dan langsung menghubungiku. Aku datang dengan dokter dan dia mengatakan kalau kau dehidrasi. Dasar gadis bodoh! Apa saja yang kau lakukan hah?” Omel Natasha setelah gadis itu menaruh nampan berisi bubur dan segelas susu ke atas meja kecil di samping kasur.

Tempat tidur Sohee bergoyang, membuat gadis itu menoleh dan mendapati Yongguk yang sudah naik dan duduk bersandar di sampingnya. Sementara Natasha duduk di tepi sebelah kirinya untuk menyuapi bubur.

“Maaf merepotkanmu, Eonnie.” Ucap Sohee tak enak. Natasha tersenyum tipis, sementara Yongguk sibuk dengan Tiger yang sudah hampir sebulan ini menginap di apartemen Sohee.

“Tidak masalah. Kami lega karena akhirnya manusia bodoh yang duduk disebelahmu itu bisa berpikir.”

Bahkan Yongguk pun tidak membalas celaan Natasha. Yah, karena memang perlu diakui, tindakannya melepas Sohee memang sangat bodoh. Tapi gadis itu malah menarik tangan Yongguk dan menggenggamnya. Dengan tersenyum Sohee berkata, “Tapi aku mencintainya.”

Sohee menggeleng saat Natasha hendak menyuapinya lagi. Sekeras apapun kakak Yongguk itu memaksa, Sohee tetap tidak mau makan lagi. Natasha menyerah, gadis itu kemudian memerintahkan Sohee agar segera meminum obatnya, sementara ia membawa keluar mangkuk bubur.

Sohee mengernyit saat Yongguk mulai membuka obat-obat itu. Melihat Yongguk yang hanya diam sejak tadi, Sohee memanggil pria itu.

“Yonggukie..”

Yongguk menoleh, melihat Sohee yang tersenyum padanya. “Aku tidak menginginkan ranjang lain.”

“Aku tahu,” Jawabnya singkat. Lalu memerintah Sohee untuk membuka mulutnya.

“Berikan padaku. Biar aku minum sekaligus.” Pinta Sohee melihat empat butir pil di tangan Yongguk.

“Tidak, nanti kau mual. Lebih baik satu-satu.” Tolak Yongguk.

“Tidak mau. Itu hanya alasanmu untuk menciumku berkali-kali.”

Wajah Yongguk memerah saat Sohee mengetahui rencananya. Dengan sedikit terpaksa ia memberikan pil-pil itu yang langsung ditelan habis oleh Sohee. Sukses. Tidak ada pergerakan apapun yang menunjukkan Sohee akan memuntahkan obat-obatan itu. Tapi tetap saja Yongguk menarik gadis itu untuk di ciumnya. Dan Sohee.. tidak menolak.

Memang mau bagaimana lagi? Sohee sendiri juga bingung, entah harus bagaimana lagi ia menggambarkan kebahagiaanya. Karena Sohee merasa energinya telah kembali. Gadis itu merasa ‘hidup’ lagi setelah mati rasa.

Karena Bang Yongguk.

Tidak ada pria yang ia inginkan selain Bang Yongguk. Meski kerap kali Sohee pegal hati karena pria itu, tapi hatinya…. tidak bisa berpaling lagi.

Bukankah ia sudah pernah mengatakan? Saat dua jiwa menjadi satu, siapa yang mampu memisahkan tanpa melukai salah satunya? Bahkan keduanya pun merasakan kehancuran saat berpisah.

Bagaimanapun Bang Yongguk, seberapa banyak sifat buruk yang dimiliki pria itu yang kerap kali membuat Sohee stres, dia tetap bertahan. Karena tidak ada yang lain lagi. Tidak ada pria lain lagi yang mampu membuatnya seperti ini, mencintai sedalam dan separah ini kecuali… Bang Yongguk seorang.

Yongguk merasakan getar menyenangkan menyusup hatinya, membuatnya nyaman. Ia bukan tipe pria yang bisa memberikan
perlakuan baik kepada kekasihnya, tapi Sohee tidak pernah mengeluh atau menuntut hal itu. Dan gadis itu akan tetap bertahan. Karena seorang Jung Sohee.. tidak menginginkan ranjang yang lain.

Sohee mendorong tubuh Yongguk saat pintu kembali terbuka. Natasha muncul, mengintip? Entahlah karena gadis itu hanya memasukkan kepalanya saja sementara tubuhnya tetap berada di luar.

“Sudah malam. Aku pulang dulu. Maaf mengganggu, silahkan dilanjutkan.” Goda Natasha yang tentu saja membuat pipi keduanya memerah.

Setelah memastikan kakaknya benar-benar pergi, Yongguk kembali mendekati Sohee dan berbisik, “Kita lanjutkan.”

END

10 Komentar

  1. resti

    Alhamdulillah,,,,,,

    Akhirnya BangHee rujuk,,,

    jangan pernah berfikir wat ninggalin jung sohee lagi bang yongguk, atau ntar dicuri namja lain jung soheenya,,,

    untuk sohee kalo yongguk macem2 dan ngucapin perpisahan lagi langsung jewer aja telinganya, hehehe

    ❤ BangHee❤

  2. Faykimclouds

    habis disuguhin SJM di rcti ehh malah ada yg main nyerobot aja xD #BangHee’s back >_<
    ga sabar buat baca wkwk .. bacanya nanti aja ya kak hape minta di oplos dulu -_-
    #BangHee wait for me :* :* jiwa shiper mendadak kumat -_-

  3. Faykimclouds

    YEESSS akhirnya balikan lagi >__,<
    #BangHee JJANG ka Astred Daebak :*❤
    next ff ka pokonya ditunggu banget

    • Faykimclouds

      klo bhas soal amnesia gue jdi inget ff mine:\ sumveh itu bikin nyesek
      tpi untungnya ini cuma akal akalannya sohee doang *fiuuhh lega jadinya ^_^
      ka astried kece bgt dahh ff nya pokonya banyak banget adegan yg bikin envy >_,<

    • Faykimclouds

      bisa ga sih gue sekuat sohee (y)
      mungkin ga gue punya real couple yg bego nya kyak yongguk -_- tpi sweet bgt >,_<
      you make me crazy #BangHee yaaaakkk

  4. anyyeong aku reader baru,
    aku tadi baca yg sohee story astaga eonni itu keren banget aku juga ngerasaain itu kok tapi ama si maknae jerawatan itu
    heehehe dan itu juga gara2 lagu rain sound,sampai sekarang susah banget buat ngelupain zelo eon bahkan aku nolak cowo yang deket ama aku gara2 zelo #JadiCurcol
    eonni salam kenal ya aku febi namkor aku park yeon ra

  5. @resti: mungkin dia khilaf😄

    @fay: perasaan ini ff sakit, mana yg bikin envy -_-

    @febi: halo, salam kenal juga ^^ selamat datang *suguhin jelo*

  6. Huaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh terakhir itu bener2 ngebuat gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa😄
    So sweet banget sih appa :’) hehehe cium eonnie, cium dia… Suruh sapa ganteng banget kemaren pas di Hanjin Summer Vacation ato apalah itu namanya. Gila Appa manis banget! Pen di gigit/?!! Semua member ngebuat gilaaaaaaaa /plak

    Pokoknya suka banget sma ending ini😀 keren eonnie..
    Dan maaf aku telat bacanya T.T aku sibuk… Hehe
    BETTY.

    • hm kalo aku tau bakal ada kejadian kek seminggu kemaren, aku bakal bikin ini jadi sad ending beneran deh😄 putus putus dah hahahahahh
      sejujurnya sejak kamu bilang jangan on dulu, aku beneran gak on, bukan karena kamu larang juga, tapi aku cuman berusaha melindungi diri dari berita yang mungkin bisa ngebuat aku gila. dan sampe sekarangpun aku belum bener2 on meski aku uda siap ngadepin kenyataan apapun😄

  7. heeyeon

    hua manis bgt..suka

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: