AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

BangHee Series: Chapter 9 :: Save Me


Chapter 9: Save Me

Mudyeojyeo beorin gamjeong jiul su eopsneun sangcheo
Emosi yang telah terkubur jauh, bekas luka yang tidak bisa ku hapus

Sarangeun sachi gata nan geujeo nuneul gama
Cinta seperti sebuah kemewahan, aku hanya menutup mataku

Machi jokswaereul chan deusi gieogi tteoolla
Seperti aku telah terjebak ke dalam belenggu, aku mengingat kenangan

Sumi makhyeo neon naega boilkka
Aku tidak bisa bernafas, apa kau melihatku

Save Me Oh Save Me
Lindungi aku Oh lindungi aku

And be careful I’m like fire
Dan hati hati aku seperti api

Neo ttaeme buseojin sigan sogeseo (sigan sogeseo)
Waktu yang telah rusak karenamu

Save Me Oh Save Me
Lindungi aku Oh lindungi aku

Choi Moo Hyun tersenyum manis pada suaminya, Kim Himchan. Agaknya sikap Himchan sudah mulai berubah meski masih tetap dingin. Setidaknya, Himchan tidak menolak saat Moo Hyun mengajaknya makan malam.

Pernikahan yang baru berusia sepuluh hari itu telah dijalani Moo Hyun dengan penuh kesuraman. Himchan selalu pulang malam dengan alasan banyak pekerjaan. Tapi Moo Hyun tau jika Himchan berbohong, karna ia selalu mencium bau alkohol setiap kali pria itu pulang.

Himchan selalu menghindari sarapan dengan berangkat pagi-pagi sekali. Himchan juga tidak pernah mengangkat telponnya, apalagi sekedar membalas sms. Satu-satunya interaksi dengan Himchan dalam waktu yang cukup lama adalah saat keduanya makan malam dengan Choi Yoon, lima hari yang lalu.

Tapi hari ini…. entah apa yang terjadi semalam? Himchan tidur di atas ranjang yang sama dengannya, meski pria itu tetap bertahan di ujung ranjang, berusaha menjaga jarak dengannya. Tapi setidaknya itu sebuah kemajuan yang luar biasa, bukan?

Dan juga pagi tadi, Himchan hanya diam saat Moo Hyun membuatkan setangkup roti untuknya. Tidak mengucapkan terima kasih atau memberikan senyuman. Bagi Moo Hyun itu tidak masalah, karna Himchan mau menghabiskannya.

Dan lagi. Saat Moo Hyun mencoba peruntungan untuk mengajak Himchan makan malam, ternyata pria itu tidak menolak. Membuat Moo Hyun memiliki harapan, jika pria itu bisa bersikap lebih hangat lagi dan mulai menerimanya.

Seperti saat ini, Himchan melirik sekilas wajah Moo Hyun yang duduk dihadapannya. Gadis itu nampak lebih hidup. Sangat cantik, membuat Himchan mendesah panjang.

“Oppa…” Panggil Moo Hyun.

Sebelum Moo Hyun mengatakan apa yang ingin dikatakannya, ponsel yang berada di saku Himchan berdering. Dan Himchan melihat nama Yongguk berkedip-kedip di layar.

“Ya Yonggukie, ada apa?”

Himchan mengatupkan rahangnya keras. Matanya membulat sempurna, tapi kondisi tubuhnya…… lemas.

“Ada apa, oppa?”

Moo Hyun menunggu dengan cemas, karna melihat wajah Himchan yang langsung memucat. Ada berita buruk apa?

“SoHee….. kritis. Aku harus pergi.” Himchan bangkit, beranjak pergi.

“Semoga dia tidak selamat. Dengan begitu kau akan benar-benar melupakannya.” Ujar Moo Hyun pedas. Membuat Himchan menghentikan langkahnya. Berbalik menghadap Moo Hyun dengan pandangan….. jijik.

“Dengar nona Choi yang terhormat! Perubahan sikapku padamu, SoHee-lah yang memintanya semalam. Gadis itu bahkan repot-repot memikirkan perasaanmu. Membuatku sedikit menaruh simpati padamu. Jika bukan karna dia, aku tidak akan bersedia berada disini bersamamu. SoHee selalu mengatakan padaku jika kau adalah gadis baik-baik, memaksaku memberimu kesempatan. Sekarang sepertinya aku perlu menegaskan pada SoHee jika dugaannya padamu selama ini ternyata salah.”

Himchan pergi meninggalkan Moo Hyun yang tercengang mendengar ucapan suaminya. Jadi pria itu sedikit merubah sikapnya karna SoHee, lagi? Air mata Moo Hyun menetes. Harga dirinya… telah dilukai tanpa perasaan.

******BangHee Series******

Yongjae terdiam saat gelas yang ia cuci jatuh dan menghasilkan suara yang memekakkan telinga.

Masalahnya, Yongjae tidak pernah melakukan kesalahan fatal seperti ini. Terlebih lagi saat gelas yang pecah itu adalah gelas yang biasa SoHee gunakan. Perasaannya mendakak tidak enak.

Yongjae buru-buru membersihkan pecahan gelas tersebut saat ponselnya berdering nyaring, mengedip-kedipkan nama Jongup.

“Kau dimana? Aku akan kesana.” Tangan Yongjae gemetar setelah mendengar telpon dari Jongup.

“Tuhan…. kuatkan dia. Biarkan ia tetap baik-baik saja.” Batin Yongjae.

******BangHee Series******

Hae Rim mengetuk pintu rumah bercat putih itu dengan tidak sabar. Gi Yun mengernyit saat melihat dua tamu berdiri dihadapannya dengan raut…. tegang? Tak sabaran?

Sebenarnya Gi Yun ingin mencak-mencak karna tamu itu begitu tidak sopan saat mengetuk pintunya. Tapi saat melihat pria yang berdiri disamping wanita itu adalah Kim Tae Pyung, seseorang yang memakai seragam kepala polisi, Gi Yun langsung tersenyum canggung.

“Ada perlu apa?” Tanya Gi Yun was-was.

“Ini rumah Jung Daehyun, kan? Apa anda nyonya Jung? Bolehkah kami masuk?” Tanya Hae Rim antusias.

“Ah ya maaf. Silahkan.” Gi Yun mempersilahkan sepasang suami istri itu masuk ke dalam rumahnya.

“Siapa sayang?” Tanya Daehyun yang baru saja menidurkan Hyun Ra di kamar. Wajahnya memucat saat melihat tamu yang duduk nyaman di ruang tamu-nya. Hae Rim yang tak sabaran langsung membuka mulut saat Daehyun sudah duduk dihadapannya.

“Apa anda mengenal gadis yang ada di foto ini?” Tanya Hae Rim langsung, tanpa basa-basi sambil menyodorkan foto masa kecil SoHee.

Daehyun menarik napas dalam. Secepat inikah?

“Iyah. Saya mengenalnya.” Jawab Daehyun akhirnya.

Hae Rim tercengang. Instingnya benar, kan? Gadis yang ditemuinya beberapa hari yang lalu, itu adalah putrinya. Air mata bahagia jatuh dari mata indah Hae Rim.

“SoHee, dia adalah putriku. Apa anda tau dimana gadis itu sekarang?” Ujar Hae Rim histeris. Kini Daehyun yang merasa terkejut. Karna yang Daehyun tau, ibunya mengatakan jika orang tua SoHee telah meninggal dalam kecelakaan.

Daehyun menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. “Gadis itu ada di suatu tempat. Tapi, tapi ini tidak mungkin.” Ujar Daehyun putus-putus.

“Percayalah. Atau.. coba tanyakan sesuatu pada kami, aku akan menjawabnya.” Ujar Hae Rim.

“Apa ada tanda pengenal yang kalian ingat saat SoHee hilang? Mungkin pakaian? Tahi lalat? Atau sesuatu yang lain?” Tanya Daehyun hati-hati.

“Saat itu SoHee memakai dress putih. Dia juga memakai liontin bertuliskan namanya. Saat itu kami baru saja pulang dari mengunjungi putra pertama kami yang tinggal bersama neneknya. Saat itu seorang pengendara mobil mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Hingga kecelakaan-pun tak terhindarkan. Saat kami tersadar di rumah sakit, kami sudah tidak menemukan….”

“Oppa! Eonnie!” Ucapan Hae Rim terpotong oleh panggilan panik Eun Soo yang langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan raut wajah pucat. Gadis itu bahkan melupakan sopan santunnya untuk mengucap salam pada Hae Rim dan Tae Pyung yang sedang menatapnya bingung.

“Ada apa?” Tanya Gi Yun cemas.

“SoHee… Jongup baru saja menelponku dan mengatakan kalau SoHee…” Eun Soo menelan ludah dengan susah payah. Rasanya tercekat dan begitu menyesakkan. Kenapa?

“SoHee… kritis. Dia kecelakaan.”

“APAA?!!” Jerit Daehyun dan Gi Yun bersamaan. Sementara Hae Rim, mendadak tak punya tenaga untuk tetap tersadar.

******BangHee Series******

FLASHBACK
“Mau kemana lagi?” Tanya Yongguk saat ia dan SoHee baru saja mengantar Hyun Ra pulang ke rumah.

“Entahlah.” SoHee mengedikkan bahu.

Saat itu ponsel Yongguk berbunyi, menunjukkan nama Betty tertera disana. “Ya, ada apa?” Sahut Yongguk.

“Oke, aku akan kesana.” Ujar pria itu lagi sebelum mematikan ponselnya. Yongguk menatap ke arah SoHee yang memandangnya seolah bertanya, ada apa?

“Supir Han mengantar Appa ke luar kota. Dan Betty memintaku untuk menjemputnya. Mau ikut?” Tanya Yongguk, takut gadis itu menolak untuk bertemu Betty, yang mungkin saja akan mengingatkannya pada Himchan.

“Boleh.”

Setelah menempuh setengah jam perjalanan, Yongguk dan SoHee tiba di tempat les piano Betty. Mereka bertiga memutuskan untuk tidak langsung pulang, melainkan mampir ke sebuah restoran cepat saji.

“Hei, kalian disini?” Sapa Jongup pada ketiganya.

“Jadi restoran ini milikmu juga? Astaga aku tidak menyangka kau sekaya itu.” Gurau SoHee.

“Jadi ini gratis, kan?” Sahut Yongguk, membuat SoHee, Betty, dan Jongup tertawa mendengarnya.

“Setelah ini mau kemana?”

SoHee mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Jongup. “Tergantung sopir.” Ucapnya sambil menunjuk Yongguk.

“Hei, jadi maksudmu aku sopir? Ck! Kau ini!” Yongguk mendesah kesal. “Malam ini aku tidak akan mengantarmu pulang.” Balas Yongguk, sukses membuat SoHee melebarkan kedua matanya.

“Oppa, eomma menyuruh kita segera pulang.” Ujar Betty setelah gadis itu menerima pesan singkat dari sang eomma.

Yongguk melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Kenapa waktu begitu cepat berlalu jika ia bersama gadis itu?

“Hei Tuan Moon, perlebar lahan parkirmu. Kau tau? Untuk bisa makan disini, kami harus memarkir mobil di sebrang jalan.”

Jongup menggaruk kepalanya yang tak gatal, mendengar komentar Yongguk. Sungkan, juga malu. “Maaf.”

“Jangan hiraukan pria gila itu. Mulutnya memang tidak bisa bicara dengan baik.” Ujar SoHee tak enak hati, setelah Jongup benar-benar mentraktirnya. Ah tidak, memberi mereka makan gratis mungkin lebih tepatnya.

“Aku tau.” Jongup melambaikan tangan, mengantar kepergian Yongguk, SoHee dan Betty.

SoHee mendorong kursi roda Betty saat rambu pejalan kaki berubah hijau, sedangkan Yongguk sibuk memainkan kunci mobilnya seperti anak kecil. Begitu sampai di sebrang, Yongguk membuka pintu mobil dan menggendong Betty ke dalam mobil, bergantian dengan kursi rodanya.

SoHee membuka tasnya. Berniat mengambil ponsel untuk menghubungi Yongjae yang mungkin saja khawatir. Namun tas SoHee terbuka, mungkin ia lupa menutupnya tadi. Dan betapa terkejutnya SoHee saat mendapati sapu tangan Yongguk tidak ada di dalam tasnya.

SoHee melempar pandangannya ke sekitar, namun tetap tidak ada. Hingga ia melihat sapu tangan itu terjatuh di pinggir jalan. SoHee melihat rambu pejalan kaki yang masih hijau. Tanpa ragu ia kembali untuk memungut sapu tangan itu. Namun sebuah mobil yang tidak memperdulikan rambu lalu lintas mencium tubuh SoHee tanpa ampun.

“Eonnie!!!!” Panggil Betty dari dalam mobil.

Yongguk yang masih meletakkan kursi roda Betty ke dalam bagasi terkejut mendengar teriakan Betty. Namun bukan itu yang menjadi perhatiannya saat ini. Tapi ke tempat dimana orang-orang berkerumun di pinggir jalan.

Tanpa pikir panjang, Yongguk berlari menembus kerumunan orang dan melihat SoHee tergeletak dengan….. memegang sapu tangan pemberiannya.

“SoHee-ssi!!! Bangun!!” Yongguk berteriak menopang tubuh gadis itu.

Tak lama kemudian, orang-orang membantu Yongguk mengangkat tubuh SoHee ke dalam mobil, termasuk Jongup. Dengan cepat pria itu mengemudikan mobil Yongguk ke rumah sakit terdekat. Pandangannya tidak fokus, antara jalan dan Yongguk yang berteriak histeris memanggil nama SoHee berkali-kali di jok belakang.
FLASHBACK END

“Hae Rim-ah!!” Panggil Tae Pyung.

Napas Hae Rim terengah-engah. Dalam pingsannya, ia bermimpi jika SoHee-nya pergi. SoHee-nya tak lagi kembali. SooHee-nya memejamkan mata untuk selamanya.

Hae Rim menoleh ke arah suaminya. Ia mencengkram tangan pria itu sekuat tenaga. Wajahnya ketakutan dan pucat. Keringat mengalir deras di keningnya. Gemetar dan ketakutan.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Tae Pyung cemas. Gi Yun yang duduk di kursi samping Hae Rim memberikan air mineral untuk Tae Pyung untuk di minumkan ke Hae Rim yang baru saja sadar dari pingsannya.

Apa yang wanita itu lihat seolah nyata. Seolah itu benar-benar terjadi. “Tuhan. Jangan katakan jika itu suatu pertanda. Aku tidak ingin kehilangan SoHee-ku lagi.” Batin Hae Rim, bahkan untuk bicara-pun wanita itu tidak sanggup.

“Soo Hyun-ah, bagaimana SoHee? Dia baik-baik saja, kan?” Seru Tae Pyung saat putra tertuanya yang berprofesi sebagai dokter itu keluar dari kamar operasi.

“SoHee? Siapa?” Tanya Soo Hyun bingung. Tadinya ia ingin bicara dengan dua orang pria dan seorang gadis yang duduk di atas kursi roda, yang datang membawa gadis yang baru saja di operasinya itu. Tapi mendengar pertanyaan ayahnya, Soo Hyun jadi bingung. Hanya saja… sesaat ia kemudian melotot. “Pasien di dalam… Tidak mungkin…” Lirihnya.

“Soo Hyun-ah!!” Jarit Hae Rim akhirnya. Menyadarkan Soo Hyun yang mendadak seperti mayat hidup.

“Eomma… jangan bilang kalau pasien yang ada didalam, yang datang bersama dua orang ini adalah SoHee kita?” Tunjuk Soo Hyun pada Jongup yang berdiri mematung. Sementara Yongguk terduduk lemah dengan bersandar ke kursi roda Betty.

Soo Hyun terperangah saat Hae Rim mengangguk mengiyakan. Cairan bening turun membasahi pipinya. “SoHee kita mendapat penanganan tepat waktu. Meski kehilangan banyak darah, ia mampu bertahan. Kita hanya menunggu kondisinya stabil baru dipindahkan.” Jelasnya pada Hae Rim yang langsung menumpahkan tangisnya dipelukan sang putra.

Tae Pyung yang sudah cukup tenang menghampiri Jongup dan Yongguk. “Bisa kau katakan padaku, apa yang terjadi?”

“Saya tidak begitu mengerti, tuan. Tapi Betty mungkin mengetahui sesuatu.”

Mendengar namanya disebut, Betty yang semula sibuk dengan pikirannya sendiri langsung menatap kaku Tae Pyung. Apalagi beberapa pasang mata juga menatap ke arahnya, seolah menuntut penjelasan.

“SoHee eonnie ditabrak oleh sebuah mobil. Padahal saat itu lampu untuk menyebrang jalan masih hijau. Eonnie memungut sesuatu dipinggir jalan, saat itu ada sebuah mobil yang semakin mempererat lajunya, dan itu jelas mengarah ke SoHee eonnie.”

“Apa maksudmu dengan semakin mempercepat?” Tanya Eun Soo yang menyadari keanehan dari ucapan Betty.

Betty menunduk, mengepalkan tangannya kencang. “Mobil itu seperti sengaja untuk menabrak SoHee eonnie. Mobil itu! Aku pernah melihatnya di sekitar klinik tempatku terapi.” Jerit Betty tak tahan. Kejadian yang terjadi pada SoHee mengingatkannya pada kecelakaan yang membuat kakinya patah.

Saat itu, Betty memaksa Himchan untuk memboncengnya naik motor mendiang sang ayah. Jelas-jelas saat itu Himchan tidak mau lagi naik motor itu. Tapi demi menuruti keinginan satu-satunya adik yang sangat disayanginya itu, Himchan rela kembali naik motor yang sudah merenggut nyawa ayahnya itu.

Sayangnya, yang terjadi selanjutnya adalah, Himchan tidak bisa mengendalikan motor sang ayah, hingga keduanya terjatuh. Sialnya, kaki Betty terhimpit body motor yang beratnya lima kali lebih berat dari bobot tubuh gadis itu. Hingga membuatnya lumpuh seperti saat ini.

Himchan menyesal. Sangat menyesal. Ia terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Rasa bersalah terus menghinggapinya.

Jika saja saat itu ia tidak menuruti kemauan Betty. Mungkin sekarang gadis itu tidak akan lumpuh. Sejak saat itu, Himchan menjaga jarak dengan Betty. Lebih kepada bersikap dingin, yang sejujurnya membuat hatinya sesak setiap melihat tatapan mata gadis lugu itu.

******BangHee Series******

“Aku pergi dulu. Aku akan segera menyelidiki kasus ini. Soo Hyun-ah, jaga eomma-mu.” Perintah Tae Pyung tegas, sebelum pria itu pergi.

Yongguk menunduk, membuka tangannya yang memegang sapu tangan kenang-kenangan dari ibunya yang kini ternoda oleh darah. Darah SoHee. Jika yang dikatakan Betty itu benar kalau SoHee kembali untuk mengambil sapu tangan itu hingga membuat gadis itu celaka, sekarang apa yang harus Yongguk lakukan? Karna ia-lah yang secara tidak langsung sudah menyebabkan SoHee menjadi seperti ini. Yongguk tidak akan memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada gadis yang diam-diam telah mencuri hatinya itu.

Yongjae menghembuskan napas lega berkali-kali. Ia menunduk, menahan gejolak emosi yang ada di dalam dadanya. Kesal, sedih, bingung, penasaran, campur aduk menjadi satu. Jika yang dikatakan Betty itu benar kalau SoHee ditabrak oleh mobil yang pernah gadis itu lihat di sekitar klinik, Yongjae tidak bisa diam begitu saja. Tidak banyak orang yang memiliki mobil di daerah itu. Tapi masalahnya, siapa orang itu. Mungkinkah…… Ji Hyun? Bukankah Ji Hyun pernah mengancam akan menyingkirkan SoHee?

Sementara itu Himchan sibuk berpikir, kenapa Moo Hyun tak kunjung mengangkat telponnya. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi Moo Hyun, namun tak kunjung mendapat balasan. Saat ia mematikan telpon, tiba-tiba ponselnya berkedip.

“Himchanie, apa Moo Hyun bersamamu?” Tanya Ha Gun panik.

“Tadi. Tapi aku meninggalkannya di restoran karna Yongguk menghubungiku dan mengatakan jika SoHee mengalami kecelakaan. Aku meninggalkannya karna dia tidak mau ikut denganku. Memangnya ada apa?” Tanya Himchan balik, ia mulai khawatir.

“Ini mengerikan. Moo Hyun mengirimiku pesan. Dia mengatakan jika dia sangat bahagia karna menjadi istrimu. Himchanie, katakan padaku kalau hubungan kalian baik-baik saja.”

Himchan mematung mendengar ucapan Ha Gun. Ia memutar kembali memori di otaknya saat ia mengatakan kata-kata yang kasar sebelum pergi. Lalu ucapan SoHee bebrapa waktu yang lalu juga kembali terngiang di telinganya.

“Bagaimanapun juga, Moo Hyun adalah seorang wanita yang memiliki perasaan. Sama seperti aku.”

“Nuna, ku hubungi lagi nanti.” Himchan langsung mematikan sambungan telponnya sepihak. Tanpa kembali ke kerumunan orang-orang yang menunggu SoHee, Himchan berlari keluar rumah sakit. Memutuskan untuk mencari Moo Hyun. Karna bagaimanapun, Moo Hyun adalah istrinya, tanggung jawabnya.

******BangHee Series******

Yongjae menyodorkan segelas kopi untuk Yongguk yang duduk di lobi rumah sakit. Daehyun dan Gi Yun memutuskan pulang, begitupun Betty yang dijemput Anne dan Yong Hwan. Hanya Yongjae dan Yongguk yang masih menunggu SoHee. Sementara Eun Soo dan Jongup juga pamit pergi dan akan kembali esok. Himchan? Entah kemana perginya pria itu.

“Terima kasih.” Ucap Yongguk singkat. Bukannya tidak berminat, tapi masih memikirkan kefatalan sapu tangan yang masih di genggamnya itu.

“Kau merasakannya, kan?” Yongjae menoleh saat Yongguk mengucapkan kata itu. “Saat ia akan pergi bersamaku, kau merasa akan terjadi sesuatu pada SoHee.”

Yongjae meringis, pandangannya lurus menatap dinding yang ada didepannya. “Ya, entah kenapa aku merasa tidak bisa melihatnya lagi.”

Yongguk tersenyum miris. “Aku rasa kalian memiliki hubungan batin. Aku iri.” Ucap Yongguk, membuat hati Yongjae mencelos. Meski Yongguk mengucapkan dua kata terakhir itu dengan pelan, tapi Yongjae masih bisa mendengarnya. Dan Yongjae semakin yakin jika pria yang ada disampingnya itu tertarik pada SoHee.

“Kau cemburu? Kau menyukainya.” Bukan pertanyaan. Melainkan pernyataan yang harus dijawab oleh Yongguk.

******BangHee Series******

“Apa benar tidak apa?” Tanya Hae Rim cemas pada Soo Hyun yang masih memeriksa SoHee yang belum juga sadar. Membuat banyak orang khawatir.

“Semuanya stabil, eomma. Kita hanya bisa menunggu.” Soo Hyun menatap ibunya, coba menenangkan.

Hae Rim meraih tangan kanan SoHee yang terbebas dari infus dan menempelkannya di pipi. Sementara tangannya yang lain membelai wajah SoHee yang tertutup masker oksigen.

“Tidakkah kau ingin bangun dan bertemu eomma, sayang?” Lirih Hae Rim lembut. Membelai kepala SoHee yang tertutup perban. Menyedihkan.

“Eomma harus makan.”

“Tidak… aku ingin menunggunya. Aku ingin dia melihatku pertama kali saat bangun nanti.” Tukas wanita itu.

“Dan eomma ingin SoHee melihat wajah pucat eomma?” Lanjut Soo Hyun yang membuat Hae Rim merengut. Akhirnya wanita itu berdiri juga. Keluar menuju kafetaria.

******BangHee Series******

Himchan hampir frustasi mencari keberadaan Moo Hyun. Ia sudah mencari kemanapun. Tapi hasilnya, Nihil.

Himchan memukul kemudinya kencang sebelum akhirnya menjalankan lagi mobilnya, menyusuri sungai Han. Himchan mempertajam penglihatannya. Ia mematikan mesin dan langsung turun saat melihat sosok Moo Hyun.

“Moo Hyun-ah.” Panggilnya sambil berjalan mendekat. Moo Hyun menoleh, ia terkejut. Moo Hyun buru-buru pergi tapi langsung di cegah Himchan.

Moo Hyun menatap Himchan datar. Meski ia tidak bisa menepis rasa sakit yang menjalari hatinya saat melihat pria itu. Moo Hyun bingung menghadapi sikap Himchan yang selalu menarik ulur hatinya. Hangat lalu dingin. Menerbangkannya lalu menghempaskannya tanpa perasaan.

“Kau kedinginan.” Himchan melepaskan mantelnya dan memakaikannya pada Moo Hyun yang menatapnya bingung. “Ayo kita pulang.” Ucapnya sambil merangkul pundak istrinya.

Moo Hyun mendongak dan menatap Himchan dengan sorot mata terluka. “Jangan seperti ini Himchan-ssi. Kau tidak tau bagaimana sakitnya. Ini sakit, benar-benar sakit.” Ucap Moo Hyun tertahan, memukul dadanya sendiri sambil menangis. Himchan merasa terenyuh. Tidak tega melihat apa yang dilakukan istrinya itu.

Himchan menghentikan tangan Moo Hyun dan memeluk istrinya yang tangisnya semakin menjadi. Tidak mengatakan apapun. Hanya membiarkan dirinya memeluk Moo Hyun yang bergetar hebat. Sesakit itukah?

******BangHee Series******

“Moo Hyun-ssi.” Himchan memanggil Moo Hyun untuk membangunkan gadis itu. Dengan sigap ia menggendong Moo Hyun untuk masuk ke dalam rumah. Membaringkan istrinya itu perlahan di atas tempat tidur lalu menyelimutinya dengan beberapa selimut tebal. Tangannya dengan gesit mengambil ponsel dan menjepitnya diantara bahu dan telinga.

“Dia sudah bersamaku. Bisa kau kesini?” Pintanya pada Ha Gun.

Setelah mematikan sambungan telponnya, Himchan mencelupkan kain ke dalam baskom berisi air hangat. Setelah itu meletakkannya di atas kening Moo Hyun.

“Himchan oppa… aku mencintaimu. Tolong, jangan pergi.”

Himchan tertegun. Bahkan dalam mimpi-pun Moo Hyun masih sangat mencintainya. Mencintainya seperti itu, setelah apa yang ia lakukan untuk gadis itu selama ini.

Himchan mengambil tangan Moo Hyun dan menggenggamnya. “Aku disini Moo Hyun-ah.” Ucapnya.

-ah, bahkan panggilan Himchan pada gadis itu sudah berubah. Tidak lagi seformal sebelumnya. Yah, sepertinya Himchan memang sudah harus mulai menerima Moo Hyun dalam hidupnya. Karna mereka sudah terikat oleh janji suci pernikahan.

Ulang. Janji suci pernikahan.

“Mianhe Moo Hyun-ah. Mianhe..” Lirih Himchan.

to be continue

9 Komentar

  1. aq ketinggalan lg,:( himchan nya udah nikah,, ha gun pat

  2. maaf it comen di atas belum selesai eh udah trkirim🙂
    maksudnya ha gun patah hati ditinggal kawin🙂

  3. Kenapa aku jadi sedih banget pas bagian moohyun sama himchan ~ T^T

    Buat sohee eonni, cepet sembuh ya. Eomma dan appa menunggu.

  4. resti

    O(╥﹏╥)o..O(╥﹏╥)o..O(╥﹏╥)o

  5. Ira

    Huwaaa..
    Kayaknya masalah nya udh mulai menemukan titik terang,,
    Daehyun-giyun, udh baikan, skarang Himchan bakal nyoba nrima moohyun, Ortu kandung Sohee udah nemuin Sohee..
    Tinggal nunggu jodoh Banghee bersatu, hehe
    Jadi youngjae sama jihyun aja.. Oke ?
    Next part ditunggu Kak,,

  6. Run Evil Nur

    Ahh aku sedih baca part ini asli u,u moga sohee sembuh biar bisa ketemu ortunya~~~~ moga himchan juga mulai bisa nerima moo hyun~~~ next chap ditunggu

  7. Betty telat banget hari ini maaf maaf maaf eonnie…
    .
    .
    Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa T.T Di part ini bener2 Himchannie Oppa sama Moohyun, itu bener2 syediiihhhhhhhhhh :(….
    Akhirnya ada hal yang ngebuat Oppa jadi tergerak hatinya ke moohyun, seneng banget :D…
    .
    .
    Betty ternyata gara2 itu kecelakaan. Eh entar dulu, gimana tentang mobil yang nabrak sohee? Jan sampe Appa ngeras bersalah terus ngga enak(?)…
    .
    .
    Ya ampun, entahlah… Part hampir selesai tapi masalah belum2 selesai2 hmm mungkin part selanjutnya… Semoga selesai deh.
    BETTY.

  8. antara sebel sama kasian si liat si moohyun yg kek gtu😦 tpi apa bleh buat itulah skenarionya -_-
    yg chapt ini kurang dapet kak feel nya🙂 sohee cepetan sadar yaah dan ga ada luka yg serius :^)
    himchanie kali ini ku lepaskan kau untuk moohyun😦 berbuat baiklah dengannya :* xD #sapeelu si Fay kekk
    next chapt — :)^^
    sawwrry kak baru nongol dan ninggalin jejak hihi

  9. Choi Hye Jin

    Tragiss!!
    *Ngambil tisu, usap air mata😥

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: