AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

Invisible Feeling Part 4


Pict by Momo

Author: Bangster1004

Casts:
Jung Gi Yun (OC)
Jung Daehyun
Jung SoHee (OC)
Bang Yongguk
Yoo Yongjae
Moon Jongup
Kim Eun Soo (OC)
Kim Him Chan
Choi Moo Hyun (OC)
Choi Junhong
Shin Jihyun (OC)

Length: Chapter

Rating: G, M,

Genre: Soft Romance

Don’t be silent reader

Happy Reading ^^

Cerita Sebelumnya..

“Yongguk Oppa, minumlah.” Eun Soo menyuguhkan secangkir teh hangat untuk Yongguk. Sejak pulang dari kediaman SoHee, namja itu lebih banyak diam. Sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.

“Bagaimana ini?” Eun Soo menyenggol lengan Jongup yang juga terlihat masih shock.

“Yonggukie, kapan tiba?” Sapa Moo Hyun yang turun dari lantai atas. Masih hening, tidak ada respon, membuat Moo Hyun tidak enak hati.

“Hei, ada apa ini? Tumben pagi-pagi sudah berkumpul disini?” Sahut Himchan yang juga keluar dari gudang tempat menyimpan minuman.

“Oppa, lusa, SoHee akan menikah.” Lirih Eun Soo.

“APAAAAA????!!!!!!” Teriak Himchan, ia tidak percaya dengan apa yang ditangkap indera pendengarannya.

“Dengan siapa? Bagaimana bisa?? Secepat itu?” Ucapan Himchan melemah. Mungkin itu juga yang kini sedang dipikrkan orang-orang yang ada didepannya itu.

“Ini semua salahku.” Sesal Yongguk. “Jika saja aku tidak membawanya kabur semalam, mungkin hal ini tidak akan terjadi.” Lanjutnya.

“Memang apa yang sudah kalian lakukan se-” Himchan menghentikan ocehannya saat Moo Hyun dengan sengaja menyenggol perutnya pelan.

“Di hotel malam itu, aku dan Yong Hwan ahjussi bertemu dengan kakak SoHee. Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini padamu. Tapi aku tidak berhak mengatakannya. Jadi Yonggukie, lebih baik kau pulang. Kau akan mendengarnya sendiri dari ayahmu.” Moo Hyun mendekat, ia menepuk pundak Yongguk.

“Apa? Apa yang mereka bicarakan?” Tuntut Yongguk, ia sangat ingin tau apa yang ayahnya bicarakan dengan kakak Daehyun. Moo Hyun menggeleng lemah. “Maaf, aku tidak bisa mengatakannya.”

*******************************

SoHee mencoba satu persatu gaun pengantin terbaik, dari butik terbaik. Wajahnya sendu, tidak seperti kebanyakan pengantin wanita lain yang merasa bahagia menjelang hari pernikahannya.

“Kalau yang ini bagaimana?” Tanya Daehyun, lagi. Setelah sekian kali ia mendapat jawaban yang sama dari SoHee. “Terserah!” Daehyun menarik nafas panjang, ia merasa frustasi menghadapi SoHee.

“Serahkan padaku.” Gi Yun menarik lengan Daehyun. Ia kemudian maju, mendekati SoHee yang tertunduk lesu. Gi Yun mengangkat dagu SoHee dan menatap dua manik mata coklat milik adik iparnya itu.

“Sekali ini saja, bisakah kau percaya pada kakakmu?” Gi Yun merapikan poni SoHee. Sejujurnya Gi Yun tidak tega melihat mata SoHee yang berkaca-kaca, namun apa yang bisa ia lakukan? Daehyun melarangnya untuk mengatakan apapun.

SoHee mengangguk lemah, pasrah jika boleh ditambahkan. Gi Yun membalik tubuh SoHee agar gadis itu menghadap kaca besar di sudut ruangan. “Kau tidak suka gaun yang terbuka, kan? Aku akan memilihkan gaun yang cocok untukmu.” Gi Yun berbisik di telinga SoHee. Wanita itu kemudian berjalan menghampiri satu persatu patung yang menjadi model gaun pengantin.

“Ah!!” Langkah Gi Yun terhenti tepat di depan patung yang terletak di paling ujung. Gi Yun tersenyum ke arah SoHee yang sedari tadi diam memperhatikan. “Aku menemukannya.”

*******************************

Yongguk pulang bersama Moo Hyun. Sesampainya di rumah, ia bergegas masuk ke ruang kerja ayahnya, sementara Moo Hyun menemui Yongjae.

“Appa.” Panggil Yongguk pada pria paruh baya yang sedang duduk santai membaca kartu undangan pernikahan SoHee ditangannya.

“Ah kau sudah pulang?” Tanya Yong Hwan yang terdengar seperti sebuah sindiran. Tangannya bergerak perlahan, menutupi kartu undangan pernikahan SoHee dengan buku kesukaannya, ‘Think and Grow Rich’ karya Napoleon Hill.

“Appa! Bukankah appa salah satu pemilik saham terbesar di Jung Company?” Tanya Yongguk balik, tanpa berniat menjawab pertanyaan Yong Hwan. Pria paruh baya itu tersenyum saat mendengar putra satu-satunya itu mulai perduli dengan bisnis yang dijalaninya hampir seperempat abad.

“Memangnya kenapa? Tidak biasanya kau perduli dengan bisnis Appa. Bukankah kau lebih suka mengurus cafe itu?” Yong Hwan melipat kedua tangannya di atas dada. Matanya menatap lurus Yongguk yang terlihat kebingungan.

“Itu… Itu karna…” Yongguk merasa kesulitan memilih kata yang tepat untuk di ucapkannya.

“Appa… Aku akan menuruti semua kemauan Appa jika appa bisa menghentikan, ah tidak, jika Appa bisa membatalkan pernikahan SoHee. Gadis yang meminta tolong padaku malam itu? Dia adik Jung Daehyun.”

Yong Hwan tertawa melihat ekspresi panik di wajah putranya. Selama ini, selain ibunya, satu-satunya wanita yang Yongguk perhatikan hanya Moo Hyun, sahabat yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Tapi kali ini, Yongguk menyebut nama gadis lain dihadapan ayahnya. Bahkan Yongguk rela melakukan apa saja yang di inginkan Ayahnya demi gadis itu, gadis bernama Jung SoHee itu.

“Kau yakin mau melakukan apa saja? Bahkan jika Appa memintamu untuk meninggalkan cafe itu dan bekerja untuk Appa?” Yong Hwan berdiri, ia menghampiri Yongguk dan menepuk pundak putranya. Memberi kesempatan Yongguk untuk kembali memikirkan keputusannya.

“Asal Appa bisa menggagalkan pernikahan itu, aku akan pulang ke rumah dan menuruti perintah Appa.” Lirih Yongguk, akhirnya. Setelah sebelumnya ia diam beberapa saat untuk memikirkan hal ini.

“Kau mencintainya?” Yong Hwan menatap Yongguk dalam. Perlahan Yongguk menegakkan kepalanya, membalas tatapan Yong Hwan.

“Tidak.” Yongguk menggeleng pelan. “Aku tidak mencintainya Appa, tapi aku sangat mencintainya.”

“Bagus!!!! Hahahaha…..” Yong Hwan memeluk Yongguk tiba-tiba. Ia tertawa puas, sangat puas malah, mendengar jawaban yang keluar dari mulut putranya. Sedangkan Yongguk terlihat bingung dengan tingkah Ayahnya.

Yong Hwan duduk di atas meja kerjanya. Mengambil kartu undangan yang sempat ditutupinya tadi. Tawanya meredup, raut wajahnya berubah serius. Yong Hwan kemudian menyerahkan undangan tersebut pada Yongguk. “Kau masih berniat menggagalkan pernikahan ini?”

Di tempat lain, darah menetes dari tangan Yongjae setelah namja itu memukulkan tangannya ke dinding. Yongjae marah, sangat marah, setelah dengan terang-terangan Moo Hyun mengatakan ingin membatalkan pernikahan mereka.

Kim Himchan.

Lagi-lagi namja itu yang menjadi alasan Moo Hyun meninggalkan Yongjae. Jika yang pertama Yongjae rela melepas Moo Hyun demi namja brengsek itu, tidak untuk kali ini. Yongjae tidak ingin melihat Moo Hyun kembali terluka.

Moo Hyun menunduk, pipinya sudah basah dengan air mata. Ia merasa bersalah pada Yongjae, namja yang jelas-jelas tulus menyayanginya. Tapi, apa yang harus Moo Hyun lakukan? Jika bisa memilih, ia ingin jatuh cinta pada Yongjae. Tapi sayangnya hati tidak bisa di atur semudah itu.

Maaf, adalah satu-satunya kata yang bisa Moo Hyun ucapkan. Memang apalagi? Sejak Himchan meninggalkannya beberapa tahun lalu, Yongjae-lah yang menyelamatkan hidupnya. Meski begitu, sekuat apapun Moo Hyun berusaha mencintai Yongjae, ia tidak bisa membohongi hatinya. Sampai kapanpun, Moo Hyun menganggap Yongjae dan Yongguk adalah sahabat terbaiknya. Sedangkan Himchan, selamanya, pria brengsek itu adalah pemilik hatinya.

*******************************

Sebuah mobil Ferrari putih terparkir gagah di halaman rumah keluarga Jung. Daehyun yang lagi-lagi pulang malam setelah lembur, terkejut mendapati mobil berlambang kuda jingkrak itu ada di rumahnya.

“Mobil siapa?” Tanya Daehyun pada istri tercintanya yang sedang tidur, bermalas-malasan di atas kasur.

“Mobilku.” Jawab Gi Yun tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari buku yang sedang di bacanya.

“Mobilmu?” Daehyun tidak mengerti maksud ucapan Gi Yun. Bagaimana bisa ia memiliki mobil mahal asal Italy itu sementara Daehyun tidak pernah membelikan itu untuk Gi Yun.
“Kemarin Appa menghubungiku dan bertanya hadiah apa yang aku inginkan. Aku mengatakan ingin mobil Ferrari. Dan seperti yang kau lihat, kini mobil itu ada disini.”

Daehyun menepuk keningnya begitu ia mendengar kata hadiah. Pantas saja sejak pagi sikap Gi Yun sedikit berbeda. Bagaimana tidak? Daehyun melupakan ulang tahun Gi Yun.

“Mianhe.”

Gi Yun menutup buku yang dibacanya. Ia kemudian menatap Daehyun sebal, sebelum akhirnya ia meninggalkan suaminya sendirian di kamar. Daehyun menggaruk kepalanya, bingung. Ia lalu mengejar Gi Yun yang menghampiri mobil barunya.

“Berikan kuncinya?” Daehyun meminta kunci mobil yang ada ditangan Gi Yun.

“Berikan kuncinya!” Ulang Daehyun, suaranya meninggi beberapa oktaf hingga membuat Gi Yun terkejut.

“Kau mau kemana?” Daehyun menatap istrinya lembut, sekalipun wanita yang ada disamping itu lebih memilih diam.

Jam menunjukkan pukul 11.10 malam. Jalanan sudah mulai sepi. Daehyun mengarahkan mobilnya ke Banpo Bridge. Jembatan yang menghubungkan Seocho dan Yongsan itu terlihat cukup sepi.

Daehyun menepikan mobilnya di bawah jembatan yang membelah sungai Han di pusat kota itu. Tatapannya lurus ke depan, menatap air mancur warna-warni yang dipantulkan dari LED itu terlihat sangat indah.

Mata Gi Yun mulai berair. Ia menoleh ke arah pria yang duduk tenang di sampingnya. Gi Yun merasa bersalah. Tidak seharusnya ia marah pada Daehyun yang melupakan ulang tahunnya seperti itu. Tapi entahlah, akhir-akhir ini ia tidak bisa mengontrol emosinya.

“Aku selalu membuatmu menangis.” Ujar Daehyun. Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan yang ia tujukan untuk istrinya.

Gi Yun menggeleng lemah. “Tidak.”

“Tapi sejak kau mengenalku, sepertinya kau lebih banyak menangis.” Suara Daehyun terdengar bergetar.

Gi Yun menarik tangan Daehyun dan menggenggamnya erat. “Tidak. Bukan seperti itu.” Elaknya.

“Saat ayah mertua menugaskanku untuk menjemputmu pertama kali. Saat itu ada festival disini, kan? Kau begitu bahagia bisa berkumpul bersama teman-temanmu. Tertawa sesukamu. Tapi raut wajahmu berubah saat aku menghampirimu dan memperkenalkan diri sebagai tangan kanan ayahmu.” Daehyun, mengingat pertemuan pertamanya dengan Gi Yun.

“Sejak saat itu kau lebih banyak diam. Kau suka marah, dan menangis. Aku ingin sekali membiarkanmu pergi, tapi ayah mertua menugaskanku untuk menjagamu, lalu apa yang bisa aku lakukan? Disatu sisi aku ingin selalu melihatmu, tapi aku benci melihatmu menangis.”

“Hentikan!” Ujar Gi Yun setengah berteriak.

“Sejujurnya aku yang meminta Appa agar kau menjagaku. Kau bekerja keras, melakukan apapun yang Appa minta hingga kau tidak pernah menyadari keberadaanku. Aku marah dan menangis, itu hanya caraku untuk mendapatkan perhatianmu.” Lirih Gi Yun hampir tak terdengar.

Terkejut? Tentu saja. Daehyun bahkan memerlukan waktu beberapa detik untuk mencerna tiap kata yang Gi Yun ucapkan.

“Kau, sudah mencintaiku selama itu?” Tanya Daehyun tak percaya. Ia lalu memeluk Gi Yun erat-erat. Yang Daehyun tau, selama ini cintanya begitu besar untuk Gi Yun. Karna besarnya cintanya pada Gi Yun bisa dibilang ia menjadi posessif. Daehyun tidak menyangka, jika cinta Gi Yun bahkan jauh lebih besar untuknya.

Daehyun menghapus sisa air mata di pipi Gi Yun. “Maaf, aku tidak menyiapkan hadiah untukmu.”

Gi Yun menarik dasi Daehyun. Sedetik kemudian lidah keduanya saling bertautan. Melepaskan emosi, cinta, hasrat dalam sebuah ciuman yang penuh gairah. Nafas Gi Yun dan Daehyun mulai tak beraturan. Desahan-desahan kecil keluar dari mulut Gi Yun membuat suasana semakin panas. Mereka seakan lupa sedang berada di tempat umum.

Sementara itu tangan Daehyun mulai bergerak naik, menerobos masuk T-shirt putih bertuliskan Touch Me dibagian dada yang dipakai Gi Yun. “Serahkan hati dan tubuhmu sebagai hadiahnya.” Lirih Gi Yun putus-putus saat Daehyun tak henti-hentinya menyentuh tiap inchi tubuhnya.

Drrrtt… Drrrtt…

Aktifitas keduanya terhenti saat ponsel Daehyun yang diletakkannya di atas dashboard mobil bergetar.

“Kalian kemana? Kenapa meninggalkanku sendirian?” Terdengar suara lemah SoHee di ujung telfon. Gi Yun yang samar-samar mendengar suara SoHee juga merasa bersalah sudah pergi meninggalkan adik iparnya yang terkenal penakut itu sendiri dirumah.

“Kami mencari udara segar. Sepuluh menit lagi kami kembali.” Jawab Daehyun gugup. Setelah menutup ponsel, Daehyun menatap Gi Yun yang terlihat menahan nafas.

“Kita lanjutkan di rumah.” Bisiknya nakal. Daehyun lalu menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan jembatan Banpo yang selalu menjadi tempat kenangannya dan Gi Yun.

*******************************

SoHee mengaduk makanannya beberapa kali tanpa berniat makan. Nafsu makannya hilang. Bagaimana SoHee bisa makan? Sementara besok ia harus menikah dengan Yongjae, namja mesum yang jelas-jelas tidak ia suka.

“Hee-ya, makanlah! Kau tidak kasihan dengan istriku yang sudah susah payah bangun pagi demi memasak makanan kesukaanmu?” Sungut Daehyun.

“Mungkin itu tidak enak? Aku akan membuatkannya lagi untukmu.” Gi Yun bangkit dari tempat duduknya, ia kemudian berjalan menuju dapur. Namun tiba-tiba saja tubuhnya oleng. Gi Yun terjatuh.

“Gi Yun-ah!”

“Eonnie!”

Teriak Jung bersaudara. Keduanya terkejut. Mereka berlari menghampiri Gi Yun yang terduduk lemah. “Kau kenapa?” Daehyun terlihat panik melihat wajah istrinya yang pucat.

“Oppa, bawa Eonnie ke kamar. Aku akan menelfon Dokter Seo.” Daehyun mengangguk mengerti, menuruti perintah adiknya.

Beberapa menit kemudian Dokter Seo datang. SoHee mempersilahkan Dokter Seo masuk ke dalam kamar, tempat Gi Yun berisitahat.

“Dokter, apa yang terjadi dengan istri saya?” Tanya Daehyun dengan raut wajah khawatir setelah Dokter Seo memeriksa keadaan Gi Yun.

“Istri anda baik-baik saja. Hanya saja dia sedikit kelelahan. Jangan terlalu banyak pikiran karna itu bisa mengganggu kondisi kehamilan.” Jelas Dokter Seo.

“Ap.. Apa? Apa anda bilang tadi? Hamil? Apa istriku hamil?” Daehyun terkejut bukan main saat mendengar istrinya dinyatakan hamil.

“Benarkah?” Ulangnya lagi. Ia menghampiri Gi Yun dan memeluknya hingga kesulitan bernapas. “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Tuntut Daehyun yang merasa dibohongi oleh Gi Yun.

“Karna aku tidak ingin kau melarangku untuk mengurusi pernikahan SoHee.”

SoHee tertegun mendengar jawaban Gi Yun. Bahkan kakak iparnya itu rela mempertaruhkan kehamilannya demi bisa mengurusi pernikahannya.

“Tuan Jung, ini resepnya.” Dokter Seo menyerahkan selembar kertas yang berisi coretan beberapa vitamin yang dibutuhkan Gi Yun.

“Terima kasih Dokter, mari saya antar.” Daehyun mempersilahkan Dokter Seo berjalan lebih dulu, ia kemudian mengikuti dari belakang, mengantarnya keluar.

“Mianhe Eonnie-ya.” SoHee mendekati Gi Yun. Ia menunduk, tidak sanggup menatap mata wanita yang ada dihadapannya itu.

“Duduklah.” Gi Yun menepuk ranjang disampingnya.

“Kenapa minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah. Ini memang kemauanku sendiri.” Gi Yun menarik tangan SoHee dan menepuknya.

“Kau tau, kan? Eonnie sering berdebat dengan Oppamu. Meski kami saling mencintai, terkadang kami memiliki pemikiran yang berbeda. Tapi untuk kali ini, Eonnie setuju dengan pilihan kakakmu. Dia lelaki baik.” Lanjut Gi Yun.

“Tapi Eonnie, aku mencintai pria lain.” Sahut SoHee cepat.

“Himchan maksudmu?” Lagi-lagi SoHee menggeleng cepat.

“Hee-ya!” Panggil Daehyun, setelah mengantar Dokter Seo. Ia tidak sendirian. Ia kembali bersama Yongguk disampingnya.

“Annyeong.” Sapa Yongguk yang tentu saja membuat SoHee terkejut.

“Sebelum SoHee menikah besok, bolehkah aku mengajaknya jalan-jalan sebentar? Percayalah, aku tidak akan membawanya kabur.” Ujar Yongguk ragu. Daehyun dan Gi Yun saling pandang, sebelum akhirnya mereka menyetujuinya.

“Terima kasih. Aku akan membawanya kembali dengan selamat.” Yongguk menunduk. Ia kemudian menarik tangan SoHee dan membawanya pergi.

“Kita mau kemana?” Tanya SoHee saat Yongguk mulai menyalakan mesin mobilnya.

“Ke tempat yang sudah lama tidak kau kunjungi.” Yongguk tersenyum, tangannya menyentuh pucuk kepala SoHee lalu mengacaknya.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Yongguk memarkirkan mobilnya di depan gedung Chongah Park Crematory. SoHee tau kemana Yongguk membawanya pergi. Tempat yang ada dihadapannya itu, bukan tempat yang asing lagi baginya.

Yongguk membukakan pintu untuk SoHee. Sejenak gadis itu tertegun. Yongguk mengulurkan tangannya pada SoHee. Meski sempat ragu awalnya, namun akhirnya SoHee menerima uluran tangan pria itu dan melangkah masuk.

Gedung itu cukup besar, namun sunyi. Setelah melewati dua belokan Yongguk berhenti di sebuah foto. “Disini, kan?” Tanyanya pada SoHee. Gadis itu mengangguk lemah.

“Halo. Saya Bang Yongguk. Ini pertama kalinya kita bertemu secara resmi. Sebelumnya Appa memang pernah mengajak saya kemari, namun saya tidak tau jika orang itu kalian berdua, karna itu maafkan saya.” Yongguk berbicara pada sepasang foto yang ada di hadapannya. Di depan foto tersebut terdapat abu jenazah orang tua SoHee, Jung Yeop dan Lee Hyori.

“Eung.. Maaf mungkin saya terlihat lancang karna berani mengatakan hal ini saat kita baru pertama kali bertemu. Tapi saya hanya ingin mengatakan jika saya mencintai putri anda.” Yongguk meraih tangan SoHee dan menggenggamnya erat.

“Saya ingin menjadi pria dari gadis ini. Menjadi orang pertama yang selalu dilihatnya ketika bangun dan menutup mata. Selalu berada disampingnya dalam keadaan sedih maupun bahagia. Selalu menjaga dan melindunginya.” SoHee menoleh ke arah Yongguk. Air matanya sudah jatuh sejak Yongguk mulai mengungkapkan perasaannya.

Yongguk memperhatikan SoHee. Hidung mancungnya. Pipi apelnya. Rambut hitamnya yang lurus. Tatapan matanya yang lembut. Bibirnya yang tipis dan menggoda. Semuanya, Yongguk selalu merindukan semua yang ada di dalam diri gadis itu sejak pertama kali ia melihatnya disini beberapa tahun yang lalu.

“Jika kau mencintaiku, tolong bawa aku pergi. Aku tidak ingin menikah.” Tangis SoHee semakin deras. Dadanya terasa sangat sesak sekarang.

Yongguk menggeleng pelan. “Tidak. Aku tidak akan melakukannya.”

“Membawa kabur gadis yang dicintai tanpa restu dari keluarga bukan hal yang benar. Dan aku tidak ingin melakukannya. Aku memang mencintaimu, tapi tidak dengan cara seperti itu. Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Jadi, bisakah kau percaya padaku?” Ucap Yongguk serius.

*******************************

Gi Yun dan Daehyun masuk ke kamar SoHee. Keduanya tersenyum bahagia, terlebih lagi Gi Yun saat melihat betapa cantik adik iparnya. Sedangkan Daehyun berusaha keras menyembunyikan rasa haru. Bagaimana tidak? Sebentar lagi, Daehyun akan melepas SoHee, adik satu-satunya, adik yang sangat ia sayangi, bersama pria lain yang ia harap…. tidak salah.

Eun Soo yang menjadi pendamping pengantin wanita bersama Moo Hyun sudah menunggu SoHee di bawah tangga. Hingga akhirnya gadis yang menjadi tokoh utama di hari ini perlahan menuruni tangga bersama Jung Daehyun yang gagah dan tampan dalam balutan jas hitamnya.

SoHee dan Daehyun berdiri di belakang pengiring. Menggenggam bunga di tangannya dengan erat, gemetar, jika boleh di tambahkan. Daehyun menepuk punggung tangan SoHee yang tertutup sarung tangan putih, coba menenangkan gadis itu.

Pintu rumah dibuka oleh seorang pelayan, SoHee dan Daehyun berjalan menuju kebun di samping rumah mereka yang sudah tertata rapi dan di hias secantik mungkin menjadi pesta kebun di musim semi.

SoHee melihat banyak orang hadir dalam pernikahannya. Orang-orang yang ia perkirakan sebagai tamu, kolega, dan rekan bisnis kakaknya.

Tatapan SoHee tertuju pada sosok yang penah menguasai hatinya, Kim Himchan.

SoHee juga melihat Jongup, sahabat terbaiknya itu mengepalkan tangannya ke udara, seolah memberinya semangat. SoHee hanya bisa tersenyum getir melihatnya.

Lalu dimana Yongguk? Namja yang mengakui perasaannya pada SoHee kemarin? Bukankah pria itu meminta SoHee untuk percaya padanya?

SoHee melihat Yong Hwan, pria paruh baya yang dilihatnya beberapa hari yang lalu itu adalah Ayah Yongguk. Ia duduk di kursi paling depan dan tersenyum ramah ke arah SoHee. Disampingnya, duduk seseorang yang SoHee kenal juga, pria yang ia perkirakan usianya tidak beda jauh dengan Ayah Yongguk. Choi Ahjussi, Ayah Moo Hyun yang datang bersama Junhong.

Di kursi paling ujung, di sebelah Junhong, ada Yoo Yongjae yang melambaikan tangan ke arahnya. SoHee seakan tersadar. Jika Yongjae yang SoHee pikir akan menjadi pengantin prianya duduk manis di kursi tamu, lalu siapa namja yang akan menikahinya??

SoHee mengalihkan pandangannya ke altar pernikahan. Menatap punggung lebar seorang pria yang pastinya akan sangat nyaman jika digunakan untuk bersandar. Semakin dekat dengan altar pernikahan, jantung SoHee semakin berdebar kencang. Apalagi setelah pria yang berjarak lima langkah darinya itu berbalik dan tersenyum ke arahnya.

Bang Yongguk. Rambut hitam cepak yang di sisir rapi. Deretan gigi putih dan gusi yang bersih. Tubuh gagah yang dibalut setelan jas putih dengan bunga mawar merah yang terlihat menyembul keluar di saku kiri, membuat kadar ketampanan Yongguk begitu keterlaluan.

Senyum bahagia tersungging dibibir Yongguk saat ia mengulurkan tangan. Menunggu Daehyun menyerahkan tangan SoHee untuk di genggamnya, menghadap pendeta.

“Saudara Jung SoHee. Bersediakah anda bersaksi di hadapan Tuhan, dengan disaksikan tamu-tamu yang hadir. Berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sehat dan sakit, susah dan senang, menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi istri yang bisa menghargai suami, patuh, dan menjadi tempat bersandar selamanya hingga akhir, dengan pria yang ada di samping anda?”

SoHee diam. Membuat semua orang menunggu dan menahan nafas. Ia menatap Yongguk yang berdiri gagah sampingnya. Bibirnya bergerak perlahan, “Saya bersedia.” Jawaban yang tidak hanya membuat Yongguk tersenyum bahagia, tapi juga Daehyun, Gi Yun, Yong Hwan, serta beberapa orang terdekat mereka ikut senang.

“Saudara Bang Yongguk. Bersediakah anda bersaksi di hadapan Tuhan, dengan disaksikan tamu-tamu yang hadir. Berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sehat dan sakit, susah dan senang, menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung selamanya hingga akhir, dengan wanita yang ada di samping anda?” Pertanyaan yang sama pendeta tanyakan pada pengantin pria.

“Saya bersedia.” Jawab Yongguk mantap.

“Apakah anda memiliki sesuatu yang anda bawa sebagai bukti kasih sayang yang akan anda berikan kepada pasangan anda?” Tanya pendeta itu lagi.

“Ya. Saya punya.” Yongguk mengambil sebuah kotak kecil dari saku celananya. Ia membuka kotak yang berisi cincin itu lalu meraih tangan SoHee.

“Saya, Bang Yongguk. Menjadikan engkau, Jung SoHee sebagai istriku yang sah. Untuk memiliki dan menjaga, mulai hari ini hingga seterusnya. Untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama kita hidup. Dengan cincin ini, aku menikahi engkau, dengan kasih sayang yang setia, kita berbagi kehidupan bersama.” Ucap Yongguk lantang. Perlahan ia menyematkan cincin itu lalu mencium jari manis SoHee.

“Aku menepati janjiku untuk membawamu pergi sebagai pengantinku dan menjadikanmu istiku yang sah, SoHee-ya.” Yongguk mendekat dan mengecup kening SoHee.

“Gotjimal.” Lirih SoHee hampir tak dengar. Ada genangan air di sudut matanya. Air mata bahagia, dan haru. Tanpa menunggu perintah dari pendeta, Yongguk menarik SoHee dan mencium bibir gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya itu. Mengabaikan sorakan dan tepuk tangan dari para tamu. Yongguk dan SoHee larut dalam kebahagiaan yang teramat sangat.

*******************************

Moo Hyun terkapar lemah, tak sadarkan diri. Senyum yang biasa mengembang di wajah cantik gadis itu menghilang. Tergantikan wajah putih pucat dengan perban yang melilit kepalanya.

Salju tipis menghiasi taman tempat Moo Hyun duduk. Matanya tak beralih dari ayunan yang berada tepat di depannya. Pandangannya benar-benar terpusat pada mainan itu. Sesekali ia tersenyum, kemudian air mata membasahi pipinya. Di balik tangis, Moo Hyun manarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia lalu memejamkan matanya, berharap ada yang berubah. Tapi nihil. Keadaan masih tetap sama. Senyumnya mengembang namun air mata merusak kenangan indah itu.

Dibalik mantel tebal, syal, penutup telinga dan sarung tangan yang hangat, Moo Hyun masih merasakan dingin. Ia mencoba menghangatkan tubuh dengan segelas hot chocholate. Minuman favorit yang di belinya tadi. Meski minuman itu tidak lagi panas ataupun hangat, tapi dingin, bahkan hampir menjadi es.

Moo Hyun menyusuri jalan dengan pandangan kosong. Ia berhenti disamping benda tinggi yang terang, lampu penerangan jalan raya dekat traficlight. Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada tiang tinggi itu. Melipat kedua tangannya di dada. Moo Hyun tertunduk, ia menyembunyikan butiran bening yang keluar dari sudut matanya.

Moo Hyun mengangkat kepalannya, kembali menatap kedepan, pandangannya tak lagi kosong karna kini ia menantap seseorang di sebrang jalan. Senyumnya menyebul keluar. Tawa renyah mengimbangi senyuman itu. Ia tertawa dengan mengeluarkan butiran bening. Benda itu membuatnya kembali menangis.

“Aku akan menghampirimu.” Teriak Moo Hyun pada seorang namja di seberang jalan. Kim Himchan. Namja yang selalu mampu membuatnya menangis, tersenyum, dan tertawa diwaktu yang bersamaan.

Sejak Himchan mendapat tugas dari Yongguk untuk mengurusi proyek barunya, ia tidak lagi punya banyak waktu dengan Moo Hyun. Setidaknya, dalam sebulan, mereka hanya bisa bertemu sekali. Seperti hari ini, mereka berjanji di tempat biasa mereka bertemu.

“Tidak. Kali ini, izinkan aku yang menghampirimu.” Teriak Himchan tak mau kalah. Namja tampan itu melangkah mendekati Moo Hyun. Menyebrangi jalan yang memang sudah cukup sepi, mengingat mereka bertemu pada tengah malam.

Himchan berjalan terburu-buru. Ia ingin segera sampai ke sebrang jalan dan memeluk gadis yang menjadi candunya itu, hingga tidak menyadari sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.

Moo Hyun yang berdiri tak jauh dari Himchan menyadari hal tersebut. Tanpa pikir panjang, ia mendorong tubuh Himchan. Tak ayal mobil hitam itu tanpa ampun memcium tubuhnya hingga terpental beberapa meter.

Dan disinilah mereka. Choi Ahjussi, Junhong, Himchan, Yong Hwan, dan Yongjae berkumpul. Di lorong UGD sebuah Rumah Sakit. Yongguk dan SoHee baru saja tiba, keduanya berlarian, panik, setelah membatalkan rencana bulan madu mereka saat mendengar kondisi Moo Hyun.

Yongguk benar-benar merasa frustasi. Bagaimana tidak? Ia melihat dua pria yang sama-sama memiliki cinta yang begitu besar untuk Moo Hyun, sahabat yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Himchan dan Yongjae yang terus bersaing hingga menyebabkan Moo Hyun mengalami masa kritis seperti saat ini.

Yongjae terus menerus membenturkan kepalanya ke tembok. Ia menyesal. Sangat menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan. Sungguh! Meski wajahnya kini babak belur setelah mendapat beberapa pukulan dari Himchan.

Yongjae sama sekali tidak berniat untuk mencelakai Moo Hyun, sama sekali tidak! Sasarannya adalah Himchan, bukan Moo Hyun.

“Yongjae hyung! Hentikan! Yang kau lakukan ini tidak akan memperbaiki keadaan!” Teriak Junhong. Ia tak kalah frustasi dengan Yongguk. Junhong tidak menyangka jika Yongjae yang selama ini dikaguminya bisa melakukan hal mengerikan semacam itu. Meski jika yang menjadi korban itu adalah Himchan, tetap saja, apa yang dilakukannya itu salah.

Junhong dan Ayahnya menoleh saat pintu ruang UGD terbuka. Keduanya berjalan mendekati dokter Shin, dokter yang menangani Moo Hyun. “Bagaimana keadaannya, dok?”

“Pasien mendapat penanganan tepat waktu. Meski kehilangan banyak darah, ia bisa bertahan. Kita hanya perlu menunggu kondisinya stabil baru dipindahkan.” Jelasnya. Semuanya bersyukur, setidaknya mereka bisa bernafas lega setelah mendengar penuturan dokter cantik itu.

*******************************

“Eonnie! Kau sadar?” Pekik Eun Soo saat ia melihat Moo Hyun perlahan membuka mata.

“Oppa! Oppa!” Eun Soo membangunkan Himchan yang tertidur di kursi dekat ranjang Moo Hyun.

“Moo Hyun-ah, kau baik-baik saja, kan? Kau bisa melihatku? Kau masih mengingatku, kan?” Cecar Himchan. Namja itu begitu panik dan takut jika Moo Hyun tidak bisa melihat atau mengalami amnesia akibat kecelakaan seperti biasa yang ia lihat di TV.

“Eung..” Jawab gadis itu lemah.

“Eun Soo-ya, tekan tombol itu agar dokter datang.” Himchan memerintah Eun Soo menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.

“Kau baik-baik saja, kan?” Moo Hyun mengangkat tangannya ke udara, berusaha menyentuh wajah tampan pria yang sudah di selamatkannya itu. Himchan meraih tangan Moo Hyun, ia mencium tangan gadis itu berkali-kali. “Jangan lakukan hal bodoh itu lagi jika kau ingin melihatku tetap hidup.” Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Moo Hyun mengamati kamar VIP tempatnya berbaring. Kamar yang cukup besar itu terlihat sepi. Hanya ada Himchan dan Eun Soo disana. “Dari kemarin Ayah dan Adikmu belum pulang, jadi aku menyuruh mereka pulang.” Ujar Himchan, seolah mengerti apa yang dipikirkan Moo Hyun.

“Jongup sibuk, jadi dia hanya bisa mengantarku kemari. Sedangkan SoHee dan Yongguk oppa sedang dalam perjalanan.” Timpal Eun Soo. Himchan menggenggam tangan Moo Hyun, erat, bahkan sangat erat, seolah tidak ingin kehilangan gadis yang sangat dicintainya itu.

“Kenapa kau berdiri disini? Harusnya kau masuk ke dalam.” Dokter Shin yang bersiap memeriksa Moo Hyun mengejutkan Yongjae yang sejak tadi berdiri di luar kamar.

“Aku melihat dan mendengarnya.” Ujar Dokter Shin.

“Apa?” Sahut Yongjae tak mengerti.

“Kau mencintainya, kan? Aku bisa melihatnya dari matamu. Dan juga, aku tidak sengaja mendengar kau berdo’a kemarin.” Yongjae terkejut mendengar ucapan dokter yang ada disampingnya itu.

“Jika kau mencintainya, kau harus mempertahankannya. Bagaimana bisa kau menyerah seperti itu? Bukankah kau akan melepasnya, asal gadis itu bisa sadar? Sekarang ia sudah sadar, apa kau menyesal berdo’a seperti itu?”

Mata Yongjae memerah. Dokter yang ada disampingnya itu memang cantik, muda dan hebat karna bisa menyelamatkan Moo Hyun. Tapi apa yang dokter itu tau tentang Yongjae? Bagaimana ia berusaha mempertahankan Moo Hyun? Berapa lama ia menunggu Moo Hyun untuk mencintainya? Dokter itu tidak pernah tau.

“Kau tidak tau apa-apa tentangku-” Yongjae berhenti sejenak. Ia lalu melihat name-tag yang ada di dada dokter itu, “Dokter Shin Ji Hyun. Jadi jangan pura-pura perduli. Satu lagi, jangan pernah mencampuri urasanku!” Yongjae melangkah pergi meninggalkan Dokter Shin yang terlihat menyesali ucapannya.

Dokter Shin mengetuk pintu kamar Moo Hyun sebelum akhirnya ia membuka pintu tersebut. “Bisa kalian keluar sebentar?” Pinta Dokter Shin pada Himchan dan Eun Soo.

“Masih pusing?” Tanya Dokter Shin sambil memeriksa detak jantung, dan denyut nadi Moo Hyun.

“Kau beruntung masih hidup. Banyak yang mencintai dan begitu khawatir dengan keadaanmu. Kau sukses membuatku iri.” Ujar Dokter Shin yang membuat Moo Hyun tersenyum saat mendengarnya.

“Apa pria yang baru saja keluar tadi kekasihmu?” Tanya Dokter Shin memberanikan diri. Moo Hyun mengangguk mengiyakan.

“Lalu siapa pria yang terlihat sangat depresi itu?” Lirih Dokter Shin, namun masih bisa di dengar Moo Hyun.

“Pria yang terlihat sangat depresi?” Ulang Moo Hyun.

“Iya. Sejak kau masih kritis hingga beberapa menit yang lalu, aku melihatnya berdiri diluar. Wajahnya terlihat sangat depresi. Sepertinya anggota keluargamu mengenalnya, karna aku melihat mereka berbicara sebelumnya. Aku merasa kasihan padanya. Aku melihat diriku dalam matanya. Tatapan mata itu, adalah tatapan mata kesepian.” Ujar Dokter Shin panjang lebar.

“Ah! Apa yang sudah aku katakan? Maaf, aku tidak bermaksud menceritakan kehidupan pribadiku. Kenapa aku mengatakan hal bodoh seperti itu?” Sesal Dokter Shin, merutuki dirinya sendiri yang selalu tidak bisa mengendalikan mulutnya.

“Sepertinya kau tertarik padanya.” Goda Moo Hyun, membuat pipi dokter muda itu memerah.

“Tidak tidak. Aku hanya tidak sengaja melihatnya beberapa hari yang lalu, dan aku merasa kasihan saja.” Elak Dokter Shin yang terlihat panik mencari alasan.

“Dokter Shin, bisakah kau membantuku?” Ujar Moo Hyun ragu.

*******************************

1 Tahun Kemudian

“Hei nyonya Bang! Kau itu istriku. Seharusnya kau sibuk mengurusiku, bukan Appa.” Ujar Yongguk kesal saat SoHee lebih memilih mengurusi ayahnya daripada mengurusinya. Cemburu mungkin lebih tepatnya.

“Jangan manja. Aku sudah menyiapkan semuanya, kau tinggal memakainya.” Balas SoHee sambil meletakkan secangkir teh hijau untuk ayah mertuanya.

“Tapi aku tidak bisa memakai ini.” Yongguk mendesah kesal pada dasi yang tergantung di lehernya sejak sepuluh menit yang lalu. Sekuat apapun ia mencoba memutar, melipat, dan membolak-balik dasi itu, tetap saja Yongguk tidak bisa memakai dasi sebagus saat SoHee yang memakaikannya.

“Sudah waktunya. Kau juga harus berdandan, kan? Urusi suamimu.” Ujar Yong Hwan pada menantu kesayangannya. SoHee mengangguk, ia lalu bangkit menghampiri Yongguk yang terlihat kesal setengah mati.

“Huh! Kau ini ternyata lebih menuruti ucapan Appa daripa-”

Sebuah kecupan mendarat tepat dibibir Yongguk. Selalu seperti itu. SoHee selalu saja punya cara untuk menghentikan ocehan Yongguk. Gerakan spontan dan tiba-tiba gadis itu selalu mampu membuat Yongguk bertekuk lutuk dihadapan SoHee. Dari kejauhan Yong Hwan tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya itu. Apalagi Yongguk hanya diam dan menurut saat SoHee menariknya ke kamar.

Himchan berjalan mondar-mandir. Ia terlihat bingung saat bintang tamu yang akan mengisi acara lauching Mall baru mendadak sakit hingga tidak bisa datang. Dan ia tidak mempunyai banyak waktu lagi.

Moo Hyun mendekati Himchan, dengan sedikit ragu ia mengatakan pada Himchan agar menghubungi Yongjae dan meminta pria itu untuk menjadi bintang tamu. “Mungkin sulit dipercaya, tapi Yongjae memiliki suara yang merdu saat bernyanyi. Kita sudah tidak punya waktu lagi, dan aku rasa Yongguk pasti akan setuju. Kau percaya padaku, kan?” Tanya Moo Hyun memastikan.

“Hyung. Beberapa tamu sudah tiba.” Jongup datang menghampiri Himchan dan Moo Hyun. Keduanya masih diam dan saling pandang, membuat Jongup kembali bertanya, “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa, mana Eun Soo?” Tanya Himchan saat ia tidak melihat adiknya di samping Jongup.

“Dia sedang bersiap-siap. Kau lupa jika dia menjadi MC di acara nanti?” Jongup mengingatkan. Himchan menepuk dahinya, lupa. Sepertinya karna ia terlalu sibuk. Banyak yang harus ia pikirkan dan persiapkan hingga melupakan hal-hal kecil semacam itu.

“Moo Hyun-ah, segera hubungi Yongjae dan suruh dia cepat datang kemari.” Perintah Himchan kemudian. Ia lalu mengajak Jongup pergi menemui tamu.

“Apa kami terlambat? Mana Yongguk dan SoHee?” Tanya Daehyun pada Jongup yang menjemputnya di depan gedung.

“Tidak hyung. Yongguk dan SoHee bahkan belum datang.” Balas Jongup.

“Ah aku pikir kami terlambat. Hyun Ra sedikit rewel, jadi kami menunggu dia tenang, baru bisa berangkat kemari.” Ujar Gi Yun antusias menceritakan putri pertamanya dan Daehyun.

“Silahkan masuk. Kami sudah menyiapkan tempat VIP untuk kalian.” Himchan menunjuk salah satu sudut ruangan.

“Ah, annyeong Daehyun oppa, Gi Yun Eonni.” Sapa Eun Soo yang terlihat semakin dewasa dan cantik hingga Daehyun dan Gi Yun tidak mengenali sahabat adiknya itu.

“Kau Eun Soo, kan?” Tanya Gi Yun memastikan.

“Maaf tidak pernah main ke rumah kalian sejak SoHee menikah dan tinggal di rumah Yongguk. Jelasnya. Eun Soo kemudian memanggil salah satu pelayan untuk mengantar Daehyun dan Gi Yun ke tempat VIP yang sudah disediakan.

“Eun Soo-ya!” Panggil Moo Hyun. “Tolong hubungi Yongguk. Beberapa investor sudah menunggunya.” Perintah Moo Hyun. Namun tak lama setelah itu, sebuah Limousin datang tepat di depan gelaran karpet merah. Supir Han turun dan berlari kecil, membuka pintu penumpang.

Yongguk turun, namja itu terlihat gagah dengan balutan jas biru dongker yang terlihat lebih gelap. Sementara SoHee memakai gaun biru laut selutut dengan mantel bulu tergantung di leher jenjangnya. Jepretan kamera dan pandangan kagum para tamu menyambut kedatangan keduanya.

“Itu mereka.” Jongup menunjuk Yongguk dan SoHee yang baru saja datang.

“Kenapa kalian berkumpul disini?” Tanya Yongguk pada teman-temannya yang terlihat kebingungan. Belum sempat salah satu di antara mereka menjawab, perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan dua orang pemuda tampan, Yongjae dan Junhong. “Hai..” Sapa keduanya.

Suasana hening beberapa saat. “Hei, kami masih mendapat tempat duduk, kan?” Seorang gadis tiba-tiba muncul dibalik tubuh Yongjae, Shin Ji Hyun.

“Ji Hyun-ah, kau datang.” Sapa Moo Hyun, coba mencairkan suasana. “Aku sudah menyiapkan tempat untukmu. Ayo” Moo Hyun menarik tangan Ji Hyun dan mengajaknya masuk.

“Yak! Choi Moo Hyun, kenapa kau hanya mengajak Ji Hyun? Apa kau akan membiarkanku sendirian disini?” Ujar SoHee tak terima.

“Hei nyonya Bang! Kau ini, ayo masuk bersamaku. Biarkan pria-pria ini yang akan mengurus semuanya.” Eun Soo mengulurkan tangannya yang segera diterima oleh SoHee. Keduanya berjalan di belakang Moo Hyun dan Ji Hyun yang lebih dulu masuk ke dalam.

“Eun Soo-ya, jaga istriku baik-baik.” Teriak Yongguk mengingatkan.

“Yak hyung! Kau pikir mereka akan kemana? SoHee pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Ayo masuk. Sudah banyak tamu di dalam.” Ajak Jongup.

“Yongjae-ssi, Junhong-ah, kalian juga harus bersiap, kan? Ayo.” Ujar Himchan kemudian. Menyusul temannya yang lain, yang sudah masuk lebih dulu.

Acara dibuka oleh Eun Soo. Sejak lulus kuliah, dia bergabung dengan project baru Yongguk yang di ketuai kakaknya, Kim Himchan. Dan kini, project itu akan segera diresmikan. “Sambutan selanjutnya, kita persilahkan kepada CEO kita, Bang Yongguk.” Ujar Eun Soo yang mendapat tepuk tangan dari beberapa tamu.

“Terima kasih untuk para tamu yang sudah datang. Terima kasih untuk para investor yang sudah bersedia bergabung dengan project ini. Untuk Appa yang sudah mempercayakan project ini padaku. Terima kasih juga untuk istriku tercinta, yang tidak pernah lelah memberikan dukungan padaku, juga kepada Jung Company yang telah banyak membantu. Untuk Himchan, Jongup, Yongjae, Junhong, Moo Hyun, Eun Soo, serta seluruh staff yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Akhirnya kita sampai pada saat dimana aku akan meresmikan `BangHee Corporation`. Seperti yang kalian lihat, project kali ini adalah menggabungkan Hotel, Mall, dan Cafe dalam satu area. Saat kalian menginap di Hotel kami, kalian bisa berbelanja dan refreshing di Mall. Atau jika kalian butuh hiburan, cafe kami menyediakan bintang tamu yang berbeda disetiap harinya. Dengan begitu, pengunjung akan merasa nyaman.” Ujar Yongguk panjang lebar.

“Ah ya, aku tidak merencanakan hal ini sebelumnya. Tapi karna aku baru saja mengetahuinya beberapa menit sebelum berangkat kemari, aku tiba-tiba memiliki sebuah ide. Aku akan memberi diskon 100% bagi pelanggan kami yang sedang hamil, karna saat ini, istriku sedang mengandung.” Yongguk menunjuk SoHee yang duduk disamping ayah mertuanya. Beberapa tamu menghampiri mereka dan memberi selamat.

“Baiklah. Untuk acara selanjutnya, kita akan dihibur oleh Yoo Yongjae.” Eun Soo mempersilahkan Yongjae naik ke atas panggung. Namja itu tidak sendiri. Ia menggandeng Shin Ji Hyun bersamanya. Menyanyikan sebuah lagu duet yang sangat terkenal.

Eosaekhagiman han uri cheot mannam
Pertemuan pertama kami sangatlah canggung

Geuraedo nan waenji sirchi anhatji
Tapi untuk beberapa alasan, aku tidak membencinya

Eodiseonga manhi bon deutae neoui yeppeun misoga
Sepertinya aku pernah melihat senyum manismu sebelumnya

Nareul dugeun dugeun dugeun seollege haetji
Kau membuat jantungku berdetak dan bergetar

I yuga eodi isseo joheumyeon geunyang joheun geoji
Apakah ada alasan jika aku menyukaimu? Aku hanya menginginkanmu

Eonjebuteoilkka? ige sarangilkka?
Sejak kapan aku seperti ini? Apakah ini cinta?

Wae jakku neoman bomyeon haengbokhalkka?
Mengapa aku selalu bahagia ketika aku melihatmu?

Eojjeom geureoke neon da yeppeo binteumeobsi da yeppeo
Bagaimana bisa segala sesuatu darimu menjadi begitu cantik? Segala sesuatu darimu cukup tanpa cacat

Sarang sarang sarang saranghae neoui geu modeun geol
Cinta, cinta, cinta, aku mencintaimu dan semuanya tentangmu

Yoribogo jori tto bwado eodil bwado da yeppeo
Aku melihat disini dan disana, aku melihat ke mana-mana tapi semuanya begitu indah

Nuga mwora haedo naneun ni pyeoniya yeppeuge saranghaja
Tidak peduli apa kata orang, aku disampingmu. Mari membuat cinta yang indah

Urido moreuge balmatchwo geotgo
Tanpa kita sadari, kita berjalan dengan langkah yang sama

Urido moreuge soneul jabatgo
Tanpa kita sadari, kita telah bergandengan tangan

Eodieseo geureon yonggiga nawanneunji nan molla
Aku tidak tau dimana aku mendapat keberanian ini

Neomaneul wihae bulleotdeon naui gobaeksong
Aku menyanyikan lagu pengakuanku hanya untukmu

Kongkkakji ssuieonnabwa jeongmal dandanhi ssuieonnabwa
Aku rasa aku benar benar mengalami cinta buta

Eonjebuteoilkka? ige sarangilkka?
Sejak kapan aku seperti ini? Apakah ini cinta?

Wae jakku neoman bomyeon haengbokhalkka
Mengapa aku terus merasa bahagia ketika melihatmu

Eojjeom geureoke neon da yeppeo binteumeobsi da yeppeo
Bagaimana bisa segala sesuatu darimu menjadi begitu cantik? Segala sesuatu darimu semuanya tanpa cacat

Sarang sarang sarang saranghae neoui geu modeun geol
Cinta, cinta, cinta, aku mencintaimu dan semuanya tentangmu

Yoribogo jori tto bwado eodil bwado da yeppeo
Aku melihat disini dan disana, aku melihat ke mana-mana tapi semuanya begitu indah

Nuga mwora haedo naneun ni pyeoniya yeppeuge saranghaja
Tidak peduli apa kata orang, aku disampingmu. Mari membuat cinta yang indah

Yongjae menggenggam tangan Ji Hyun. Pandangan matanya tak pernah lepas sedetikpun pada dokter cantik yang resmi menjadi kekasihnya sejak dua bulan yang lalu.

Shin Ji Hyun. Gadis yang tidak pernah lelah menunggu cintanya.

Shin Ji Hyun. Gadis yang selalu sabar menunggu Yongjae untuk membalas cintanya.

Shin Ji Hyun. Gadis yang tidak beda jauh dengan dirinya. Yongjae melihat dirinya dalam mata Ji Hyun, seperti apa yang gadis itu rasakan pada Yongjae sejak mereka pertama kali bertemu.

Kau tau bagaimana sakitnya menunggu? Menunggu seseorang yang bahkan tidak perduli dengan perasaan kita? Yongjae tau bagaimana sakitnya… Karna itu, ia memberi Ji Hyun kesempatan itu. Dan ternyata… Ia jatuh cinta.

Moo Hyun menatap Yongjae. Ia merasa bahagia, sangat bahagia, melihat sahabatnya bahagia. Setidaknya tidak akan ada lagi orang yang terluka karna cinta.

“Ehem.” Himchan yang duduk disamping Moo Hyun berdehem saat menyadari wanitanya terus menatap Yongjae.

“Moo Hyun-ah, bisakah kau ikut denganku sebentar?” Ajak Himchan. Namja itu berdiri meninggalkan ruang VIP, di ikuti Moo Hyun dibelakangnya.

“Ada apa?” Tanya gadis itu polos.

“Maukah kau menikah denganku?”

Moo Hyun membuka mulutnya lebar mendengar ucapan Himchan, apalgi saat namja itu mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin.

“Kita sudah melewati banyak hal. Susah, senang, sedih, bahagia, menyenangkan. Selama itu juga kau selalu ada disampingku, melengkapi dan menguatkanku. Aku ingin selalu seperti itu. Jadi, bersediakah kau menjadi bagian dari hidupku?”

Moo Hyun tidak menyangka jika Himchan akan melamarnya seperti ini. Mata Moo Hyun mendadak buram, tertutup cairan bening. “Aku mau.” Ucapnya tertahan. Bibirnya bergetar. Moo Hyun bahagia. Sangat bahagia. Himchan tersenyum. Ia maju selangkah lalu menarik Moo Hyun ke dalam pelukannya. “Aku mencintaimu.”

“Woaahh romantis sekali.” Suara Eun Soo tiba-tiba terdengar.

“Hei! Sudah ku katakan jangan mengganggu.” Jongup menutup mulut Eun Soo dan coba membawa gadis itu pergi.

“Jongupie! Kapan kau akan melamarku?” Rengek Eun Soo.

“Hei! Kau sendiri yang mengatakan ingin konsentrasi pada karir. Kenapa kau sekarang seperti ini?” Balas Jongup.

“Ada apa ini?” Yongguk tiba-tiba muncul sambil memapah SoHee yang terlihat pucat.

“Kau kenapa Hee-ya?” Moo Hyun menghampiri SoHee dan memeriksa keadaannya.

“Perutku terasa mual.” Keluh gadis itu.

“Itu hal biasa bagi wanita yang hamil muda.” Sahut Ji Hyun. Semuanya menoleh ketika gadis itu datang bersama Yongjae.

“Hei, jika kau disini, siapa yang ada di dalam?” Tanya Himchan kebingungan.

“Sekarang waktunya Junhong untuk beraksi.” Timpal Yongjae. Ia berjalan mendekati Yongguk. “Selamat untuk projectmu dan atas kehamilan SoHee. Kau pasti sangat bahagia.” Lanjutnya. Yongguk mengangguk mengiyakan. Yongguk juga berterima kasih karna Yongjae sudah bersedia datang.

“Kalian disini ternyata.” Daehyun dan Gi Yun muncul dari balik pintu.

“Maaf, kami tidak bisa berlama-lama berada disini. Ayah mertua baru saja menelfon dan mengatakan jika Hyun Ra menangis. Jadi kami harus segera kembali.” Ujar Daehyun.

“Gukie-ya, Hee-ya, sesekali mainlah ke rumah. Kalian sudah lama tidak mampir. Oh ya, yang lain juga boleh. Kita sudah lama tidak berkumpul bersama. Aku mengundang kalian ke rumah. Tentukan tanggal dan jam yang tepat. Aku akan menjamu kalian.” Tambah Gi Yun mengapit lengan Daehyun dan pamit pergi.

“Hei lihat. Turun salju.” Eun Soo menunjuk butiran-butiran putih yang perlahan turun dari luar. Ia menarik tangan Jongup agar mendekat ke jendela.

“Woah indah sekali.” Puji SoHee, gadis yang terkenal sangat menggilai salju dan hujan itu menghentakkan kakinya berkali-kali. Yongguk mendekat, memeluk SoHee dari belakang. “Sayang, ingat kandunganmu.” Bisiknya ditelinga SoHee.

Himchan tak mau kalah, ia menarik pinggang ramping Moo Hyun agar mendekat ke arahnya. Moo Hyun-pun melingkarkan tangannya dipinggang Himchan.

Ji Hyun menyandarkan kepalanya dipundak Yongjae, sementara tangan pria itu juga menggantung dibahu Ji Hyun. Mendekapnya hangat. Mereka terlihat bahagia dengan pasangan masing-masing.

Seberapa rapuh dan menyakitkannya cinta yang tak terbalaskan? Pada akhirnya semua akan menemukan jalan untuk kembali pulang. Pulang ke masing-masing pemilik hati yang memang telah Tuhan atur untuknya.

END

@milanistred

20 Komentar

  1. subuh subuh baca ginian, biking meleleh sendiri. Sukaaaaaa❤ ditunggu selanjutnya eonni :3

  2. Horee happy ending!!

    Tuh cewek yg namanya shin jihyun pasti cakep banget. Hehe^^

    Kasian junhong ga ada pasangannya. Hong-ah, mau noona temenin ga? *dijewer youngjae

    Eonni, entah kenapa kyk nya banghee moment kurang di sini. Gimana kalo dibikin epilogue ttg mereka?

    Fighting^^

  3. Naya

    Yaaaaaaah End!! T_T
    Tapi, huuuwaaaaaaah!! Happy ending :3
    Semua ketemu pasangan masing2.. kecuali Zelo(akibat masih kali ya :D)
    Kasian Youngjae malang bgt hatinya…tapi syukurlah ada pengganti Moohyun..
    BangHee selamat atas kehamilannya… :3

    I love❤ JongSoo
    I love❤ BangHee
    I love❤ semua couple😀

    Buat @milanistred di tunggu post FF lainnya…
    Fighting!!!!

    • Naya

      (Ralat) Semua sudah punya pasangan, kecuali Zelo *akibat masih kecil kali yaa*

  4. Ira

    ah aku masih ketagihan sama ceritanya,
    meskipun udah dapet pasangan, tapikan mreka baru mau mulai, apalagi babyh zelo blm dapet pasangan,, jadi gmana kalo ada sequel? *naiknaikinalis
    di tunggu lah kalo ada sequelnya,

  5. Wuaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh >.< Betty ngga bisa ngomong apa2 lagi. Di sini semuanya sempurna (y).
    Bener dugaan aku eon, itu pasti Yonggukkie Appa, eh tapi eonnie nyampein itu dengan baik. Ngga terburu2 dan tetep ngebuat penasaran🙂.
    Seneng banget eonnie udah ngubah sifat Himchannie Oppa, jadi ngga benci dia lagi deh di FF ini😀 /eh aslinya aku ngga pernah benci Oppa loh ya? Haha!
    Buat Youngjae Oppa juga akhirnya dia nemuin cintanya :)…
    Daehyunnie Oppa dengan Gi Yun dan Hyunranya… Itu bener2 ngebuat terharu :').
    Jonguppie Oppa dengan Eunsoonya, entah kenapa aku malah ketawa mulu liat bagian mereka😀. Mereka pasangan yang unyu :3.
    Yah, walopun Junhongie Oppa ngga dapetin sapa2, gapapa… Oppa masih muda juga😉.
    Dan yang terakhir… Pastinya BangHee Couple! Aaaauuuuhhhh di sini, adegan2 mereka manisnya ngga ketulungan! Paling suka sih bagian akhirnya… Pas appa meluk dari belakang🙂 aku udah bilang kan eon? Adegan paling aku suka itu pelukan😀. Oke kissing itu sweet, cuma… Pelukan itu menurut aku lebih dari itu. Romantis, iya dan sekaligus kehangatan itu eon. Aku suka (y).
    Gila! Ngga ada cacat di FF ini. Aku puas sama endingnya eon… Mereka semua… Bahagia.
    Semoga Betty juga bisa, yang udah 3 taun mengagumi seseorang, dan di abaikan haha /malah curhat.
    Love u eonnie~
    BETTY.

  6. End…? yah eonnie…
    sumpah gak tau mau coment apa… ni ff buat ketagihan.. sequel donk eon.. atu part aja…

  7. waw romantis’a sampe senyum” sendiri pas baca yah walu ada sedih”nya tapi akhirnya bahagia sama pasangannya sendiri”🙂
    dan pada akhirnya tidak ada yang tersakiti karna semuanya bahagia🙂

  8. resti

    Selamat menempuh hidup baru BangHee,,,
    Ups,,, dah mamu punya momongan,,,
    Moga menjadi keluarga yg harmonis sampe maut memisahkan,,,,,

    (◦ˆ▽ˆ◦)

  9. and yang bahagia🙂
    feelnya dapet ikut senang jg bc nya ngak nyangka Yongguk jadian ma hee

  10. tia widhiarti

    HorEeee happy ending…ga nyangka diwaktu yang singkat yongguk udah nikahin sohee hehehe…dan akhirnya youngjae menemukan pasangannya…daebak..

    Ditunggu ff barunya

  11. whaaa keren bangettt (y) BangHee couple i love it :*
    jelo kemanain thor buat yg sama gue dong kkkk

    DAEBAK buat ff nya ^^

  12. dhika

    akhir’a banghee bersatu…sweet bgt cerita’a…sempat kasian sama yongjae tpi untung’a di akhir dpt pasangan jga…

  13. @kapin: next ngelanjutin `Forbidden Love` yah say🙂

    @tan: jadi maksudnya kamu sedang memuji dirimu sendiri hah😀 sengaja ga pamer kemesraan BangHee😛

    @Naya: iye, msih kecil, lagian gada yg mau jadi pacar jelo😀

    @Ira: pengen bikin cerita full BangHee moment, tapi takut couple yang laen iri hahaha😀

    @Betty: kamu uda ngomong segitu banyak sayang😀 masih bilang gatau harus ngomong apa? Unni ngakak baca koment kamu tauk😀

    @winda: ntr sinetron tetangga sebelah kalah lagi😀

    @park: mau bikin yongjae menderita itu ga tega😦

    @resti: huahaha mkasih loh ucapannya😀

    @smille: karna bagaimanapun halangannya yongguk akan selalu berakhir dengan sohee😀

    @tia: aku ga kuat kl nunggu lama2, jdi buruan nikah aja😀

    @fay: serius? Kl iya bisa hubungi twitterku😉

    @dhika: karna BangHee itu nyata hahahahah😀

  14. Song_Hyora

    HUAHHHHHHH!!
    Neomu johaaa…
    ff nya bagus, thor..
    happy ending pulak🙂

    Akhirnya ada Jung Little jugak..
    hehe

    Kutunggu ff mu yang lain, thor
    hwaiting…

  15. Gita Sri Rahayu

    akhhhh… endingnya yang memuaskan🙂
    akhirnya semuanya bisa bahagia

  16. Ah bener” kehabisan kata kata ^^ keren beneran..

  17. mrs.ChoKyuPil

    hidup BangHee !!!
    happy ending akhirnya…
    kangen sama BangHee,bikin after storynya dong klo bisa…hehe

  18. Cho Nita

    Mau ninggalin jejak…😀
    uwwaahh.. Keren endingnya… Sweet banget deh pokoknya…🙂
    ditunggu karya selanjutnya thor, keep writing…🙂

  19. ManTappppp

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: