AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

Wish You Were Here


Bang Yong Guk as Jepp Adriano

Bang Yong Guk as Jepp Adriano

Min Hyo Sung as Jung So Hee

Min Hyo Sung as Jung So Hee

Pria berperawakan tinggi tegap itu berjalan menunduk sepanjang lorong. Tas ransel tergantung di punggungnya yang lebar. Sesekali tangan kanannya mengacak kasar rambutnya yang hitam pekat. Wajahnya yang tirus terlihat berkeringat, dan deru nafasnya terdengar dalam. Kentara sekali jika pria itu sedang khawatir.

Jepp, pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu apartemen. Bibir tebal dan garis hidungnya yang menonjol beberapa centi mengeluarkan kepulan asap saat Jepp membuang karbon dioksida dari dalam paru-parunya. Beberapa saat kemudian ia begumam, “Dia pasti sudah ada di rumah, kan?”.

Jepp mulai menekan nomor pin apartemennya dan melangkah masuk dengan penuh harap. Mata elangnya menelusuri tiap sudut ruang tamu, berharap menemukan sosok yang selalu bisa membuat hatinya membuncah. Jepp tertunduk lesu saat ia hanya mendapati ruangan itu kosong melompong tak berpenghuni.

Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari arah dapur. Jepp segera mendekati ruangan itu untuk memeriksa. Dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati wanitanya sedang bergelut dengan beberapa bahan makanan dan peralatan dapur. Jung So Hee, wanita itu berdiri membelakangi Jepp dengan rambut emasnya yang di kuncir kuda. Tingginya yang semampai serta kulit seputih susu semakin membuat So Hee terlihat seperti boneka. Kemeja putih milik Jepp yang melekat di tubuh rampingnya terlihat sedikit kebesaran.

So Hee terlihat panik dengan pisau ditangannya dan kompor yang masih menyala. Sedangkan wajan yang ada di depannya sudah mengepulkan asap. Mata kucingnya berpindah dari majalah ke atas wajan secara bergantian. Kedua alisnya yang berbentuk bulan sabit saling beradu ketika melihat hasil karyanya yang nampak aneh di atas wajan. So Hee menggigit bibir bawahnya yang tipis sebelum kemudian berkomat-kamit tidak jelas.

“Hai.” Sapa Jepp sedikit kaku. Pria itu tidak menyangka jika wanita yang sudah memenuhi otak, pikiran, dan hatinya itu ternyata sudah berdiri di dapur.

“Kau mengejutkanku! Bagaimana kau bisa tiba-tiba muncul seperti itu?” Ujar SoHee kaget. Ia berbalik dan menatap Jepp yang berdiri tidak jauh darinya. Pandangan mereka beradu selama beberapa detik sebelum So Hee kembali mengayunkan spatulanya di atas wajan.

“Harusnya aku yang mengatakan hal itu karna kau pulang lebih cepat.” Balas Jepp dengan tersenyum, menampilkan deretan gigi putih dan gusinya yang bersih. Sinar matanya juga menyorotkan rasa kelegaan.

“Maaf, ini jadi sedikit berantakan. Tapi aku akan segera membereskannya. Kau lapar, bukan? Mandilah, lalu kita makan malam bersama.” Perintah So Hee sambil mematikan kompor.

Bukannya menuruti perintah istrinya, Jepp malah melangkahkan kaki mendekati So Hee dan memeluknya dari belakang. “Aku merindukanmu.” Lirih Jepp.

“Aku juga. Tapi sekarang aku harus menyelesaikan masakanku. Atau kali ini kita akan memesan makanan lagi. Kau tau aku tidak pandai memasak, jangan menambah kebodohanku dengan terus mengganggu usahaku untuk memasak makan malam kita.” So Hee meronta coba melepaskan diri dari pelukan Jepp. Pria itu kemudian melonggarkan pelukannya dan menatap tajam kedua manik mata So Hee seolah-olah mengintimidasi wanita itu agar tunduk kepadanya.

“Sepanjang hari ini aku selalu memikirkanmu.” Jepp mulai melancarkan rayuan mautnya.

“Hanya sepanjang hari ini?” So Hee membalikkan tubuh sambil mengerucutkan bibirnya, cemberut.

“Sepanjang hari, setiap saat, bahkan saat aku sedang bersamamu seperti saat ini.” Jepp meraih tangan So Hee lalu menciumnya. Membuat sepasang pipi apel wanita itu memerah semerah tomat yang baru saja di iris-irisnya.

So Hee melingkarkan tangannya dan bergelantung manja di leher jenjang Jepp. “Biarkan aku memandangi wajahmu.” Ucapnya lalu mulai memandang wajah Jepp dengan seksama. “Hmm.. Wajah ini kenapa begitu tampan? Seingatku dulu masih sering di tekuk ke dalam seperti anak kecil. Tapi lihat sekarang, lebih dewasa dan semakin tampan.” Lanjutnya.

Jepp melepas tangan So Hee yang menggantung di lehernya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. “Sudah lama aku tidak memelukmu seperti ini.” Lirih Jepp pelan di telinga So Hee yang mengangguk setuju. So Hee semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang Jepp dan tersenyum di balik pelukan pria itu. Namun tak lama So Hee mendorong tubuh lengket Jepp ke kamar.

“Kau berkeringat dan bau. Mandilah. Setelah itu kita akan makan malam.” Perintah So Hee sambil menggantungkan handuk di leher suaminya. Sementara pria itu mandi, So Hee menyajikan beberapa makanan yang tadi di masaknya.

“Aaaa…” So Hee menyodorkan sesumpit bulgogi ke dalam mulut Jepp beberapa menit setelah pria itu keluar dari kamar mandi dan langsung menuju meja makan. So Hee hanya bisa menggelengkan kepala saat Jepp menolak untuk mengganti pakaiannya. Pria itu mengatakan jika ia lebih nyaman memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan saat di rumah. Atau sebenarnya Jepp hanya ingin memamerkan perut kotak dan otot lengannya yang terlihat seperti akar pohon beringin itu pada So Hee? Lirikan mata nakalnya tak pernah lepas dari So Hee. Bahkan Jepp sepertinya enggan berkedip saat dengan sabar So Hee menyuapinya.

“Katakan itu enak meskipun rasanya buruk.” Gurau So Hee.

“Mmm… Ini enak, sungguh.” Balas Jepp santai namun serius. Tangannya meraih sumpit yang ada di tangan So Hee kemudian kembali memasukan sesumpit bulgogi ke dalam mulutnya.

“Benarkah?” Mata kucing So Hee melebar mendengar pujian Jepp. Sedangkan pria itu hanya mengangguk dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

Setelah menghabiskan makanannya, Jepp meletakan sumpit lalu menarik tangan So Hee ke dalam genggamannya. “Bisakah kau tidak menjadi bintang? Jadilah istriku saja. Sepenuhnya.” Pinta Jepp pelan namun tegas.

Diam, hening, saat sepasang mata kedua sejoli itu saling bertemu. Sudah lama Jepp ingin mengatakan hal ini. Hanya saja lidahnya selalu keluh saat melihat So Hee begitu bersinar di depan kamera.

“Aku ingin menemukanmu disini setiap kali aku pulang. Aku selalu ingin melihatmu ada dalam jangkauan mataku. Melihat sinar wajahmu sebelum sinar mentari mengganggu tidurku dan menjadi penerang saat gelap memelukku. Aku juga ingin menjadi orang pertama yang kau cari setiap kali kau merasa buruk dan butuh sandaran. Tidak bisakah?” Jepp berlutut dihadap So Hee hingga wanita itu membuka mulutnya lebar, terpaku. Sama sekali tidak berani menatap mata Jepp yang terus menatapnya intens.

“Sejujurnya. Hari ini adalah pemotretan terakhirku. Karena itu aku bisa pulang cepat. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia modeling, karena…..” So Hee menggantung kata-katanya.

“Apa sesuatu yang buruk sudah terjadi?” Tanya Jepp panik. Harusnya ia senang, bukan? Istrinya memutuskan untuk mengundurkan diri dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Namun kenapa Jepp malah merasa bersalah? Jepp sedikit terkejut dengan keputusan So Hee.

“Aku hamil.” Ujar So Hee serius. Dua kata yang meluncur dari bibir So Hee mampu membuat Jepp menelan ludahnya dengan susah payah. Meski So Hee tidak mengatakan hal itu dengan berteriak hingga melumpuhkan semua saraf otak dan panca inderanya, tapi ucapan pelan dan penuh perasaan yang di ucapkan So Hee itu mampu membekukan tubuh Jepp.

“Jadi mulai saat ini, aku yang memohon padamu. Jadilah ayah yang baik untuk calon anakmu dan suami yang siaga untukku. Aku pasti akan sering merepotkanmu.” So Hee menunduk. Jantungnya bertalu cepat menanti jawaban Jepp.

“Tentu. Tentu saja aku akan selalu ada di sampingmu, di sisimu. Bahkan tanpa kau minta-pun aku pasti akan melakukannya untukmu. Demi keluarga kecil kita.” Jepp menarik napas dalam lantas menghembuskannya perlahan. Rasanya bahagia sekali. Jantungnya berdetak tidak normal sementara darahnya berdesir, mengalirkan sensasi hangat saat ia menatap manik mata So Hee yang menjadi favoritnya.

So Hee memberikan senyum terbaiknya pada Jepp. Pria yang menjadi candunya itu adalah pria yang selama ini tidak pernah lelah mendampinginya, menjaganya, dan mencintainya. Jepp Adriano dan Jung So Hee, selamanya akan selalu seperti itu.

4 Komentar

  1. Naya

    Ini bagus sekali!! Sweet ßӚπğε̲τ!
    Q mbayangin, q menghayati(aku malu)

    Ceritanya bagus kak..
    Semangat selalu buat kakak..

  2. resti

    Bagus mb’ astred ceritanya,,,, slalu g’ sabar nungguin postingan ffnya mb’ astred,,,

    (◦ˆ▽ˆ◦)

  3. yura

    bagus bgt sosweet :3 ditunggu ff yongguk-sohee lagi kak. Aku penggemar ff mu loh kak/huk xDD Keep writing kak.

    • ↑↑ ini anak ilang kemana coba😄 aku bahkan lupa kalo pernah nulis ini :3 kalo ga salah ini tantangan dari @KampusFiksi untuk #DeskripsiFisik😀

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: