AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

SECRET Part 2


Author: Bangster1004

Cast:
Jung So Hee as Dokter Jung So Hee (OC)
Leeteuk as Detektif Park Jung Soo
Eunhyuk as Assisten Detektif Lee Hyuk Jae
Siwon as Kepala Polisi Choi Siwon
Lee Donghae as Donghae
Kim Yeong Woon as Kangin

Genre: Gore

Length: Two shots

Rating: M, A, NC-21

Happy Reading..

Cerita Sebelumnya…

“Pak, malam ini aku sangat bahagia. Karna aku akan menghabiskan malam ini bersama orang yang sangat ku cintai. Dan sepertinya dia juga benar-benar mencintaiku, jika dia tidak mencintaiku, tidak mungkin ia rela meninggalkan sua-” Hyuk Jae tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya karna So Hee telah lebih dulu membungkam mulut Hyuk Jae dengan ciuman. Perlahan So Hee merampas ponsel Hyuk Jae dan melemparnya ke lantai hingga ponsel itu hancur menjadi beberapa bagian.

“Bukankah ini yang kau inginkan?” Teriak So Hee sesaat setelah ia melepaskan ciumannya.

“Kau benar-benar membuatku terlihat seperti wanita murahan. Apa ini yang kau sebut cinta? Ini bukan cinta. Ini hanya obsesimu!!” So Hee kembali memukul dada Hyuk Jae dan menangis sejadinya.

So Hee malu, menyesal juga merasa berdosa pada Jung Soo atas perlakuan kasarnya selama ini. So Hee teringat akan kejadian naas yang terjadi sebulan yang lalu.

*FLASHBACK*
“Oppa, kau dimana? Bisakah kau menjemput Jung Woo pulang sekolah? Aku tidak tau jika seminarnya akan selama ini.” So Hee menelfon Jung Soo sambil melihat jam yang melingkar di tangannya. Saat itu So Hee sedang mengikuti seminar dan pameran alat-alat kedokteran di sebuah hotel.

“Aku? Ah baiklah. Aku akan menjemput Jung Woo setelah menyelesaikan semuanya.” Balas Jung Soo.

“Baiklah. Teman-temannya pasti iri melihat Jung Woo dijemput ayahnya yang gagah ini.” Goda So Hee sebelum mengakhiri panggilan telfonnya. So Hee menghembuskan nafas lega, setidaknya ia tidak perlu khawatir lagi sekarang.

So Hee melangkahkan kaki ke toilet. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang namja yang di kenalnya masuk ke hotel bersama seorang gadis yang sedang dalam keadaan mabuk. So Hee membatalkan niatnya ke toilet dan memilih mengikuti kedua orang itu. Mata So Hee melebar saat keduanya masuk ke dalam kamar Hotel.

So Hee melangkah mendekati kamar tersebut yang ternyata tidak tertutup rapat. Dari celah-celah kamar itu So Hee melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Yah So Hee melihat gadis mabuk itu mencium suaminya, Jung Soo. Namja yang baru beberapa menit yang lalu ia telfon ternyata kini sedang berada di kamar Hotel bersama gadis lain.

Tanpa pikir panjang lagi So Hee pergi meninggalkan Hotel dengan perasaan kacau. Tidak memperdulikan lagi apa itu seminar atau pameran. Yang ada di pikiran So Hee saat ini hanya Jung Woo, putranya. Mungkin kini Jung Woo sedang menunggunya sendirian.

So Hee meng-gas mobilnya dengan kekuatan penuh agar segera sampai di sekolah Jung Woo. So Hee menghapus air matanya dan mencoba terlihat kuat meski tangan dan tubuhnya masih gemetar. So Hee hanya tidak ingin menangis di depan putranya. So Hee tidak ingin terlihat lemah di depan Jung Woo.

So Hee menghentikan mobilnya di sebrang jalan. Dari dalam mobil So Hee melihat putra kecilnya menunggu sendirian. Dengan senyum yang sedikit di paksakan So Hee keluar dari mobil.

“Jung Woo-ah.” Teriak So Hee sambil melambaikan tangan ke arah putranya. Semua rasa sakit dihati mendadak hilang ketika anak kecil itu tersenyum tulus ke arah So Hee dan membalas lambaian tangannya.

“Diam saja disitu. Eomma akan menghampirimu.” Teriaknya lagi dari sebrang jalan.

Sesampainya di tempat Jung Woo menunggu, So Hee segera memeluk Jung Woo dan menggendong putra kesayangannya itu. “Apa kau sudah lama menunggu Eomma?” Tanyanya.

“Yah. Sangat sangat lama. Aku takut sendirian Eomma.” Ujar Jung Woo dari bibir mungilnya. Dengan gemas So Hee mencium pipi Jung Woo dan berkata, “Maaf. Eomma tidak akan melakukannya lagi. Eomma tidak akan meninggalkanmu sendirian.”

Saat mereka menyebrang jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan penuh dan menabrak keduanya. So Hee dan Jung Woo terpental. Darah segar mengalir di kepala keduanya. So Hee yang masih memiliki sisa-sisa kesadaran melihat wajah sang pengendara mobil yang menabraknya. So Hee mengenali sosok itu yang ternyata adalah Kangin -bandar Narkoba yang menjadi Big Bos Donghae dan seorang pembunuh yang saat ini kasusnya sedang ditangani Jung Soo- tersenyum sinis ke arahnya. So Hee memanggil-manggil nama Jung Woo yang tergeletak tak jauh darinya. So Hee coba meraih tangan Jung Woo sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran dan semuanya menjadi gelap.
*FLASHBACK END*

Hyuk Jae mendorong tubuh So Hee dan menindihnya. “Maaf.” Lirihnya.

“Tidak. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau berani sedikit saja menyakiti Jung Soo. Aku tidak akan membiarkan nasib Jung Soo sama seperti Donghae.” Gertak So Hee. Yeoja itu coba melakukan perlawanan sebisa mungkin.

“Kalau begitu, angkat telfonku saat aku menghubungimu. Aku merindukanmu setiap menit, bahkan setiap detik. Jantungku terasa berdetak kencang saat mendengar nafas dan suaramu yang bergetar. Dibawah lampu jalanan yang mati di depan rumahmu, aku mengawasimu. Aku melihatmu dari celah cendela. Kau tidak tidur sekamar dengan pria itu kan? Jangan berbohong padaku. Aku tau semua tentangmu. Kau masih mencintaiku. Kau tidak bisa jauh dariku.” Ujar Hyuk Jae sambil menyilah rambut So Hee yang berantakan.

“Kau tidak bisa mencintai orang lain selain aku. Coba saja jika kau bisa. Dimanapun kau berada, aku seakan bisa melihatmu. Aku mengetahui hatimu lebih dari siapapun. Apa semua yang ku katakan itu salah? Hmm.. Coba lihat aku dan katakan tidak..” Hyuk Jae menyentuh tiap centi wajah So Hee. Menghapus air mata So Hee yang jatuh sejak tadi.

“Tidak. Hentikan. Aku mohon. Aku benar-benar merasa tidak bisa bernafas. Ini sangat melelahkan. Bagaimana kau bisa bertindak sejauh ini?” Ujar So Hee putus asa.

“Kau bohong. Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Apa kau lupa? Ini adalah seribu hari sejak kita bertemu dan memutuskan berkencan. Aku bahkan sudah menyiapkan hadiah untukmu. Aku sering duduk di tempat kenangan kita dan menunggumu datang dengan senyuman. Jangan katakan aku terobsesi. Jangan katakan aku gila. Kau bahkan tidak tau hatiku.” Pandangan Hyuk Jae kembali tajam. Matanya merah, tatapannya penuh amarah.

“Lepaskan aku. Ini bukan cinta jika kau hanya menyakitiku seperti ini. Aku memang mencintaimu, tapi bukan sekarang.” So Hee mendorong tubuh Hyuk Jae dengan keras. Yeoja itu lalu memakai jas putih kebesarannya dan bergegas pergi meninggalkan kediaman Hyuk Jae.

“Jika kau pergi, aku akan membunuh pria itu.” So Hee menghentikan langkahnya saat mendengar ancaman Hyuk Jae.

“Sebelum kau membunuh suamiku, aku yang akan terlebih dulu membunuhmu.” Ujar So Hee dengan suara bergetar. Sedetik kemudian yeoja itu berlari pergi.

*****

Jung Soo berjalan mondar mandir di depan monitor sambil mengawasi satu persatu benda kotak yang terjajar rapi di hadapannya itu. Jung Soo berpikir, mungkin dengan melakukan hal itu, ia akan segera menemukan sosok yang beberapa hari ini sudah membuatnya tidak enak makan dan tidak bisa tidur dengan baik, So Hee.

“Siwon-ah, apa So Hee tidak menghubungimu? Selain kau dan Hyuk Jae, siapa lagi temannya? Aku benar-benar khawatir. Aku sudah mencarinya kemanapun, ke tempat yang mungkin di datanginya.” Jung Soo terlihat benar-benar panik karena tak juga menemukan keberadaan So Hee. Hingga tatapan matanya beralih pada ponselnya yang berdering dan menampilkan nama So Hee sana.

“Chagi-ya kau dimana? Kenapa tidak segera menghubungiku? Apa kau tau? Aku hampir mati menunggu kabar darimu. Sekarang katakan padaku kau dimana? Aku akan menjemputmu.” Cecar Jung Soo yang membuat Siwon dan Hyuk Jae yang berada di dekatnya menghentikan aktifitasnya sejenak dan berfokus pada Jung Soo.

“Hahahaha sepertinya kau panik sekali.” Jawab suara di ujung telfon yang membuat Jung Soo menarik ponselnya dan melihat kembali nama yang tertera disana.

“Bukannya ini ponsel Jung So Hee? Apa kau menemukan ponsel ini?” Tanya Jung Soo penasaran.

“Apa kau tidak bisa mengenali suaraku? Sepertinya kita sudah terlalu lama tidak saling bicara hingga kau melupakan suaraku. Bagaimana jika kita bertemu sekarang. Bawa serta berkas kasus perkaraku yang sedang kau tangani saat ini dan datang ke tempat yang sudah ku tentukan, yang akan ku kirimkan lewat pesan setelah ini. Kau harus datang sendiri jika tidak ingin istrimu yang cantik ini mati sia-sia.” Ancam sang penelfon yang tak lain adalah Kangin. Wajah Jung Soo mendadak pucat. Jung Soo lalu menatap Siwon dan Hyuk Jae yang ada di depannya secara bergantian, yang seolah bertanya, “Apa yang sedang terjadi?” Padanya.

Jung Soo mengemasi meja kerjanya serta membawa beberapa berkas yang di minta Kangin. Jung Soo mengatakan pada Siwon dan Hyuk Jae untuk pulang lebih cepat karna ternyata So Hee sudah menunggu dirumah. Sayangnya Jung Soo bukanlah namja yang pandai berbohong. Hingga tanpa bertanya-pun Siwon dan Hyuk Jae tau jika Jung Soo sedang menyembunyikan sesuatu.

“Hyukie-ya, bisakah kau mengikuti Jung Soo hyung?” Perintah Siwon yang langsung mendapat anggukan dari Hyuk Jae. Sebenarnya, tanpa Siwon minta-pun Hyuk Jae akan melakukan hal itu. Bukan khawatir pada apa yang di sembunyikan Jung Soo, tapi Hyuk Jae ingin tau dimana keberadaan So Hee sejak gadis itu pulang dari rumahnya beberapa hari yang lalu.

Jung Soo terlihat berkonsentrasi penuh pada tiap jalan yang di lewatinya hingga ia tidak sadar ada yang mengikutinya di belakang. Sejak Jung Soo melihat foto yang Kangin kirimkan beberapa menit yang lalu. Jung Soo merasa frustasi saat melihat So Hee dengan kondisi lemah dengan mulut yang tertutup lakban. Jung Soo menyesal. Sangat menyesal karna tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Cukup Jung Woo, putra satu-satunya, yang menjadi separuh jiwa Jung Soo menjadi korban kesadisan Kangin. Tidak lagi So Hee yang menjadi separuh jiwanya yang lain. Jung Soo tidak akan bisa hidup lagi jika So Hee juga tiba-tiba menghilang dari hidupnya. Bahkan hanya membayangkannya saja Jung Soo takut.

Jung Soo menghentikan mobilnya tepat di sebuah bangunan tua. Bangunan yang tak terurus tempat dimana ada beberapa alat berat yang tak terpakai lagi. Jung Soo menelfon ponsel So Hee dan beberapa detik kemudian terdengar suara Kangin.

“Aku sudah sampai. Kau dimana?” Tanya Jung Soo.

“Sebentar lagi akan ada seseorang yang menghampirimu. Kau hanya perlu mengikutinya.” Ujar Kangin sebelum ia mengakhiri panggilan telfonnya.

Dan seperti yang sudah Kangin katakan, seorang namja berpakaian hitam menghampiri Jung Soo dan meminta namja itu untuk mengikutinya.

Hyuk Jae yang datang sedikit terlambat masih sempat melihat siluet Jung Soo sebelum pria itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Secara perlahan dan mengendap-endap Hyuk Jae menyusuri tempat yang bisa disebut gudang itu. Di tempat lain seorang namja berperawakan cukup besar tersenyum sinis saat menatap kamera cctv dan menemukan Hyuk Jae sedang menyelinap ke daerah kekuasaannya. “Ah, sepertinya ini akan menjadi tontonan yang menarik.” Gumamnya pelan.

*****

Jung Soo mengerjapkan mata beberapa kali. Coba mengumpulkan nyawanya. Matanya berputar mengamati ruangan yang di dominasi warna putih hingga pandangannya tertuju pada cairan putih yang menggantung di sisi kanannya. Cairan itu tersambung selang kecil yang menjuntai hingga tangannya. Jung Soo menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut dan dililit perban. Jung Soo coba mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya hingga ia terdampar di tempat yang biasa di sebut banyak orang sebagai Rumah Sakit.

Samar-samar Jung Soo melihat punggung seorang yeoja. Di lihat dari lekuk tubuh dan seragam putih yang di pakainya, Jung Soo bisa menebak jika itu So Hee, istrinya yang sedang mengganti bunga dan meletakkannya di sisi cendela. Seutas senyum terukir di bibir Jung Soo saat melihat So Hee mencium bunga mawar putih kesukaannya. Namja itu coba memutar kembali ingatannya pada kejadian dimana saat ia di pukuli anak buah Kangin hingga kehilangan kesadaran.

*FLASHBACK*
“Berikan padaku berkasnya. Kasusku yang kini sedang kau tangani.” Perintah Kangin pada namja berjas hitam rapi yang baru saja datang menghadapnya, Jung Soo. Namja itu nampak menahan amarahnya ketika mendapati So Hee sedang di ikat dengan mulut tertutup lakban.

“Lepaskan dulu istriku.” Perintah Jung Soo tak mau kalah. Mendengar ancaman Jung Soo, Kangin malah menjambak rambut panjang So Hee yang berwarna hitam pekat. Yeoja itu meringis kesakitan, sedetik kemudian air matanya jatuh tanpa perintah. Dan Jung Soo tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Jung Soo tidak suka melihat So Hee menangis karnanya. Jung Soo tidak ingin lagi kehilangan separuh jiwanya.

Jung Soo melempar koper hitam berisi berkas perkara yang di minta Kangin ke lantai, sedetik kemudian Jung Soo menindih koper itu dengan kakinya. “Aku tidak akan memaafkanmu jika kau berbohong.” Jung Soo menendang koper hitam itu hingga menyentuh ujung kaki Kangin. Namja itu tersenyum sinis lalu memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa isi koper tersebut. Kangin hanya tidak ingin di bodohi Jung Soo yang terkenal cerdik itu.

“Bakar sampah itu sekarang juga.” Kangin memerintahkan anak buahnya untuk membakar isi koper Jung Soo. Sedangkan namja itu terus berteriak meminta So Hee di lepaskan.

“Tidak akan. Karna kau sudah membohongiku.” Ujar Kangin dengan kata-kata penuh penekanan.

“Membohongimu tentang apa? Aku sudah memberikan semua yang kau inginkan.” Teriak Jung Soo.

“Jangan berteriak padaku.” Bentak Kangin tak kalah keras. Ia lalu memberi tanda kepada anak buahnya yang lain untuk membawa masuk Hyuk Jae yang wajahnya sudah penuh darah akibat pukulan beberapa orang berbaju hitam yang menangkapnya di luar.

“Hyukie-ya!” Jung Soo terlihat panik melihat tubuh Hyuk Jae penuh memar. “Bagaimana kau bisa ada disini?” Lanjutnya.

“Cih! Jangan berpura-pura tidak tau apa-apa. Ini semua pasti sudah kau rencanakan bukan?” Tuduh Kangin.

“Sekarang pukuli dia hingga tubuhnya hancur.” Kangin memerintahkan anak buahnya untuk memukuli Jung Soo. Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, pria-pria bertubuh besar itu memukuli Jung Soo secara bergantian. Tidak hanya memukul, mereka juga menendang, juga menginjak tubuh Jung Soo tanpa ampun.

So Hee tidak bisa berbuat apapun, ia bahkan tidak bisa berteriak karna mulutnya yang masih tertutup lakban. Hanya air matanya saja yang terus jatuh sedari tadi. Dan hal itu tak luput dari pandangan Hyuk Jae. Namja itu tidak perduli jika Jung Soo di pukuli, bahkan jika Jung Soo meninggal, Hyuk Jae mungkin malah bersyukur. Dengan begitu, rencananya untuk hidup bersama So Hee akan semakin mudah. Tapi Hyuk Jae tidak suka melihat So Hee menangis seperti itu, apalagi So Hee menangis bukan untuk dirinya. Melainkan untuk orang lain, dan itu sangat menyakitkan.

Dengan tubuh lemahnya Hyuk Jae berdiri dan mendekati Kangin. Namja itu tetap saja mendekat meski Kangin sudah mengancam akan menembaknya jika Hyuk Jae terus mendekat, namun ancaman itu tetap saja di abaikannya.

“Aku ingin membuat kesepakatan denganmu.” Ujar Hyuk Jae yang membuat Kangin memicingkan satu matanya.

“Kesepakatan?” Ulang Kangin untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.

Hyuk Jae menatap Jung Soo yang sudah terkapar lemah tak sadarkan diri. Namja itu lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Kangin. “Aku mohon lepaskan kami. Maksudku aku dan wanita ini. Aku tidak perduli jika kau mau memukuli atau menghabisi Jung Soo. Aku datang kemari bukan untuk menyelamatkannya. Aku hanya ingin menyelamatkan wanita ini.” Ujar Hyuk Jae yang membuat Kangin juga So Hee menatap tak percaya ke arah Hyuk Jae setelah apa yang baru saja namja itu katakan.

Kangin menatap So Hee yang menggelengkan kepalanya berkali-kali tanda tidak setuju dengan ucapan Hyuk Jae. Kangin terlihat berpikir beberapa saat sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke arah Hyuk Jae. “Aku ingin tau apa alasanmu menginginkan Jung Soo mati?”

“Karna aku mencintai wanita ini.” Jawab Hyuk Jae cepat, singkat, dan tegas. Ia tidak memikirkan dampak dari apa yang baru saja di ucapkannya itu pada kehidupan So Hee selanjutnya.

Kangin membuka mulutnya dan tertawa tanpa suara mendengar jawaban Hyuk Jae. “Jadi ini kisah cinta segitiga yang terselubung? Cukup menarik.” Kangin mengangguk- anggukkan kepalanya dan memberi kode pada anak buahnya untuk melepaskan ikatan So Hee. Menit berikutnya, So Hee meronta, meminta Hyuk Jae untuk melepas genggaman tangannya saat So Hee ingin berlari ke arah suaminya. Hyuk Jae sama sekali tidak membiarkan So Hee mendekati Jung Soo, tidak akan pernah.

“Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran.” Usir Kangin pada Hyuk Jae dan So Hee.

“Kau dengar yang dia katakan? Sebaiknya kita segera pergi dari sini.” Hyuk Jae menarik tangan So Hee dan membawanya pergi meninggalkan tempat sialan yang sudah membuatnya babak belur itu.

“Selamat bersenang-senang.” Ujar Hyuk Jae, tentu saja kalimat itu ia tujukan untuk Kangin dengan tersenyum sinis. Karna yang terjadi berikutnya adalah Siwon datang bersama beberapa mobil polisi yang sudah mengepung gedung tua itu.

“Kau. Brengsek. Kau sudah menipuku. Awas kau. Tunggu pembalasanku” Teriak Kangin sebelum penjahat itu dan anak buahnya kocar kacir berlarian menyelamatkan dirinya masing-masing entah kemana.
*FLASHBACK END*

“Kau sudah sadar hmm?” Sebuah suara terdengar lembut di telinga Jung Soo. Suara yang sudah lama tidak ia dengar keluar dari mulut istrinya. Jung Soo tersenyum lemah. Ia bersyukut tidak terjadi apa-apa pada So Hee, istri yang sangat di cintainya itu. Karna jika sedikit saja So Hee terluka, Jung Soo tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia pasti merasa tidak becus menjadi kepala keluarga.

“Bagaimana dengan Hyuk Jae? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Jung Soo tulus. Namja itu tidak tau apa yang sebenarnya sudah di lakukan assistennya itu padanya.

“Hmm. Dia hanya mengalami luka di beberapa bagian wajahnya saja.” Jawab So Hee malas.

“Lalu bagaimana dengan Kangin? Apa Siwon berhasil menangkapnya?” Tanya Jung Soo lagi. Pertanyaan Jung Soo kali ini sukses membuat So Hee melotot ke arahnya.

“Bagaimana kau masih bisa memikirkan pekerjaanmu di saat seperti ini? Apa kau tidak sadar kondisimu seperti apa? Jika saja Siwon tidak segera datang, mungkin kau sudah……” So Hee tak sanggup melanjutkan ucapannya, karna yang terlihat kini adalah air matanya yang berbicara. Gadis itu menangis, takut, tidak bisa membayangkan jika pria yang ada di hadapannya itu benar-benar pergi dari kehidupannya.

Jung Soo menarik pinggang So Hee dan memluknya. Mengusap punggung yeoja itu untuk sekedar memberi kekuatan. Dengan sentuhan jugalah Jung Soo bisa mengatakan pada istrinya jika dia dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada lagi yang harus di takutkan. Karna setelah ini, setelah keadaannya membaik dan pulih, Jung Soo akan kembali menjadi pria yang lebih hebat. Yang akan melindungi So Hee meski nyawanya yang menjadi taruhan.

Tok.. Tok.. Tok..

Sebuah ketukan di pintu menghentikan aktifitas mereka. Hyuk Jae, lagi-lagi namja itu datang mengganggu sejoli yang mulai menata hatinya kembali.

“Maaf, apa aku mengganggu kalian?” Tanyanya masih dengan berdiri di depan pintu.

“Tidak. Masuklah Hyukie.” Perintah Jung Soo yang seketika membuat Hyuk Jae melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang perawatan Jung Soo.

“Bagaimana keadaan anda pak?” Tanya Hyuk Jae ketika pria itu memutuskan untuk duduk di kursi di samping ranjang Jung Soo.

“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Aish, wajahmu jadi babak belur. Aku takut wanitamu akan memarahiku, karna sudah membuat wajah tampanmu itu hancur.” Gurau Jung Soo.

“Tidak tidak. Wanitaku bukan type wanita seperti itu. Dia sangat pengertian, cantik, juga perhatian seperti istri anda.” Balas Hyuk Jae sambil menatap So Hee lembut.

Tak lama, seorang pria berjas putih masuk ke kamar Jung Soo, Dokter Nam. Pria itu adalah dokter yang menangani Jung Soo. Pria paruh baya itu mengecek denyut jantung juga nadi Jung Soo.

“Semuanya normal. Tapi anda harus istirahat dengan baik Tuan Park agar segera pulih.” Pesan Dokter Nam. Pria itu lalu mengalihkan tatapannya pada So Hee. “Bisa kau ikut ke ruanganku sebentar Dokter Jung?” Pinta Dokter Nam. So Hee menatap Jung Soo ragu. Sejujurnya ia tidak ingin meninggalkan suaminya sendirian bersama Hyuk Jae, apalagi dalam keadaan seperti ini. So Hee takut Hyuk Jae mengatakan hal yang tidak-tidak. Tidak hanya itu, So Hee juga takut Hyuk Jae akan melakukan sesuatu yang ‘gila’ seperti yang sudah ia lakukan pada Donghae beberapa waktu yang lalu. So Hee takut, sungguh.

“Chagi, pergilah bersama Dokter Nam. Aku akan baik-baik saja bersama Hyuk Jae.” Demi apapun di dunia ini, kalimat yang baru saja keluar dari mulut Jung Soo adalah kalimat yang paling di takuti So Hee saat ini. Jika So Hee punya alasan yang bagus, mungkin saja ia bisa menolak perintah Jung Soo. Sayangnya saat ini So Hee tidak memiliki alasan apapun untuk tidak pergi.

“Mari.” Ucap Dokter Nam yang semakin membuat So Hee gelisah. Dengan langkah berat So Hee pergi mengikuti langkah Dokter Nam. Sekali lagi yeoja itu berbalik untuk melihat Jung Soo, juga Hyuk Jae. So Hee benar-benar berharap Hyuk Jae masih memiliki kadar kewarasan meski itu hanya satu persen.

Setelah kepergian So Hee juga Dokter Nam, mendadak Jung Soo merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Bahkan rasa sakit itu akan bertambah saat Jung Soo coba menyentuh kepalanya. Hyuk Jae yang berada di sebelah Jung Soo hanya diam melihat atasannya merintih kesakitan. Namja itu malah melipat kedua tangannya di atas dada, seakan menikmati tontonan yang ada di depannya.

“Hyukie-ya, cepat panggilkan dokter.” Pinta Jung Soo dengan nafas yang tersengal. Merasa tidak mendapat respon, Jung Soo mengulangi lagi kalimatnya, “Hyukkie ya, jika kau tidak mau memanggil dokter, tolong tekan tombol darurat itu.” Jung Soo menunjuk sebuah tombol yang terletak tak jauh dari ranjang tempatnya berbaring.

“Tidak mau. Aku tidak mau melakukannya. Apa itu sangat menyakitkan eoh?” Ujar Hyuk Jae. Suara ramahnya kini berubah dingin.

“Mendapat pukulan seperti itu, aku pikir kau akan mati. Atau setidaknya koma, tapi ternyata kau lebih kuat dari dugaanku.” Jung Soo menatap Hyuk Jae dengan heran. Sakit yang dirasakannya mendadak hilang mendengar ucapan namja yang ada di hadapannya itu.

“Apa maksudmu? Hyukie-ya, aku sama sekali tidak tau apa yang kau katakan.” Lirih Jung Soo yang terlihat sangat lemah.

“Aku mencintai So Hee. Aku mencintai Jung So Hee, istrimu. Apa kau tau jika dulu yeoja itu milikku? Apa kau tau bagaimana masa lalunya? Apa kau tau apa yang dia suka? Apa kau tau semua tentangnya? Kau sama sekali tidak mengetahuinya. Tidak satupun. Sedangkan aku, aku mengetahui semua tentang yeoja itu. Hanya karna aku meninggalkannya tanpa kabar, bukan berarti aku tidak mencintainya. Jika saat itu kau menolak perjodohan itu, dia pasti masih menungguku kembali dan kami bisa hidup bahagia.” Ucapnya panjang lebar.

Jung Soo menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak ingin percaya dengan ucapan Hyuk Jae. Jung Soo tau jika dulu So Hee pernah mencintai seseorang, sangat mencintai seseorang itu. Bahkan Jung Soo harus sabar menunggu agar So Hee bisa mencintainya seperti saat ini. Tapi Jung Soo tidak pernah tau jika namja yang di cintai istrinya adalah Hyuk Jae.

“Tidak masalah jika kau tidak percaya ucapanku. Kau bisa menanyakannya nanti pada So Hee. Ah tidak, aku rasa kau tidak akan punya waktu lagi untuk menanyakan hal itu. Karna aku akan mengakhiri semuanya hari ini.” Lanjut Hyuk Jae. Namja itu berdiri, sedetik kemudian melepas dengan kasar selang cairan infus yang terhubung ke tangan Jung Soo.

“Jangan. Tolong jangan lakukan itu Hyukie-ya. Tolong.” Jung Soo yang sedari tadi terbaring lemah di ranjang mengangkat tangannya ke udara, coba meraih tangan Hyuk Jae. Jung Soo ingin menghalangi apa yang akan namja itu lakukan pada dirinya, namun sayang usaha Jung Soo sia-sia.

“Hahahaha.. Nikmatilah saat-saat terakhirmu. Rasakan bagaimana sakitnya. Dan aku akan bersenang-senang dengan So Hee, istri yang sangat kau cintai itu.” Hyuk Jae tersenyum sinis. Namja itu berbalik dan melangkahkan kakinya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Membiarkan Jung Soo memanggil namanya berkali-kali.

*****

So Hee membuka matanya saat sinar mentari mulai menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Yeoja itu membuka matanya perlahan. So Hee tersenyum kecil saat menatap namja yang tertidur di sampingnya itu terlihat seperti bayi tanpa dosa. Entah sudah berapa ronde permainan yang sudah mereka mainkan semalam, yang jelas tubuhnya saat ini terasa sangat lemas.

So Hee membalikkan tubuhnya, membelakangi namja itu. Dan tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggang rampingnya. “Jangan membelakangiku. Aku jadi tidak bisa melihat wajah cantikmu.” Rengek namja itu. So Hee kembali memutar tubuhnya menghadap namja itu.

“Kau sudah bangun?” Tanyanya.

“Hmm..” Jawab namja itu, masih dengan mata tertutup.

“Sejak kapan? Kenapa diam saja? Kenapa tidak membangunkanku?” Tuntut So Hee.

“Karna kau cerewet sekali.” Ujar namja itu sembari membuka matanya.

“Lihat, kau baru saja bangun tapi kau sudah banyak bicara seperti itu.” Lanjutnya. So Hee yang menyadari ucapannya segera menutup mulutnya dan meminta maaf. Pipinya mendadak merah seperti lipstick yang biasa di gunakan para Ahjumma. Menyadari yeoja yang ada di hadapannya itu sedang menahan malu, namja itu semakin menggodanya. Namja itu selalu suka jika So Hee menjadi sosok pemalu. Seperti sekarang ini, So Hee terlihat seperti gadis ABG yang baru mengenal cinta.

“Hei. Kenapa wajahmu merah?” Goda namja itu. Merasa tidak tahan lagi, So Hee menarik selimut yang di pakainya berdua dengan namja itu hingga menutupi seluruh tubuhnya. Namun baru beberapa detik So Hee berada di bawah selimut, yeoja itu malah berteriak. Yah So Hee merasa terkejut, setelah secara tidak sengaja tangannya menyentuh sebuah benda kenyal yang mulai menegang hingga benda itu seperti sedang menantangnya.

“Hh.. Kau sudah membuatnya marah dengan membangunkannya. Yang jelas kau harus bertanggungjawab. Aku tidak mau mendengar alasan apapun.” Ujar namja pemilik benda itu yang tak lain adalah Jung Soo dari luar selimut. So Hee perlahan menurunkan selimutnya dan melihat wajah namja itu memerah.

“Tidak tidak. Tidak lagi. Maafkan aku kali ini.” Pinta So Hee dengan wajah memelas sambil menggigit bibir bawahnya yang malah terlihat seperti sedang ‘menggoda’.

“Lalu, haruskah aku mencari orang lain untuk membuatnya tidur lagi?” Tanya Jung Soo polos.

“Tidak!!!!” So Hee bangkit dari tidurnya.

“Kau ingin mati eoh? Jangan katakan hal itu lagi jika kau masih ingin hidup lama bersamaku. Jika tidak, aku sendiri yang akan membunuhmu. Kau tau, benda aneh itu dan semua hal yang ada di tubuhmu itu milikku. Hanya milikku. Jadi selama disini jangan coba-coba pergi atau menghilang dari pandanganku meski itu hanya satu menit. Mengerti?”

Tak tahan mendengar So Hee ‘berkicau’ pagi-pagi, Jung Soo menarik tubuh So Hee ke dalam pelukan hangatnya. “Tidak bisakah setiap hari kita melakukan hal ini? Tidak hanya saat bulan madu atau berpergian jauh?” Ucapnya.

“Kau ingin mati? Hanya berpelukan dan bermesraan seperti ini setiap hari? Tidak makan? Tidak bekerja? Tidak melakukan aktifitas apapun?” Tanya So Hee bingung.

“Pabbo Yeoja. Huh ku pikir setelah menempuh pendidikan S2 kau akan semakin pintar, ternyata…..” Ujar Jung Soo menggantung, namun ia semakin mempererat pelukannya.

“Maksudku, meski setiap hari kau dan aku sama-sama sibuk, setidaknya kita harus mempunyai waktu untuk berduaan seperti ini.” Lanjut namja itu. Tangan kanannya menyisipkan rambut panjang So Hee yang berantakan ke sisi telinganya. Dan seakan terhipnotis, So Hee hanya mengangguk setuju menuruti ucapan namja itu.

“Sekarang bagaimana?” Tanya Jung Soo tiba-tiba.

“Apa?”

“Chagi-ya, apa kau tidak merasakannya? Kau membuat benda itu semakin berdiri tegak.”

“Woaaa bagaimana bisa begitu? Tidak. Aku tidak mau melakukannya sekarang. Ini sudah siang dan kau janji akan mengantarku berbelanja dan membeli oleh-oleh.” Tolak So Hee dengan cepat ia menjauhkan tubuhnya dari namja itu.

“Yak! Tapi ini bulan madu kedua kita, dan kau tau kita tidak punya banyak waktu untuk itu. Jangan pikirkan oleh-oleh. Mereka pasti tau jika kita sedang sibuk membuat an-”

“Hentikan.” So Hee kembali mendekat dan menutup mulut namja itu dengan tangannya. “Apa kau tidak malu mengatakan hal seperti itu pada orang lain?” Lanjutnya.

“Kenapa harus malu jika kenyataannya memang seperti itu? Tidak bisakah kita mulai sekarang? Aku sudah tidak tahan.” Jung Soo tidak mau mendengar penolakan lagi dari So Hee, karna itu, sebelum yeoja itu bebicara panjang lebar lagi, namja itu lebih dulu menyerangnya.

Jung Soo mulai mencium setiap lekuk tubuh So Hee tanpa terkecuali, mulai dari leher. Ia bergerak semakin turun hingga menjumpai dua gundukan kembar. Jung Soo menenggelamkan wajahnya di antara dua gundukan kembar itu sesekali menciumi juga menghisapnya bergantian. Sedang wajahnya sibuk dengan tubuh bagian atas So Hee, tangan Jung Soo mulai bergerak membuka kaki So Hee melebar. Tangan kirinya mengarahkan batang kemaluannya yang sudah membengkak sejak tadi ke liang hangat milik So Hee. Dan dengan sekali hentakan, benda panjang dan kenyal itu melesak ke dalam.

“Ahh…” Keduanya melengkuh saat So Hee merasakan kejantanan Jung Soo menerobos masuk hingga menyentuh dinding rahimnya. Menit berikutnya mereka sudah tenggelam dalam desahan dan kenikmatan yang hanya mereka sendiri yang bisa merasakannya.

Sinar matahari semakin terik, sedangkan di dalam kamar hotel bernomer 1004 itu masih terdengar rintihan dan desahan-desahan kecil. Tubuh sejoli itu terlihat berkilauan, penuh peluh yang membasahi tubuh keduanya.

Jung Soo mencium kening So Hee sesaat setelah menyemburkan literan cairan hangat dan kental ke rahim So Hee. Nafasnya masih terengah-engah. Keduanya saling tatap lalu tertawa bersama.

“Kau seperti maniak beberapa hari ini.” Ejek So Hee. Tentu saja kalimat itu ia lontarkan untuk namja yang ada disampingnya.

“Memangnya kenapa? Ini bulan madu kedua kita. Lagipula aku ingin segera memiliki jagoan kecil, lagi.” Ujar Jung Soo lirih, bahkan hampir tak terdengar ketika mengatakan -lagi- kata terakhir.

“Aku mengaku salah. Harusnya saat itu aku mengatakan yang sejujurnya jika aku sedang sibuk. Sungguh, saat itu aku tidak berselingkuh. Aku hanya menjalankan tugasku untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Kangin dari gadis itu. Dan aku memang berniat menjemput Jung Woo, tapi… tapi aku…” Jung Soo membeku. Entah kenapa mendadak lidahnya menjadi keluh hingga ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Beruntung So Hee yang mengerti kemana arah pembicaraan Jung Soo tidak berniat untuk melanjutkannya.

“Jangan merasa bersalah. Aku baru menyadarinya akhir-akhir ini. Itu bukan kesalahanmu sepenuhnya. Itu adalah bagian dari takdir. Kau tidak ingin Jung Woo bersedih kan? Saat ini dia sudah bahagia di sisi Tuhan, dia memang anak yang pintar. Dan aku harap anak yang ada di dalam kandunganku saat ini tak kalah pintar dengan kakaknya.” Ujar So Hee penuh harap sambil membelai lembut perutnya.

“Yah. Aku harap juga begitu.” Sahut Jung Soo. Butuh beberapa detik bagi namja itu untuk mencerna tiap kata yang keluar dari mulut So Hee. Hingga ia mulai sadar dan berteriak kepada istrinya. “APA KAU BILANG??!!”

“Anak yang ada di dalam kandunganmu? Apa maksudmu kau sekarang sedang????” Jung Soo membentuk gambar setengah lingkaran di atas perutnya sambil mengeluarkan kata ‘huek huek’ beberapa kali seperti yang biasa di rasakan ibu-ibu hamil pada umumnya.

Namja itu seakan tak percaya meski So Hee mengangguk, bahkan mengatakan kata “IYA” berkali-kali untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar atas jawaban istrinya itu. Sejujurnya Jung Soo bahagia, sangat bahagia, hingga ia tidak tau bagaimana cara bersikap dan mengungkapkannya. Hanya kata ‘terima kasih’ yang terus keluar dari bibir tipisnya.

“Terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih karna kau mau menjadi ibu dari anak-anakku. Terima kasih karna kau mau menerimaku kembali. Terima kasih sudah menjaga anakku dengan baik. Terima kasih. Aku mencintaimu Hee-ya.” Jung Soo kembali mendekap So Hee dalam pelukan hangatnya. Yeoja itu mengangguk pelan. Menghirup sebanyak-banyaknya wangi namja yang menjadi candunya.

“Aku juga mencintaimu. Jung Soo Oppa.” Ujar So Hee. Sebuah kalimat singkat yang mampu membuat kebahagiaan Jung Soo menjadi berjuta kali lipat. Sebuah panggilan yang sudah sangat di rindukan Jung Soo selama ini. Dan sebuah senyuman yang selalu bisa menenangkan hati Jung Soo.

*****

“Sampai kapan kau mau berbelanja eoh? Kita harus segera ke bandara jika kau tidak ingin ketinggalan pesawat.” Tutur Jung Soo saat melihat So Hee masih bingung memilih beberapa baju yang akan di belinya.

“Yak Tuan Park! Tidak bisakah anda diam dan menunggu di luar? Anda benar-benar mengganggu konsentrasi saya.” Sindir So Hee pada suaminya.

“Lagipula ini bukan keinginanku. Ini keinginan anakmu.” Oh tidak, jika So Hee sudah mengatas namakan anak mereka sebagai alasan, Jung Soo tidak sanggup membantah. Dan akhirnya Jung Soo lebih memilih berdiri di luar.

“Baiklah. Sepuluh menit saja. Jika tidak kau akan terlambat kembali ke Korea. Dan kau tau apa yang akan terjadi? Kau harus menambah masa cutimu. Atau kau memang ingin berhenti bekerja dan hanya menjadi Ibu rumah tangga? Aku pikir itu lebih cocok untukmu.” Jung Soo mengingatkan istrinya, yang mungkin malah terdengar seperti sebuah ancaman. So Hee hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan Jung Soo yang kini melangkah pergi darinya.

Jung Soo berjalan mondar-mandir di depan sebuah butik tempat So Hee memilih pakaian. Dan tanpa sengaja tangannya menyenggol seorang pejalan kaki. “Ah maaf. Saya tidak sengaja.” Ucap Jung Soo sambil menunduk beberapa kali. Dan anehnya, saat Jung Soo mengangkat kepalanya untuk melihat wajah ‘korbannya’, orang itu malah berlari kencang menghindari Jung Soo. Dan ketika orang itu melihat kebelakang, -untuk memastikan Jung Soo mengejarnya atau tidak- saat itu jugalah Jung Soo menyadari bahwa orang itu adalah Kangin.

Dengan gesit Jung Soo mengejar pria bertubuh besar yang sedikit kesulitan berlari itu. Tanpa kesulitan Jung Soo berhasil menangkap Kangin, penjahat yang sudah membuat hidupnya menjadi sulit.

“Dunia ini ternyata sempit sekali. Tidak ku sangka aku akan bertemu orang sepertimu di tempat seperti ini.” Ujar Jung Soo sambil menggeret tangan Kangin, hendak membawanya ke kantor polisi terdekat.

“Jika kau memenjarakanku, aku juga akan membawa istrimu membusuk di dalam sel penjara.” Ancam Kangin, tentu saja Jung Soo tidak tau maksud ucapannya.

“Kau tidak tau kan? Istrimu yang lugu dan terlihat polos itu, istri yang sangat kau cintai itu, sudah membunuh seseorang. Dia sudah membunuh Lee Hyuk Jae.” Lirih Kangin di telinga Jung Soo. Tentu saja namja itu tidak percaya dengan ucapan Kangin begitu saja. So Hee membunuh Hyuk Jae? Itu tidak mungkin!

“Istrimu yang membunuh Hyuk Jae, aku-lah yang membantunya mengangkat tubuh lemah Hyuk Jae ke dalam mobil. Jadi, pikirkan baik-baik. Jika kau ingin memenjarakanku, aku akan membawa istrimu bersamaku.” Ancam Kangin.

“Baiklah-baiklah. Jika kau tidak percaya kita bisa menanyakannya langsung pada istrimu saat ini.” Kangin menarik tangan Jung Soo agar namja itu menunjukkan dimana keberadaan istrinya. Melihat keberanian Kangin, Jung Soo menjadi ragu. Ia takut apa yang dikatakan Kangin benar adanya.

“Ck! Pengecut. Aku tau kau pasti tidak ingin mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Jika memang benar seperti itu, lepaskan aku.” Kangin coba melepaskan diri dari Jung Soo.

“Bisakah kita hentikan semua disini. Berhentilah mengejarku. Kita jalani kehidupan masing-masing. Maaf atas apa yang sudah ku lakukan semua padamu. Setelah ini aku janji tidak akan pernah menampakkan diri di hadapanmu lagi.” Pinta Kangin setengah memelas.

“Sebagai gantinya aku akan menceritakan padamu apa yang sudah terjadi antara istrimu dan Hyuk Jae.” Lanjutnya. Namja itu lalu membawa Jung Soo duduk di sebuah halte tak jauh dari butik tempat So Hee berbelanja. Dari halte tersebut mereka bisa melihat So Hee yang masih sibuk memilih beberapa baju.

“Hyuk Jae mencintai istrimu. Dia sangat mencintai istrimu. Bahkan bisa di bilang Hyuk Jae terobsesi pada hubungan masa lalunya dengan So Hee.” Ujar Kangin. Dan hal itu membawa Jung Soo kembali pada ingatannya saat di Rumah Sakit beberapa saat yang lalu. Ternyata Jung Soo tidak salah dengar saat Hyuk Jae mengatakan jika ia mencintai So Hee. Saat itu Jung Soo berpikir itu hanya mimpi atau ilusi, karna sesaat setelah itu Jung Soo sama sekali tidak bisa mengingat apapun.

“Entah apa yang terjadi sebelumnya dengan istrimu. Yang ku tau aku melihatnya seperti orang yang hampir frustasi. Aku coba tidak menghiraukannya, ternyata dia malah memanggilku dan meminta bantuan.” Raut wajah Kangin berubah serius. Dan Jung Soo bisa memastikan bahwa namja yang ada di sampingnya itu sedang tidak berbohong.

*FLASHBACK*
“Bisakah kau menyempatkan waktu untukku setelah kau menemui Dokter Nam?” Tanya Hyuk Jae pada So Hee sesaat setelah namja itu melepas selang infus Jung Soo.

“Nyawa Jung Soo ada di tanganmu. Aku baru saja menarik selang infus pria ini. Jika kau tidak mempunyai waktu untukku, aku akan langsung membunuh pria ini. Namun jika kau mau menemuiku setelah ini, aku akan memasang kembali selang infusnya.” Hyuk Jae memberikan So Hee pilihan. Tidak, itu tidak terdengar seperti pilihan, tapi ancaman.

“Baiklah. Aku akan menemuimu setelah ini. Segera pasang kembali selang infusnya dan pergilah dari ruangan itu. Beri tahu aku tempatnya, aku akan datang setelah ini.” Ujar So Hee berusaha setenang mungkin. Menekan segala perasaan yang bisa saja meledak sewaktu-waktu.

Tidak lama setelah itu, Hyuk Jae dan So Hee kini sudah berada di tempat yang sudah mereka tentukan, taman. So Hee tersenyum ke arah Hyuk Jae yang sudah menunggunya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini So Hee lebih banyak tersenyum saat bersama Hyuk Jae. Tidak hanya tersenyum, yeoja itu juga begitu ramah dan perhatian pada mantan kekasihnya itu.

“Apa kau tidak lelah? Kau belum benar-benar sembuh, aku khawatir keadaanmu akan lebih memburuk.” So Hee menyentuh kening dan pipi Hyuk Jae secara bergantian.

“Tidak. Selama kau ada di sampingku, aku tidak akan sakit.” Balas Hyuk Jae, namja itu tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.

“Tapi disini anginnya cukup kencang, dan aku khawatir dengan kesehatanmu. Apa kau ingin pergi ke suatu tempat? Katakan, aku akan menemanimu.” Tawar So Hee. Hati Hyuk Jae berbunga-bunga melihat perubahan sikap So Hee. Namun hal itu tidak lama, karna yang So Hee katakan selanjutnya adalah kalimat yang bisa membuat Hyuk Jae murka.

“Hari ini. Hanya untuk hari ini aku akan jadi milikmu. Setelah itu aku mohon pergilah dari hidupku.” Mata Hyuk Jae berubah merah menyala. Terlihat amarah disana.

“Tidak. Aku tidak mau hanya hari ini. Aku ingin menua dan mati bersamamu. Bukankah itu janji kita dulu?!!” Geram Hyuk Jae.

“Tapi bukan aku yang menghianati janji itu. Tapi kau!!! Kau tiba-tiba pergi meninggalkanku, dan sekarang kau datang sesukamu saat aku sudah memiliki kehidupan yang baru. Aku benar-benar lelah!! Mari kita akhiri semuanya sampai disini.” So Hee beranjak pergi meninggalkan Hyuk Jae. Namun baru beberapa langkah yeoja itu berjalan, Hyuk Jae mengejarnya dan mencekik leher So Hee.

“Jika aku tidak bisa hidup bersama di kehidupan ini, lebih baik aku membunuhmu. Kau tenang saja, karna setelah ini aku akan menyusulmu ke surga. Kita akan hidup bahagia disana lalu bereninkarnasi. Di kehidupan selanjutnya, aku tidak akan meninggalkanmu dan kita hidup saling mencintai.” Cekikan Hyuk Jae semakin erat hingga So Hee mulai kehabisan nafas. Meminta tolong-pun terasa percuma di taman yang sepi seperti itu. Namun tiba-tiba….

BUG!!

So Hee mendengar sebuah suara yang terdengar seperti suara pukulan. Sedetik kemudian So Hee bisa kembali bernafas normal. Yeoja itu berbalik dan melihat tubuh Hyuk Jae sudah terkapar di tanah. Yeoja itu membungkam mulutnya saat melihat Kangin berdiri di depannya dengan membawa sebuah kayu batangan. Beberapa saat mereka hanya diam dan saling memandang.

“Apa yang sudah kau lakukan?!!” So Hee panik melihat Hyuk Jae tak sadarkan diri.

“Balas dendam. Dia sudah berani membohongiku. Harusnya kau berterima kasih karna aku sudah menyelamatkan nyawamu.” Cibir Kangin.

“Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika ada orang yang melihat kita?” Suara So Hee terdengar bergetar, takut.

“Apa kau bawa mobil?”

Menit berikutnya Kangin sudah berada di dalam mobil So Hee. Mereka menuju suatu tempat yang cukup sepi, dimana terdapat banyak mobil bekas, ah mungkin lebih tepatnya mobil curian. So Hee dan Kangin sedang merencanakan sesuatu yang akan mereka lakukan selanjutnya pada Hyuk Jae.

“Karna hidup itu pilihan, dan ini kesempatan terbaikmu. Dia orang yang berbahaya dan sangat licik. Aku tidak bisa banyak membantumu. Tapi jika kau mau, aku akan memasukkan namja gila ini ke mobil itu. Seperti yang sudah ku sarankan padamu sebelumnya. Sekarang terserah kau mau melakukannya atau tidak.” So Hee terlihat memikirkan ucapan Kangin. Sedang namja itu beberapa kali melihat jam yang melingkar di tangan kekarnya. Menunggu jawaban So Hee.

“Baiklah.” Sebuah kata yang meluncur dari mulut So Hee cukup membuat Kangin yakin akan apa yang harus di lakukan selanjutnya.

Kangin menatap So Hee. Kangin lalu mengalihkan pandangannya pada Hyuk Jae yang duduk di kursi belakang dengan tangan terikat, sedang matanya tertutup kain. Namja itu masih tidak sadarkan diri. Kangin turun dari mobil So Hee dan membuka bagasi belakang mobil yang ada di depannya. Kangin lalu memindahkan tubuh Hyuk Jae dari kursi belakang mobil So Hee ke bagasi mobil curian yang ada di depannya. Terakhir, Kangin memberi So Hee sebuah korek api.

“Lakukan dengan baik. Rahasiamu akan aman denganku. Hanya ini yang bisa ku lakukan sebagai permintaan maaf atas tabrak lari yang ku lakukan padamu hingga membuat putramu meninggal. Aku harap setelah hari ini, kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing secara normal.” Ujar Kangin tulus. Ia lalu mengulurkan tangan kanannya pada So Hee. Mengajak yeoja itu bersalaman sebagai tanda damai.

“Kangin-ssi, bisakah kau menungguku sebentar? Sungguh, aku benar-benar takut sekarang.” Pinta So Hee ragu. Keberaniannya luntur saat Hyuk Jae mulai sadarkan diri dan memanggil namanya beberapa kali.

“Baiklah. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Apa kau ingin mengatakan sesuatu pada namja itu?” Tanya Kangin memastikan. So Hee ragu, namun ia tetap mendekat ke bagasi tempat Hyuk Jae di ikat.

“Hyukie-ya. Apa kau bisa mendengarku?” Tanya So Hee sambil mendekati Hyuk Jae.

“Hee-ya. Kau kah itu? Apa yang terjadi? Tolong lepaskan ikatanku.” Perintah Hyuk Jae.

“Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Kau benar-benar sudah keterlaluan. Hyukie-ya, dengarkan aku. Aku memang mencintaimu, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah mempunyai kehidupan sendiri. Aku bahagia. Aku mencintai Jung Soo. Maafkan aku. Biar kisah kita ini menjada rahasia kita berdua. Biar kisah ini hanya kita berdua saja yang tau. Aku akan membawa rahasia ini hingga mati. Sampai jumpa di kehidupan berikutnya, Lee Hyu Jae.” So Hee mundur beberapa langkah. Di tangan kirinya sebuah korek sudah menyala. So Hee memainkannya beberapa kali sebelum yeoja itu melempar koreknya ke bagasi mobil tempat Hyuk Jae berada.

“Hee-ya, apa yang kau lakukan? Selamatkan aku. Aku mohon.” Hyuk Jae berteriak meminta tolong, namun So Hee melangkah semakin jauh meninggalkan Hyuk Jae. So Hee masuk ke dalam mobil, di temani Kangin. Tubuhnya gemetar hebat. Menit selanjutnya Kangin membawa So Hee pergi dari tempat sepi itu. Tempat dimana ia telah menghapus seseorang yang bernama Lee Hyuk Jae dari kehidupannya.
*FLASHBACK END*

“Kau sangat mencintai So Hee bukan? So Hee juga sangat mencintaimu. Semua yang dia lakukan hanya untuk melindungimu. Hyuk Jae sudah lama berniat membunuhmu. So Hee hanya tidak ingin kehilangan orang yang dia cintai lagi setelah Jung Woo. Ini adalah rahasia terbesar Jung So Hee, seorang dokter bedah yang cantik dan pintar. Dan sekarang semua terserah padamu. Apa kau ingin melindungi rahasia istrimu yang sudah menyelamatkanmu, atau kau akan melukainya. Bersikaplah normal seperti kau tidak tau apa-apa dan pikirkan baik-baik.” Kangin menasihati Jung Soo sebelum namja itu benar-benar pergi. Kangin-pun mulai berdiri dan melangkah pergi saat melihat So Hee celingukan kesana-kemari mencari keberadaan Jung Soo.

So Hee tersenyum saat melihat Jung Soo menatapnya dari halte di sebrang jalan. So Hee melambaikan tangannya ke arah Jung Soo. “Tetaplah disana. Aku akan menghampirimu.” Teriak So Hee dari kejauhan. Jung Soo yang masih shock coba bersikap sewajarnya.

“Aku tidak tau yang aku lakukan ini benar atau salah. Yang aku tau aku hanyalah, aku mencintai yeoja ini dan aku tidak ingin kehilangannya. Aku akan melindungi rahasia yeoja ini seperti dia yang sudah dengan berani mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku.” Tekat Jung Soo dalam hati. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas ketika So Hee tiba di hadapannya. Jung Soo mengunci tatapan So Hee. Sedetik kemudian namja itu mencium kening istrinya di antara orang yang berlalu-lalang.

END

@milanistred

20 Komentar

  1. Reblogged this on Yadong Fanfic Indo.

  2. Happy ending ,,, eunhyuknya matii tohh ,

  3. heeyeon

    hua. keren hyuk jae meninggal kasihan.. tapi keren

  4. Susi501

    Aku suka,tapi kasihan Eunhyuk oppa

  5. marion

    Happy ending, keren ff nya ^^

  6. end. .
    huhuhu . kasihan juga eunhyuk opPa. .

  7. as_aisah

    keren…
    Seru banget..
    Eunhyuk kasian yah…
    Tapi salahnya sih,pake jahat segala..kan jadinya kena imbas sama kematian hae oppa..kekekke

  8. chanyeol

    Waaaah keren nih suka bgt sm istrinya yg tetep setia milih suaminya

  9. Daebak

  10. pratiwi

    ffnya keren

  11. Titania Blackjack~VIP~BABY(s) {@RapperTita7_BA1}

    daebak bangat thor ffnya!
    untung cuma 2 chap.😀
    keep writing and keep fighting ya thor!🙂 ^^)9

  12. kimlee

    cerita nya keren, tp maaf, ceritany agak mirip dg salah satu K-Movie ya? yg di peranin sama Cha Seung Won kalo g salah, o.ov

    • Cha Seung Won😮 wah salah satu aktof favoritku. Tapi yang part mana yah? Memang FF ini aku terinspirasi dari MV Ji Eun sama Yongguk yang berjudul Going Crazy, tapi aku gatau kalo ada film yang mirip juga (?) Padahal sebelum di posting aku selalu minta pendapat dari beberapa temen, bahkan untuk ‘mengeksekusi’ Eunhyuk😀 awalnya aku mau membuat Eunhyuk gila, atau disuntik mati, tapi dari beberapa pilihan yang aku ajukan, temen2ku lebih suka kalo Hyuk Jae dibunuh dgn di bakar seperti itu x_x

  13. seuki kim

    merindiiinggg bacanya …. serem gitu ceritanya… tapi tetep kereennn

  14. tia widhiarti

    Daebak udah end aja….akhirnya happy ending akhirnya eunhyuk nya mati…sempet degdegn juga kirain jun soo yang mati gara2 selang nya dicabut pas di rs…adakah squel??? Hehehehe ditunggu deh ff barunya cemunguttt. Ya🙂

  15. illa

    finnalllyyy!!! keren bangett!! daebak author! ^^

  16. krisna

    sedih critany,😦 tapi keren ending nya hehehe🙂

  17. kyaaaa kerennn bangett,,,, kyaa kyaaaaaaaaaa
    daebakkkkkk !!!,

  18. aina fitria

    Hmmmm
    part sebelumnya aku baca d WP sebelah
    akhirnya happy ending jg
    dokter jg manusia yg mempunya keinginan untuk melindungi keluarganya,tp ini mah sadis bgt ngebunuh booo
    tp ya itu hukuman buat hyuki karena sdh ngebunuh suamiku#plakkkkk
    klo memang cinta tidak,akan seperti itu,pastinya akan lebih mementingkan kebahagiaan orang yv kita cintai
    mungkin kita mencintai’a tp apa masih dy mencinttai kita???
    hmmmm

  19. Tia

    Huaaa sumpah seru bgt ceritanya beda dari yg lain walaupun byk yg bergenre kaya gini tp ini beda, seorang istri berani melakukan Hal itu Demi menyeramkan suami nya keren, suka deh sama ceritanya:)

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: