AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

My Past, My Future Part 2 (END)


Siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan dibenakku dan ke dua orang tuaku. Appa memerintahkan bibi untuk mempersilahkan tamu tersebut masuk dan bergabung bersama kami di meja makan. Dan betapa terkejutnya aku ketika mengetahui siapa yang datang? GD!

“Oppa??”

Eomma dan Appa menoleh ke arahku setelah sebuah kata ‘Oppa’ keluar begitu saja dari mulut bodohku. Aku menunduk malu menyadari kecerobohanku.

“Annyeong hasimnikka. Maaf mengganggu acara sarapan kalian.” GD menyapa kami dengan sopan.

“Gwancheana. Silahkan duduk.” Ujar Appa mempersilahkan GD duduk tepat di depanku.

“Ehem.” Eomma berdehem, memergoki aku yang beberapa kali mencuri pandang ke arah GD. Huh apa aku ketahuan?

“Setahu Eomma, kau tidak bisa mengucapkan kata Oppa, tapi kalau Eomma tidak salah dengar kau baru saja memanggilnya Oppa?” Goda Eomma yang membuatku tersedak. Aigo, apa yang Eomma katakan? Aku benar-benar malu dibuatnya.

“Kau tampan juga. Siapa namamu dan ada keperluan apa?” Tanya Eomma, tentu saja pertanyaan itu ditujukan untuk GD.

“Terima kasih nyonya. Nama saya Ji Yong. Saya ingin meminta izin anda untuk mengajak Hee Yong kerumah saya. Karna dia sudah berjanji untuk menemui ibu saya dan sekarang ibu saya menagih janji Hee Yong.” Jelasnya secara terang-terangan.

“Ibumu? Ibumu atau kau yang ingin bertemu Hee Yong?” Haish kelakuan Eomma bisa membuatku gila. Tidak bisakah Eomma bersikap biasa saja? GD tersenyum kecil mendengar ucapan Eomma. Dia benar-benar bisa menjaga sikap dan sangat sopan. Sangat berbeda jauh dengan Seung Hyun. Batinku.

“Dengan sangat menyesal saya mengatakan bahwa Eomma-lah yang merindukan Hee Yong.” Balas GD dengan tersenyum kecil.

Huh sudah hentikan. Aku pamit untuk berganti pakaian, meninggalkan GD bersama kedua orang tuaku. Ini pertama kalinya mereka bertemu, tapi sudah begitu akrab. Siapa namja itu sebenarnya? Kenapa dia selalu bisa membuat suasana menjadi hangat setiap kali dia berada diantaranya? Janji? Ah bodohnya aku sudah menjanjikan hal-hal seperti itu. Hubungan kami kan tidak sedekat itu. Tapi karna aku sudah terlanjur berjanji, mau tidak mau aku harus menepatinya.

Eomma mengikutiku masuk ke dalam kamar, memberitahuku bahwa sore nanti Eomma dan Appa akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Dan Eomma sudah menitipkanku pada GD. Apa? Menitipkanku? Memangnya aku ini barang yang harus dititipkan? Aigoo.. Eomma selalu membuatku malu! Eomma, aku sudah besar. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Ingin rasanya aku mengatakan hal itu, tapi aku tak bisa mengatakannya. Karna memang seperti itulah cara Eomma menunjukkan kasih sayangnya padaku.

Setelah Eomma keluar, Eonnie mendatangiku dengan wajah sedih. Di ikuti ketiga ‘hantu’ Kakek, Paman dan Bibi.

“Makan malam bersama.” Ucapnya

“Apa?” Aku tidak tau maksudnya.

“Kami ingin kau makan bersama kami seperti yang kau lakukan bersama keluargamu. Itu permintaan terakhir kami.” Ucap Eonnie mewakili ketiga hantu tersebut. Ternyata mereka menganggap serius ucapanku. Dan permintaan konyol macam apa itu? Meminta makan malam bersama?

“Setelah itu, kami tidak akan mengganggumu lagi.” Lanjut Eonnie dengan bersungguh-sungguh yang membuatku semakin merasa bersalah dan juga senang.

“Yongie, kenapa lama sekali? Ji Yong sudah menunggumu.” Lagi-lagi teriakan Eomma terdengar membahana di seluruh ruangan. Aku segera mengambil tas dan bergegas turun. Namun Bibi menahan tanganku.

“Izinkan aku yang memasak untukmu.” Hah? Memasak? Yang benar saja? Apa hantu bisa memasak? Bagaimana jika dia meracuniku dan membuatku menjadi bagian dari mereka? Namun seolah bisa membaca pikiranku, Bibi mengatakan bahwa dia tidak akan menyakitiku, apalagi meracuniku.

“Baiklah, terserah kalian. Aku pergi dulu.” Pamitku lalu bergegas turun menemui Eomma, Appa, dan tentu saja GD.

“Lihatlah, dia cantik bukan? Apa kau tidak menyukainya? Setidaknya tertarik padanya.” Aku melotot mendengar ucapan Eomma. Bagaimana bisa Eomma mengatakan hal-hal memalukan semacam itu? Demi Tuhan wajahku sekarang mungkin sudah sangat merah seperti lipstick yang dipakai Eomma. Sedangkan GD hanya melakukan kebiasaannya, yaitu menggaruk tengkuknya yang ku rasa sama sekali tidak gatal.

“Yongie, mungkin saat kau pulang nanti Appa dan Eomma sudah pergi. Jadi berhati-hatilah dirumah.” Pesan Appa. Aku mengangguk mendengarnya. Setelah memeluk Appa dan Eomma aku berjalan mengikuti langkah GD.

Sebenarnya jarak antara rumahku dan GD tidaklah jauh. Tapi karna ada demo di jalan membuat perjalanan kami sedikit terhambat. Aku membuka mulutku lebar-lebar ketika sampai di sebuah tempat yang ternyata tak kalah besar dengan istanaku. Taman rindang dengan beberapa gazebo yang disuguhi berbagai macam dan jenis bunga berwarna-warni, air mancur, dan ayunan. Tempat yang benar-benar asri dan terasa nyaman untuk ditempati. Sepertinya aku pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya. Tapi dimana? Surga? Bodoh, aku belum pernah kesana. Dalam mimpi? Mungkin. Senyum hangat Eomma GD menyambutku tepat saat aku melangkahkan kaki keluar dari mobil. Aku berlari kecil, entah perintah dari mana? Seperti sebuah kebiasaan yang sudah sering aku lakukan, aku terus berlari hingga kini tepat berdiri di depan Eomma GD dan memeluknya.

“Eommoni” kata itu begitu saja keluar dari mulutku. Bodoh. Bagaimana aku bisa memanggilnya seperti itu? Kenapa aku melakukan hal-hal bodoh setiap kali aku bersama GD? Tak cukup hanya memanggilnya Oppa, sekarang aku juga memanggil Ibunya Eommoni?

“Ah, jwesonghamnida..” Sesalku.

“Gwancheana. Bisakah kau tetap memanggilku seperti itu?” Pinta Eomma GD yang tentu saja membuatku terkejut.

“Ne.. Arraseumnida..”

“So Hee..” Eomma GD lagi-lagi menyebut nama itu dan menyentuh wajahku. GD yang baru saja tiba dari memarkir mobilnya sudah berdiri dibelakangku. Merangkul pundak Eommanya dan pundakku, mengajak kami masuk ke dalam. Huh namja itu tidak tau hatiku mendadak berdetak tak teraturan akibat perlakuannya.

Aku merasakan aura aneh saat pertama kali melangkahkan kaki masuk ke rumah GD. Aku menyentuh setiap ukiran dan ornamen yang terpajang disana. Sungguh karya seni yang sangat indah. Aku berjalan mengelilingi rumah GD ditemani Eommanya. Melihat air mancur yang begitu indah, membuatku tertarik untuk mendekat. Aku melihat Eomma GD, seperti mengerti keinginanku wanita paruh baya itu mengangguk mengizinkanku bermain sesuka-ku.

Ini benar-benar menyenangkan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bermain air seperti ini, mengumpulkan bunga tulip kesukaanku dan bermain ayunan. Aku pernah merasakan saat-saat yang seperti ini. Aku sudah pernah mengatakannya bukan? Sungguh, ini bukanlah mimpi. Tapi kapan dan dimana? Sampai sekarang aku masih coba mengingatnya.

Setelah puas bermain, aku duduk di gazebo. GD datang menghampiriku dengan senyuman dan membawa beberapa gelas minuman. “Minumlah. Kau pasti lelah.”

Aku menunduk malu. Menyadari betapa konyolnya hal-hal yang sudah ku lakukan tadi. Apa dia melihat semuanya? Ah ada apa denganku?

Dag
Dig
Dug
Dag
Dig
Dug

Suara jantungku berdetak terlalu cepat. Bagaimana ini? Siapapun, Tolong hentikan sekarang juga. Apa yang akan dilakukannya? Dia semakin mendekat ke arahku. Dan…

Ah bodohnya aku yang terlalu berharap…. Apa? Apa aku berharap dia akan menciumku? Sepertinya aku sudah benar-benar gila. Mengharapkan hal berlebihan seperti itu. Yakk!! Hee Yong ingat dia buka siapa-siapamu!! Gadis bodoh. Dia hanya menyelipkan sebuah bunga tulip ditelingaku. Memangnya apa? Apa? Senyumnya. Tawanya. Sikapnya. Membuatku meleleh. Aku bisa mendadak idiot jika saja Eomoni tak segera datang. Apa? Lagi-lagi aku memanggil Ahjumma dengan sebutan Eommoni? Maksudku Eomma GD. Huh sepertinya otakku benar-benar rusak. Eomma GD duduk bersama kami. Jika dilihat dari jauh kami ini sudah seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia bukan? Lihat, lihat, lagi-lagi pikiranku terbang sejauh itu. Tapi kenapa mataku terasa berat. Aku benar-benar lelah dan mengantuk. Suara Eomma GD semerdu suara Eomma-ku yang sedang membacakan sebuah dongeng. Begitu lembut ditelinga. Samar-samar aku merasakan kepalaku berpindah dari sandaran kayu yang keras ke sebuah benda yang terasa hangat dan empuk. Entah apa itu aku tidak perduli karna rasa kantuk sudah benar-benar menguasaiku. Meski begitu aku masih bisa mendengar percakapan antara ibu dan anak itu yang membahas So Hee. Lagi-lagi tentang So Hee. Siapa gadis itu sebenarnya??

Aku menggeliat, merasakan sebuah tangan mengelus lembut rambut panjangku. Hal yang sangat ku sukai. “Jangan berhenti Eomma..” Lirihku.

“Gwiyeopda..” Ucapnya di sela tawa.

Suara itu bukan suara Eomma. Lalu, siapa? Aku bangun dan mengusap mataku beberapa kali untuk lebih memastikan. Benar. Itu bukan wajah Eomma, tapi GD. Aku melihat langit yang sudah berubah warna menjadi biru gelap dengan ribuan bintang yang berkelap-kelip disana. Aku tidak menyangka jika tidur selama itu. GD menyentuh kakinya dan terlihat kesakitan. Mungkin kram karna sudah menahan berat kepalaku selama berjam-jam.

“Maaf, itu pasti sakit.” Sesalku.

“Gwancheana. Eomma baru saja masuk. Aku menyuruhnya istirahat. Kau bisa pindah ke kamar Eomma atau di kamar tamu.” Ucapnya kemudian.

Hah? Apa aku tidak salah dengar? Apa itu artinya dia memintaku menginap? Dirumahnya? Omoooo… Benarkah? Girang?? Tentu saja!!!! Ah tidak tidak, aku harus menjaga image-ku. Ini pertama kalinya aku main ke rumah GD, dan aku rasa ini tidak pantas. Lagipula aku sudah ada janji makan malam.

“Maaf, tapi aku harus pulang.” Aku turun dari gazebo dan bersiap pergi. Namun GD menahan tanganku.

“Akan aku antar.” Tiga kata yang membuat hatiku melompat kegirangan.

***

“Selamat datang.”

“Bagaimana kencanmu dengan pria itu?”

“Dia terlihat jauh lebih baik daripada Seung Hyun.”

“Kalian terlihat sangat serasi.”

Entah itu pertanyaan atau pernyataan yang keluar dari mulut hantu-hantu itu. Aku sama sekali tidak perduli. Yang jelas, sejak aku turun dari mobil GD, entah itu hatiku, jantungku, apalah itu, seluruh organ yang ada dalam tubuhku rasanya hancur berkeping-keping. Ini lebih sakit dari yang ku rasakan saat melihat Seung Hyun berselingkuh.

Eonnie dan Bibi menggeret tanganku ke meja makan. Tanpa tau masalah yang sedang ku hadapi, mereka terlihat bahagia. Tertawa, bercanda. Aku juga melihat Paman dan Kakek yang terlihat akrab. Tidak seperti biasanya yang selalu bertengkar. Bibi mengambilkanku semangkuk nasi. Eonnie mengambilkanku beberapa lembar daging. Paman mengambil duri-duri ikan dan meletakkannya diatas mangkuk nasiku, sedangkan Kakek menuangkanku segelas minuman.

Apa yang membuat mereka sebahagia ini? Dan apa yang membuat perasaanku menjadi buruk seperti ini?

Makan malam bersama. Yah hanya sebuah makan malam sederhana seperti ini saja bisa membuat mereka bahagia. Apa hebatnya? Harusnya mereka bisa melakukan ini tanpaku bukan? Apa aku begitu berarti untuk mereka? Aku bukan bagian dari mereka, tapi kenapa mereka memilihku? Aku ingin pergi. Tenggorokanku terasa sakit. Jangankan untuk makan, untuk menelan setetes air saja sulit. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah berjanji pada mereka. Melihat mereka sebahagia ini, tegakah aku pergi dan menghancurkan makan malam yang sudah mereka siapkan dengan susah payah ini?

Tunangan. Yah tunangan. GD mengatakan dia sudah mempunyai tunangan beberapa saat yang lalu saat ia mengantarku pulang. Jung So Hee, kini aku tau siapa gadis itu sebenarnya. Gadis itu sungguh beruntung memiliki tunangan dan calon mertua seperti Ji Yong dan ibunya. Kenapa aku sedih? Harusnya aku bahagia bukan? Setidaknya aku tau lebih cepat, sebelum perasaanku berkembang semakin besar untuknya. Tapi kenapa rasanya sesakit ini? Ini sakit sekali.

So Hee. Kini aku tau kenapa Eomma Ji Yong sering menyebut nama itu. Hanya karna aku terlihat mirip dengan So Hee. Lalu kemana gadis bernama So Hee itu sekarang? Mengapa dia begitu bodoh? Meninggalkan orang sebaik Ji Yong dan ibunya.

Sialan. Kenapa ada cairan bening yang membasahi pipiku?

“Kenapa kau menangis?” Tanya Eonnie.

“Masakannya terlalu pedas.” Ucapku mencari alasan. Bibi menyerahkan sapu tangan yang biasa ia gunakan untuk mengelap air matanya.

“Jangan menangis. Jangan menangis. Aku minta maaf. Maafkan aku. Aku menyesal” Ucapnya sedih yang semakin membuat hatiku tercekat sakit, kalut. Suara itu membuat tubuhku gemetar. Kenapa Bibi harus meminta maaf? Ini sama sekali bukan salahnya. Bukan tentang masakan yang terlalu pedas, tapi karna hatiku yang terasa sakit.

“Apa kau mau minum bersamaku?” Tanya Kakek yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Paman.

“Aku ingin sendiri. Aku hanya ingin sendiri.” Pintaku.

“Baiklah. Selesaikan dulu makanmu. Jangan menangis lagi. Setelah ini kami akan pergi agar kau bisa menenangkan diri.” Entah kenapa aku merasa sedih mendengar kata itu terucap dari mulut Paman. Bukankah itu hal yang ku inginkan? Bebas dari hantu-hantu aneh yang menggangguku selama ini? Tapi kenapa aku merasa tidak rela ketika mereka memutuskan untuk pergi dariku? Nafsu makanku benar-benar hilang.

Ku langkahkan kaki ke lantai atas kamarku. Membanting tubuhku sekuat-kuatnya ke kasur ukuran king size. Berharap aku bangun dari mimpi buruk ini. Aku melihat almari besar berdiri angkuh tak jauh dari tempat tidurku. Aku berjalan pelan menghampirinya, mengeluarkan sebuah kotak tersembunyi disana. Membukanya dan menemukan sebuah kalung yang terbuat dari emas putih bertuliskan nama “HeeYong” disana.

“Appa….”
“Eomma….”
“Aku merindukan kalian……”

Aku memeluk erat kalung itu dan menangis sesenggukan. Benarkah aku merindukan mereka? Mungkin lebih tepatnya aku membutuhkan mereka. Situasi ini benar-benar membuatku sakit. Aku membutuhkan tempat untuk bersandar. Aku berdiri di depan cermin, melihat pantulan diriku yang terlihat menyedihkan. Ku buka pengait kalung dan ku pakai di leher jenjangku. Bagus. Tapi airmata sialan ini membuat segalanya menjadi buruk. Aku mengembalikan kotak rahasiaku ke dalam almari, dan tak sengaja tanganku menyentuh jas hitam yang GD berikan padaku saat aku kedinginan seusai pesta malam itu. Ku ambil dan ku peluk. Mencium sisa-sisa wangi tubuh yang tertinggal disana. Wangi ini, wangi yang menjadi canduku. Lalu terlintas sekelibat ingatan tentang pria yang menolongku di pesta.

“Menyingkirlah. Dia Yeojaku.” Kata-kata itu kembali terngiang di telingaku. Tunggu. Suara itu, apa itu suara GD? Dan wangi tubuhnya saat itu? Aku kembali mencium jas GD untuk memastikannya. Dan benar. Bodoh. Aku benar-benar bodoh. Kenapa aku tidak menyadarinya? Itu adalah suara dan wangi tubuh GD.

Itu berarti malam itu, GD-lah yang menolongku dari pemabuk. Tidak hanya itu, dia memberiku jas agar tidak kedinginan. Dia juga menguatkanku saat Seung Hyun berselingkuh. Aku ingat. Aku masih mengingat semuanya dengan jelas. GD, namja itu selalu ada saat aku butuh pertolongan seperti malaikat.

Aku berlari keluar kamar membawa jas hitam milik GD. Aku melirik meja makan dan sudah tidak menemukan siapapun disana. Yang artinya hantu-hantu itu menepati janjinya untuk pergi dari hidupku. Aku melanjutkan langkah ke bagasi. Mengeluarkan mobil dan meng-gas kencang menuju rumah GD.

Aku pikir aku benar-benar sudah gila sekarang. Berdiri mondar-mandir di depan rumah orang. Melihat salah satu sudut ruangan yang masih menyala, ku putuskan untuk masuk. Sunyi, Hening, TV menyala tanpa suara. Aku menemukan GD yang sedang ‘sibuk’ memperhatikan sebuah foto yang ada dalam figura.
“Maaf. Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga hatiku. Ku rasa aku jatuh cinta padanya.” Aku mendengar GD mengatakan hal itu. Entah siapa gadis yang dimaksud dan foto siapa itu aku tidak tau. Aku hanya melihat ada air mata yang jatuh saat ia mengusap figura.

“Oppa” Perhatian GD kini mengalih padaku. Seperti yang sudah aku duga, dia terkejut melihatku berada dirumahnya, padahal beberapa jam yang lalu dia mengantarku pulang.

“Hee Yong? Apa yang membuatmu datang malam-malam seperti ini?” GD buru-buru mengusap pipinya dan menarik tanganku untuk duduk disampingnya. Aku diam beberapa saat, tanpa bisa mengatakan alasanku.

“Yongie..” Panggilnya lagi.

“Aku ingin mengembalikan ini.” Aku melepas jas hitam yang melekat ditubuhku.

Kedua tangan GD menyentuh pundakku. Dua manik matanya yang indah menatapku penuh selidik. “Ada apa? Katakan padaku?”

“Apa namja yang menolongku dari pemabuk saat di pesta itu kau, Oppa?” Tanyaku memastikan setelah diam beberapa saat.

Dia menundukkan kepala. “Benar. Memangnya kenapa?”

“Ah tidak. Hanya saja aku merasa bodoh karna tidak tau hal itu. Kau sudah banyak membantuku, tapi aku tidak pernah sekalipun mengucapkan terima kasih.”

Hening. Aku tidak sanggup melanjutkannya. Kata-kata yang sudah ku rangkai dengan apik dalam perjalanan kemari hilang begitu saja saat dia menatapku seperti ini.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan. Semoga tunanganmu segera ditemukan. Dan juga mungkin ini pertemuan terakhir kita. Karna besok pagi aku akan berangkat ke luar negri untuk melanjutkan kuliah.” Ucapku spontan.

Aku merutuki kata-kata yang baru saja ku katakan. Sejujurnya aku sama sekali tidak punya rencana untuk kuliah di luar negri, aku hanya ingin menghindari GD. Jika aku terus bertemu dengannya, aku takut perasaanku akan semakin besar.

“Ah sudah malam. Aku harus pulang.” Dengan kaki gemetar aku berdiri. Ingin segera pergi meninggalkan tempat ini sebelum pertahananku runtuh. Tapi karna kecerobohanku, secara tidak sengaja tanganku menyenggol figura yang beberapa saat lalu GD letakkan di atas meja. Figura itu jatuh, dan pecah…….

“Ah maaf, aku tidak sengaja.” Aku membersihkan pecahan kaca dan mengambil figura itu.

“Tidak apa-apa aku yang akan membersihkannya.” GD menarik tanganku agar berdiri menjauhi serpihan kaca. Terjadi sedikit keributan, kami saling tarik karna aku tidak mau menuruti ucapannya.

“Tidak. Ini salahku, jadi aku yang harus membersihkannya.”

“Sudah hentikan. Aku tidak ingin tanganmu ter-”

Terluka? Terlambat. Karna tanganku sudah berdarah karna pecahan kaca. Rasanya sakit. Sakit sekali. Bukan tanganku, tapi hatiku.

Tunggu!!

Sepertinya aku mengenal mereka. Orang-orang yang ada dalam foto milik GD. Aku mengambil figura itu dan memperhatikannya satu persatu, ternyata ada foto masa kecilku juga disana.

“Siapa mereka?” Tanyaku dengan suara bergetar.

“Tunanganku dan keluarganya. Kakeknya Jung Shim Myung. Ayahnya Jung Suk Nan. Ibunya Lee Wi Yul. Dan kakak perempuannya Jung So Min. Gadis yang paling kecil dan manis itu tunanganku, Jung So Hee. Foto itu diambil 10 tahun yang lalu saat kami bertunangan. Tapi kecelakaan naas menimpa mereka setelah pulang dari rumahku. Mobil mereka terjun ke dalam sungai. Semuanya meninggal. Kecuali So Hee, polisi tidak bisa menemukan mayatnya. Jadi aku berharap dia masih hidup dan baik-baik saja dimanapun dia berada. Waktu itu aku masih kecil, tapi aku sudah yakin akan perasaanku. Meski 10 tahun sudah berlalu, perasaanku tidak berubah sedikitpun. Sejujurnya aku sempat goyah karnamu. Karna kalian begitu mirip.” Jelas GD panjang lebar sambil mengusap tanganku yang berdarah dengan sapu tangannya.

Nafasku tercekat mendengar pengakuannya. Beberapa kilas balik muncul bagaikan rekaman kejadian masa lalu yang menghujamiku tanpa ampun. Bibi-bibi cengeng itu, Paman pemarah itu, Kakek pemabuk itu, Kakak yang cantik itu, dan namja yang kini ada di hadapanku ini serta Ibunya. GD Oppa, ah tidak maksudku Ji Yong Oppa. Tunanganku ini terlihat kebingungan saat melihatku menangis semakin kencang hingga membuat ibunya terbangun. Tanpa tau apa yang terjadi sebelumnya, wanita paruh baya itu memelukku. Aku menangis sejadinya.

“Eommoni, Oppa, ini aku. So Hee.” Aku meraba leher jenjangku dan mencari kalung bertuliskan “HeeYong”. Aku menciumnya penuh kerinduan.

“Eommoni. Aku ingat semuanya. Kecelakaan itu. Eomma, Aboeji, Haraboeji, dan Eonnie, mereka semua memelukku. Mereka menyelamatku. Aku Jung So Hee, putri dari Jung Suk Nan dan Lee Wi Yul. Adik dari Jung So Min dan Cucu dari Jung Shim Myung Itu aku..” Ucapku histeris. 10 tahunku yang hilang. Aku mengingatnya sekarang, aku mengingatnya.

“Apa maksudmu?” Eommoni melepaskan pelukanku dan meminta penjelasan. Kalung. Aku hanya bisa menunjukkan kalung bertuliskan “HeeYong” yang melekat dileherku. Tanpa perlu ku jelaskan lagi, Eommoni dan Ji Yong Oppa pasti mengerti arti kalung ini. Kalung yang mereka berikan padaku dihari pertunangan. Kalung bertuliskan “HeeYong” untukku yang berarti SoHee-JiYong, dan bertuliskan “YongHee” untuk JiYong-SoHee menjadi milik JiYong Oppa.

Satu persatu kenyataan terungkap seiring dengan kembalinya ingatanku. Namaku yang sebenarnya bukanlah Kim Hee Yong, melainkan Jung So Hee. Hanya saja saat kecelakaan itu terjadi aku memakai kalung bertuliskan “HeeYong”. Aku juga ingat ada sepasang suami istri yang sedang memancing di pinggir sungai. Mereka yang menolongku dan membawaku ke rumah sakit sebelum aku pingsan dan hilang ingatan. Mereka yang tak lain adalah orang tua angkatku yang sekarang. Dengan melihat kalung bertuliskan “HeeYong” mungkin mereka pikir itu adalah namaku.

“Tuhan, terimakasih sudah menjaga So Hee kami selama ini.” Eommoni tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan.

Yah benar, aku juga harus bersyukur. Karna selama ingatanku hilang aku hidup dengan baik, bahkan memiliki orang tua yang tulus menyayangiku.

Deg!!

Orang tua????

Aku melepaskan pelukan Eommoni dan berlari pergi. Tidak menghiraukan Eommoni yang terus memanggil namaku. Yang aku pikirkan sekarang hanyalah bagaimana caranya agar aku bisa cepat pulang dan sampai kerumah. Menemui….. Hantu?

Bukan!!!!

Mereka bukan hantu!!

Mereka keluargaku.

“Mianhae. Mianhae Eomma, Aboeji, Haraboeji, Eonnie. Ttonajima. Jebal.”

Aku benar-benar mengingat semuanya. Gambar yang ku temukan di kotak pribadiku itu, gambarku. Aku sendiri yang menggambarnya. Benar, margaku Jung, bukan Kim. Kecelakaan yang terjadi 10 tahun lalu merebut segalanya dariku. Keluargaku, ingatanku. Aku menyesal. Benar-benar sangat menyesal sudah mengusir mereka. Aku tidak tau, aku benar-benar tidak tau jika yang bersamaku dan menggangguku adalah keluargaku. Ah tidak tidak. Bukan seperti itu. Mereka sebenarnya tidak pernah menggangguku, hanya saja aku yang merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Selama ini mereka hanya menemaniku. Keluargaku. Tolong, jangan pergi. Tunggu aku, aku ingin minta maaf pada kalian. Airmata yang terus mengalir ini menghalangi pandanganku. Dan……..

BRUK!!!!!!

Kurasakan tubuhku terlempar. Aku tak bisa melihat apapun sekarang, semuanya menjadi …… gelap.

-o0o-

Aku berada dimana sekarang? Aboeji, Eomma, Haraboeji, Eonnie. Kalian dimana? Jangan tinggalkan aku sendiri. Kenapa semuanya berwarna putih? Apakah aku sudah mati? Baguslah jika benar seperti itu, setidaknya aku bisa bersama kalian.

Aku ingin bertemu keluargaku. Aku ingin hidup bersama mereka. Aku menangis sesenggukan seperti anak hilang di dunia yang serba putih ini.

“Yakk!!! Pabbo-ya.” Sebuah suara mengangetkanku.

“Eonnie.” Pekikku senang melihat Jung So Min, kakak perempuanku yang cantik itu menghampiriku. Aku langsung memeluknya erat, aku takut dia meninggalkanku lagi.

“Aboeji, Eommabwa Haraboeji odiga?” Tanyaku yang dijawab dengan ujung jarinya menunjuk ke satu titik. Aku berbalik melihat arah yang ditujukan Eonnie, disana sudah ada Aboeji, Eomma dan Haraboeji yang tersenyum ke arahku. Aku berlari memeluk mereka satu persatu. Melepaskan rasa rindu yang entah sejak kapan menjadi begitu besar. Padahal dulu aku ingin pergi jauh dari mereka semua, tapi kini aku ingin terus bersama mereka.

“Kenapa kalian tidak pernah memberitahuku sebelumnya? Harusnya kalian mengatakannya sejak awal.” Marahku.

“Karna dulu kau malu punya kakek pemabuk sepertiku.”

“Karna kau tidak suka jika ayah terus memarahimu.”

“Karna kakak tidak pernah punya waktu untuk bermain denganmu.”

“Karna kami takut kau kecewa dan tidak percaya mempunyai keluarga seperti kami. Lagipula ibu tidak mau merusak kebahagiaanmu yang sekarang.”

Alasan-alasan itu membuatku terisak. Aku benar-benar akan gila.

“Aku tidak malu mempunyai kakek pemabuk, aku hanya tidak ingin kakek sakit karna terlalu banyak minum. Bukannya aku tidak suka ayah memarahiku, tapi wajah ayah sangat jelek saat marah dan itu membuatku takut. Aku hanya ingin melihat senyum ayah. Awalnya aku kira kakak tidak suka denganku, karna itu kakak tidak mau bermain denganku. Tapi aku tau jika kakak sibuk belajar. Ibu dengarkan aku, ayah dan ibuku yang sekarang memang sangat baik, tapi kalian adalah segalanya bagiku.” Aku berteriak melampiaskan kekecewaanku. Bagaimana bisa mereka berpikir seperti itu? Mereka mendekat dan memelukku. Pelukan ini, pelukan hangat keluargaku. Taukah kalian aku benar-benar merindukannya.

“So Hee-ah, Hee-ah.” Suara Eommoni yang tak lain adalah Ibu Ji Yong dan juga calon mertuaku terdengar memanggilku.

“Sayang kami benar-benar takut. Cepat bangun.” Suara khawatir Eomma dan Appa juga. Dimana mereka? Aku celingukan mencari sumber suara itu.

“Gadis jahat. Bagaimana kau bisa tumbuh secantik ini? Kau tau? Sebenarnya sudah lama aku menyukaimu, tapi aku tidak ingin menghianati perasaanku pada So Hee. Tidak ku sangka, ternyata aku jatuh cinta pada orang yang sama. Konyol. Hey apa kau tidak kasihan padaku? Aku sudah menunggumu selama 10 tahun, jangan membuatku menunggu lebih lama lagi. Bagaimana kau bisa membiarkan namja setampan aku ini menunggu? Cepat bangun. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.” Gurau Ji Young Oppa. Suaranya terdengar parau, serak menahan tangis.

Aboeji, Eomma, Haraboeji dan Eonnie tersenyum menatapku. “Kembalilah.” Ucap mereka serempak.

“Apa?”

“Bangunlah. Kembalilah ke dunia nyata sayang.” Eomma mengelus rambut panjangku.

“Dunia kita berbeda. Kau harus melanjutkan hidupmu.” Ujar Eonnie.

“Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak mau kembali tanpa kalian.” Tolakku.

“Banyak orang yang menyayangimu disana. Ayahmu, Ibumu, Ji Young dan Ibu mertuamu. Mereka pasti sedih melihatmu seperti ini.” Sahut kakek.

“Kami tidak meninggalkanmu. Kami tetap bersamamu. Disampingmu.” Ucap Aboeji.

Ini pertama kalinya aku melihat ayah kandungku menangis. Hentikan. Aboeji berhentilah menangis, jangan seperti itu, jangan memintaku melakukan hal itu. Ini benar-benar menyakitkan, hatiku terluka. Eomma memelukku erat. Aboeji, Eonnie, Haraboji juga memelukku. Berkali-kali mereka mengatakan bahwa mereka mencintaiku. Mengertilah aku juga mencintai kalian, jadi karna itu tolong jangan memaksaku pergi, dan juga jangan tinggalkan aku lagi.

Tapi…

Bayangan mereka menghilang secara perlahan.

Aku tidak bisa memeluk mereka,

Aku tidak bisa menyentuh mereka,

Aboeji, Eommoni, Haraboeji, Eonnie…….

Tidak!! Jangaaaaaaaannn!!!

Aku mohon………….

————————————

Saat aku terbangun..

Aku melihat sekelilingku…

Dan aku sudah tidak bisa memukan mereka lagi..

Mereka benar-benar pergi menghilang,

Benar-benar meninggalkanku,

Aboeji, Eomma, Haraboeji, Eonnie……

Tapi,

Aku melihatnya…

Keluarga baruku,

Appa..

Eomma..

Eommoni..

Suamiku Ji Young Oppa..

Dan juga Kwon Soo Yong, bayiku..

Setelah sadar dari koma dua tahun yang lalu, Ji Young oppa segera melamarku. Dan tak lama setelah itu dia menikahiku. Kami hidup bahagia seperti cerita dongeng.

Hari ini, sekali lagi aku bertaruh melawan kematian demi melahirkan buah hatiku dan Ji Young oppa. Bayi perempuan yang cantik sepertiku. Hanya saja bibirnya, matanya, hidungnya, lebih mirip dengan ayahnya yang tampan itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa Ji Yong oppa menurunkan gen-gen terbaiknya untuk anak kami, aku berterima kasih untuk itu. Dan juga untuk perhatian yang selalu diberikannya saat masa-masa kehamilanku.

Aboeji..

Eomma..

Haraboeji..

Eonnie..

Aku tau aku tidak bisa lagi melihat kalian. Tapi aku masih bisa merasakan keberadaan kalian. Aku yakin saat ini kalian sedang melihatku di surga.

Sekarang, aku benar-benar bahagia bersama keluarga baruku. Mereka yang selalu tulus mencintaiku. Bukan lagi Jung atau Kim, tapi Kwon. Sekarang aku sudah menjadi nyonya Kwon Ji Young.

“Waktu terus berputar, dan hidup tetap berjalan. Masa lalu bukan untuk dikenang. Tapi biarkan menjadi sebuah kenangan. Karna kita hidup untuk sekarang dan masa depan” – Jung So Hee

-END-

-miLanistred-

5 Komentar

  1. heeyeon

    wah ini keren..aku mau nangis jadinya

  2. DewiChaki

    Bneran nangis pas detik” ending :’)

  3. Jiscarine

    Keren eon :3 sequel dong eon ^^

  4. khunong

    Hoaa sedih bgt pas bagian keluarga so hee ngakak makan malam … torr gk ada sequel apa?

    • Maaf, tapi ini benar-benar sudah berakhir😀

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: