AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

My Past, My Future Part 1


Jung Shim Myung, Jung Suk Nan, Lee Wi Yul, Jung So Min. Nama-nama itu tertulis pada selembar kertas putih usang yang penuh dengan coretan crayon warna warni. Bisa ku pastikan itu adalah gambar yang dibuat anak kecil berusia 10 tahunan. Yang menjadi pertanyaan adalah, gambar jelek itu milik siapa? Dan siapa mereka? Aku tidak pernah mendengar nama-nama itu sebelumnya. Kenapa gambar itu ada di dalam kotak pribadiku? Pertanyaan itu terus saja berputar dikepalaku tanpa bisa ku temukan jawabannya. Appa dan Eomma-pun tidak pernah memberikan jawaban yang pasti, mereka hanya memintaku untuk menyimpannya. Aku juga merasa enggan untuk membuangnya jadi aku menyimpannya selama 10 tahun ini.

Ah ya, namaku adalah Kim Hee Yong. Putri dari Kim Tae Pyung dan Jeon Hae Rim. Salah satu pengusaha terkenal di Korea. Hidupku selama ini bisa dibilang berkecukupan. Kuliah di universitas ternama, memiliki teman-teman yang baik dan kekasih yang tampan. Tapi ada satu rahasia yang hingga saat ini tidak pernah aku katakan pada siapapun, termasuk orang tuaku. Aku bisa melihat hantu atau mungkin lebih tepatnya arwah penasaran. Terdengar konyol dan menggelikan mungkin, tapi aku benar-benar bisa melihat mereka.

Hal itu berawal saat aku baru saja sadar dari masa kritisku di rumah sakit. Saat itu ada seorang Bibi yang ku perkirakan umurnya lebih tua beberapa tahun dari Eommaku. Dia sedang menangis disamping tempat tidurku. Aku coba mengajaknya bicara, tapi dia tetap menangis. Ada juga seorang Paman yang terlihat frustasi berdiri di ujung pintu kamar rawatku. Sedangkan di ujung kakiku ada Kakek yang membawa botol soju berdiri disamping gadis cantik yang ku perkirakan usianya 7 tahun lebih tua dariku. Sepertinya mereka satu keluarga.

Hampir di setiap tempat aku bertemu dengan arwah orang mati, bahkan banyak dari mereka yang menemuiku untuk meminta bantuan. Seperti menyampaikan pesan pada seseorang yang masih hidup, dan permintaan aneh-aneh yang lainnya. Huh itu benar-benar melelahkan. Banyak juga yang berfikir aku gila karna seringnya berbicara sendiri, hingga Appa berulang kali menegurku. Sebenarnya aku tidak ingin membantu, tapi mengetahui beberapa diantara mereka mati dengan cara yang tidak wajar membuatku tersentuh. Jadi aku membantu mereka. Hanya sekali, itupun dengan kesepakatan yang sudah ku tentukan. Yaitu setelah aku membantu, mereka harus pergi karna aku tidak mau di ganggu lagi. Tapi anehnya arwah Bibi, Paman, Kakek dan Kakak perempuan yang aku temui di Rumah Sakit itu tidak pernah meminta apa-apa dariku. Mereka hanya datang dan pergi, setiap hari datang dan menemuiku, mengelilingiku tanpa mengatakan keinginan mereka. Aku sudah pernah memberi penawaran, tapi mereka menolak. Entahlah, apa yang mereka inginkan sebenarnya dariku.

Ah aku hampir lupa, jam berapa ini? Aku ada janji dengan Seung Hyun. Aku bergegas memilih pakaian terbaik yang aku punya. Satu, dua, tiga, ah bagaimana ini? Tak ada satupun yang cocok. Aku terbiasa memakai pakaian casual, tapi karna kali ini Seung Hyun mengajakku ke pesta mau tidak mau aku harus berpakaian formal bukan?

Sebenarnya aku memiliki banyak gaun yang dibelikan Eomma, tapi semua gaun itu terlalu terbuka dan aku tidak suka pakaian seperti itu!! Aku memang berbeda dengan Eomma yang suka berpakaian glamour, dan seksi. Suka berbelanja menghabiskan uang Appa, ataupun melakukan perawatan di salon. Hingga kadang aku berfikir apakah aku ini benar-benar anak Eomma?

“Coba yang ini.” Eonnie menyodorkan sebuah dress cantik berwarna putih tulang padaku. Dress selutut dengan hiasan renda dibagian dada itu memang cantik, jadi aku coba memakainya. Rambut panjang ku biarkan tegerai begitu saja membuat penampilanku semakin terlihat anggun, setidaknya itulah kata Eonnie. “Hantu” yang sudah ku anggap seperti kakak perempuanku sendiri.

Sama seperti respon Eonnie, Eomma-pun memuji kecantikanku saat aku berjalan turun dari kamarku yang memang berada di lantai atas. Disambut Seung Hyun yang ternyata sudah datang menjemputku. “Neomu yeppuda” pujinya.

Sedangkan Paman ‘hantu’ yang berdiri disamping pintu menatapku tajam. Seperti seorang Ayah yang tidak suka jika anaknya memakai pakaian terbuka, Paman itu terus melihatku dengan memasang wajah masam.

Dengan sopan Seung Hyun membukakan pintu Honda Civic berwarna hitam yang terparkir gagah seperti sang empunya di halaman rumah, setelah kami berpamitan pada Eomma. Dan beberapa menit kemudian mobil yang kami tumpangi melesat pergi meninggalkan rumah mewahku.

Choi Seung Hyun, putra rekan bisnis Appa yang juga kuliah di universitas yang sama denganku. Dia adalah seniorku. Kakak kelas yang menjadi pujaan setiap gadis yang ada dikampus. TOP itulah nama panggilannya. Meski dia seniorku tapi aku tidak pernah memanggilnya Oppa seperti yang dilakukan teman-temanku. Tidak ada alasan untuk itu, aku hanya lebih suka jika memanggil namanya, Seung Hyun. Dia-pun tidak keberatan jika aku memanggilnya seperti itu.

“Kita mau kemana?” Tanyaku memecah keheningan. Karna sepertinya Seung Hyun sedang ‘sibuk’ memperhatikan….. Penampilanku? Wajahku? Gaunku? Apa? Tidak tidak tidak! Pandangan matanya itu benar-benar membuatku merasa tidak nyaman. Demi apapun aku merutuki diriku sendiri yang dengan bodoh mau memakai gaun mini ini.

“Yakk!! Apa yang kau lihat? Konsentrasi dan Lihat saja ke depan.” Perintahku. Tak lupa tangan kiriku menjewer telinga kanan Seung Hyun yang hanya bisa meringis kesakitan.

Tak butuh waktu lama karna kini kami sudah sampai ditempat tujuan. Entahlah tempat seperti apa yang aku datangi ini, sepertinya tempat ini sudah di booking untuk acara hari ini. Terbukti dengan diharuskannya setiap tamu yang masuk membawa undangan. Sekali lagi Seung Hyun turun dan membukakan pintu, membantuku turun dari mobil, lalu mengaitkan tangan kananku ke lengan kirinya.

Di dalam ternyata sudah banyak tamu. Diantara mereka ada beberapa yang ku kenal karna Seung Hyun pernah mengenalkanku pada mereka. Hanya sekedar mengenalkan, jadi aku tidak terlalu akrab. Karna mereka semua memang seniorku dan ini adalah acara ulang tahun salah satu teman Seung Hyun.

Saat kami datang semua pandangan tertuju ke arah kami. Mata namja-namja itu seperti ‘menelanjangi’-ku. Aku hanya bisa tertunduk malu, dan mempererat gandenganku. Sedangkan Seung Hyun berjalan penuh percaya diri.

“Kau mau duduk disini atau ikut denganku menemui Taeyang?” Tawarnya setelah kami menemukan kursi kosong untuk duduk.

“Aku tunggu disini saja, tapi cepatlah kembali.” Pintaku yang mendapat anggukan darinya. Selang beberapa detik aku sudah tidak lagi melihat sosok Seung Hyun yang sudah berbaur dengan ratusan orang lain yang datang.

Aku menghembuskan nafas berat. Merasa berada ditempat asing, Karna sibuk membenarkan posisi gaun, aku tak menyadari jika disampingku kini sudah ada seorang Kakek. Jangan heran bagaimana dia bisa masuk, karna dia memang seorang hantu. Yah, hantu Kakek pemabuk yang pernah aku ceritakan itu. Tapi apa yang dilakukannya disini? Mengikutiku? Gila! Dia bahkan mengajakku minum sekarang. Orang tua itu terus mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak ku mengerti hingga membuatku kesal. Tidak bisakah dia membiarkanku sendiri? Bahkan di acara seperti ini.

“Kakek hentikan.” Bentakku. Beruntung suara musik yang keras membuat orang lain tak mendengar teriakanku. Tapi ternyata dugaanku salah.

“Kau bicara dengan siapa?” Sebuah suara mengangetkanku.

Hantu? Apa dia juga salah satu hantu? Tiba-tiba saja muncul seperti itu dari belakangku, padahal aku tak melihat siapapun sebelumnya. Perlahan aku mendekat dan menyentuh pipinya dengan ujung jari telunjukku. Rasanya empuk, kenyal dan hangat. Berarti dia? Manusia? Ku perhatikan tiap inchi detail wajahnya. Tampan. Bibirnya, hidungnya, matanya. Sempurna. Dia mengangkat satu alisnya, di ikuti beberapa deheman yang mulai menyadarkanku. Bodoh. Apa yang baru saja aku lakukan?

“Bukan urusanmu.” Jawabku singkat dengan menundukkan wajah karna merasa malu.

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini? Mengejutkanku seperti itu? Kenapa tidak bergabung dengan mereka?” Tanyaku sambil menunjuk orang-orang yang sedang sibuk menggeleng-gelengkan kepalanya mengikuti alunan musik disco.

“Bukan urusanmu.” Jawabnya membalikkan ucapanku. Huh dia menjengkelkan bukan?

Namja itu berlalu pergi. Dan sekarang aku benar-benar sendiri. Hantu kakek sudah menghilang dan Seung Hyun juga tak kunjung kembali. Beberapa namja yang ku rasa sedang mabuk mendekat, menatapku dengan tatapan mengerikan. Aku ketakutan hingga tak sengaja aku menumpahkan minuman yang sialnya mengenai gaunku. Aku pergi ke toilet untuk membersihkannya, namun mataku terbelalak ketika mendapati sepasang namja dan yeoja sedang bercumbu di ujung pintu toilet. Aku tidak begitu mengenal wanita itu, tapi laki-laki yang bersamanya itu.

Brengsek!!!! Itu Seung Hyun. Seung Hyun-ku. Buliran air hangat keluar tanpa perintah dari sudut mataku. Aku bahkan tidak sanggup melangkahkan kaki, jika saja beberapa namja pemabuk itu tidak mengikutiku. Aku berjalan cepat menghindari namja pemabuk, menerobos kerumunan orang-orang yang sedang asik meliuk-liukkan tubuhnya. Melepas kedua high heels agar mempermudah langkahku.

Aku berjalan secepat mungkin, tapi lagi-lagi sial karna aku berjalan ke arah yang salah. Jalan buntu. Aku tidak tau lagi harus lewat mana dan meminta tolong pada siapa karna namja pemabuk itu kini sudah ada dihadapanku dengan senyum iblis. Suara musik begitu berisik hingga tak ada seorangpun yang mendengar jeritanku. Saat namja pemabuk itu semakin mendekat dan berusaha menyentuh kulitku, kurasakan ada sebuah tangan menarik lenganku dan memelukku.

“Menyingkirlah. Dia yeojaku.” Bentaknya.

Deg. Rasanya hatiku berhenti beberapa detik setelah mendengar suara itu. Siapa dia? Apa dia Seung Hyun? Aku rasa tidak, itu bukan suara Seung Hyun. Ah siapapun dia aku tidak perduli. Yang penting dia sudah menyelamatkanku dari pemabuk itu. Lagipula…. Nyaman. Pelukan ini begitu hangat dan nyaman. Meski dadanya terlalu bidang untuk ukuran laki-laki. Namun kehangatan ini membuatku semakin menenggelamkan wajahku untuk menghirup wangi tubuhnya dan menangis sejadinya di pelukan malaikat menolongku ini. Persetan dengan Seung Hyun. Aku bahkan lupa jika aku datang kemari bersama namja chinguku yang kini entah berada dimana.

“Cepat pergi dari sini.” Perintahnya. Namja itu pergi meninggalkanku begitu saja. Aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya, apalagi mengucapkan kata terima kasih.

Dengan kaki gemetar aku meninggalkan tempat terkutuk itu. Tanpa alas kaki, dan dengan pakaian minim seperti ini benar-benar membuatku terlihat buruk. Udara dingin malam ini membuatku menggigil. Tanpa ku sadari hantu Bibi, Paman, Kakek, dan Kakak sudah mengikutiku di belakang. “Maaf. Ini salahku.” Ucap Eonnie yang merasa bersalah. Sedangkan Bibi mendekap tubuhku mencoba memberi kehangatan, tapi itu sama sekali tak berguna. Karna dia hantu, tubuhnya bahkan lebih dingin dari udara malam ini.

Sebuah Bentley Mansory berwarna putih dengan motif naga di sepanjang body kiri mobil mendekat dan berhenti tepat di depanku. Mobil yang tak kalah mewah dari mobil Seung Hyun. Keluarlah seorang namja yang kutemui beberapa saat yang lalu. Namja menyebalkan yang membalikkan ucapanku itu.

“Masuklah, akan ku antar kau pulang.” Ajaknya.

“Tidak. Sebentar lagi supirku datang.” Tolakku. Dia mengangguk mengerti dan akan kembali masuk ke dalam mobil, tapi langkahnya terhenti dan kembali melihat penampilanku dari atas ke bawah.

“Apa yang kau lihat? Cepat pergi.” Melihat tatapannya itu membuatku ketakutan. Aku takut akan terjadi hal-hal buruk lagi. Tapi namja itu malah semakin mendekatiku.

“Jangan berfikiran buruk. Gadis Bodoh. Aku sama sekali tidak tertarik denganmu. Aku hanya tidak ingin kau mati membeku.” Namja itu melepas jasnya untuk menutupi tubuhku. Hal yang sama sekali tidak pernah aku duga sebelumnya. Dibalik kata dan sikap dinginnya, terselip kehangatan.

“Hey. Siapa namamu? Bagaimana aku mengembalikan ini?” Aku menunjuk jas hitam yang kini melekat ditubuhku.

“Aku GD. Tidak usah dikembalikan, buang saja.” Dengan cueknya namja bernama GD itu masuk ke dalam mobil yang sedetik kemudian sudah menghilang dari pandanganku. Tak berapa lama mobil lain datang. Setidaknya aku bisa bernafas lega, karna yang datang adalah supirku.

***

“Dia pasti selingkuh.”

“Jangan berfikiran buruk.”

“Lalu apa yang mereka lakukan kemarin?”

Kepalaku semakin pusing mendengar perdebatan Paman dan Kakek hantu tentang Seung Hyun. Sedangkan Bibi yang suka menangis itu semakin terisak ketika tau Seung Hyun menghianatiku. Yang terlihat normal hanyalah Eonnie yang berusaha menenangkanku.

Aku sendiri berkutat dengan pikiranku tentang apa yang membuat orang-orang di depanku ini mati? Pertanyaan bodoh itu semakin membuatku gila. Aku sudah pernah mencoba bertanya, tapi tak berhasil. Mereka tidak mau mengatakan apapun.

“Yongie, Seung Hyun menunggumu dibawah.” Suara Eomma terdengar menggema hingga ke kamarku. Apa aku tidak salah dengar? Seung Hyun? Namja gila. Apa lagi yang akan dilakukannya? Bagaimana dia bisa berani menemuiku setelah apa yang dilakukannya semalam?

“Aku tidak ingin bertemu dengannya Eomma.” Teriakku dari dalam kamar.

“Setidaknya temui dia sebentar sayang.” Eonnie mengangguk mendukung ucapan Eomma.

Baiklah, aku akan menemuinya. Ini demi Eomma dan Eonnie. Bukan demi Seung Hyun! Ku langkahkan kaki malas. Sedangkan ke-empat hantu itu mengikutiku dibelakang.

“Maafkan aku Hee Yong-ah. Taeyang memintaku menjadi DJ semalam. Aku sudah menolak, tapi dia tetap memaksaku.” Jelas Seung Hyun.

“Siapa wanita yang bersamamu di toilet?” Tanyaku langsung.

“Apa? Ah? Dia? Di.. Dia hanya temanku, dia mabuk dan aku membantunya ke toilet. Itu saja.” Ucapnya gelagapan tapi terus mencoba meyakinkanku.

“Pembohong!! Jangan mau tertipu olehnya.” Sahut Paman.

“Hee Yong-ah, percayalah padaku. Apa kau pernah melihatku berselingkuh sebelumnya?” Seung Hyun terus mencoba meyakinkanku. Dia benar, selama ini aku tidak pernah melihatnya macam-macam dengan yeoja lain. Mungkin aku hanya salah faham. Tidak ada salahnya memberinya kesempatan.

“Baiklah, aku memaafkanmu.”

-o0o-

Jam kuliahku sudah berakhir satu jam yang lalu, dan sudah selama itu pula aku menunggu Seung Hyun di kantin. Kemana namja itu sebenarnya? Kenapa tak kunjung datang? Apa ada kelas tambahan? Baiklah, aku memutuskan untuk mencari ke kelasnya. Ku lihat dari luar cendela, kelas sudah kosong. Saat aku beranjak pergi, aku mendengar petikan suara gitar dan suara namja yang mengalun begitu lembut dari kelas Seung Hyun. Karna rasa penasaranku yang begitu besar, aku beranikan diri untuk melihat siapa pemilik suara itu.

Uyeonhi gireul geotda ne namjal bwasseo
Hoksina haetdeon nae yegami majasseo
Nega jun banjireul ppaego hanjjogen paljjangeul kkigo
Geunyang yeogikkajiman malhalge
Geunde ohiryeo neoneun naege hwareul nae
Geuneun jeoldaero geureol riga eopdae
Naneun ne nunchil salpigo naega jal mot bon georago
Geurae neol wihae geojitmalhalge

Orang itu. Suara itu. Gemulai tangannya dalam memainkan gitar. Sungguh mempesona dan mampu menghipnotisku. Orang yang sama saat memberikanku jas. Kalau aku tidak salah mengingat, namanya…. “GD.” Pekikku, yang tentu saja membuat sang pemilik nama menoleh ke arahku. Ugh lagi-lagi aku melakukan hal bodoh.

“Sejak kapan kau disitu?” GD meletakkan gitarnya, melangkah ke arahku. Dan entah kenapa aku menjadi begitu gugup dan salah tingkah. Bukan sekedar rasa takut karna sudah ‘ketahuan’ mengawasinya diam-diam, tapi rasa takut ‘ketahuan’ akan kegugupanku yang mendadak muncul.

“Aku, ak aku hanya mencari Seung Hyun. Tapi ternyata kelas sudah sepi.” Ucapku dengan rasa gugup yang sudah menjalar di sekujur tubuh. Tak beda denganku, GD juga terlihat salah tingkah. Tangan kanannya menggaruk tengkuknya.

“Dia kan tidak masuk kuliah hari ini.” Jelasnya yang tentu saja membuatku terkejut. Tidak mungkin. Seung Hyun tidak masuk kuliah itu tidak mungkin, karna tadi pagi dia datang menjemputku. Kami pergi bersama.

Sekali lagi aku coba menghubungi ponselnya. Aktif tapi kenapa tak ada jawaban? Apa ada hal buruk yang terjadi padanya? Aku coba menghubunginya. Lagi dan lagi, hingga berhasil. Dia menjawab panggilanku. Tapi apa ini? Kenapa aku mendengar suara yeoja di ujung sana? Segera ku matikan poselku. Siapa? Siapa yeoja itu? Itu bukan suara Eomma Seung Hyun, aku yakin karna aku mengenalnya. GD mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku, mencoba menyadarkanku dari lamunan.

“Hey kau baik-baik saja? Mau pulang bersamaku?” Tawarnya.

“Aa..” Awalnya aku ingin menjawab Aniya, tapi setelah kupikir-pikir, tidak ada salahnya jika aku menyetujuinya. “Ayo” ucapku selanjutnya.

Di dalam mobil kami sama-sama kikuk. Tidak tau harus memulai pembicaraan dari mana. “Suara, dan petikan gitarmu bagus.” Pujiku.

“Jeongmal? Ugh.. gumawo.” Ucapnya singkat. Lagi-lagi dia menggaruk tengkuknya. Sepertinya itu kebiasaannya ketika gugup. Dan jika dilihat-lihat dari dekat dia benar-benar tampan dan manis, tak kalah dengan Seung Hyun. Batinku

“Namamu?”

“Hah? Apa?”

“Namamu. Aku belum tau namamu.”

“Hee Yong. Kim Hee Yong imnida.” Aku memperkenalkan diri.

“Hee Yong? Yong Hee?” Ucapnya membolak balik namaku dengan senyum yang ‘sedikit’ berbeda.

“Ne. Wae?”

“Tidak. Hanya saja kebetulan nama belakang kita sama.” Balasnya.

“Siapa? Kau? GD?”

“Ya. Namaku Kwon Ji Yong. Ji dalam abjad sama dengan huruf G. Sedangkan Yong artinya Naga. Dalam bahasa Inggris artinya Dragon. Jadi G-Dragon disingkat GD, keren bukan?” Namja itu memuji namanya sendiri. Aku hampir tertawa mendengarnya. Tak ku sangka dia juga mempunyai sisi yang lucu. Setelah banyak bicara dengannya, aku baru sadar jika dia orang yang menyenangkan. Berbeda dengan orang yang ku temui di pesta beberapa saat yang lalu. Mungkin istilah “Tak kenal, maka tak sayang” itu benar adanya. Lagipula waktu itu memang salahku.

Tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku. Setelah mengucapkan terima kasih aku turun dan melambaikan tangan, tak lupa senyum yang terus terukir dibibir mungilku. Namun senyum itu tak bertahan lama ketika aku melihat ke-empat hantu sudah menyambutku dengan senyuman aneh di depan pintu. Apa tidak salah? Paman pemarah, Bibi cengeng, mereka tersenyum padaku. Untuk pertama kalinya.

***

Sudah lima hari ini aku tidak bertemu Seung Hyun. Padahal di awal-awal kami pacaran, hampir setiap hari dia menemuiku. Aku tidak keberatan jika kami tidak bertemu selama ini, tapi setidaknya dia harus memberiku kabar. Bahkan ponselnya sekarang tidak aktif. Memang apa yang sedang dilakukannya?

Aku mendengar selentingan kabar dari beberapa temanku, bahwa mereka pernah melihat Seung Hyun berjalan dengan seorang gadis. Jadi bukan salahku jika aku mulai curiga, mengingat hal-hal aneh yang kutemukan akhir-akhir ini.

“Yongie, bisakah kau mengambil baju pesanan Eomma dibutik designer Han? Eomma ada undangan, dan Eomma harus ke salon sekarang.” Pinta Eomma.

Sebenarnya aku malas, tapi aku juga tidak tega melihat Eomma bolak-balik ke butik dan salon jadi “Baiklah.”

“Setelah itu langsung antarkan bajunya ke salon yaa..” Lanjut Eomma. Aku hanya mengangguk mendengar perintah Eomma. Dengan diantar supir aku berangkat ke butik langganan Eomma. Ahjussi Kang yang tak lain adalah supir keluarga kami mengatakan jika dia harus segera balik setelah mengantarku ke butik, karna ia harus mengantar Eomma ke salon. Jadi aku pulang naik taksi? Huh aku hanya bisa mendengus kesal.

Sesampainya dibutik ada seseorang yang menghampiriku, katanya designer Han masih ada tamu jadi aku harus menunggu. Baiklah tak masalah. 5 menit, 10 menit, aku mulai bosan, karna tak ada seorangpun disana yang ku kenal. Tapi tiba-tiba saja ada yang memanggil namaku. Aku mencari-cari asal sumber suara tersebut dan menemukan GD disana. Bersama dengan seorang Ahjumma yang menurutku adalah Eommanya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya.

“Mengambil baju pesanan Eomma. Kau sendiri?” Tanyaku. GD melihat ke sampingnya dan tersenyum.

“Mengantar Eomma.”

“Eomma, perkenalkan dia juniorku. Namanya Hee Yong.” Tiap kata yang keluar dari mulut GD benar-benar terdengar lembut dan sopan. Dia pasti sangat menyayangi Eommanya.

“Hee Yong? So Hee? Hee Yong? So Hee?” Eomma GD berkali-kali memanggil namaku dan So Hee? Entah siapa sebenarnya So Hee, aku tidak tau dan tidak mau tau. Wanita paruh baya itu perlahan mendekat dan memelukku. Erat. Bahkan sangat erat hingga membuatku sedikit kesulitan bernafas. Mendadak hatiku bergetar. Rasanya ada kerinduan yang begitu mendalam. “So Hee.” Ucapnya lagi.

“Eomma sudah hentikan. Dia Kim Hee Yong. Bukan Jung So Hee.” GD coba menenangkan Eommanya. Yang tentu saja membuatku semakin bingung dan juga tertarik dengan gadis bernama Jung So Hee itu.

“Hee Yong agashi, Designer Han sudah selesai, silahkan masuk.” Ucap penjaga butik. Aku mengangguk dan berpamitan pada GD dan Eommanya untuk mengambil baju, karna Eomma sudah menungguku. Aku berjalan masuk ke dalam ruangan designer Han yang disambut dengan senyuman, pelukan, dan ciuman dikedua pipiku.

“Sebenarnya aku ingin bicara banyak denganmu. Memintamu untuk jadi model gaun pengantin rancangan terbaruku, tapi Eomma-mu sudah menghubungiku dan menyuruhmu segera ke salon setelah mengambil baju. Jadi kapan-kapan jika kau ada waktu kemarilah.” Ucap designer Han ramah dan bersahabat, karna selain keluarga kami menjadi langganan di butik miliknya, ia juga teman baik Eomma. Aku menyanggupinya dengan senyuman dan berterima kasih. Setelah menerima pesanan Eomma, aku menunduk untuk berpamitan.

Baru beberapa langkah aku keluar dari ruangan designer Han, aku mendengar suara yang cukup gaduh, dilanjutkan dengan ‘pemandangan’ yang tidak pantas. Yang tidak seharusnya dilakukan di sudut ruang ganti. Menyakitkan. Karna sekali lagi, aku melihat Seung Hyun berdua dengan gadis yang sama seperti yang ku lihat di pesta beberapa waktu yang lalu.

“Kau yang paling cantik.” Ucap Seung Hyun lalu mengecup bibir gadis itu. Mendadak tenggorokanku tercekat. Rasanya sakit sekali. Bahkan untuk menelan ludah saja tidak bisa. Dan sekali lagi, tiba-tiba saja seorang pemuda datang dan memelukku. Menghentikan aktifitasku untuk ‘melihat’ adegan yang tidak pantas itu.

Aku menangis tanpa suara. Tubuhku lemas, bahkan tas kantong yang berisi baju Eomma itu jatuh dari genggamanku. Beberapa orang melihat kearahku, tapi aku tak memperdulikannya. Air mata terus membasahi pipiku. Eomma GD mengambil tas kantongku yang terjatuh. Dari situ aku tau jika orang yang memelukku saat ini adalah GD. Wangi harum tubuh ini, aku pernah menciumnya. Tapi dimana? Otakku menerawang mencoba mengingat, seakan pernah merasakan kenyamanan seperti ini sebelumnya.

“Apa yang mereka lakukan? Berpelukan dan bermesraan ditempat umum seperti ini.” Aku bisa mendengarkan suara Seung Hyun mengatakan hal itu. Munafik. Lalu apa yang baru saja dilakukannya tadi di sudut ruang ganti? Brengsek!!

“Mari ku antar pulang.” Masih dengan mendekapku, GD menuntunku berjalan keluar butik, sedang satu tangannya lagi menggandeng tangan Eommanya. GD tak sedikitpun melepaskanku. Dia benar-benar melindungi dan menjagaku. Tapi kenapa air mataku semakin menjadi? Hatiku terasa sesak mendapat perlakuan seperti ini dari seseorang yang baru ku kenal dan bukan ‘siapa-siapa’.

Kini aku duduk di kursi belakang bersama Eomma GD. Senyum hangat wanita paruh baya itu mampu mengobati kekecewaanku, ditambah elusan tangannya yang menyentuh rambutku, wajahku, tanganku yang seakan memberi kekuatan. Aku benar-benar merasa terenyuh. Bagaimana bisa orang yang baru ku kenal beberapa menit yang lalu bisa memperlakukanku sebaik ini? Dan bagaimana bisa aku merasakan kenyamanan yang amat luar biasa ketika bersama mereka? Kulihat dari spion kaca GD tersenyum ke arahku.

“Oppa, bisakah kau mengantarku ke Salon di daerah gangnam? Eommaku sudah menunggu disana.” Kata Oppa begitu saja keluar dari mulutku. Entah kenapa aku memanggilnya seperti itu. Kata yang tidak pernah ku ucapkan untuk siapapun. Namja yang ku panggil ‘Oppa’ itupun hanya mengangguk menyanggupi ucapanku. Tak banyak kata yang keluar dari mulut kami. Begitu sunyi, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Mungkin jika bersama orang lain aku sudah merasa kikuk dan tidak nyaman. Tapi entah kenapa aku bisa merasa senyaman ini jika bersama mereka.

Sesampainya di depan salon, Eomma GD menghalangiku untuk pergi. “Ahjumma, aku janji akan main kerumah anda lain waktu.” Mendengar ucapanku akhirnya Eomma GD mau melepaskanku. Dan Eomma yang melihatku turun dari mobil GD menaikkan satu alisnya dan menatapku penuh curiga.

“Nugu?”

“Chingu.”

“Jeongmal?”

“Ne.”

“Kau tidak berselingkuh kan?”

“Eomma!!” Bentakku, hingga beberapa orang yang ada di salon melihat ke arah kami. Aku menyesal sudah membentak Eomma. Tapi pertanyaan tadi benar-benar membuatku jengkel. Bagaimana bisa Eomma menuduhku berselingkuh? Bukan aku Eomma, bukan. Tapi Seung Hyun. Andai saja aku bisa mengatakannya. Tapi aku rasa itu percuma, karna Eomma tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang ku katakan.

Setelah meletakkan baju pesanan Eomma aku berjalan keluar. Ingin segera pulang menemui kasur hangatku. Tapi Eomma menahan langkahku. “Tidak mau melakukan perawatan dulu?” Tawarnya, yang hanya ku jawab singkat. “Ani.”

***

Jam baru menunjukkan pukul 9 pagi, tapi apa yang terjadi dirumahku? Seperti ada keributan besar dibawah. Apa jangan-jangan pencuri? Atau Tsunami? Aku segera berlari turun untuk melihat keadaan, tapi yang ada dihadapanku kini adalah Eomma yang sedang berlarian mengejar Seung Hyun. Sebenarnya apa yang mereka lakukan?

“Hee Yong-ah, Eomma salah faham padaku. Katakan padanya untuk berhenti mengejarku.” Pinta Seung Hyun dengan wajah memelas ketika melihatku menuruni tangga.

“Tidak mau. Aku tidak mau lagi melihatmu. Mulai sekarang kita putus.” Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku. Tidak ada penyesalan. Seperti baru mengeluarkan beban yang teramat sangat berat, hatiku benar-benar lega setelah mengatakannya.

“Setuju.” Suara lantang Eomma menggema di seluruh ruangan.

“Sekarang cepat pergi dari sini sebelum aku memanggil polisi.” Ancam Eomma.

Sekarang aku benar-benar tidak perduli lagi dengan apa yang akan Seung Hyun lakukan. Ku langkahkan kembali kakiku ke atas dan masuk ke dalam kamar. Tapi suasana dikamarku sekarang tak kalah berisiknya dengan apa yang dilakukan Eomma dan Seung Hyun dibawah. Karna yang terlihat adalah ke-empat hantu itu meloncat-loncat kegirangan. Aktifitas mereka terhenti ketika melihatku datang.

“Apa yang kalian lakukan?” Tanyaku heran.

“Kami terlalu senang mendengar kau memutuskan pria brengsek itu.” Jawab Paman dengan senyum penuh kebahagiaan.

“Kalian bahagia? Apa kalian sangat bahagia melihatku menderita?” Sungutku yang mulai muak dengan kehadiran mereka.

“Ah bukan, bukan seperti itu. Kami hanya terlalu bahagia, karna setidaknya kau tidak akan sedih lagi karna pria itu.” Jelas Eonnie.

“Lalu apa keinginan kalian sebenarnya? Kenapa kalian tidak mengatakannya padaku? Kenapa kalian lebih senang mengganggu hidupku!! Aku akan menuruti satu keinginan kalian, tapi setelah itu menyingkirlah dari hidupku.” Suasana benar-benar hening sekarang. Tak ada satu hantu-pun yang berusaha membantah ataupun memprotes ucapanku.

Ah ini benar-benar membuatku gila. Ku putuskan keluar kamar dan kembali turun. Ternyata Seung Hyun sudah pergi dari rumah. Baru beberapa langkah aku menuruni tangga, aku dikejutkan dengan datangnya seorang pria tinggi dengan perawakan kurus membawa beberapa koper besar.

“Appa!!” Pekikku melihat sosok Ayah yang sudah lama kurindukan karna terlalu seringnya pergi ke luar negri. Aku berlari memeluk Appa.

“Oh, suamiku sudah pulang.” Eomma tak mau kalah. Kami bertiga sekarang saling berpelukan seperti Teletubbies. Aku melihat ke-empat hantu itu mengawasiku dengan wajah sedih dari lantai atas. Berbeda dengan apa yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu. Melihat ekspresi sedih dari wajah mereka aku jadi menyesal dengan apa yang sudah ku katakan tadi.

“Waktunya sarapan. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian.” Eomma menggeret tanganku dan Appa ke meja makan. Eomma mengomentari tubuh Appa yang terlihat semakin kurus. Eomma juga membahas tentang Seung Hyun yang berselingkuh. Ternyata Eomma kemarin bertemu dengan Seung Hyun dan selingkuhannya, karna itu Eomma mengusir Seung Hyun tadi pagi, dan sekarang Eomma memintaku untuk mencari pengganti Seung Hyun. Ocehan Eomma terhenti ketika bibi pengurus rumah mengganggu acara sarapan kami dan memberitahu bahwa ada tamu yang datang.

“Siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini?” Pikir kami. Appa memerintahkan bibi untuk mempersilahkan tamu tersebut masuk dan bergabung bersama kami di meja makan. Dan betapa terkejutnya aku ketika mengetahui siapa yang datang.

To Be Continue

-miLanistred-

3 Komentar

  1. ini lanjutannya belom dipublish lg yaa thor ??

  2. khunong

    Sebenernya so hee siapa ? Kok eomma gd manggil heeyougn so hee?

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: