AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

FF Oneshoot “Waiting For Rain”


Kisah nyata saya ini saya dedikasikan untuk almarhum sahabat saya yang hari ini berulang tahun. Semoga tenang disana sahabat..

Happy Reading……….

SoHee memacu sepedanya cepat bersama Seul, putri dari teman ibunya semasa sekolah. Mereka baru kenal beberapa menit yang lalu jadi hubungan mereka masih sedikit kikuk. SoHee dan Seul bersekolah di Nataraja Academy. Dan hari ini adalah hari pertama mereka memasuki sekolah baru. Karna itu mereka tidak ingin terlambat. Sesampainya di sekolah mereka harus berpisah, karna mereka memang berada di ruang yang berbeda. Seul di kelas B sedangkan SoHee di kelas F.

“Hee-ah, pulang nanti aku tunggu disini yah.” Ujar Seul yang mendapat anggukan setuju dari SoHee.

Setelah menemukan kelas masing-masing mereka berkumpul di aula untuk menjalankan apel pagi dan persiapan Masa Orientasi Siswa. Seul sudah mempunyai teman sebangku yang bernama Ga In. Sedangkan SoHee juga sudah menemukan teman barunya, Yeo Nim. Mereka berbaris sesuai dengan kelas mereka masing-masing. Hari pertama sekolah semua berjalan lancar, begitupun hari kedua, ketiga dan seterusnya.

Meski tomboy SoHee adalah gadis yang supel, karna itu dia punya banyak teman, baik laki-laki ataupun perempuan. Di sekolah ia mengikuti ekstra basket dan musik. Dia bahkan menjadi pemain inti tim basket. Namun karna cidera yang di alaminya, ia tidak bisa lagi melanjutkan hoby-nya itu. Satu-satunya yang bisa ia andalkan sekarang adalah musik. Meski tidak pandai bermain alat musik, tapi karna kemauan dan kerja keras, akhirnya ia sedikit bisa menguasai piano dan gitar.

Semester satu berlalu dengan cepat. Meski SoHee tidak bisa menjadi nomer satu, tapi nilai Bahasa Inggrisnya menjadi yang tertinggi di sekolah. Bersanding dengan teman sekelasnya, Ri Hwan yang juga mendapatkan nilai tertinggi.

“Chukkae.” Lirih Ri Hwan ketika mereka sedang berdiri diatas panggung untuk menerima penghargaan. SoHee mendongak melihat Ri Hwan yang ada disampingnya, karna memang namja itu beberapa centi lebih tinggi darinya.

“Kau juga.” SoHee mengulurkan tangannya pada Ri Hwan. Mereka berjabat tangan dan saling memberi selamat dengan tulus.

“Kami harap kalian dapat menjadi tim dan bisa bekerja sama dengan baik untuk mengikuti lomba debat Bahasa Inggris mewakili sekolah.” Ujar kepala sekolah kepada SoHee dan Ri Hwan setelah memberikan ucapan selamat. Keduanya saling tatap kemudian mengangguk mantap. Dan cerita persahabatan mereka dimulai dari sini.

***

SoHee menidurkan kepalanya diatas meja. Jam pelajaran telah usai. Kelas sudah sepi, hanya tertinggal SoHee dan Ri Hwan yang masih sibuk belajar mempersiapkan diri untuk lomba. Sedangkan dilapangan masih ramai beberapa siswa yang mengikuti ekstra. SoHee menghembuskan nafas berat mengingat ia tak bisa lagi bermain basket seperti teman-temannya.

Dengan sengaja Ri Hwan melemparkan sebuah kamus yang tidak perlu ditanyakan lagi ketebalannya, hingga SoHee mengangkat kepalanya kaget. Mulutnya menganga lebar tanpa suara. Ri Hwan sebenarnya tau apa yang sedang dipikrkan SoHee, tapi memang seperti inilah caranya ‘menghibur’ gadis itu, dengan mengajaknya bertengkar.

“Awalnya aku pikir kau pendiam. Tidak ku sangka kau sekejam itu.” Teriak SoHee histeris dengan wajah yang dibuat-buat setelah menjadi ‘korban’ kekerasan Ri Hwan.

“Apa yang kau lakukan?” Dong Hoo tiba-tiba datang dan mencengkram kerah seragam Ri Hwan.

“Apa dia melukaimu Hee-ah?” Tanya Dong Hoo. Sedangkan matanya masih tertuju pada Ri Hwan.

“Tidak. Aku baik-baik saja. Kami hanya bercanda. Lagipula itu tidak ada hubungannya denganmu.” Kata-kata dingin yang meluncur dari mulut SoHee seakan membuatnya tersadar. Dong Hoo melepaskan cengkramannya dan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Sepertinya dia menyukaimu.” Ujar Ri Hwan yang lebih terdengar seperti sebuah sindiran. Ri Hwan mengambil tasnya dan meninggalkan SoHee yang terlihat kebingungan dengan sikap kedua namja tersebut.

***

“Kyaa Hee-ah, chukkae. Kau keren.” Yeo Nim menghampiri SoHee yang baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Kata-kata yang sudah bosan ia dengar sejak memasuki pintu gerbang sekolah. Ucapan selamat atas keberhasilan SoHee dan Ri Hwan yang memenangkan lomba. Tidak ada raut bahagia di wajahnya, benar-benar tidak seperti seseorang yang baru saja memenangkan lomba. SoHee menengok bangku belakangnya yang masih kosong. Artinya Ri Hwan belum datang, atau mungkin namja itu tidak masuk sekolah. SoHee menidurkan kepalanya diatas bangku. Hal yang selalu SoHee lakukan jika gadis itu sedang bosan, jengkel, atau marah. Sedangkan Dong Hoo yang duduk tak jauh dari SoHee menggoda gadis itu dengan beberapa kali menarik rambutnya. Sayangnya SoHee terlalu malas untuk meladeni namja itu.

“Hee-ah, kemana Ri Hwan? Kenapa dia belum datang?” Teriak ketua kelas.

“Molla. Kenapa kau tanya padaku? Hubungan kami tidak sedekat itu.” Jawab SoHee tepat saat Ri Hwan masuk kelas. Entah namja itu mendengar atau tidak apa yang baru saja SoHee katakan, namun raut wajahnya hari ini tak kalah murung dengan SoHee.

“Kalian berdua dipanggil kepala sekolah.” Ujar ketua kelas menghampiri SoHee dan Ri Hwan. Keduanya pergi menuju ruang kepala sekolah tanpa ada satu katapun terucap. Sudah empat hari mereka seperti itu. Saling diam dan tidak bertegur sapa. Beruntung hal itu tidak mempengaruhi jalannya lomba.

“Permisi.” So Hee mengetuk ruang kepala sekolah. Mereka berdua masuk dengan disambut senyuman bangga dari kepala sekolah.

“Kalian benar-benar hebat. Ternyata masih ada siswa pintar di ruang F yang terkenal dengan kenakalannya itu. Hahahahaha…. Karna kalian sudah mengharumkan nama sekolah, kami akan memberikan beasiswa.” Kepala sekolah berdiri diantara So Hee dan Ri Hwan dan menepuk pundak keduanya.

Setelah mendengar ucapan terima kasih kepala sekolah, SoHee kembali ke kelas lebih dulu sedangkan Ri Hwan berjalan dibelakangnya. Namja itu mengingat ucapan kepala sekolah tentang kenakalan teman-temannya. Ri Hwan melihat SoHee sejenak. Gadis tomboy itu berjalan lemas didepannya. Ri Hwan berdecak malas, ia lalu berlari menghampiri SoHee dan menggeret tangan gadis itu menuju perpustakaan.

“Hee-ah, dengarkan aku. Aku minta maaf karna memarahimu beberapa waktu yang lalu. Aku berterima kasih untuk apa yang sudah kau lakukan untukku. Tapi lain kali kau tidak perlu melakukannya lagi. Ingat, kau itu wanita. Tidak seharusnya kau berkelahi dengan mereka. Karna sekuat apapun kau, kekuatan laki-laki jauh lebih besar. Bukannya aku lemah atau tidak mau melawan mereka. Aku hanya tidak ingin menanggapi hal-hal yang tidak penting seperti itu. Kau dengar eoh? Dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Arra?” SoHee meneteskan air mata mendengar ucapan Ri Hwan. Sejak beberapa hari yang lalu, kata-kata itulah yang ingin SoHee dengar dari Ri Hwan. Luka di tubuhnya tidak seberapa jika dibanding luka dihatinya karna perlakuan kasar Ri Hwan.

Beberapa hari yang lalu, Bens memalak Ri Hwan. Namja itu tidak melakukan perlawanan dan menyerahkan uangnya begitu saja. Sedangkan SoHee merasa tidak terima Ri Hwan diperlakukan seperti itu. Karna itu ia berkelahi, menerima pukulan dan mendapatkan lebam disekujur tubuhnya. Namun pengorbanannya terasa sia-sia ketika Ri Hwan memarahinya, bukan membelanya. Ri Hwan hanya takut dan khawatir SoHee akan semakin terluka. Dan sekarang, semua hal yang menggumpal dihati SoHee luruh seketika setelah mendengar penjelasan Ri Hwan.

***

Musim begitu cepat berlalu. SoHee dan Ri Hwan sudah memasuki semester pertama ditingkat 8. Kali ini mereka kembali satu kelas.

“Duduk disini.” SoHee menepuk bangku kosong yang ada disampingnya, tentu saja hal itu ia tujukan pada Ri Hwan. Namun tiba-tiba saja Ga In datang dan duduk disamping So Hee.

“Kau duduk denganku.” Ujar Ga In yang tak lain adalah teman sebangku Seul dikelas 7. Dan SoHee tidak bisa menolak.

Kesibukan SoHee sebagai ketua kelas dan Ri Hwan yang menjadi anggota OSIS membuat hubungan mereka sedikit renggang. Memang Ri Hwan duduk dibelakang SoHee, namun gadis itu seakan tidak bisa meraih sahabatnya. Semua berubah dengan begitu cepat.

“Sejak kapan kau mulai merokok?” Tanya SoHee ketus. Jam pelajaran telah usai, tapi SoHee dan Ri Hwan tidak langsung pulang karna sebelumnya SoHee sudah meminta Ri Hwan tinggal seusai sekolah. Ada hal yang ingin gadis itu katakan. Selain sebagai ketua kelas, juga sebagai sahabat.

“Santai saja. Kenapa kau begitu heboh? Ibuku bahkan tidak sepanik dirimu.” Jawabnya enteng. SoHee tidak percaya Ri Hwan bisa berkata seperti itu. Apalagi sekarang ia juga berani menggoda gadis-gadis yang lewat didepannya. Beda dengan Ri Hwan-nya yang dulu. Cuek dan hanya perduli pada hal-hal yang menurutnya penting.

“Ga In-ssi, maukah kau jadi yeoja chinguku?” Ucap Ri Hwan tanpa malu didepan SoHee ketika Ga In kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal didalam kelas.

“Hh? Apa?” Ga In terlihat bingung dan malu.

“Jangan hiraukan dia, maaf bisa kau tinggalkan kami?” Ujar SoHee halus agar Ga In tidak merasa ‘terusir’ dengan kata-katanya.

“Ga In-ssi, aku serius.” Ri Hwan mengulangi lagi kata-katanya. Kali ini dengan nada yang terdengar serius.

“Sudah hentikan!!!!” SoHee menggebrak meja keras hingga Ga In terlonjak kaget. Tidak memperdulikan tangannya yang terasa berdenyut-denyut sakit. SoHee menatap Ri Hwan dengan pandangan marah dan kecewa.

“Maaf, aku pergi dulu.” Ga In bergegas pergi meninggalkan SoHee dan Ri Hwan yang terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar hebat.

“Apa maumu?” Bentak Ri Hwan tak kalah keras.

“Kenapa kau berubah seperti ini? Kenapa kau merokok? Kenapa kau suka menggoda gadis-gadis bodoh itu? Kenapa kau jadi kasar seperti ini? Kenapa? Katakan padaku ada apa!!!!!!”

“Kenapa aku tidak boleh merokok? Aku ingin di akui seperti anak-anak yang lain. Kenapa aku tidak boleh menggoda mereka? Aku tampan dan mereka suka aku goda. Apa kau juga ingin ku goda? Kenapa aku kasar? Bukankah kau sudah tau dari dulu? Kenapa? Kau tidak suka? Jika kau tidak suka pergi saja dariku!!”

PLAKKKK!!!!!!!!!!!

SoHee menampar Ri Hwan keras. Yeoja itu sudah tidak tahan mendengar setiap kata kasar yang keluar dari mulut Ri Hwan.

“Ini benar-benar bukan kau. Kenapa kau seperti ini? Jika aku punya salah katakan padaku agar aku bisa memperbaikinya.” SoHee tak bisa lagi menahan air matanya.

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh berubah? Apa salah jika aku ingin di akui? Apa salah jika aku mempunyai yeoja chingu? Apa hanya kau yang boleh menjadi pusat perhatian? Apa hanya kau yang boleh menjadi rebutan Im Soo dan Baro?” Sindir Ri Hwan hingga membuat SoHee kehabisan kata. Tak percaya sahabatnya bisa mengatakan hal-hal semacam itu.

“Kau tau tentang hal itu? Dari mana? Apa kau marah karna itu?” Tanpa menunggu jawaban dari Ri Hwan, SoHee meninggalkan namja itu begitu saja.

***

Hari ini SoHee mendapat masalah dari wali kelas karna absensi. Sebagai ketua kelas, ia bertanggung jawab dengan absensi kelas. Dae Woong, putra dari guru Ahn membolos lagi dengan keterangan sakit, padahal tidak ada surat yang menyatakan bahwa Dae Woong sakit.

“Guru Ahn tadi mendatangi saya. Beliau mengatakan jika Dae Woong sakit. Suratnya menyusul, jadi saya memberi keterangan sakit.” Jelas SoHee. Namun wali kelas Kim yang terkenal killer itu tidak bisa menerima alasan SoHee begitu saja. Ia menuduh Dae Woong dan SoHee bersekongkol. Wali kelas Kim bahkan bersiap melempar SoHee dengan penghapus papan tulis jika saja Ri Hwan tidak mencegahnya.

“Hentikan. Atau saya akan melaporkan guru ke komite sekolah.” Ri Hwan menantang wali kelas Kim. Teman-teman yang lain juga, bahkan ketua OSIS yang juga sekelas dengan SoHee-pun juga ikut membela. Sudah menjadi rahasia umum jika Dae Woong, putra dari guru Ahn itu sangat nakal. Bukan hanya sering membolos, dia juga suka berkelahi. Kelakuannya bukan lagi seperti siswa, tapi sudah seperti preman dan brandalan. Wali kelas Kim terdiam, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Ri Hwan ketika SoHee kembali duduk didepannya. Gadis itu hanya mengangguk, tidak mampu menjawab. Tenggorokannya tercekat, terasa sakit. Merasa terharu atas pembelaan teman-temannya.

***

Tingkat 8 berlalu meninggalkan beberapa kenangan yang tidak bisa dilupakan. Hubungan SoHee dan Ri Hwan tak banyak berubah. Takdir seakan mengikat mereka, disaat siswa yang lain berganti teman setiap tahunnya, SoHee dan Ri Hwan tetap bersama hingga Tingkat 9.

Jam pelajaran berjalan seperti biasa. SoHee sudah tidak setomboy dulu yang suka berkelahi dengan namja. Hanya saja ia punya hoby baru, yakni sepak bola. Sedangkan Ri Hwan tidak begitu menyukainya, karna itu SoHee sekarang lebih dekat dengan Moo Kyul. Dan hari ini mereka begitu heboh membicarakan AC Milan. Klub sepak bola dari Italy yang begitu di sukai SoHee. Moo Kyul bukannya tidak menyukai AC Milan, tapi karna ia ingin menggoda SoHee, jadi ia menjelek-jelekan Milan. Dan itu sedikit banyak membuat Ri Hwan cemburu dengan kedekatan mereka.

“Sejak kapan hubungan kalian jadi sedekat itu?” Ri Hwan tiba-tiba saja duduk ditengah dan mengganggu pembicaraan SoHee dan Moo Kyul.

“Hwan-ah, bagaimana jika kau pergi membelikanku minuman? Aku haus.” Pinta SoHee.

“Yakk!! Sejak kapan aku jadi pesuruhmu? Tidak mau. Pergi saja ke kantin.” Tolaknya.

Moo Kyul memanggil salah seorang temannya yang lain. “Belikan minuman dingin dikantin.” Ucapnya, yang membuat Ri Hwan mendengus kesal melihat sikap sok pahlawan Moo Kyul. Tak lama setelah itu, teman Moo Kyul kembali tanpa membawa apapun.

“Mana minumannya?” SoHee mengulurkan tangan.

“Dae Woong merampasnya tadi.” Jawabnya dengan nada kecewa. Tiba-tiba saja orang yang mereka bicarakan muncul.

“Dae Woong-ssi, kenapa kau mengambil minuman kami?” Tanya SoHee kecewa. Entah setan apa yang merasuki Dae Woong hingga kalimat yang baru saja SoHee katakan membuatnya begitu marah, brutal. Ia mengangkat satu kakinya diatas meja dan menampar pipi SoHee keras hingga seluruh siswa menghentikan aktifitasnya untuk melihat adegan itu.

“Hey apa yang kau la-”

PLAKKK

Sekali lagi Dae Woong menampar pipi SoHee tanpa alasan. Harusnya. Harusnya SoHee yang marah karna minumannya di ambil, tapi yang terjadi kini adalah SoHee yang mendapatkan tamparan. Bukan hanya sekali, tapi dua kali. Semuanya seakan terhenti detik itu. Ri Hwan, Moo Kyul, bahkan tidak dapat berbuat apapun untuk melindungi SoHee. Semuanya terjadi begitu cepat. Dae Woong mungkin akan mengulanginya lagi jika saja Gi Kwang, Yi Kyung, dan Joon Ha -tiga teman sekomplotannya- tidak datang untuk memisah.

Tubuh SoHee gemetar. Gadis itu memperlihatkan ketegarannya dengan tidak menangis meski pipinya terasa panas, sakit, dan berwarna merah bekas telapak tangan Dae Woong. Ri Hwan dan Moo Kyul benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Hanya bisa diam, terkejut, shock mungkin. Hanya Yeo Nim yang terlihat panik dan khawatir dengan keadaan SoHee.

“Kau baik-baik saja? Apa perlu kita melaporkannya ke guru etika?” Usul Yeo Nim yang langsung mendapat penolakan dari SoHee. Bukannya dia takut pada Dae Woong. Ia hanya khawatir jika orang tuanya tau anaknya yang pintar hingga mendapatkan beasiswa itu baru saja ditampar. Itu pasti akan membuat orangtuanya sedih, dan SoHee tidak mau hal itu terjadi.

“Dae Wong-ssi, sudah terlalu banyak penderitaan yang ku lalui karnamu. Karna kenakalanmu, aku mendapat masalah dengan wali kelas Kim. Berbohong pada setiap guru yang menanyakan keberadaanmu saat kau bolos sekolah. Tapi apa balasan yang aku dapatkan? Aku bukanlah type orang pendendam. Tapi perlakuan yang baru saja kau lakukan itu benar-benar keterlaluan. Kau bukan hanya merampas apa yang bukan menjadi hakmu. Tapi kau juga menyakiti seseorang tanpa alasan. Bagiku, seorang laki-laki yang menampar ataupun memukul seorang wanita adalah laki-laki rendah dan paling hina di dunia. Karna itu sama saja kau tidak bisa menghargai wanita yang sudah melahirkanmu. Aku mengatakan hal ini bukan karna kau baru saja menamparku. Tapi karna hal rendah yang sudah kau lakukan. Meski jika yang kau tampar itu bukan aku, aku akan tetap membenci apa yang kau lakukan. Aku, Jung So Hee, sampai mati tidak akan memaafkanmu sebelum kau berlutut meminta maaf padaku.”

***

“Yakk ada apa dengan wajah jelekmu?” Sapa Ri Hwan ketika melihat wajah SoHee yang terlihat begitu lusuh dan pucat.

“Dia pasti begadang lagi melihat sepak bola.” Sahut Moo Kyul yang langsung mendapat tatapan mematikan dari SoHee. Tentu saja apa yang dikatakan Moo Kyul itu benar, karna itu SoHee menyuruh Moo Kyul untuk tutup mulut sebelum Ri Hwan memarahinya.

“Tidak, sepertinya ini karna anemiaku.” Bohong SoHee.

“Kau tau apa penyebab anemia? Salah satunya karna kurang istirahat.” Ri Hwan menyentuh kening SoHee dangan jari telunjuknya dan mendorongnya pelan.

“Hwan-ah, bolehkan aku meminta tolong padamu?” Tanya SoHee ragu yang membuat Ri Hwan tertawa. Tidak biasanya SoHee bertanya seperti itu. Biasanya dia akan langsung mengatakan apa yang diinginkannya tanpa malu-malu. Ri Hwan mengerutkan keningnya saat SoHee memberi tanda padanya untuk mendekat. Seperti sesuatu yang sangat penting, yang hanya mereka berdua yang boleh tau. SoHee membisikkan sesuatu yang tentu saja membuat Ri Hwan bergidik ngeri hingga bulu kakinya berdiri.

“Michigoni eoh? Bagaiman kau?” Ri Hwan berkomat-kamit tanpa suara.

“Bagaimana kau bisa menyuruhku melakukan hal itu?” Lanjutnya berteriak frustasi dan tak percaya.

“Yakk!!! Jika kau tidak mau melakukannya, jangan berteriak seperti itu. Aku malu, bodoh!” Ucap SoHee.

“Kau saja malu. Lalu bagaimana denganku? Harga diriku? Haish kau ini.” Balas Ri Hwan tak mau kalah.

“Sudahlah. Lupakan.” SoHee menidurkan kepalanya diatas meja seperti biasanya, putus asa.

Dengan malas SoHee menjalani sisa jam pelajaran dengan ogah-ogahan. Pikirannya sudah tak lagi didalam kelas, tapi memikirkan bagaimana caranya pulang tanpa ‘ketahuan’ teman-temannya. Akhirnya bel tanda jam pelajaran usai berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Ada juga yang mengikuti les tambahan ataupun ekstra yang lain. Sedangkan SoHee masih duduk dengan ‘tidak nyaman’ di kursinya.

“Kenapa tidak pulang? Cepat pulang dan istirahat dirumah.” Perintah Ri Hwan.

“Dengan keadaan seperti ini? Jika aku tidak punya malu, mungkin aku sudah melakukannya dari tadi.” SoHee menunjuk rok bagian belakangnya yang tercetak warna merah dengan jelas. Ri Hwan membuka matanya lebar.

“Kau bilang kau masih punya malu, tapi kenapa kau menunjukkannya padaku? Apa kau tidak malu padaku?” Tanya Ri Hwan yang terlihat salah tingkah.

“Kenapa aku harus malu padamu? Inikan salahmu yang tidak mau menolongku.” Jawab SoHee sekenanya. Ri Hwan berdecak kesal. Bagaimana bisa itu semua salahnya? Namja mana yang tidak malu jika diminta membeli pembalut? Yah, SoHee memintanya membeli pembalut beberapa saat yang lalu dan dia menolaknya. Dan karna hal itu kini SoHee menyalahkannya.

Ri Hwan menarik tangan SoHee, namja itu lalu melepas jaketnya dan memasang jaket itu dipinggul SoHee agar tidak ada orang yang tau jika ada ‘noda’ merah di rok SoHee. Lagipula mengikat jaket dipinggul seperti itu terlihat keren bukan?

“Hei bagaimana jika jaketmu terkena ‘itu’?” SoHee bingung dengan sikap namja yang ada dihadapannya itu. Entah Ri Hwan termasuk golongan orang yang pintar atau idiot.

“Karna itu kau harus menggantinya. Belikan aku yang baru.” Perintahnya lalu mengalungkan tas SoHee dipundak kirinya. Sedangkan tangan kanannya menggandeng tangan SoHee keluar kelas, mengajaknya pulang bersama.

***

Hari pengumuman kelulusan tiba. Semua siswa mendapatkan surat yang dikirim ke rumah masing-masing. Dengan gugup SoHee membuka amplop yang berisi hasil kelulusan beserta nilainya.

Lulus. Kata pertama yang muncul disurat itu. Senang? Tentu. Bahagia? Pasti. Tapi yang membuat SoHee sedih adalah nilainya yang hanya berjumlah 26 dari 3 mata pelajaran. Bahasa Inggrisnya tetap menjadi yang tertinggi, tapi 2 mata pelajaran lainnya hanya mendapatkan angka 8, angka yang tidak cukup membuat SoHee masuk ke sekolah unggulan yang sama seperti Ri Hwan.

“Tidak bisa ya? Tidak apa-apa. Yang penting komunikasi kita tetap terjaga.” Ujar Ri Hwan mencoba menenangkan SoHee ketika mereka merayakan perpisahan sekolah.

“Lalu, kau sudah memutuskan akan sekolah dimana?” Tanya Ri Hwan.

“Entahlah. Tapi aku akan mencoba masuk Hanlim Arts High School. Kau tau aku suka musik. Aku akan mengembangkan bakatku disana.” Ucap SoHee ceria, tidak ingin menunjukkan kekecewaannya didepan Ri Hwan.

Menjalani hari-hari di sekolah baru tanpa Ri Hwan disampingnya cukup sulit bagi SoHee. Ucapan Ri Hwan saat perpisahan sekolah yang lalu sama sekali tidak membuat SoHee tenang. Pasalnya sejak saat itu mereka benar-benar putus hubungan dan menjalani kehidupan masing-masing. SoHee dengan kehidupan barunya bersama Liza, Ryu Mi, dan Mae Ri.

Jarak sekolah SoHee dan Ri Hwan tidaklah jauh. Tapi karna alasan kesibukan, hubungan mereka kian renggang dan itu menjadi penyebab mereka hilang kontak selama 2 tahun. Waktu yang cukup lama.

Mereka dipertemukan kembali secara tidak sengaja saat SoHee sedang bersama Ryu Mi, Liza dan Mae Ri disebuah cafe. Disana SoHee melihat Ri Hwan, sendiri. Entah apa yang dilakukan namja itu sendirian. Saat SoHee akan memanggilnya, Ri Hwan sudah terlebih dulu menyapanya.

“Hai.” Tiga huruf. Hanya tiga huruf itu yang keluar dari mulut Ri Hwan sebelum namja itu berlalu pergi begitu saja meninggalkan SoHee. Bermimipikah ia? Bagaimana bisa Ri Hwan bersikap seperti itu padanya? Seakan-akan mereka tidak pernah dekat sebelumnya. Apa persahabatan mereka 3 tahun tidak ada artinya? Seperti itukah cara menyapa seorang sahabat lama? Benarkah? SoHee terpaku. Ia bahkan tak mampu menggerakkan kakinya. Hanya saja beberapa tetes air mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.

“Hee-ah, bukankah itu tadi Ri Hwan?” Tanya Ryu Mi yang membuat paru-paru So Hee semakin sesak.

“Dan bukankah kalian berteman baik? Kenapa dia bersikap seperti itu padamu?” Sahut Liza yang juga bersekolah disekolah yang sama dengan So Hee, Ri Hwan dan Ryu Mi sewaktu SMP, hingga ia tau dengan baik bagaimana hubungan SoHee dan Ri Hwan dimasa lalu. SoHee mengangguk pertanda ‘iya’, tenggorokannya begitu sakit hingga ia tak mampu mengeluarkan suara.

“Mendung. Sepertinya akan hujan. Lebih baik kita pulang.” Usul Mae Ri yang langsung mendapat persetujuan dari teman-temannya.

“Kalian pulang saja dulu, aku menunggu hujan.” SoHee menatap awan berwarna abu-abu gelap yang menggantung dilangit dengan beberapa kilatan cahaya.

“Aku ingin melihatnya. Mendengar suaranya, merasakannya sentuhannya. Karna hujan adalah kau. Angin yang berhembus. Hujan yang turun. Aku yang menyukaimu.” Gumamnya pelan.

***

“Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa ini tahun terakhir kita bersekolah. Hal gila apa yang belum kita lakukan?” Tanya Ryu Mi yang entah pada siapa ketika dia sedang bersama SoHee, Mae Ri, dan Liza disebuah taman dibelakang sekolah tempat biasa mereka bersantai.

“Aku sudah pernah makan rumput.” Sahut Mae Ri dengan bangganya yang membuat teman-temannya tertawa. Mengingat saat mereka kelaparan dan tak memiliki uang sepeserpun membuat mereka mencoba memakan beberapa tumbuhan yang bisa dimakan.

“Bolos dan kabur juga pernah.” Ryu Mi mengingat kegilaan mereka saat dengan nekat membolos sekolah dan kabur naik kereta ke Myeongdong hanya untuk bermain.

“Aku ingin berkencan.” Ujar SoHee yang membuat ketiga temannya menoleh ke arahnya.

“Dengan siapa? Shi Hyuk?” Celeteuk Liza yang merasa kegirangan. Shi Hyuk adalah teman baik Il Hoon yang tak lain kekasih Liza.

“Ani… ani…” Tolak SoHee.

“Kenapa tidak? Bukankah kalian saling menyukai? Dia juga namja yang baik.” Tutur Liza yang seolah mengerti Shi Hyuk dengan baik.

“Aku ingin berkencan dengan adik kelas. Bagaimana menurut kalian?” Liza, Ryu Mi, dan Mae Ri terdiam. Masih mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan salah satu temannya yang ‘gila’ itu. Beberapa detik kemudian mereka tertawa lepas.

“Hujan.” Lirih SoHee. Ia menengadahkan tangannya ke atas langit. Coba merasakan segarnya tetesan-tetesan air yang berlomba turun mencapai bumi. SoHee sekarang tau mengapa Ri Hwan begitu tergila-gila pada hujan hingga membuatnya terpengaruh.

Hujan adalah Ri Hwan. Namja itu begitu tergila-gila akan hujan. Musim yang selalu dibenci SoHee. Menurut yeoja itu, musim hujan hanya akan membuatnya kebasahan. Tidak bisa menjalankan aktifitas seperti biasanya. Belum lagi suara petir yang bergemuruh itu membuatnya takut. Namun Ri Hwan berbeda. Namja itu seperti menderita penyakit akut akan hujan.

“Aku lebih suka musim gugur. Setiap melihat daun yang runtuh seakan membuat bebanku ikut hilang. Angin yang berhembus membuat dedaunan itu jatuh, seperti sebuah simphoni senada. Sesuatu yang jauh tinggi, yang tidak bisa ku rengkuh sebelumnya, tiba-tiba rela turun agar lebih dekat denganku. Meski ia turun bukan lagi sebagai yang terindah.”

“Bodoh. Bukannya hujan juga seperti itu?” Ri Hwan mengelus pucuk kepala SoHee, sedangkan gadis itu tidak tau maksud ucapan Ri Hwan.

“Hujan adalah air, sedangkan musim gugur adalah dadaunan. Mereka sama-sama turun dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah. Entah itu karna gaya gravitasi ataupun karna tidak sanggup lagi menahan beban. Bedanya hujan bisa mengungkapkan perasaan mereka lebih ekstrim bersama petir, angin, pelangi. Bagaimana? Indah bukan?”

SoHee tersenyum mengingat saat-saat kebersamaannya dengan Ri Hwan, hingga melupakan seseorang yang ada disampingnya yang sudah berdehem beberapa kali untuk menyadarkannya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Gon, namja yang sudah beberapa bulan ini menjadi namja chingunya.

“Ani.. Hanya saja, aku suka hujan.” Ucap SoHee tanpa sadar. Ia lalu menutup mulut dengan tangan kirinya, seolah menyadari apa yang baru saja dikatakan.

“Benarkah? Aku juga. Jadi bagaimana jika kita berpelukan. Aku kedinginan.” Goda Gon nakal membuat mata SoHee membulat sempurna.

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kecuali kau sendiri yang ingin pergi dariku.” Ucap Gon saat namja itu mengajaknya berkencan untuk pertama kalinya tepat disaat hari hujan.

Hubungan SoHee dan Gon tidaklah mudah. Pro dan kontra muncul dari berbagai pihak. Selain karna perbedaan usia, demi bersatu seperti saat ini mereka dituduh menghianati pasangan masing-masing. Meski begitu mereka mampu melewati semua itu hingga berjalan 6 bulan. Dan saat-saat menjelang ujian-pun membuat SoHee stress hingga sering melakukan kesalahan-kesalahan bodoh yang seharusnya tidak dilakukannya. Dan satu jam yang lalu SoHee mengatakan hal-hal buruk yang harusnya tidak ia katakan, yaitu meminta putus.

“Baiklah aku menerima keputusanmu. Tapi bisakah aku tau apa alasanmu?” Tanya Gon.

“Kata Il Hoon dia melihatmu menggoda gadis lain dikantin.” Ujar SoHee dengan suara bergetar.

“Dan kau percaya semua itu?” Teriak Gon frustasi.

“Dasar bodoh. Bagaimana kau bisa lebih percaya pada apa yang dikatakan orang brengsek itu daripada aku, namja chingumu? Kau benar-benar bodoh. Tanpa melihat dan bertanya kau memutuskanku begitu saja. Apa kau pikir selama ini aku tidak serius denganmu? Hanya karna kau lebih tua beberapa bulan dariku dan orang-orang memandang aneh hubungan kita? Aku benar-benar kecewa padamu. Asal kau tau, beberapa hari yang lalu Il Hoon menghampiriku. Dia memintaku untuk menjauhimu karna Shi Hyuk menyukaimu. Baguslah. Kau sudah memutuskanku, sekarang kau bisa lari ke pelukan Shi Hyuk. Kau bisa berkencan dengannya tanpa ada pro kontra lagi. Selamat.”

Gon meninggalkan SoHee begitu saja. Ia kecewa. Begitupun SoHee. Hatinya hancur, jantungnya berhenti bedetak, paru-parunya sesak selama beberapa detik. Karna kebodohannya, ia menyakiti orang yang disayanginya. Segala rasa sakit yang dialaminya kini adalah hukuman.

“Kenapa kau memfitnah Gon?” Bentak SoHee ketika yeoja itu menemui Il Hoon.

“Apa dia menceritakannya padamu? Dasar bocah.” Sindir Il Hoon enteng.

“Kau. Bukankah kau dulu menyukai Shi Hyuk? Aku berusaha mendekatkan kalian. Tapi kenapa setelah Shi Hyuk menyukaimu kau membuangnya begitu saja demi namja dekil itu. Kau tau Shi Hyuk jauh lebih baik segalanya dari Gon. Kenapa kau hanya memikirkan perasaan Gon? Apa kau tidak memikirkan perasaan Shi Hyuk eoh?” Teriak Il Hoon tak kalah keras.

“Kau. Gadis jahat dan egois.” Ucap Il Hoon lirih tapi menusuk hati.

***

Hari kelulusan-pun tiba. Sekalipun SoHee mendapat nilai tinggi namun ia tidak bahagia. Alasannya, karna dia tidak akan melanjutkan kuliah. Ekonomi keluarganya tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahnya, sedangkan SoHee masih mempunyai dua adik laki-laki.

“Pada akhirnya kita tidak akan bisa bersama selamanya. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Setiap orang punya jalan masing-masing. Apapun yang kalian lakukan aku harap kalian sukses dan kita tetap bisa berhubungan baik.”

Dua minggu setelah kelulusan, SoHee sudah bekerja di Hyundai, sebuah perusahaan mobil yang cukup ternama. Ryu Mi dan Mae Ri bekerja menjadi guru musik di sebuah tempat bimbingan belajar. Sedangkan Liza akan segera menikah, tentu saja bukan dengan Il Hoon karna hubungan mereka sudah berakhir sebelum ujian kelulusan.

“Kau tidak menunggu Ri Hwan? Aku mengundangnya.” Liza menahan kepergian So Hee.

Hubungan mereka sedikit renggang. Liza merasa malu dan bersalah atas kelakuan Il Hoon, lagipula namja itu berselingkuh. Karna itu Liza meninggalkannya. Dan cara Liza meminta maaf adalah dengan mempertemukan SoHee dengan Ri Hwan agar gadis itu bisa kembali ceria seperti dulu setelah kehilangan Gon.

“Itu dia.” Liza menunjuk Ri Hwan yang baru saja datang. Namja itu tidak sendirian, melainkan dia datang dengan seorang gadis cantik. Dan itu membuat suasana hatinya semakin buruk.

“Liza-ya. Aku baik-baik saja. Dan selamat atas pernikahanmu. Aku pulang dulu karna besok masuk pagi.” Pamit SoHee. Tentu saja ia berbohong. Gadis itu tidak ingin melihat atau lebih tepatnya tidak suka melihat ada gadis lain disamping Ri Hwan selain dirinya. Egois memang, seperti yang sudah dikatakan Il Hoon.

“Kau mau kemana?” Ri Hwan menahan tangan SoHee.

“Kau tau dimana rumahku. Aku tunggu. Jika kau tidak datang, aku akan membunuhmu.” Ancam So Hee.

***

Seminggu kemudian Ri Hwan datang kerumah SoHee. Tapi sayang ia belum pulang. Gadis itu menggerutu kesal. Seharusnya Ri Hwan mau menunggunya jika benar-benar ingin bertemu, atau setidaknya Ri Hwan harus menelfonnya lebih dulu.

“Apa gunanya ponsel jika tidak kau gunakan? Bodoh!!” Oceh SoHee. Gadis itu menekan ponselnya kuat-kuat, melampiaskan kekesalannya saat mengetikkan beberapa kata.

To. Ri Hwan
Aku benar-benar ingin membunuhmu, sungguh. Jadi temui aku minggu depan.

SoHee terkekeh kecil setelah menekan tombol send. Ia membaringkan tubuh lelahnya setelah berkutat dengan pekerjaan yang tiada habisnya seharian ini.

Hari yang ditentukan belum tiba, namun Ri Hwan sudah datang ke rumah SoHee. Tapi sayang, lagi-lagi mereka tidak bisa bertemu karna So Hee lembur.

To. SoHee
Ingin bertemu denganmu saja susah sekali. Seolah-olah takdir tidak mengizinkanku untuk melihat senyummu.

Setelah membaca pesan Ri Hwan, segera So Hee menelfon namja itu dan menanyakan keberadaannya.

“Neo eodiga?” Tanya SoHee.

“Rumahmu.” Jawab namja di ujung telfon.

“Kau gila? Siapa yang menyuruhmu?” Teriak SoHee memekakkan telinga.

“Aku hanya ingin memberimu kejutan.”

“Tunggu aku. Bisakah? Sekitar 2-3 jam lagi.” Pinta SoHee.

“Haruskah? Tapi aku sudah menunggumu 2 jam.” Keluh Ri Hwan.

“Yakk siapa yang menyuruhmu datang hari ini? Bukankah aku sudah memintamu datang minggu depan?”

“Minggu depan? Sepertinya aku sudah tidak bisa.”

“Kenapa? Apa kau sibuk berkencan dengan yeoja itu?”

“Bukan seperti itu. Hee-ah, dengarkan aku. Banyak gadis datang dan pergi di hidupku. Mereka hanya singgah, sedangkan kau tinggal dan menetap disana. Percayalah padaku. Cepat atau lambat mungkin kau akan melupakanku. Aku mungkin akan tergantikan. Tapi kau tidak akan pernah tergantikan.” Kata Ri Hwan menenangkan SoHee. Sedangkan gadis itu masih sibuk mencerna setiap kata yang Ri Hwan katakan.

“Teruslah bekerja. Semangat!! Hee-ah, aku pulang.” Pamit Ri Hwan. Namja itu mematikan sambungan telfon begitu saja sebelum SoHee sempat mengatakan sesuatu. Dan itu adalah pembicaraan terakhir mereka sebelum kecelakaan na’as itu terjadi.

***

SoHee bersantai dirumah sepupunya yang tak jauh dari rumahnya. Sesekali ia bercanda dengan beberapa teman sepupunya yang tak lain adalah adik kelasnya saat di SMP.

“Nuna, aku dengar salah satu temanmu ada yang meninggal karna kecelakaan minggu lalu. Yang ku dengar, tempat kecelakaannya tidak jauh dari sini.” Ucap Min Chul yang menjelaskan secara detail.

“Benarkah? Apa kau tau siapa namanya?” Tanya SoHee penasaran.

“Aku lupa. Tapi dari info yang ku dapat dari teman-teman, dia dulu pemenang lomba debat Bahasa Inggris. Bukankah nuna juga ikut?”

DEG

Wajah SoHee mendadak pucat. Tubuhnya gemetar, meski belum mendapat informasi yang pasti, tapi membayangkan hal itu terjadi pada Ri Hwan saja sudah membuatnya takut. Minggu lalu? Bukankah itu saat Ri Hwan datang ke rumahnya? Pikir SoHee. Kecelakaan juga terjadi tak jauh dari rumah SoHee. Dan pemenang debat Bahasa Inggris? Tentu itu hanya dirinya dan Ri Hwan. Kemungkinan-kemungkinan itu membuat SoHee semakin takut, dan panik. Tidak ingin rasa cemasnya berlarut-larut, SoHee mengambil ponsel dan menelfon beberapa temannya untuk meminta kepastian dari berita yang baru saja didengarnya itu.

“Yeobseo. Yeo Nim-ah, apa kau dengar? Apa kau mendengarnya? Berita buruk itu?” Tanya SoHee bertubi-tubi pada teman lamanya itu. Sedangkan Yeo Nim tidak bisa mengatakan tidak, karna kenyataannya yang terjadi memang seperti itu.

“Tidak mungkin. Kau pasti bohong.” Teriak SoHee histeris. Gadis itu mematikan panggilan telfonnya begitu saja lalu menghubungi Ryu Mi, tapi lagi-lagi ia mendapat jawaban yang sama.

“Jangan bercanda. Yakk!! ini bukan hari ulang tahunku. Ini benar-benar tidak lucu.” Bentak So Hee.

“Kau harus merelakannya pergi Hee-ah.” Ryu Mi coba menenangkan.

“Lalu kenapa tidak ada yang memberitahu aku? Kenapa kalian diam? Apa dengan begitu bisa membuatnya kembali? Aaarrgghh!!!!!!” SoHee melempar ponselnya ke tembok hingga ponsel itu hancur berkeping-keping. Ia merasa bodoh. Benar-benar bodoh. Bagaimana tidak? SoHee yang meng-claim dirinya sebagai sahabat baik Ri Hwan malah tidak tau apa-apa dan menjadi orang terakhir yang tau berita menyakitkan itu.

Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, seolah-olah itu adalah Ri Hwan yang turun dari langit ingin menemani SoHee. Bukankah memang seperti itu? Hujan adalah Ri Hwan. Mungkin ia ingin menghibur gadis itu dan meminta maaf untuk segalanya. Hujan, angin, petir saling bersahutan mengiringi air mata SoHee yang jatuh tak henti hingga pagi. Seakan menyampaikan kata yang tak sempat terucap.

SoHee seakan kehilangan satu sayapnya, hatinya, jiwanya. Sejak saat itu ia jadi pendiam dan suka menyendiri. Beberapa teman lamanya datang menghampirinya untuk menghibur. Mereka juga mengajak SoHee mengunjungi makan Ri Hwan, namun gadis itu menolaknya.

“Bukannya aku tidak ingin menemuimu. Aku hanya tidak ingin percaya kenyataan. Lebih baik seperti ini. Aku tidak mau dan tidak akan melihat makammu sampai kapanpun. Dengan begitu aku percaya jika kau sedang sibuk, atau kau sedang marah dan tidak mau bertemu denganku. Itu lebih baik. Bagiku, kau akan tetap hidup, disini, dihatiku.”

***

AstreDiary
22 September 2013

Hwan-ah,

Bolehkah aku membencimu? Setelah apa yang sudah kau lakukan padaku? Semua yang kau katakan tak sedikitpun membuatku tenang. Aku ingin memakimu untuk yang terakhir kali. Aku telah menunggumu sangat sangat sangat lama.

Sosokmu tak mau pergi dari benakku. Setiap hari hujan aku mengingatmu lagi, lagi, dan lagi.

Teringat saat kita bertaruh hujan ditengah malam. Kau mengidap kegilaan akut pada hujan. Saat itu aku kalah. Tapi sejak saat itu jendela kamarku selalu terbuka. Menunggu untuk bertaruh hal bodoh denganmu. Aku pasrah kau gerogoti semua lamunanku. Menjadi aktor utama dalam setiap mimpiku.

Berlebihankah?

Mungkin, karna aku memang hampir gila karnamu.

Aku menertawakan kebodohanku. Seberapa dekat hubungan kita, itu tidak akan ada artinya jika kau pergi dengan cara seperti itu. Aku ingin melihatmu sekali saja, tapi bukan dari sebuah nama yang tertulis di nisan kecilmu yang sudah lapuk itu.

Kau bilang “Tak ada yang abadi. Aku mungkin akan tergantikan. Tapi kau tidak akan pernah terganti.” Ringan dan santai, hingga aku tidak sadar itu kalimat terakhirmu. Seakan tidak ada masalah di otak tumpulmu itu.

Aku masih punya urusan yang tak nyata denganmu. Kau membuatku tertawa, membuatku tenang bahkan saat aku terpuruk. Aku menatap hamparan langit yang terlihat dari jendela kamarku. Aku yakin kau pasti bisa melihatku.

Aku tidak ingin terikat dengan masa lalu, karna aku hidup untuk sekarang dan masa depan. Aku tersenyum dan berterima kasih. Aku berhasil menyatukan semua pikiran yang terpecah selama ini. Aku sudah lama memikirkannya. Jika aku terus terpuruk karnamu, aku takut kau akan kecewa hingga kau mengatakan hal yang tidak-tidak pada Tuhan.

Jadi jika aku tersenyum seperti ini, apa kau bahagia? Jika benar, katakan pada Tuhan untuk mengirimkan seseorang yang tepat untukku. Setidaknya orang yang mau ku maki sepertimu.

Untuk musim hujanku yang tak lagi bernyawa. Yang tak bisa lagi hadir dalam jasad yang indah, dalam wujud yang sempurna untuk ku rengkuh. Hujan yang selalu menghipnotisku dengan wujudnya yang abstrak. Tolong, tetap temani aku. Karna aku masih mempunyai urusan yang tak nyata denganmu. Ini bukan permintaan. Ini perintah!!

Musim Semi Yang Selalu Merindukan Musim Hujan

-END-

-miLanistred-

  • 5 Komentar

    1. achan gimbelz

      sumpah thor, terharu banget gua baca ff lu ini. sedikit banyak, hampir sama kaya kisah gua *lah ko curhat ?
      pokoknya keren deeh ceritanya !! ^^

    2. Kim Rie Da

      Sumpah min, bikin nyesek
      Ntah berapa pack dah tisu gua pake buat ngelap ingus+airmata gua *curhat(?)
      Daebak banget thor !!!!!
      Feelnya dapet, alur ceritanya keren, poko nya T O P
      Ga tau mau ngoment apa lagi
      Pokoknya keep writing aja ya, author berbakat buat nulis ff
      Gua dukung *kasih 10 jempol* :’)

    3. Kim Rie Da

      Sumpah thor, bikin nyesek
      Ntah berapa pack dah tisu gua pake buat ngelap ingus+airmata gua *curhat(?)
      Daebak banget thor !!!!!
      Feelnya dapet, alur ceritanya keren, poko nya T O P
      Ga tau mau ngoment apa lagi
      Pokoknya keep writing aja ya, author berbakat buat nulis ff
      Gua dukung *kasih 10 jempol* :’)

    4. Elfjoyers1702

      sedih thor…

    5. Nyesek nangiz …. ampe di kira orang gila ma ibu gra2 lg main hp tiba2 nangiz ….. hmmmm pnyesalan sll datang di akhirr ….. jd inget tunangan Q yg meninggal gra2 kcelakaan ….. hmmmm n ahir’y gw skrng nikah ma cwo lain n dh punya baby umur 3bln

    Tinggalkan Jejak

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: