AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

FF Oneshoot “Monster”


“Kau seperti seseorang yg tidak ku kenal” – Jiyong

“Menyakiti adalah cara terbaik untuk membuatnya menjauh” – SoHee

***

Oraenmaniya mot bon sai
(Sudah sekian lama)

Geudaen eolkuri chowa boyeo
(Kau terlihat lebih baik sejak terakhir kali aku melihatmu)

Yeppeojyeotda neon hangsang
(Kau terlihat lebih cantik juga)

Nae nunen wonrae kowah boyeo
(Meski kau selalu terlihat cantik dimataku)

Keunde oneulttara jogeum talla boyeo
(Tapi kamu tampaknya sedikit berbeda sekarang, kau tampak luar biasa dingin)

Yunanhi mwonka deo chagawo boyeo
(Pandanganmu padaku penuh dengan rasa kasihan)

Nareul boneun nunbichi dongjeonge kadeuk chaisseo ne apeseo nan jaga boyeo
(Di depanmu aku terlihat kecil, aku berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa, aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan)

Kwaehnchanheun cheogaesseo daehwahjujereul bakkwobeoryeo
(Banyak hal yg ingin aku tanyakan tapi kau memotongku)

Mudko shipeun mareun manheunde neon ttag jallabeoryeo
(Kau pergi, rambutmu yg dihempas angin menerpa wajahku)

Ne gin meorin challanggeoryeo nae boreul ttaerigon seuchyeojina
(Kau berbalik dan meninggalkanku begitu saja)

Dwiidoraseon godjang kabeoryeo yeogiseo neol jabeumyeon useuwojina?
(Akankah terlihat bodoh jika aku coba untuk menahanmu?)

Amu maldo tteooreuji anhjyo
(Aku tidak bisa memikirkan sesuatu untuk dikatakan)

Tteolmyeonseo neon handu balchag dwiiro
(Gemetaran kau mundur dua langkah)

Ijen naega museopdan geu mal
(Kau mengatakan kau takut padaku)

Nal michike haneun neoran tal
(Kau adalah satu yg membuatku gila)

Pintu gerbang sebuah penjara dipinggiran kota Seoul terbuka. Muncul sesosok pria berjalan keluar dari balik pintu. Beberapa orang berjas hitam datang menghampirinya untuk memberi hormat dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu hanya menatap tajam satu persatu pria berjas hitam itu tanpa mau menuruti kemauan mereka. Ia lebih memilih pergi meninggalkan orang-orang suruhan ayahnya itu.

“Tuan muda, kami mohon pulanglah bersama kami. Tuan besar sudah menunggu anda dirumah.” Ucap salah satu pria berjas hitam itu.

Namun pria itu tetap berjalan melewati mereka semua. Merasa tidak mendapatkan respon ia menelfon seseorang yg mereka panggil dengan sebutan bos besar.
“Presdir, tuan muda tidak mau pulang bersama kami.”

“Aku tidak mau tau. Bagaimanapun caranya kalian harus bisa membawa Kwon JiYong pulang!! Tapi jangan sedikitpun kalian melukainya!!” Perintah seorang pria diujung telfon.

Pria berbadan tegap itu kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membawa Jiyong masuk ke dalam mobil. Jiyong meronta meminta agar mereka melepaskan tangannya, namun itu hanya sia-sia. Tenaganya tak cukup kuat untuk melawan, sehingga ia hanya bisa pasrah menuruti kemauan mereka.

Ditengah perjalanan, mobil mereka terhalang oleh lampu merah. Dan kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Jiyong untuk kabur dari mobil. Pria itu berlari kencang melewati gang-gang kecil didaerah padat penduduk. Ia terus berlari hingga ia tak melihat lagi ada orang-orang berjas hitam yg mengejarnya.

Jiyong mengambil nafas lega setelah ia berhasil lari dan merasa aman dari kejaran para bodyguard suruhan ayahnya. Ia melihat daerah sekelilingnya. Pria itu tersenyum, itu adalah tempat yg sudah sangat ia hafal. Ia kemudian berjalan cepat, sangat cepat, bisa dibilang ia berlari menuju ke sebuah tempat yg sudah sangat lama tak ia datangi. Entah siapa yg ingin ia temui.

Senyumnya mengembang saat ia sudah berada disebuah pintu berwarna coklat tua yg terlihat rapuh. Ia mengetuk pintu itu dua kali, namun tidak ada jawaban. Saat ia akan mengetuk pintu sekali lagi, seorang wanita tua muncul dari balik pintu. Jiyong terkejut karna ia tak melihat seseorang yg ingin ditemuinya. Setelah berbincang-bincang dengan pemilik rumah, Jiyong tau bahwa rumah itu sudah dijual sekitar satu tahun yg lalu. Dan pemilik rumah yg baru tidak tau dimana pemilik rumah yg lama berada.

Bingung. Harus kemana ia mencari gadis itu. Tak terasa kakinya melangkah hingga ke sebuah taman. Taman yg biasa ia dan gadis itu kunjungi ketika masih bersama dulu. Ia duduk dibawah pohon sakura yg sedang berguguran. Namun tatapan matanya masih kosong, ia masih berfikir bagaimana cara menemukan gadis itu. Tak menyadari orang-orang sekelilingnya menatapnya sinis.

Kwon JiYong atau biasa yg sering dikenal dengan G-Dragon. Artis terkenal dan anak pemilik perusahaan terbesar kelima di Korea. Baru saja keluar dari penjara karna kasus penusukan yg ia lakukan yg ia lakukan 1tahun yg lalu. Karirnya hancur. Saat dipenjara keluarganyapun tak lagi perduli padanya.

Disebelah tempat duduknya ada seorang anak kecil yg sedang bermain dengan ponselnya. Jiyong mencoba meminta bantuan pada anak kecil itu agar meminjamkan ponsel itu padanya.

“Adik kecil, bolehkah kakak pinjam sebentar ponselnya? Ponsel kakak ketinggalan, Kakak ingin menelfon seseorang.”

Gadis kecil itu mengangguk dan menyerahkan ponselnya. Dengan segera Jiyong memencet beberapa tombol yg sudah sangat ia hafal diluar kepala. Beruntung nomer itu masih bisa dihubungi.

“Yeobseo” Jawab seorang gadis diujung telfon.

“Kau dimana? Bisakah kita bertemu?”

“Aku ditaman. Ini siapa?”

Mendengar kata taman, dengan segera Jiyong mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut taman. Mencari-cari sosok gadis yg sedang ditelfonnya. Matanya tertuju pada seorang gadis yg sedang memetik bunga dengan tangan kanan, dan tangan kirinya memegang sebuah ponsel. Pria itu bernafas lega. Ia kemudian mematikan ponsel dan mengembalikannya pada gadis kecil disampingnya.

“Gumawo malaikat kecil” Ucap Jiyong sembari membelai lembut pipi gadis kecil itu. Seorang ahjumma yg membawa sebuah Ice Cream mendekati mereka. Ahjumma itu adalah ibu dari gadis kecil itu. Ia memberikan Ice Cream pada putrinya dan segera menggendong anaknya menjauh dari Jiyong. Pandangannya menunjukkan rasa tak sukanya pada Jiyong. Pria itu hanya bisa menghela nafas.

Pandangannya kembali tertuju pada gadis yg tadi di telfonnya. Gadis itu mash sibuk menciumi bunga yg ada didepannya. Hingga tak menyadari ada seseorang yg sudah berdiri disampingnya.

Untuk pertama kali setelah setahun yg lalu mereka bertemu kembali. Ada pencaran kebahagiaan dimata Jiyong, namun berbeda dengan gadis yg ada didepannya itu. Gadis itu menunjukkan wajah terkejut, sedih, dan ketakutan.

“Oppa? Jiyong oppa? Kau?” Gadis itu tergagap menyebut nama Jiyong. Ia berjalan mundur hendak melarikan diri, namun dengan sigap Jiyong menangkap tangan gadis itu dan menahannya.

“SoHee-ah, bisakah kita berbicara sebentar saja?” Pinta Jiyong. Pria itu menarik tangan SoHee agar gadis itu mau mengikutinya.

Jiyong mengajak SoHee duduk ditempat biasa mereka bertemu dulu. Meski sudah 15menit mereka bersama, namun tak satu katapun yg keluar dari mulut mereka.

Gadis itu berdiri, dan maju beberapa langkah. Membuat Jiyong bisa merasakan wangi tubuh wanita yg menjadi candu saat ia berada dipenjara. Angin berhembus kencang menyibakkan rambut panjang SoHee yg tergerai hingga menyentuh pipi Jiyong. Ingin rasanya pria itu memeluk wanita yg ada didepannya dan menghirup sebanyak mungkin aroma tubuh yg sudah sangat ia rindukan.

“Sudah 15menit. Jika tidak ada yg ingin kau katakan aku akan pergi.”

Jiyong tidak tau bagaimana cara mencegah SoHee agar tak meninggalkannya. Ia tak lagi mempunyai alasan sejak hubungan mereka berakhir setahun yg lalu. Hanya dengan melihat pandangan mata SoHee saja Jiyong sudah tau bahwa gadis itu masih belum bisa memaafkannya. SoHee pergi meninggalkan Jiyong. Namun tanpa gadis itu ketahui, Jiyong mengikutinya hingga didepan rumahnya.

Sesaat setelah SoHee memasuki pintu, Jiyong berdiri didepan pintu rumah SoHee. Pria itu sedikit ragu untuk mengetuknya.

“Tak perduli apapun yg orang lain pikirkan tentangku. Tidak bisakah kau sedikit saja mengerti aku?” Lirih Jiyong, namun masih bisa didengar oleh SoHee yg berdiri dibalik pintu. Gadis itu tau jika Jiyong mengikutinya.

“Mianhe oppa. Jeongmal mianhaeyo” Batin SoHee dengan menghapus airmata yg sedari tadi coba dibendungnya.

***

Museun ili isseodo yeongwonhajago
(Kau bilang kita harus bersama selamanya apa pun yg terjadi)

Seulpeul ttaedo gippeul ttaedo kkeutkkaji hajago
(Kau bilang kita harus bersama saat bahagia dan sedih)

You don’t say that tomorrow
(Kau tidak mengatakan itu lagi besok)

Oneuri majimagin geotcheoreom
saranghajago
(Aku berkata mari kita bercinta hari ini seolah-olah ini hari terakhir)

Neo eomneun salmeun jongshinhyeong
(Dunia tanpamu seperti sebuah hukuman mati)

Sesanggwah danjeoldwaeh dol jikyeongiya
(Dunia tidak akan berjalan benar tanpa dirimu)

Neoran jonjaeneun gojilbyeong shiryeonye yeonsong maeumsong miryeoniya
(Keberadaanmu telah menjadi penyakit yg tak tersembuhkan bagiku)

Sesang saramdeuri naege dollin deung
Modeun geoshi bebe kkoyeoitdeon
nunchorideul
(Semua orang menatapku dengan pandangan penuh curiga)

Naege kajang keun apeumeun (Apeumeun) Niga keudeul katajyeotdan geotppun
(Tapi yg benar-benar menyakitkan adalah bahwa kau juga menatapku seperti mereka)

“Kau tau dia sudah bebas kan? Dia pasti langsung menemuimu saat itu. Aku ingatkan sekali lagi untuk tidak mendekatinya, atau aku akan menghancurkan hidupmu” Ancam seorang pria diujung telfon.

SoHee menghembuskan nafas berat. “Ne. Arraseumnida.” Gadis itu menutup telfon dan melihat adiknya yg sedang tertidur nyenyak.

Ia mengintip keadaan diluar rumahnya dari celah cendela. Jiyong masih ada didepan rumahnya. Pria itu tidak berniat pulang ke istananya dan lebih memilih untuk tidur berselimut angin didepan rumah SoHee. Gadis itu merasa tak tega melihat Jiyong. Ia membangunkan Jiyong dan memintanya untuk masuk ke dalam rumah. Pria itu bahagia, akhirnya SoHee mau menerima kehadirannya.

“Makanlah lalu cepat pergi. Kau kan punya rumah dan keluarga” Ucap SoHee setelah ia menghidangkan sepiring omurice untuk Jiyong.

Pria itu langsung tak nafsu makan setelah mendengar ucapan SoHee. Ia menatap SoHee namun tak sedetikpun gadis itu melihatnya.

“Aku masih tidak tau kenapa kau memutuskanku waktu itu. Kau bilang kita harus terus bersama dalam keadaan susah ataupun senang, tapi kenapa kau tiba-tiba memutuskanku?”

Ucapan Jiyong menghentikan aktifitas SoHee. Gadis terlihat berfikir untuk mencari alasan.

“Karna kau masuk penjara. Aku tidak bisa menjalani hubungan dengan orang yg mempunyai masa depan tidak jelas. Aku mencoba berfikir realistis. Selama ini hidupku dan adikku sudah cukup susah, jika aku menggantungkan hidupku padamu aku tidak yakin akan hidup bahagia.” Kata-kata yg muncul dari mulut SoHee benar-benar menusuk perasaan Jiyong. Pria itu tidak menyangka jika gadis yg sangat dicintainya bisa mengatakan hal sekejam itu padanya.

“Jadi mulai sekarang aku mohon oppa, jangan lagi ganggu hidupku.” SoHee mencoba tegas didepan Jiyong.

“Apa kau tau aku mempertaruhkan segalanya demi dirimu? Aku rela meninggalkan semuanya demi dirimu. Aku bahkan rela dipenjara karna….”

“Apapun alasanmu aku tidak mau tau oppa. Bagiku kau tetaplah penjahat. Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Lupakan aku dan sekarang cepat pergi dari sini.” Sahut SoHee. Gadis itu kemudian membukakan pintu untuk Jiyong.

Dengan perasaan terluka Jiyong meninggalkan rumah SoHee. Ia tak menyangka SoHee menganggapnya penjahat seperti orang lain.

“Aku tau oppa, aku tau sebenarnya SoHyun-lah yg menusuk rentenir itu, tapi kau yg mengakui kejahatannya.” SoHee menangis sesenggukan setelah Jiyong pergi. Ia tau Jiyong sudah mengorbankan semua untuknya. Tapi saat ini tidak ada pilihan lain selain membuat pria itu terluka.

Dengan tatapan kosong Jiyong berjalan lemah tak tentu arah hingga sebuah mobil menabrak tubuhnya.

-skip-

“Kau sudah bangun Jiyong-ah? Apa ada yg sakit? Katakan bagian mana yg sakit.” Sapa seorang pria paruh baya disamping ranjang Jiyong.

“Sudah ku bilang gadis itu tak baik untukmu. Sekarang apa yg sudah dia lakukan padamu? Di saat kau terpuruk dia malah meninggalkanmu dan membuatmu hingga seperti ini.” Oceh pria yg tak lain adalah ayah Jiyong.

Jiyong sama sekali tak merespon apa yg dikatakan ayahnya. Yg ada difikirannya saat ini hanyalah SoHee. Ia yakin bahwa SoHee masih sangat mencintainya. Itu terbukti dengan kalung pemberian Jiyong yg masih dipakainya. Semalam Jiyong melihat kalung itu masih melingkar dileher jenjang SoHee. Gadis itu tidak akan berubah seperti ini jika tidak ada sesuatu yg penting. Ia pasti ingin melindungi sesuatu. Ia sudah sangat mengenal watak SoHee.

-skip-

Hari ini Jiyong mengikuti kencan buta yg sudah diatur oleh ayahnya. Mereka makan malam di Restoran milik keluarga Jiyong, dan juga tempat SoHee bekerja. Gadis itu ditugaskan untuk mengantarkan makanan yg sudah dipesan Jiyong dan teman kencan butanya. SoHee terkejut melihat Jiyong, tapi sebisa mungkin ia mencoba bersikap profesional saat bekerja. Sama seperti SoHee, Jiyong-pun terkejut melihat SoHee bekerja di Restoran milik keluarganya. Dimana tak sembarang orang bisa bekerja disana dengan mudah.

Setelah mengantar pesanan, SoHee pergi ke toilet. Gadis itu menangis disana. Perasaannya hancur melihat Jiyong berkencan dengan wanita lain yg cantik, kaya dan tentu saja type ideal menantu idaman keluarga Kwon. Namun itu bukan salah pria itu karna SoHee jugalah yg sudah meninggalkannya.

Saat gadis itu keluar dari toilet, ia berpapasan dengan Presdir Kwon. Pria paruh baya itu dengan angkuhnya merendahkan SoHee. Ia juga menghina SoHee dengan sebutan “wanita yg gila harta” karna rela melepas Jiyong demi mendapat pekerjaan dan beasiswa untuk adiknya. Tuan Kwon juga senang karna sekarang Jiyong mau mendengarkan perintahnya untuk mengikuti kencan buta dengan gadis pilihannya.

SoHee meradang. Kali ini ia benar-benar marah dan habis kesabarannya mendengar ucapan Tuan Kwon. Sudah cukup hinaan, cacian, dan ancaman yg ia terima selama ini.

“Maaf Tuan, tapi sudah cukup saya menerima hinaan dari anda. Saya memang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, tapi saya masih punya harga diri. Saya meninggalkan Jiyong oppa bukan karna pekerjaan ini atau beasiswa SoHyun, saya meninggalkan Jiyong oppa karna saya merasa malu tidak bisa melindunginya dari kesalahan yg telah diperbuat SoHyun. Setelah apa yg sudah Jiyong oppa lakukan untuk saya dan SoHyun saya merasa tidak pantas mendapatkan seseorang sebaik Jiyong oppa. Dan jika bukan karna ancaman anda yg berniat untuk mengeluarkan Jiyong oppa dari daftar keluarga anda, saya tidak akan meninggalkannya. Dan daripada saya terus sakit karna melihat Jiyong oppa berkencan dengan wanita lain, saya lebih memilih mengundurkan diri.” SoHee mengambil papan nama yg menempel di baju kerjanya dan membantingnya didepan Tuan Kwon kemudian pergi.

Tuan Kwon tidak bisa berkata apa-apa melihat kelakuan SoHee. Gadis itu benar-benar membuat Tuan Kwon kesal dengan apa yg baru saja dilakukannya. Karna secara tidak langsung pria paruh baya itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri. Tanpa mereka sadari Jiyong berdiri dibalik tembok tempat Tuan Kwon dan SoHee bertengkar. Pria itu mendengar smua yg dibicarakan ayahnya dan SoHee. Ia tersenyum penuh arti pada dirinya sendiri. Ternyata apa yg ia yakini selama ini benar. SoHee tidak akan meninggalkannya jika tidak ada sesuatu yg ingin dilindunginya. Dan yg SoHee lindungi adalah dirinya.

***

SoHee mulai bekerja ditempat barunya. Namun sialnya ia kembali bertemu dengan Tuan Kwon. Memang bukan sebagai bos-nya, tapi ternyata Tuan Kwon baru saja menginvestasikan uangnya di perusahaan tempat SoHee bekerja sekarang. Dan itu bisa mempersulit posisi SoHee jika saja Tuan Kwon mengatakan hal yg tidak-tidak pada pemilik perusahaan. Saat itu SoHee sedang membawa tumpukan box yg akan dibawa ke gudang dan ia berpapasan dengan Tuan Kwon.

“Hahahaha dunia ini ternyata sempit sekali. Kita bertemu kembali dan ah…. Apa yg kau bawa itu? Apa kau menjadi pesuruh disini?” Tuan Kwon meremehkan SoHee didepan banyak orang. SoHee hanya menghembuskan nafas kesal tanpa berniat membalas perlakuan Tuan Kwon.

“Tapi kau cocok dengan pekerjaan kasar ini.” Ucap Tuan Kwon kemudian berjalan ke arah mobilnya.

Dari arah samping sebuah mobil melaju dengan kencang. Tatapan mata orang yg sakit hati, marah, kecewa terlihat jelas dimata sang pengemudi. Tujuannya adalah menabrak Tuan Kwon. SoHee yg mengetahui hal itu reflek mendorong Tuan Kwon hingga terjatuh, dan membiarkan dirinya menjadi korban.

BRUKK!!!!!!

Mobil itu menghantam tubuh SoHee dengan sangat kuat hingga gadis itu terpental ke beberapa meter. Pengemudi brutal itu segera meninggalkan tempat kejadian setelah mengetahui ia salah menabrak orang.

-skip-

SoHyun menangis melihat keadaan kakaknya yg kritis. Begitupun Jiyong, pria itu begitu terpukul mengetahui berita ini. Ia tak henti-hentinya menyalahkan ayahnya. Karna seseorang yg menabrak SoHee adalah lawan bisnis ayahnya. Pengemudi brutal itu baru saja tertangkap berkat bantuan CCTV yg merekam kejadian penabrakan SoHee. Kedua pria itu duduk di samping kanan dan kiri SoHee. Jiyong meminta SoHyun untuk istirahat dan makan, karna sudah 2 hari sejak SoHee masuk RS SoHyun hanya menangis dan tidak memperhatikan kondisi tubuhnya.

“Dia satu-satunya kakakku hyung. Satu-satunya keluarga yg ku punya. Selain SoHee nuna aku tak memiliki siapa-siapa lagi.”

Jiyong mendekati SoHyun, ia mencoba menenangkan dan menguatkan SoHyun meski ia sendiri terlihat sangat lemah.

“Pulanglah, biarkan aku yg akan menjaga kakakmu hari ini. Besok kembalilah dan gantikan aku.” Perintah Jiyong pada SoHyun. Setelah cukup sulit untuk membujuk, akhirnya SoHyun mau menuruti perintah Jiyong. Namun sebelumnya SoHyun memberikan tas yg biasa dibawa SoHee pada Jiyong. Tas yg berisi barang-barang penting milik SoHee. Jiyong membuka tas SoHee dan ia menemukan ponsel, mp3, cerpen, dan buku catatan SoHee. SoHyun meminta Jiyong untuk membacakan SoHee cerpen kesukaannya atau memutar lagu favorit SoHee agar wanita itu cepar sadar, Jiyong menyanggupinya.

Jiyong mendengar lagu yg ada di mp3 SoHee. Banyak lagu-lagu Big Bang disana. Lagu-lagu yg Jiyong ciptakan, pria itu juga membaca buku catatan SoHee. Jiyong menemukan sebuah catatan yg berjudul “Monster”

~Saat mendengar lagu ini untuk pertama kali, aku langsung menyukainya. Ah ini benar-benar seperti diriku. Akulah monster sebenarnya. Bukan Jiyong oppa. Kenapa Jiyong oppa begitu mencintaiku hingga membuatku sulit bernafas? Cinta Jiyong oppa benar-benar kuat mencengkram hatiku. Dia dulu sangat egois, tempramen, kasar, tapi demi aku dia rela berubah dan meninggalkan segalanya. Tapi apa yg bisa aku lakukan untuknya? Aku bahkan tidak pernah melakukan apa-apa. Aku merasa tidak pantas. Aku benar-benar malu pada diriku sendiri. Aku bahkan terus menyakitinya. Bukan Jiyong oppa, sungguh bukan dia, tapi akulah Monster sesungguhnya. Jeongmal Mianhae Jiyong oppa~

Jiyong memeluk erat buku catatan SoHee dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan SoHee dan menciumnya. Dengan suara bergetar Jiyong bernyanyi….

Kajima (Kajima, kajima)
Jangan pergi (Jangan pergi, Jangan pergi)

Tteonaji mara (Hajima, hajima, hajima)
Jangan tinggalkan aku (Jangan lakukan ini, Jangan lakukan ini, Jangan lakukan ini)

Neo katjianha
(Kau tak seperti dirimu sendiri)

Meoreojin chaero sarangeun geolleojin chaero
(Masih jauh dengan cinta yg masih terbagi)

Chajjima (Chajjima, chajjima)
Jangan lakukan ini, (Jangan lakukan ini, Jangan lakukan ini)

Nal chajji mara (Majimag, Majimag, Majimang)
Jangan mencariku (Jangan mencariku, Jangan mencariku, Jangan mencariku)

Ne ape seo inneun nae moseubeul giyeokhaejwo
(Tolong ingat aku yg berdiri disampingmu)

Narijji marajwo
(Jangan pernah lupakan aku)

I love you
(Aku mencintaimu)

Baby I’m not a Monster
(Sayang aku bukan monster)

Neon aljanha yejeon nae moseubeul shigani chinamyeon sarajyeo beoril tende
(Kau tau diriku yg dulu, ketika waktu berlalu, aku harus menghilang)

Keu ttaen al tende Baby
(Kau akan tau sayang)

I need you
(Aku membutuhkanmu)

Baby I’m not a Monster
(Sayang aku bukan monster)

Nal aljanha ireohke kajima neo majeo beorimyeon nan jugeobeoril tende
(Kau tau aku, hubungan kita memang sudah berakhir tetapi jika kau meninggalkanku seperti ini aku akan mati)

I’m not a Monster
(Aku bukan monster)

I think I’m sick
(Aku pikir aku sakit)

Jiyong merasakan tangan SoHee sedikit bergerak. Pria itu bangkit dan memanggil-manggil nama SoHee.

“Chagi-ah, jebal ireonna. Buka matamu.”

Perlahan SoHee membuka matanya. Ia tersenyum melihat Jiyong ada disampingnya.

“Ya!! Monster jahat, jangan tersenyum seperti itu. Kau hampir membuatku mati karna khawatir.” Marah Jiyong ditengah tangisnya. Dengan susah payah SoHee mengangkat tangannya untuk menghapus airmata pria yg ada didepannya itu.

“Uljima oppa. Kenapa kau sekarang jadi cengeng? Kemana Jiyong yg angker yg aku kenal dulu?” Ledek SoHee.

“Ini smua karnamu. Smua yg terjadi padaku karna ulahmu. Karna itu kau harus bertanggung jawab padaku. Mengabdikan seluruh hidupmu untukku.”

“Apa itu sebuah lamaran? Apa kau sedang melamarku? Aish, kau sama sekali tidak romantis.” Rajuk SoHee. Gadis itu cemberut, memajukan sedikit bibirnya berpura-pura marah.

“Berjanjilah tidak akan melakukan hal bodoh ini lagi. Apa kau sudah gila eoh? Seharusnya kau biarkan saja orang itu menabrak Monster Kwon, mengapa kau menolongnya? Bukankah dia sudah terlalu sering menyakitimu? Apa kau mau jadi pahlawan kesiangan? Kau fikir hatinya akan berubah setelah kau melakukan hal ini?” Oceh Jiyong pada SoHee. Pria itu bahkan lebih rela jika ayahnya-lah yg menjadi korban tabrakan daripada SoHee.

“Seharusnya kau bersyukur meski kau hanya memiliki aboeji. Dia tidak akan melukaimu, hanya ingin yg terbaik untukmu. Aku menolong Presdir Kwon bukan karna ingin mendapatkanmu. Aku hanya tidak ingin kau merasakan kesepian yg SoHyun dan aku rasakan karna tak lagi memiliki orangtua. Tidak ada yg bisa kami andalkan, hanya bisa saling menjaga satu dan yg lain. Aku tidak ingin kau merasakan hal seperti itu. Sungguh itu sangat menyakitkan. Aku menyuruhmu untuk tidak acuh pada Presdir Kwon bukan? Bagaimanapun juga dia adalah ayahmu oppa. Kau harus menghormatinya.” SoHee menggenggam tangan Jiyong mencoba memberi pengertian pada pria itu.

“Tapi monster itu selalu menyakitimu. Aku tidak akan bisa menghormatinya selama dia terus menyakitimu.” Jiyong memalingkan wajahnya pada SoHee. Bagaimana bisa gadis itu malah membela ayahnya setelah apa yg ayahnya lakukan padanya.

“Aww” SoHee mengerang kesakitan dibagian kepalanya, membuat Jiyong panik. Pria berteriak memanggil dokter tapi dihalangi oleh SoHee. Gadis itu meminta agar Jiyong tetap disampingnya saja, dan terus tersenyum. Ia tidak mau melihat Jiyong sedih karna itu akan menghambat proses penyembuhannya. Jiyong tau itu hanya cara SoHee agar ia tak merasa bersalah karna perbuatan ayahnya. Jiyong menyuapi SoHee bubur, mereka terlihat sangat bahagia, terus bercanda dan tertawa.

Tanpa mereka sadari seorang pria paruh baya mengawasi mereka dari luar dengan airmata yg sudah membasahi pipinya. Entah apa yg membuatnya menangis. Apa itu karna ia mendengar alasan SoHee menyelamatkannya atau karna ia melihat anaknya yg terlihat begitu bahagia saat bersama SoHee. Tapi satu hal yg ia tau, harta tak selalu bisa membuatnya bahagia. Mempunyai banyak harta tapi tidak bisa membuat anaknya tersenyum, apalagi tertawa seperti yg SoHee lakukan pada Jiyong adalah sebuah pukulan besar bagi Tuan Kwon.

Sudah sangat lama ia tak melihat senyum dan tawa putra semata wayangnya itu. Sudah sangat lama ia tak melihat putranya begitu ceria dan semangat. Semua yg tak bisa ia lakukan, bisa SoHee lakukan dengan mudah.

-skip-

Sore ini SoHee sudah diperbolehkan pulang. Namun Jiyong lebih dulu pulang untuk membersihkan rumah dan menyiapkan segala sesuatu sebelum SoHee pulang, karna SoHyun sibuk dengan ujiannya jadi Jiyong yg mengerjakan smua itu. Saat Jiyong pergi, seorang pria datang mendatangi SoHee membuat gadis itu terkejut saat mengetahui orang itu adalah Tuan Kwon.

“Aku ingin berbicara denganmu. Bisakah kau memberiku sedikit waktumu?” Tanya Tuan Kwon dengan nada bicara yg sedikit bersahabat. Namun tetap saja membuat SoHee gemetar saat berhadapan dengannya. SoHee mempersilahkan Tuan Kwon untuk duduk dan mengatakan tujuannya datang menemui SoHee.

Tidak seperti biasanya yg arogan, kali ini Tuan Kwon datang dengan cara yg sedikit lebih sopan. Ia bahkan merasa canggung pada SoHee. Ada apa? Kenapa? Itu yg kini ada dibenak SoHee.

“Pertama-tama aku ingin minta maaf atas semua kesalahan yg sudah kulakukan padamu. Mungkin kata maaf ini tak berarti, dan tidak mudah bagimu untuk memaafkanku tapi kali ini aku tulus. Yg kedua aku ingin berterima kasih. Berterima kasih karna kau terlah menyelamatkan nyawaku. Nerterima kasih karna kau telah memberikan kebahagiaan pada Jiyong, setelah kepergian ibunya Jiyong bahkan tidak tau cara tersenyum. Berterima kasih karna kau telah menyadarkanku. Berterima kasih karna kau masih mau memberikan kesempatan kepada orang tua ini untuk berbicara. Meski seluruh hartaku ku berikan padamu, mungkin itu tidak akan cukup untuk membalas rasa terima kasihku. Aku tidak bisa memberikan apa-apa untukmu, namun bisakah aku meminta tolong sekali saja padamu? Ini untuk yg terakhir kalinya. Setelah itu aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi.” Ucap Tuan Kwon dengan mengeluarkan secarik kertas dan pena dari dalam jasnya.

Awalnya SoHee ragu untuk membukanya, karna ia sudah bisa menebak apa yg di inginkan Tuan Kwon. Namun demi menghormatinya, SoHee mengambil secarik kertas itu dan membacanya. Matanya membulat sempurna saat ia membaca tiap kalimat yg tertulis dalam surat itu. Terkejut. Hingga Tuan Kwon menyadarkannya.

“Bagaimana? Apa kau mau menerimanya?”

SoHee gugup mendengar pertanyaan Tuan Kwon. Ia tak tau harus menjawab apa. Terlalu mendadak dan tiba-tiba, membayangkannya saja SoHee tidak pernah.

“Ini permintaan terakhirku. Setelah ini aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Jadi aku mohon terimalah.” Perintah Tuan Kwon dengan sedikit memaksa.

SoHee menarik nafas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Gadis itu sudah memutuskan akan menerima penawaran dari Tuan Kwon.

“Dimana aku harus tanda tangan?” Tanya SoHee.

Tuan Kwon menunjukkan tempat dimana SoHee harus menandatangani kertas itu. Setelah menandatangani kertas tersebut, SoHee menyerahkannya kembali kepada Tuan Kwon. Pria paruh baya itu tersenyum senang melihat tanda tangan SoHee sudah tertera diatas kertas itu. Sekali lagi, ia berterima kasih pada SoHee karna mau menuruti perintahnya. Tuan Kwon kemudian pamit pergi pada SoHee, namun gadis itu mencegahnya.

“Ap…..ap…..ppa? Bisakah kau ikut denganku?” Ucapan SoHee menghentikan langkah Tuan Kwon. Tubuh pria paruh baya itu bergetar mendengar kata appa dari mulut SoHee. Air mata menetes dari pelupuk matanya. Terharu, sudah lama ia tak mendengar ada yg menyebutnya dengan sebutan “Appa”, selama ini Jiyong tidak pernah memanggilnya appa, tapi Presdir.

-skip-

“Oppa….. Oppa? SoHyun? Kalian dimana?” SoHee berteriak memanggil Jiyong dan SoHyun dirumah saat ia datang. Jiyong yg mengenali suara SoHee lalu keluar menghampiri gadis itu.

“Ya!! Bagaimana bisa kau nekat pulang sendiri? Aku kan sudah bilang akan menjemputmu nanti sore. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Kenapa kau membuatku khawatir eoh?” Oceh Jiyong pada SoHee.

Gadis itu hanya tersenyum mendengar ocehan Jiyong. Tiba-tiba seorang pria masuk tanpa mengetuk pintu. Jiyong terkejut melihatnya. Wajahnya berubah sekita saat mengetahui orang tersebut adalah ayahnya.

“Oppa, bersikap baiklah pada appa. Aku yg mengajaknya kemari”

Jiyong tak percaya mendengar ucapan SoHee. Apa yg baru saja dikatakan gadis itu? Memanggil ayahnya dengan sebutan “appa”. Tidak cukup hanya itu, ia juga mengajaknya datang kerumah. Sebenarnya apa yg sudah terjadi? Pertanyaan itu memenuhi pikiran Jiyong.

SoHee menarik tangan Jiyong dan mempersilahkan Tuan Kwon untu masuk ke dalam rumahnya. SoHee melihat meja makan sudah terisi oleh masakan Jiyong. SoHee mengajak anak dan ayah itu untuk makan bersama. Disaat yg bersamaan SoHyun baru datang dari sekolah. Ia terkejut melihat Tuan Kwon, orang selalu jahat padanya dan kakaknya berada dirumahnya. SoHee berusaha mencairkan suasana yg sedikit tagang itu.

“Wahh aku lapar, apa kau yg memasak ini semua oppa?” Tanya SoHee dengan mencicipi satu per satu masakan Jiyong.

“Hemmm…….. Mashitaaaaaaaa… Oppa daebak!!!”

SoHee mengambilkan nasi untuk Tuan Kwon, membuat Jiyong dan SoHyun hanya bisa terdiam melihat perlakuan SoHee dan Tuan Kwon. Sejak kapan mereka jadi sedekat itu? Mungkin itu yg ada dibenak Jiyong dan SoHyun.

“Makanlah appa, jangan sungkan. Ini pertama kalinya kan anda makan masakan Jiyong oppa?”

Tuan Kwon terharu mendapat perhatian dari SoHee. Pria paruh baya itu kemudian makan dengan sangat lahap hingga tersedak. Ada air mata di sudut matanya. SoHee segera mengambilkan air minum dan memukul pelan punggung Tuan Kwon.

“Aku tidak apa-apa. Terima kasih.” Tuan Kwon meminta SoHee kembali melanjutkan makannya.

Jiyong sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yg terjadi? Ini begitu membingungkan buatnya? Kenapa ayahnya bisa kesini dan bagaimana bisa ayahnya dan SoHee begitu akrab, apalagi sejak tadi SoHee memanggil ayahnya dengan sebutan “appa”. Jiyong butuh penjelasan dari SoHee.

SoHee menghentikan makannya. Ia menatap Jiyong tajam. Ia kemudian mencari tasnya dan mengeluarkan selembar kertas.

“Sejak aku menandatangani kertas ini. Tuan Kwon sekarang sah menjadi ayahku. Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka? Jika kau tidak suka, kau boleh menyobeknya sekarang.”

SoHee menyodorkan kertas itu pada Jiyong. Pria itu melotot melihat tulisan dikertas itu. Surat yg sudah ditanda tangani oleh SoHee dan ayahnya. Dan saat ini tinggal menunggu tanda tangan Jiyong disamping tanda tangan SoHee dan tanda tangan SoHyun disamping tanda tangan Tuan Kwon. Jiyong menatap SoHee dan ayahnya secara bergantian, dan kedua orang itu hanya tersenyum. Ya, itu adalah Surat untuk mendaftarkan pernikahan SoHee dan Jiyong dikantor sipil. Tuan Kwon sudah menyetujui hubungan Jiyong dan SoHee. Pria paruh baya itu akhirnya mau mengalah demi melihat anaknya bahagia. Demi bisa bersama SoHee, Jiyong sudah melewati banyak rintangan. Ia tidak tega jika harus melihat putranya terus menderita.

Jiyong berdiri, ia berlari menghampiri ayahnya dan memeluk pria itu. Tuan Kwon terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari anaknya. Ia hanya menepuk pelan punggung Jiyong. SoHee tersenyum melihat kedekatan ayah dan anak itu.

“Gumawo appa, jeongmal gumawo. Aku benar-benar bahagia. Aku mencintaimu appa.”

Setelah memeluk ayahnya Jiyong menghampiri SoHee dan memeluk gadis itu. Mereka menangis karna terharu, bahagia.

“Kita berhasil chagia, kita berhasil mempertahankan cinta kita. Kau bukan monster, aku bukan monster, ayah juga bukanlah monster. Dia masih punya hati untuk kita. Aku benar-benar bahagia untuk hari ini.” Batin Jiyong.

-END-

-miLanistred-

1 Komentar

  1. Ahn Jihye

    Happy Ending!!😀
    aku kira ayahnya jiyong bakal nyuruh sohee tinggalin jiyong lagi, tapi ternyata ayahnya masih berbaik hati…

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: