AstreDiaries

Forever With 비에이피 ♥ 방용국 ♥ Proud To Be a MILANISTI

My Baby VS Me, Baby

Long long long time no see~ ya~ apa kabar? Adakah yang merindukanku? Haha absurd ya?

Sebenarnya tidak mudah meninggalkan tempat persembunyian senyaman ini. Tapi ada alasan lain yang mengharuskanku enyah dari tempat ini.

Ya mungkin sebagian sudah tahu kalau sekarang aku tidak lagi sendiri. Tapi tidak sedikit juga yang belum tahu kalau sekarang aku bukan hanya menjadi istri, tapi juga menjadi seorang ibu.

Benar, awalnya aku berpikir aku pasti bisa tetap mengikuti perkembangan musik K-Pop, terutama B.A.P yang selama ini menjadi oksigenku.

Aku sempat merasa kecewa saat salah seorang Kpopers yang ku kenal memutuskan tidak lagi menjadi Kpopers setelah menikah. Tapi setelah menjalaninya sendiri, aku baru tahu bagaimana rasanya.

Menjadi seorang Baby dari B.A.P, adalah sebuah kehormatan yang tak ternilai. Tapi, menjadi seorang ibu dari seorang Baby Angel adalah kebahagiaan yang tak terhingga bagiku.

Aku bukan orang yang setengah-setengah dalam mencintai sesuatu.

MILANNISA ANGEL MULTAZAM

Angel. Cheonsa. 1004.

Aku bahkan memberi nama anakku Angel. Yang tak lain dan bukan adalah nama yang menjadi salah satu judul lagu B.A.P

Tidak mudah bagiku lepas dari jerat B.A.P, karena aku… sudah jatuh. Terperosok. Sangat dalam. Teramat dalam. Sementara kini, aku.. Statusku, sudah bersuami dan menjadi ibu dari seorang anak. Itu adalah prioritas utamaku.

Sekarang, ada seseorang yang bersedia bertanggung jawab atas aku, menggantikan orang tuaku untuk menanggung dosaku. Dialah Imamku. Terlebih dia juga memberiku tanggung jawab yang tak main-main. Jadi aku harus pintar membagi waktu.

Oke. Aku tidak mengelak jika beberapa orang menyebutku salah karena pergi begitu saja. Tapi tidak ada pilihan lain bagiku.

Tinggal di rumah mertua, pantaskah kalau aku terus berurusan dengan gadget sementara cucian menumpuk dan harus mengurus anak. Belum lagi memasak, cuci piring, membersihkan rumah. Menghabiskan waktu dengan suami dan anak menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan, SEKARANG hingga membuatku lupa tentang mayaku.

Tapi, setiap aku membuka ponsel, meski itu cuma beberapa detik, ada seseorang yang selalu dengan setia memberiku informasi dan berbagi tentang B.A.P, dia yang selalu menyapaku meski sering ku abaikan, dia yang selalu mengerti tanpa perlu ku jelaskan. Hingga aku tidak pernah telat informasi apapun tentang B.A.P

TIDAK TERLIHAT BUKAN BERARTI AKU TIDAK ADA

Banyak orang yang berfikir aku bener-bener sudah pergi dari dunia Kpop hanya karena aku tidak lagi memposting sesuatu. Sekedar menulis lirik lagu atau membuat FF. Enggak, sebenarnya aku ga pergi, hanya saja ga seaktif dulu.

Bang Yongguk, Kim Himchan, Jung Daehyun, Yoo Yongjae, Moon Jongup, Choi Junhong, Jung Sohee mencintai mereka, dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun. Karena jika Sohee sudah mencintai sesuatu, dia akan mencintainya hingga akhir. Dan itu tidak akan berubah. Hanya saja kadarnya sedikit berbeda.

Aku, akan tetap jadi Baby meski aku sudah memiliki seorang baby! Karena menjadi Baby dan ibu dari seorang baby bukanlah pilihan, tapi takdir.

Iklan

Lirik Lagu B.A.P – SKYDIVE (Romanization – Indonesia) Translate

We can skydive, free fall
Kita bisa terjun payung, jatuh bebas

Skydive, free fall
Terjun payung, jatuh bebas

We can skydive, we go, pyeolchyeojin sesange
Kita bisa terjun payung, kita pergi, ke seluruh dunia

Nareul, deonjyeo, go to the other side
Aku, melompat, pergi ke sisi yang lain

Catch! catch light neoreul deryeoga, wonhae back in time, mitgo ttarawa, baby let’s ride
Tangkap! Tangkap cahaya yang membawamu, aku ingin kembali ke waktu itu, percaya dan ikuti aku, sayang mari kita pergi

Eodum soge, nal bureuneun, i sangcheoppunin fantasy
Hanya ada bekas luka, yang memanggilku, dalam kegelapan khayalan

Yes that’s right, hwanhan spotlight nareul bichun daeum nopi naraga, baby we can fly
Ya benar, sinar terang terbang tinggi di udara setelah menyinariku, sayang kita bisa terbang

Just let go, nareul mitgo, ttwieo momeul deonjyeobwa (bang)
Membiarkannya pergi, percaya, dan melompatlah (bang)

Sijakdo kkeutdo eopneun sky, nan hyeseongcheoreom fly
Tidak ada awal atau akhir di langit, aku seperti komet yang terbang

Deo kkeureodanggyeo nae momeun out of control
Tubuhku semakin terdorong dan lepas kendali

Da beorigo skydive (yeoljeongeul bultaewo dynamite)
Lupakan semua, terjun payung (bakar gairahmu dinamit)

Skydive (modu da geop eopsi deonjyeo bwa)
Terjun payung (buang segala keraguan dan ketakutanmu)

Sokdoreul nopyeo simjangeul nege matgyeo
Cepat dan percaya pada hatimu

Skydive (i sesangeul jeonbu do we rock)
Terjun payung (seluruh dunia kita goncang)

Skydive (momeul deonjyeo, it’s do or die)
Terjun payung (lempar dirimu, lakukan atau mati)

Nan ireokhe, nan ireokhe, ni gonggan sogeuro
Seperti ini, seperti ini, aku akan ke ruang
angkasa

We can skydive, free fall
Kita bisa terjun payung, jatuh bebas

Yeah georeumeun georeumeun beoryeo go with me ppareuge dallyeo, come with me
Ya, terjun “berjalan-jalan” denganku, berlari cepat, datang padaku

You know, you know, you know, you know (we can skydive, free fall)
Kau tahu, kau tahu, kau tahu, kau tahu (Kita bisa terjun payung, jatuh bebas)

Let me go, yo begin, again nae nune bichin
Biarkan aku pergi, ayo mulai, sekali lagi ke dunia yang baru

Deo saeroun segyero ti-ti-time is tickin’ (we can skydive, free fall)
Di mataku wa-wa-waktu terus berdetak
(Kita bisa terjun payung, jatuh bebas)

Jeomjeom deo millyeodeuneun dark, onmomeul ttaerin beat
Banjir kegelapan, kekalahan yang menghantam seluruh tubuhku

Tto morachyeodo igyeonae I’m in control
Bahkan jika itu menghimpitku lagi, aku bisa memegang kendali

Da beorigo skydive (yeoljeongeul bultaewo dynamite)
Lupakan semua, terjun payung (bakar gairahmu dinamit)

Skydive (modu da geop eopsi deonjyeo bwa)
Terjun payung (buang segala keraguan dan ketakutanmu)

Sokdoreul nopyeo simjangeul nege matgyeo
Cepat dan percaya pada hatimu

Skydive (i sesangeul jeonbu do we rock)
Terjun payung (seluruh dunia kita goncang)

Skydive (momeul deonjyeo, it’s do or die)
Terjun payung (lempar dirimu, lakukan atau mati)

Nan ireokhe, nan ireokhe, ni gonggan sogeuro
Seperti ini, seperti ini, aku akan ke ruang
angkasa

Oh, chatgosipeo neol
Oh, aku ingin menemukanmu

We can skydive, free fall (falling down with you)
Kita bisa terjun payung, terjun bebas (terjun bersamamu)

Kkeutnae neol humchyeo ol game
Permainan yang membuatmu ketakutan

Gyeolguk nan neomanui champ
Meski pada akhirnya aku yang akan jadi pahlawanmu

We can skydive, free fall
Kita bisa terjun payung, terjun bebas

Come with me!
5, 4, 3, 2, 1
Datang padaku!
5,4,3,2,1

Da beorigo skydive (yeoljeongeul bultaewo dynamite)
Lupakan semua, terjun payung (bakar gairahmu dinamit)

Skydive (modu da geop eopsi deonjyeo bwa)
Terjun payung (buang segala keraguan dan ketakutanmu)

Nae soneul jaba (nal jaba)
Pegang tanganku (pegangi aku)

Nae mameul hwaginhaebwa
Baca pikiranku

Skydive (i sesangeul jeonbu do we rock)
Terjun payung (seluruh dunia kita goncang)

Skydive (momeul deonjyeo it’s do or die)
Skydive (lempar dirimu, lakukan atau mati)

Neon geudaero, neon geudaero, nal mitgo gidaryeo
Seperti itu, seperti itu, tetap disana dengan kepercayaanmu padaku

We can skydive, free fall
Kita bisa terjun payung, terjun bebas

We can skydive, free fall (I’m falling for you)
Kita bisa terjun payung, terjun bebas (aku jatuh hati padamu)

We can skydive, free fall
Kita bisa terjun payung, terjun bebas

Last Friend

“The reason why I look away from you is because I want to look at you forever. The reason why I cant be gentle to you is because I dont want to lose you.”

Baca lebih lanjut

Forgiveness ー Hope

Apakah ada bunga yang mekar tanpa terguncang oleh angin? Bahkan bunga-bunga yang cantik, semuanya pernah terguncang saat mekar.

Yongguk tiba di studio Leeteuk. Dia juga tahu Sohee dan Leeteuk sedang ada di dalam. Dia hanya berdiri di luar mondar mandir merasa cemas dengan apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Sohee setelah ini. Apakah Sohee akan meninggalkan dirinya dan kembali pada cinta pertamanya? Itu sangat meresahkan Yongguk.

“Ini dia. Ini adalah sumber rasa sakit hatinya. Sumber kekosongan yang dia rasakan selama 6 tahun ini. Aku mengikutinya hingga ke sini. Dan
mulai saat ini, aku harus menebak apa yang akan terjadi. Semua bisa saja terjadi di dalam sana, di balik jendela-jendela itu. Akankah aku menjadi singa? Ataukah tetap menjadi kelinci” Batin Yongguk berkecamuk.

Yongguk tetap menunggu di luar dengan sabar di tengah cuaca dingin yang menghujam. Dia menatap gedung studio lukis Leeteuk. Yongguk mengeluarkan permen karet dan mulai mengunyahnya. “Apakah kau tahu apa alasan kita mengunyah permen karet? Kita mengunyah permen karet untuk mengurangi kecemasan kita. Tapi jika Jaen Valjean mengunyah permen karet, itu adalah ketika dia mencoba mencuri lilin. Akankah pendeta memaafkannya? Aku berdoa agar mereka berdua tidak mengunyah permen karet. Aku berdoa atas nama Tuhan”

“Tempat ini sangat aneh. Seperti sebuah dunia yang berbeda. Bau tinta yang tidak dapat aku hapus. Tidak tentang seseorang yang tinggal disini dan tidak dapat aku hapus. Aku… merindukan tempat ini” Gumam Sohee sambil mengelilingi studio Leeteuk.

Leeteuk yang sedang memasak untuk Sohee membawakan makanan yang sudah selesai dia buat. Leeteuk mempersilahkan Sohee duduk untuk menikmati masakannya. Sohee merasa senang karena ini pertama kalinya Leeteuk memasakkan makanan untuknya.

”Cobalah. Nasi dan Sup cocok untuk seorang Ratu” Ujar Leeteuk dengan senyum manisnya.

Sohee memuji masakan Leeteuk yang di nilainya sangat lezat. Leeteuk menunduk mendengar pujian Sohee. Sekarang dia sudah puas. Selama ini Leeteuk selalu merasa tidak enak karena tidak pernah membuatkan makanan untuk Sohee. Selama 6 tahun ini Leeteuk selalu menyesalinya. Jadi Leeteuk ingin memasak untuk Sohee sebelum dia benar-benar melepasnya pergi.

“Apa maksudnya mengirim aku pergi?” Tanya Sohee bingung.

Leeteuk menatap Sohee kemudian mengingat wajah Sohee setelah menerima telepon tadi. Meski Sohee tidak tahu siapa yang menelpon, tapi dia seolah memiliki firasat bahwa Sohee sudah memiliki kekasih baru.

“Tidak penting apa alasannya, lebih baik kau makan saja.” Ujar Leeteuk. Membuat Sohee teringat akan kejadian di masa lalu, semuanya terasa sama.

“Dia selalu seperti ini. Oppa selalu seperti ini saat kami putus dan menungguku disini. Setelah semua orang pergi, dia yang terakhir melihat ke belakang. Dia tahu bahwa menyiapkan makan satu kali ini adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan untukku. Dia tahu itu sejak mulai kami berkencan. Dan aku baru menyadarinya sekarang” Batin Sohee mulai menyadari semuanya.

Setelah Sohee selesai makan, Leeteuk memberikan minuman kaleng pada Sohee, keduanya lantas minum bersama.

“Kartun apa yang sedang Oppa gambar akhir-akhir ini?” Tanya Sohee antusias.

Leeteuk lalu menunjukkan hasil karyanya. “Sebuah cyborg yang lebih manusiawi daripada manusia”

Sohee melihat-lihat komik itu, membuka lembar demi lembar halamannya lalu tampak kaget, seolah menyadari sesuatu. “Siapa yang akan mennerbitkan komik ini?” selidiknya.

“Tidak ada” jawab Leeteuk dengan tegas. “Aku belum pernah menunjukkannya pada siapapun dan penerbit manapun.”

“Kenapa? Lagi-lagi…” Ucapan Sohee terputus.

“Hanya karena….”

Di luar, Yongguk mendengarkan percakapan Leeteuk dan Sohee. Dari situ dia memahami satu hal. Kepribadian Leeteuk-kah yang membuat Sohee menyerah pada pria itu karena dia tidak pernah memikirkan masa depan?

Sohee tidak habis pikir, meski enam tahun telah berlalu, tapi pria yang ada di depannya itu sama sekali tidak berubah sedikitpun. Sohee sampai berpikir apakah Leeteuk itu seseorang yang bodoh? Menghabiskan banyak waktu untuk menggambar tapi dia tidak ingin menunjukkannya pada orang lain.

“Aku sudah sering mendengar semua itu, dulu. Kau juga konsisten dengan ucapanmu, dulu. Benar-benar sama. Dan jawabanku juga masih sama. Aku tidak memiliki alasan mengapa aku harus melakukan hal itu? Mengapa aku harus mengatakakan pada orang lain bahwa akulah yang menggambar komik itu dan menjelaskan tentang apa isi komik itu. Menurutku itu adalah sebuah tindakan yang bodoh.” Oceh Leeteuk.

“Ya benar. Oppa memang orang yang
bodoh.” Timpal Sohee.

“Jadi…. Siapa pria itu?” Sohee terkejut mendengar pertanyaan Leeteuk. Bagaimana Leeteuk bisa tahu jika Sohee sudah memiliki sepasang kekasih?

Sepertinya Leeteuk sudah menyadari hal itu saat Sohee menerima telepon. Dan tentu saja dibandingkan dengan Sohee, Yongguk yang berada diluar sana lebih kaget lagi mendengarkan pertanyaan Leeteuk. Dan jujur saja, Yongguk jugancemas pada jawaban Sohee pada mantan kekasihnya itu. Bagaimana sebenarnya Sohee menilai dirinya selama ini?

“Apakah Oppa benar-benar ingin tahu?” Tanya Sohee memastikan.

“Sebenarnya tidak.” Jawab Leeteuk jujur.

“Lalu, mengapa Oppa bertanya?” Tuntut Sohee.

“Karena aku penasaran.”

Setelah diam beberapa saat, Sohee mulai buka suara. “Dia bekerja di sebuah perusahaan. Dia orang yang easy going, tepat sasaran dan sangat analistis. Dia orang yang selalu punya
tujuan yang jelas”

“Apa hanya itu?” Leeteuk mengangkat satu alisnya.

“Apa Oppa ingin mendengar lebih banyak?” Tanya Sohee memastikan.

“Ya.” Jawab Leeteuk singkat.

“Dia orang yang selalu mendengarkanku. Dia sangat murah hati terhadap orang lain. Aku selalu mengkonsultasikan tentang masa depanku dengannya. Dia juga membantuku membuat rencana masa depan. Bagaimana aku harus hidup, langkah-langkah apa yang harus aku ambil. Dia memberiku banyak masukan tentang tujuanku di masa depan”

Leeteuk mulai terlihat tidak nyaman dengan penjelasan Sohee. Pria yang Sohee jelaskannitu jelas-jelas sangat berbeda jauh dengan dirinya. Pria itu adalah pria yang dicari Sohee selama ini. Leeteuk sangat menyadari hal itu dengan baik. Tapi Leeteuk masih penasaran. “Apa ada lagi?”

“Ya. Dia adalah pria yang sangat aku cintai. Aku mencintainya lebih dari dia mencintaiku. Apakah Jawaban itu cukup?” Sohee menyampaikan pendapat terakhirnya tentang Yongguk.

Leeteuk tidak menjawab, dia malah berdiri dan mengambil jaketnya seperti akan pergi. Sohee bertanya Leeteuk mau kemana? Tapi Leeteuk tampak seperti orang yang bingung dan linglung. Akhirnya dia memutuskan untuk membeli beberapa bir.

Saat Leeteuk keluar dari studio lukisnya, dia bertemu dengan Yongguk. Mereka saling menatap. Saat itu juga rasanya Leeteuk tahu siapa pria yang ada di hadapannya itu dan mengapa dia hanya berdiri di luar, di tengah udara yang sangat dingin.

“Bisakah kita bicara sebentar?” Yongguk buka suara. Dan tidak ada alasan bagi Leeteuk untuk menolak hal itu.

Sementara kedua pria itu sedang berbicara serius, di dalam studio Leeteuk, Sohee masih sibuk melihat-lihat komik yang dibuat Leeteuk. Sohee merasa Leeteuk sangat bodoh. Bagaimana bisa Leeteuk bisa menggambar sebagus itu juga dengan cerita yang menyenangkan, tapi malah meninggalnya di laci tanpa berniat menunjukkannya pada siapapun?

Sohee beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa harus melakukan sesuatu. Dulu Sohee membiarkan Leeteuk dengan dunianya sendiri karena Sohee merasa studio itu juga adalah dunianya. Ada perasaan bahwa studio itu juga adalah rumahnya, tempat dimana dia bisa kembali sesuka hati. Tapi sekarang tidak lagi. Leeteuk masih berada di dunianya, sementara Sohee sudah berada di dunia yang berbeda. Mereka bahkan sudah tidak bisa pergi bersama-sama. Sebenarnya Leeteuk sudah tahu hal itu dari awal, hanya saja dia tidak ingin mengakuinya. Tapi…. Sohee benar-benar merasa bahagia karena pernah memiliki waktu kebersamaan yang indah bersama Leeteuk.

Sohee mulai membereskan gambar-gambar Leeteuk dan menuliskan sebuah pesan pada di meja. “Aku mengambil gambarmu untuk di berikan pada penerbit. Aku minta maaf karena mengambil tanpa izin. Tapi percayalah padaku. Aku benar-benar ingin membuat keinginanmu menjadi kenyataan. Aku berharap kau sukses dengan melakukan apa yang kau sukai.”
Setelah itu Sohee-pun keluar dari studio sambil membawa komik yang digambar Leeteuk. Sohee berharap Leeteuk bisa move on dari cinta masa lalu mereka, karena semua itu sudah berlalu dan menjadi karat.

Yongguk dan Leeteuk berbicara di sebuah restoran. Leeteuk berkata seharusnya Yongguk masuk ke dalam studionya. Tapi Yongguk menolak karena ingin menghormati hubungan masa lalu Leeteuk dan Sohee. Leeteuk tersenyum. Dia merasa Yongguk terlihat persis seperti apa yang dikatakan Sohee.

“Memangnga apa yang di katakan Sohee?” Tanya Yongguk penasaran.

“Kau terlihat seperti seorang Pangeran yang tinggi dan perkasa.” Jawab Leeteuk jujur.

Tentu saja Yongguk merasa tersanjung mendengarnya. Namun di dalam hatinya dia bergunam, “dia adalah Harimau. Orang ini adalah harimau. Aku mungkin tertawa menghadapinya dan banyak berakting, tapi sebenarnya aku gemetar. Mungkin aku adalah kelinci. Mengapa orang ini begitu tenang”

“Aku percaya pada Sohee. Dia sepertinya mengikutimu karena terbuai pada kenangan masa lalu. Wanita cenderung emosional dan melakukan hal-hal semacam itu.” Ujar Yongguk. Sebenarnya kalimat itu dia tujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Sepertinya Sohee bertemu dengan pria yang baik.” Leeteuk mengangguk-angguk seolah mengerti apa yang di maksud Leeteuk.

“Yah.. Sohee telah bertemu dengan seorang yang baik. Jadi semuanya sudah berakhir kan?” Sekali lagi Yongguk ingin memastikan. “Semua kenangan dan perasaan lama. Itu sudah
diselesaikan dengan rapi kan?” Ulangnya.

Lagi-lagi Leeteuk hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.

“Apakah kita harus berjabat tangan?” Tawar Yongguk. Awalnya Leeteuk ragu, namun akhirnya dia menerimanya juga.

“Berjabat tangan dengan kekasih dari mantan kekasih.” Celetuk Leeteuk.

“Aku tidak akan mengundangmu ke pernikahanku dan Sohee. Aku harap kau mengerti akan hal itu.” Putus Yongguk sebelum akhirnya dia berjalan menjauh. Sekali lagi Yongguk menyebut Leeteuk seorang Harimau karena keberaniannya.

Yongguk dan Leeteuk berjalan berlainan arah. Sohee-pun berjalan pergi dari studio Leeteuk melewati restoran tempat Yongguk dan Leeteuk berbicara sebelumnya. Ketiganya bertemu tanpa sengaja. Mereka hanya bisa saling menatap. Keadaan itu terasa begitu sangat canggung dan membingungkan.

6 Bulan Kemudian

Leeteuk telah sukses karena komik jilid pertamanya sangata disukai banyak orang setelah di terbitkan. Bahkan para penggemarnya menunggu jilid selanjutnya. Leeteuk melakukan.fansigning untuk para penggemarnya dan tersenyum bahagia menikmati kesuksesannya. Sohee sepertinya berhasil membawa keluar Leeteuk dari dunianya.

Sementara itu Sohee tengah duduk berhadapan dengan Yongguk di restoran Himchan. Sohee berterima kasih pada Yongguk karena tidak pernah bertanya tentang apapun atau menuntut sesuatu apapun darinya. Sohee tahu jika Yongguk sebenarnya memiliki banyak hal untuk di tanyakan, tapi dia tidak mengatakan apapun. Sohee merasa lebih bersyukur karena hal itu dan membuat Sohee merasa lebih yakin dan lebih percaya pada perasaan Yongguk padanya, karena Yongguk telah menunggu dan mempercayainya. “Terima kasih karena telah menungguku..”

Yongguk sekarang juga sudah bisa bernafas dengan lega, karena sertinya sekarang ini Sohee telah sembuh. Yang saat ini yang harus dia lakukan adalah mengklaim bagiannya untuk obat yang diresepkan untuknya. Sohee merasa sedikit cemas, haruskan Yongguk mengklaim hal itu? Tidak bisakah Yongguk hanya membuat hal itu berlalu begitu saja?

“Tidak bisa. Aku harus membuat perhitungan karena tingkahmu itu.” Marah Yongguk sambil mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. Dia lalu membuka kotak itu di depan Sohee. “Sohee-ya.. Apa sekarang kau bersedia menikah denganku?”

Sohee merasa sangat terharu. Dia tidak menyangka jika inilah cara Yongguk membuat perhitungan dengannya. Rasanya Sohee tidak memilki alasan untuk menolaknya. Dengan yakin, Sohee mengulurkan tangannya, memberi tanda bahwa dia menerima.pinangan itu. Yongguk-pun menyematkan cincin itu di tangan Sohee.

Sohee menatap cincin yang telah tersemat di jarinya. Sohee bahagia karena hal itu. Sohee menatap Yongguk dan tersenyum padanya. Inilah pilihannya, pria yang ada di hadapannya itunadalah masa depannya. Orang yang selama ini berada disampingnya dalam suka maupun duka. Memahaminya, dan memberinya waktu untuk menyembuhkan luka masa lalu.

-END-

Apology ー Wind?

Aku ingin pergi kehadapanmu seperti kepingan salju, tanpa ragu-ragu ataupun berjalan mondar mandir.

Sohee dan Leeteuk masih berada di café. Sohee akhirnya mengakui bahwa selama ini dia merindukan Leeteuk. Sohee lalu bertanya pada Leeteuk tentang café tempat mereka dulu selalu pergi bersama saat masih menjadi sepasang kekasih. Apakah café itu masih ada?

Flashback
Sohee dan Leeteuk sedang berada di café. Leeteuk sedang melukis Sohee, tapi Sohee tidak sabaran dan terus bertanya apakah Leeteuk sudah selesai melukisnya? Leeteuk terus meminta Sohee untuk bersabar karena lukisannya sebentar lagi selesai. Tapi Sohee sudah tidak sabar lagi dan akhirnya beranjak dari tempat duduknya untuk melihat lukisan itu.

Leeteuk protes. Dia sudah mengatakan agar Sohee tidak bergerak karena lukisannya sebentar lagi selesai. Sohee melihat lukisan Leeteuk dan dia complain karena menurut Sohee lukisan itu sama sekali tidak seperti dirinya.

“Bibirku tidak setebal itu.” Rengek Sohee tak terima.

“Itu terlihat lebih baik.” Leeteuk tertawa di ikuti Sohee. Mereka akhirnya tertawa bersama. Menikmati waktu kebersamaan mereka dengan gembira.
Flashback End

Sohee merasa, saat itu adalah waktu yang sangat baik. Mereka menggambar bersama, membaca buku bersama, dan belajar bersama.

“Suatu hari nanti, aku ingin mengunjungi tempat itu lagi.” Ujar Sohee, masih teringat akan masa lalunya.

“Kenapa tidak sekarang saja? Ayo kita pergi kesana” Ajak Leeteuk tiba-tiba dengan menggandeng tangan Sohee.

“Sekarang?” Sohee melotot kaget.

“Ya. Sekarang. Kita bisa pergi kesana dan membuat beberapa kenangan manis. Apakah itu mungkin?”

Ajakan Leeteuk yang tiba-tiba itu membuat Sohee berpikir sejenak. “Baiklah, mari kita pergi. Kembali ke tempat persembunyian kita. Aku juga ingin pergi kesana” putusnya kemudian.

Yongguk yang mendengarkan semua itu hanya bisa minum dan lebih banyak minum lagi saat melihat Sohee tampak sangat bahagia karena akan pergi ke tempat kenangannya bersama Leeteuk.

“Sebuah perjalanan untuk mengenang kembali masa lalu. Apa-apaan ini? Kau pikir aku tidak bisa mengatakan apapun? Kau harus tahu, aku bukan kelinci. Aku adalah singa” Ucap Yongguk penuh amarah. Dia lantas berdiri dari tempat duduknya menuju pengeras suara tempat Leeteuk dan Sohee melakukan pengakuan sebelumnya. Yongguk duduk disana, mengetes mikrofonnya dan melakukan pengakuan seperti yang dilakukan Sohee dan Leeteuk. Yongguk sangat mabuk, bahkan saat pelayan melarangnya untuk melakukan itu, dia tetap melakukannya. Yongguk ingin mengatakan apa yang ada di pikirannya pada Sohee, bahkan disaat tidak ada seorang pun yang mendengarnya.

“Aku Bang Yongguk. Ada perempuan yang aku cintai…” Seorang pelayan meminta Yongguk untuk pergi dan merebut mikrofonnya. Tapi Yongguk yang terlanjur emosi tidak bisa di kendalikan lagi. “Dunia ini kejam. Dunia bisa menjadi lebih kejam. Tapi.. tetap saja aku tidak akan membiarkanmu pergi. Tidak peduli seberapa kejamnya kau padaku, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Itu karena… aku… aku… aku benar-benar mencintaimu sepenuh hatiku”

Pelayan yang merasa kesal dengan kelakuan Yongguk yang mabuk berat akhirnya melempar Yongguk sehingga dia jatuh tersungkur di luar. Yongguk sangat menderita karena situasi ini. Sekarang apa yang harus dia lakukan?

Yongguk menelpon Himchan lalu menceritakan semuanya. Dia berharap Himchan bisa memberinya solusi atau kata-kata penyemangat. Tapi pria itu malah mengatakan hal-hal tak berguna. “Sepertinya kau akan kehilangan Sohee. Mengapa? Jika hati seorang wanita goyah dan terombang ambing seperti itu, artinya dia sedang berada pada tingkat berselingkuh secara emosional di belakangmu. Hatinya sedang goyah, sedang tergoncang oleh angin musim dingin yang lebih kuat dari angin musim semi. Angin musim dingin itu sangat kuat. Dia akan terkena flu karena hal itu”

“Apa kau pikir itu benar-benar sebuah angin? Tanda-tanda akan ada sebuah perselingkuhan?” Tanya Yongguk tidak yakin.

“Pada tahun 2010 Seorang Profesor Psikologis mengungkapkan, jika seseorang menghabiskan malam yang indah bersama cinta pertamanya ketika kau bertemu kembali dengannya, kemungkinan untuk bersatu adalah 92%” jelas Himchan.

Yongguk tak percaya dengan bualan Himchan. “Malam yang indah? Apa maksudnya itu sesuatu yang tidak terpenuhi di masa lalu dengan cinta pertama? Lalu bisa dilakukan saat kembali bertemu?” Cibirnya kemudian.

“Tepat sekali. Seperti mencoba mengisi kekosongan dan lubang di dalam hati. Apalagi baru-baru ini, banyak pasangan yang bersatu kembali di malam hari.” Himchan menyimpulkan.

Yongguk jadi semakin kesal. Berani sekali sahabatnya mengatakan omong kosong seperti itu. Yongguk tidak ingin percaya, bahkan jika itu dikatakan oleh seorang professor Psikologi yang telah melakukan studi penelitian sekalipun.

Sohee dan Leeteuk tiba di café kenanangan mereka. Ternyata Café itu tidak berubah sama sekali. Sohee merasa senang saat berkeliling disana. Dia melihat beberapa gambar yang digantung di dinding dan merelihat gambar payung yang pernah di lukisnya di masa lalu. Sohee sangat senang melihat gambar itu tergantung disana.

Sohee dan Leeteuk-pun menghabiskan waktu bersama di café itu. Leeteuk mengambil beberapa foto Sohee secara diam-diam saat gadis itu melihat lukisan-lukisan Leeteuk yang juga terpajang disana. Mereka tampak sangat bahagia menikmati waktu kebersamaan mereka lagi. Seperti sepasang kekasih yang seolah sedang merayakan bersatunya hubungan mereka lagi. Bahkan mereka masak bersama dan merasakan masakan itu bersama-sama. Benar-benar tampak bahagia.

Sementara itu, Yongguk yang kini ada di restoran Himchan sedang merana sambil menatap GPS di ponselnya. Himchan penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Yongguk. Dia melihat GPS itu dan merasa Yongguk sangat kekanak-kanakan.

“Sohee bahkan sangat mempercayaimu, tapi kau malah mengikutinya dengan cara seperti itu?” Ejek Himchan.

“Aku merasa putus asa. Aku akan meminta maaf pada Sohee nanti. Sohee adalah kekasihku, tapi aku malah meragukannya.” Ucap Yongguk penuh penyesalan.

“Memangnya sekarang ada orang yang benar-benar percaya pada kekasihnya?” Entah Himchan itu seorang malaikat atau setan. Satu sisi dia menasihati Yongguk. Di sisi lain dia malah memanas-manasi hati Yongguk yang sudah terbakar.

Sementara itu, Leeteuk dan Sohee sedang minum teh bersama. Mereka masih berada di café kenangan mereka. “Apa kau tahu berapa banyak waktu yang aku habiskan untuk membersihkan studiomu dulu, itu sangat sulit!” Sohee mengingatkan.

“Sekarang ini, kadang-kadang aku membersihkan studio sendiri. Juga mengatur peralatan lukis.” Balas Leeteuk yang membuat Sohee tersenyum lega.

Tiba-tiba ponsel Sohee berbunyi. Yongguk yang menelponnya. Sohee lalu meminta ijin pada Leeteuk untuk menjawab telepon. Dia lantas menjauh dari meja mereka.

Saat Sohee mengangkat telponnya, Yongguk langsung meminta maaf “Sohee-ya, maafkan aku..”

“Untuk apa?“ tanya Sohee bingung.

“Apapun yang kau lakukan saat ini, tolong hentikan.” pinta Yongguk dengan suara bergetar.

Sohee jadi semakin bingung dengan maksud ucapan Yongguk? Mengapa Yongguk tiba-tiba mengatakan hal itu?

“Maksudku, apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Tapi aku… aku… akan mencintaimu hingga aku mati..”

Sohee merasa tidak enak hati mendengarkan ucapan Yongguk. “Baiklah, aku mengerti. Aku akan menelponmu lagi nanti, Oke?” Sohee lalu menutup teleponnya dan menenangkan hatinya sebelum kembali menghadap Leeteuk.

Mendengar jawbaan Sohee, Yongguk tahu benar jika kekasihnya itu sedang bersama Lelaki itu. Himchan berpikir bahwa semua yang di ajarkannya pada Yongguk tidak sia-sia.

Yongguk berdiri. Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi. Dia harus menemui Sohee dan melihat apa yang sedang kekasihnya itu lakukan dengan lelaki lain meski itu akan menyakitkan untuknya.

Yongguk melihat kembali GPS yang ada di ponselnya. Saat ini Sohee dan Leeteuk sedang pergi ke suatu tempat. Studio Leeteuk.

“Lihatlah pojokan itu. Setiap kali aku berjalan menyusuri gang ini, aku selalu berpikir bahwa setelah aku melewati pojok itu aku akan menemukanmu menungguku. Cuaca yang sangat dingin kemudian berubah menjadi hangat. Semua itu karena pergantian angin.”
Leeteuk.merasa lucu dengan kata-kata angin karena itu memiliki arti yang sama dengan selingkuh. Itulah bagaimana Leeteuk menunggu Sohee selama ini.

Sohee bingung. Bukankah mereka sudah putus, mengapa Leeteuk masih menunggunya?

“Kau yang memutuskanku, tapi aku tidak pernah berpikir aku pernah putus denganmu?” Sohee merasa kaget mendengar pengakuan Leeteuk.

Leeteuk baru menyadarinya sekarang, bahwa selama ini diansama sekali tidak pernah merasa putus dengan Sohee karena Sohee-lah yang memutuskannya secara sepihak.

Sohee jadi merasa bersalah, “Aku minta maaf karena aku memutuskan secara sepihak..”

Di belakang Sohee dan Leeteuk, Yongguk berjalan mengikuti mereka dan sepertinya dia mendengar pembicaraan itu. Lalu, apa yang akan Yongguk lakukan?

-TBC-

%d blogger menyukai ini: